Ramadhan di Rantau

Alhamdulillah masih diberi usia untuk menyicipi Ramadhan ke dua di Negara persinggahan ini. Puasa di sini yang pasti penuh suka cita dan kunikmati seluruh momennya. Perbedaan suasana, durasi, jenis makanan, semuanya warna warni indah yang memperkaya pengalaman hidup kami. Sok hayuk ikuti detailnya.

Perbedaan pertama sudah pasti durasi, durasi puasa kami adalah 16 jam 20 menit, selisih 3 jam-an dengan durasi puasa di Indonesia. ‘Subhanallooh panjangnya ckckck luar biasa kalian’ adalah komentar yang sering kami dengar dari keluarga dekat. Eits…biasa aja kali, karena memang di hari kedua dan ketiga rutinitas ini nggak ada apa-apanya dan badan kami udah terbiasa. Bukan…bukan karena iman kami tinggi sehingga Allah memendekkan hari buat kami haha. Saya yakin tubuh kita punya kelenturannya sendiri seperti karet, sehingga mudah untuk membujuknya bertahan dalam kondisi apapun. Mungkin nggak enaknya dari kondisi ini adalah sulitnya alokasi ibadah. Dengan jujur kuakui Tarawihku bolong terus sejak hari pertama puasa. Karena selesai buka puasa, kami menunggu waktu Isya pukul 22.00 lalu harus segera menidurkan anak-anak, yang kebanyakan endingnya adalah aku juga kebawa tidur hehe. Entah apa reaksi ibu mertuaku bila tahu hal ini, mungkin ngelus dada yah 😂😂

Perbedaan kedua adalah suasana. Tidak ada rentetan iklan sirup, mie instan dan jingle Teh Botol Sosro yang sudah meresap sampai ke memori sel-sel kami. Tidak ada acara striping sahur dengan talent-talent komikal yang bertindak absurd, neurotik, dan dibayar. Tidak ada penjaja iftar musiman yang menggelar dagangannya di pinggir jalan. Tidak ada lantunan azan dan bacaan Sholat Tarawih yang terakselerasi jelas lewat pengeras suara. Dan tidak ada keluarga intiku, orangtua, kakak-kakak, dan ponakan-ponakanku yang heboh luar biasa saat berkumpul dan berbuka bersama baik di rumah maupun di mall. Rindu? Sudah pasti iya. Tapi aku lebih merasa ini privilage, bentuk pembebasan diri, bok….udah 29 tahun ngerasain wujud puasa begitu terus berulang-ulang, masa nggak seneng sih ngerasain 2 kali fase penyegaran.

Perbedaan ketiga, di variasi makanan. Karena di rumah ini yang puasa hanya aku dan suami, sudah pasti jumlah dan varian makanan yang kusiapkan normal-normal saja dan sederhana. Sangat sederhana malah. Anak-anak belum kuajarkan puasa, dan mereka seperti gak sadar bahwa ortunya lagi puasa. Kalau Baim lagi baik banget nyuapin aku sesuatu, aku cuma bilang ‘No thanks, i’m good’. Alhamdulillah tahun ini Yusuf sudah tidak menyusu lagi dan bobonya jadi bablas. Akupun tenang saat menyiapkan sahur di dini hari. Kalau tahun lalu aku inget banget Yusuf ini masih drama, sering owak owek kalau tahu Bunbunnya gak ada dan akunya yang harus ribet naik turun bolak balik nidurin dia dan lalu kabur ke bawah lagi mengendap-endap.

Perbedaan keempat ada di lingkungan sosial dan industrialisasi ibadah. Keluar dari rumah, tidak ada lagi yang berpuasa selain kami. Tidak ada suasana festive. Paling banter kami cuma diberi ucapan resmi ‘Ramadan Kareem‘ oleh Obama. Semua aktivitas normal. Restoran, kafe, toko liquor, ya buka aja gitu. Dan kami nggak ngerasa ini jadi godaan berat. Yaelah…kita udah gede ini, bukan anak-anak lagi. Kontrol diri ya ada di dalam hati. Sangat kondusif malah ya jadinya, puasa kita tuh tulus gak bersyarat. Lebih nikmat tho? Ohya, satu-satunya persamaan mungkin ada di musim SALE, kalau di tanah air mungkin kalian sedang diberondong SALE Idul Fitri, di sini kami juga digoda oleh banyak Summer Sale dan 4th of July sale di semua toko online maupun pusat perbelanjaan. Tutup mataa.

Dan perbedaan terakhir yang paling favorit adalah…bebas dari kewajiban mudik!! Please jangan salah sangka dulu, bukannya aku gak cinta dan gak menjunjung nilai silaturahmi yaa. Tapi jujur deh, kalo kakakku baca ini, pasti dia setuju haha karena kita tuh pada males sama urusan mudik ke Solo yang harus kita lakukan rutin tiap tahun kalo masih mau dianggap cucu yang berbakti🙂 Dalam setahun, pengorbanan waktu, tenaga, dan biaya harus kita anggarkan demi silaturahmi dengan keluarga besar yang entah kenapa tempatnya harus di Kota Kelahiran orang tua kita. Dan itu harus lebaran yang peak season. Why???. Kok pada mau aja sih ya diatur sama kapitalis Indonesia. Menurut hematku mengunjungi kampung lebih enak di saat-saat lain. ‘Loh tapi kan ini momennya tepat karena menyambut hari kemenangan, sungkem maaf-maafan, hari yang fitrah dan semuanya hadir…’ Tuh kan, sekali lagi itu mindset yang tanpa sadar sudah diperbudak oleh kaum kapitalis. Why are we willing to spend money twice on airfare, new clothes, bags, and make up to look fab, and deal with delayed flights, crazy traffic, uneccessary accidents and fatality; just to spend time in some place that will be less hectic & much more convinient if we visit at other times, with too much people we don’t really care whose kids name we can’t remember? I can be very bitter if i start to talk about the hidden capitalism behind this very sacred so called ‘Mudik Lebaran/visiting hometown’ tradition. Dan sekarang aku dikasih masa pembebasan tiga tahun dari kewajiban mudik lebaran? Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan? *big grin* kunikmati bangeet selagi bisa.

Well, kalau bisa ditarik garis besarnya, sudah pasti puasa di sini nikmat banget ya. Mau itu siang-siang dipusingin sama anak-anak yang berentem teriak-teriak pukul-pukulan, atau malam-malam yang hanya sempat tadarus satu ain karena Baim memanggil dan minta dipeluk lagi, meski aku sudah memelankan suara. Bener banget kata status seorang teman SMA di Facebook, bahwa puasa itu ibadah paling romantis antara seseorang dengan Tuhannya.

Salam dari San Ramon….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s