Bernafas dalam Lumpur MLM

Maybe i was once a comedian…

Karena saya selalu mampu untuk menertawakan diri sendiri dan kehidupan ini. Bukan kebetulan pula saat saya makan bersama keluarga di Pier 39 kemarin, meja tempat kami makan bertuliskan kata-kata ‘it’s funny how things work’. Pas banget. Semua memang lucu. Hal-hal yang terlihat lucu ini pulalah yang selalu bikin saya gagal untuk menulis buku serius. Karena tiap kali sehabis membuat sembilan kalimat serius, sok pintar, dan mungkin hasil nyadur dari buku lain, di kalimat kesepuluh jiwa saya selalu mensabotase pola itu dengan bikin kata-kata banyol, sarkastik, dan kadang sedikit cabul. Bye-bye karir menulis…

Berangkat dari konflik yang saya hadapi di MLM teranyar saya, Young Living Essential Oils; saya menemukan guru terbaik dengan mata pelajaran terspektakuler di hidup ini. Mengutip seorang bijak tempat saya curhat yang baiknya tidak usah saya sebut namanya:

Siddharta’s truth #1: Hidup selalu menjanjikan momen-momen terusik. Dan dia mengakhiri nasihat tadi dengan kata Kampret.

Yang kalau boleh saya edit ulang:
Bunbun’s rule #1: Hidup selalu menjanjikan momen-momen ter-kampret. Dan ngomong-ngomong, kampret masih satu keturunan dengan Batman

Kisah saya dengan MLM sudah sepanjang kisah drama korea, panjang bener. Saya pernah terdaftar di Oriflame, Sophie Martin, Pulsa elektronik, Herbalife, Tianshi, Melilea, Kangzhen Kenko, High Desert, dan lalu Young Living. Capek ya? Karena sebelum-sebelumnya juga tidak ada yang berbuah manis, dualisme di sebuah MLM selalu ada, selalu timpang antara kebaikan produknya dengan watak dan cara kerja pelaku-pelakunya. Di Young Living ini juga ada helaan nafas panjang disertai kata ‘yaelah….’ saat saya buka http://www.youngliving.com dan tahu YL ini MLM. I just knew something bad was coming. My whole inner self somehow prepared me for any potential kampret moments.

Ya, dan sayapun punya andil besar di balik lahirnya benih-benih YL pompom groupies di Indonesia. Dengan sangat puasnya saya pajang oil-oil saya berderet rapih di jejaring sosial. Tentu saja saya jadi menciptakan awareness dan demand dari produk ini. Dan saya pun telah mengirim seekor kampret ke masing-masing kehidupan orang lain karena kini mereka jadi tahu ada barang namanya YLEO dan itu menjadi wishlist mereka. Sial bunbun, jadi ada kepengenan baru deh.

Saat momen kampret sedang mereplikasikan dirinya sebelum datang ke saya, hidup ini terasa manis-manis sepet. Satu persatu downline mulai bergabung dan bermanis manja dengan saya. Hati kecil mulai bilang, mungkin bisa dicoba kali ya untuk terapkan 3 kunci sukses Young Living: Wellness (kesehatan diri sendiri), Purpose (ngejar tujuan), & Abundance ($$$$$$$$$$). Buat saya, demi Allah $$$$$ bukan tujuan utama, aktualisasi diri lebih penting (baca: di Amerika ga dapet-dapet klien doula, masa bengang-bengong aja, ngapain dong, hayuklah sharing-sharing beginian aja). Dan motif non komersil saya telah terbukti dengan stagnannya angka nominal cek saya yang setia nangkring di situ-situ saja dan ga pernah naik lagi. And i’m happy with it, karena sudah bisa mengcover pembelian bulanan saya yang paling juga cuma Thieves, Peppermint, Lavender, Peace & Calming, dan DiGize buat sekeluarga. Buat saya itu juga sudah Alhamdulillah banget.

