Guru Cantik Itu Bernama Hasnaa

When the student is ready, the teacher appears 

Tubuh ini masih terasa ringan bak melayang setelah aku selesai berbicara dengan Hasnaa At Tauhidi di sesi konseling pertama kami. Proses pertemuanku dengan Hasnaa adalah karena Allah. Aku mulai memfollow Hasnaa di jejaring sosial setelah salah satu teman mutual kami merepost twit Hasnaa dan twit tersebut muncul di linimasaku. Seperti kita tahu, twitter itu 70% isinya adalah cerminan jiwa penggunanya; dan twit Hasnaa ini terlihat sangat berbeda di mataku. Seperti benar-benar dari hati, bukan mengutip buku atau spammer twit-twit komersial. Seperti tertarik kekuatan magnet, aku memvisit dan mengamati isi-isi twit Hasnaa yang lain. Di detik pertama, instantly, aku tahu ini adalah guru kehidupan yang selama 2 tahun ini aku cari.

Secara umum Hasnaa (twitter @thatgirlhas, instagram @vibrationalmedicine) adalah seorang lightworker sepertiku, yang punya misi hidup untuk mengajar dan mengajak rekan-rekan di sekitar kami untuk lebih eling. Aku dan Hasnaa juga punya keterikatan di latar belakang kami yang sama-sama muslim. Setelah melewati masa awakening, kami sama-sama memilih untuk tetap menjalani kewajiban agama yang kami anut dengan sadar. Hasnaa mengajari banyak followernya untuk hidup tanpa penghakiman, hidup berdamai dengan dualitas, dan untuk riset sebanyak-banyaknya tentang apa saja yang ingin kita cari. Pada awalnya, aku tidak tahu kalau Hasnaa menyediakan jasa coaching one on one. Aku hanya ikut subscribe di mailing list yang tertera di bionya. Dan percayalah, dari blognya saja aku sudah banyak sekali mendapatkan pelajaran yang berharga secara gratis. Aku mulai menerapkan praktik Lucid Dreaming, Shadow Work, Third Eye Activation, dsb; yang kalau di Indonesia mungkin sudah bisa dikomersialkan menjadi workshop seharga jutaan rupiah. Namun Hasnaa membaginya dengan gratis bagi mereka yang mau membacanya, karena believe me, memahami bahasa Hasnaa juga bukan perkara yang mudah. But i’m a quick learner, aku jadi lebih paham akan konsep multiverse-multidimensional, bagaimana kita hidup ini sebenarnya tak terikat oleh konsep waktu past-present-future. Semua hal berlangsung secara simultan. Dan akupun jadi tahu betapa banyaknya pihak black hand di dunia ini yang tidak ingin kita (manusia) mengalami pencerahan. Mereka sengaja mengkalsifikasi kelenjar pineal manusia lewat sistem pengairan massal, fluoridasi ekstrim berbagai produk dan makanan jauh melampaui dosis yang sehat, obat-obatan, makanan GMO, dan penanaman dogma agama/keyakinan untuk sama-sama saling merasa paling benar dan suci. Sedih dan merinding sekali kalau dipikir, apabila kami para sage dan lightworker melihat kondisi umat manusia mainstream di dunia saat ini lewat mata batin kami. Tapi pada akhirnya, kami harus menerima bahwa setiap manusia perlu melalui proses pembelajarannya sendiri, perjalanan spiritualnya sendiri. Seperti bayi yang tidak bisa dipaksa-paksa untuk cepat lahir, atau kepompong yang tidak bisa dicongkel paksa keluar menjadi kupu-kupu, proses awakening seorang manusiapun harus dibiarkan terjadi sendiri sesuai dengan divine plan nya.

Pada saat aku berkomunikasi langsung dengan Hasnaa melalui e-mail untuk membicarakan kemungkinan adanya kerjasama sebagai mentor dan murid, di benakku terlintas sebuah penghakiman diri yang bilang ‘ejiyee mau punya penasehat spiritual baru niyee’. Self chatter ini sontak membuatku tersenyum geli, karena selama ini kepada klien-klien tarot maupun konsultasi essential oil-ku aku selalu bilang bahwa jangan sampai mereka ketagihan atau kecanduan akan terapi dan konsultasi. Jujur, aku sangat jengah apabila melihat seseorang yang attached sekali degan gurunya, coach, ustad, paranormal, tarot reader, dukun, peramal, atau apapun itu. Mau ngapa-ngapain nanya pendapat gurunya dulu, mau kesini ijin dulu, mau kesitu ijin dulu. Aduh runyam ya sebangsa kena sirep Eyang Subur gitu. Setiap diri kita sesungguhnya sudah punya satu peleton celestial beings yang siap menuntun, mengingatkan serta mengajari kita kapan saja, dengan syarat pineal gland (third eye) kita terjaga dengan baik dalam kondisi plastis, tidak terkalsifikasi. Terlalu mengkultuskan satu sosok guru justru akan menyebabkan komunikasi kita dengan higher self kita terputus. Belum lagi kalau ternyata sosok spiritual yang kita agung-agungkan selama ini ternyata tak lebih dari seorang oknum dukun palsu mata duitan. Seorang manusia dalam kondisi limbung tak tentu arah di mata para oknum dukun ala-ala akan tampak seperti target panahan bertuliskan ‘get my money‘. Segala dilematika paranormal abal-abal dan bagaimana cara menscanningnya sudah pernah saya bahas di video berikut ini https://m.youtube.com/watch?v=gwtiy678jJ4 . But then again, secara intuitif aku merasa sudah terlalu lama diri ini melakukan inner journey hanya bersama spirit guidesku yang tak terlihat ini. Tak kupungkiri, aku sangat rindu akan sosok master yang sedang bertakdir sebagai seorang manusia di era yang sama denganku. Di tanah air, aku pernah bertakdir bersama mami Lanny Kuswandi meski sebentar dan mas Reza Gunawan, mereka adalah start up ku. Gak kebayang kalau aku belum bertemu dan berinteraksi dengan sosok angelic mas Reza sebelum berangkat ke AS, aku nggak akan sekoheren dan sesinergis ini dengan guru-guruku yang sekarang dan akan datang. I missed being a student, as simple as that. Kini, ijinkan aku dengan bahagia menyampaikan bahwa aku sedang bekerja bersama Hasnaa, guru pintar yang kecantikannya melampaui semua deskripsi duniawi, seorang ibu dan yogi, seorang mistik sekaligus kutu buku, seorang yang akan meninggalkan sedikit  jejas kebijakasanaannya pada diriku yang masih dhaif ini. Semoga dengan menjadi murid yang baik, aku bisa menjadi guru yang lebih baik.

Salaam.

San Ramon, Spring 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s