Momen kampret masuk menyusup ke dalam hidup saya lewat satu pintu masuk yang selalu lalai tak dikunci : kepolosan. Ampun, polos bener saya ini. Saya melihat semua orang sebagai teman sejati yang selalu setia bisa diajak lari-lari di pantai bergandengan tangan riang gembira. Saat pendaftaran downline non-USA di bawah jaringan USA terlihat agak di-anak tiri-kan oleh Kantor Corporate Singapura, saya cuma menyangka ah…saya belum bertanya ke orang yang benar kali. Dengan riang gembira saya dedikasikan 40% mommy duty saya untuk ngurusin YL ini. Sampai leader Singapura yang sudah sepuh juga saya deketin untuk saya tanya bagaimana cara orang Indonesia menjadi member di bawah kantor Singapura. Saat kemudian beliau malah bertanya ‘Diamondmu siapa?’, tetap ya, bunbun tak merasa ada yang aneh. Semua orang kunilai baik dan siap membantu. Blame it on all my Louise Hay books…

Email-email ke pihak corporate yang berbalas nada ketus, info-info yang sengaja dibuat simpang siur, calon member saya yang saat hendak mendaftar di Kantor Concourse dikerubungi member oknum yang berusaha mengintimidasi dia untuk bergabung dengan mereka saja, itu semua tanda-tanda sebentar lagi akan datang momen kampretos. Namun tetap, bunbun selalu riang gembira sepolos gadis Amish yang mencari buket bunga ke dalam hutan rimba yang gelap, tak tahu apa yang sedang menantinya.

Setelah saya mendapat artikel ini saya jadi tahu bahwa skup doula dan skup distributor YL harus dipisahkan baik-baik, garis tipis ini kalau tidak diperjelas, cepat atau lambat akan menimbulkan prahara. Saya tanamkan itu ke teman-teman member, namun sayang, idealisme bunbun tak sejalan dengan motif umum masyarakat Indonesia, yang lebih berat ke tujuan komersial.

Dalam linimasa yang begitu cepat, saya berpisah dengan 6 teman dan guru saya yang mereka ini sebenarnya juga sudah sangat berjasa buat saya, beberapa sudah downline, yang lainnya baru calon downline. The Kampret strikes me right on the face. Sensasi yang paling menohok adalah shoknya, jauh sebelum marah, kesal, dan sakit hati timbul. Shok karena rasanya seperti saya baru ngelihat separuh muka Joker yang lain di film Batman (this post is truly full of kampret things eh?), atau mukanya Penyanyi Hudson-Jessica Indonesia Mencari Bakat (two face Singer). Satu detik saya lihat Hudson, detik berikutnya, Lohh? Jessica? *shock

Keluarnya member-member saya dari group saya tidak ada yang ditempuh lewat cara resmi (pindah upline), namun lewat cara double membership/daftar baru di bawah group SG yang bisa dibilang group VIP beromset fantastis. Mereka ini memang rajin dan hebat sekali perjuangannya masukkan barang ke Indonesia. Jadi memang mereka aura dan energinya lebih berjodoh dengan mantan member-member saya yang lucu nan menggemaskan ini, barangkali wetonnya juga sama. Naasnya, tidak puas mendapatkan kenyamanan dengan menjadi member Singapur, mereka tetap menggunakan akses keanggotaan USA-nya yang berada di bawah organisasi saya; untuk memborong oil-oil yang tidak tersedia di Singapura. Sempat ada satu E-mail permintaan maaf dari salah seorang diantara mereka, dan dia sudah bersedia apabila saya minta dia untuk menghapus keanggotaan USAnya, tapi lucunya, di akhir e-mail dia bilang ‘Please mba Hanita ga usah balas email ini’. Lha? Terus aku nyuruh hapus US membershipnya lewat apa dong hihi. Kalau memang yang bersangkutan sedang membaca alangkah bijaknya bila ia akhirnya legowo dan mau menghapus akun USA-nya, cukuplah berbahagia dengan akses produk, komunitas, dan jalur yang dia punya sekarang.

Ikhlas atau tidak, saya cuma bisa deal with it… Yang bikin sedih bukan omset group yang hilang, tapi rasa percaya dan kredibilitas. Kecewaku mungkin cuma bisa dirasa lalu dibiarkan melebur. Beberapa kontemplasi yang muncul saat momen kampretos ini sudah datang antara lain,

Sudah pakai oil kok masih ganggu?

Sehari-harinya ngajarin kirim cinta, oksitosin, doa dan salam damai buat semua, tapi aslinya ternyata kok gini ya? (lalu bunbun nangis waktu mikir ini).

Selama ini kami di GBUS selalu mengajarkan untuk berdayakan diri. Kalau memang essential oils ada di dalamnya, ya pakailah sebagai satu opsi. Lha kok sekarang nyuruhnya apa-apa A-Z dipakaikan oil? kalau yang ditangkap masyarakat saat ini adalah Gentle Birth = YLEO dari mulai testpack positif sampai melahirkan, alangkah hinanya saya yang sudah memulai semuanya ini terjadi…

Paling sedih kalau saya nerima inbox atau e-mail dari seseorang yang bilang ‘mba saya sebenarnya mau sekali jadi member tapi oleh ibu X saya disuruh daftar yang programnya harus belanja setiap bulan, saya kan nggak mampu mba’ Oh God seriously???
Dan kaget juga waktu seorang teman cerita ada pasien yang mengeluh sering dibujuk untuk beli oil oleh bidannya berulang kali meski sudah ditolak, dan lalu tetap ditawari oil dalam taraf yang mulai mengganggu. Saya minta maaf sekali, meski itu bukan dari organisasi saya, saya turut bertanggung jawab atas semua ini.

Kini saya dan member yang masih tersisa cuma bisa evaluasi diri. Hikmahnya apa? Sudah pasti kita bersyukur karena kita masih dikumpulkan dengan orang-orang dengan motivasi tulus tanpa hidden agenda. Kami bertahan dan bisa move on karena kami punya integritas. Jujur kalau saya masih disatukan bersama member-member lama saya, justru saya akan malu dan bila terjadi apa-apa, pertanggungjawaban saya akan sampai ke akhirat, padahal saya tidak pernah mengarahkan mereka untuk menjalankan MLM dengan cara melacurkan prinsip, nilai, dan idealisme tulus sebagai gentle birth worker (sedih lagi)…

Kenapa untuk bisa pakai oil aja dramanya harus banyak banget ya? Terus insight yang muncul di kepala saya secara visual adalah: kita ini ibarat mau beli sayuran yang bagus, tapi sayur yang paling bagus itu cuma ada di pasar kecil di tengah kompleks lokalisasi prostitusi, dan jalan menuju ke sana sangat kotor dan berlumpur. Kalau masih sepadan kualitas sayurnya dengan usaha perjalanan mendapatkannya, ya lakukan saja. Kalau tidak merasa sepadan, kita bisa cari sayur di pasar lain dengan konsekuensi mungkin sudah layu sedikit.

Illegal poaching? Unethical advertising? Corrupted practice? Come on, itu sudah kejadian sehari-hari di YL dan pihak perusahaan selalu melakukan aksi pembiaran, bahkan setelah dikirimnya laporan pelanggaran resmi ke divisi resolusi. Itu poin yang aku dapat setelah berdiskusi dengan figur teman dan guru yang kusinggung di awal posting tadi. Beliau yang juga sering menjadi korban illegal poaching oleh group lain menyarankan saya untuk terima aja, ini sisi gelap MLM yang bila menikah dengan sisi gelap materi & duniawi manusia, akan jadi combo kampret yang akan sangat menyakitkan buat orang-orang yang mereka rugikan.

The Kampret moment has come, and i accept it with all my heart. Semesta sudah menentukan jalanku dan mereka yang tak kusebut namanya hanya sampai di sini saja. Memang hanya Allah yang menentukan berapa lama langgengnya jodoh. Allah mungkin masih sayang padaku, masih ingin aku reevaluasi lagi niat dan motivasiku, Dia ingin aku tawadhu, Dia tidak ingin YL ini menjauhkan aku dari diri sejatiku yang sebenarnya.

Buat member-memberku yang masih ada untuk berjuang bersamaku, kuharap kita bisa release sama-sama. Jangan nyiksa diri sendiri dengan meresapi sakitku, ini bukan pertarunganmu, ini bahkan bukan pertarungan sama sekali, ini cuma salah satu momen lucu menggemaskan… Makasih banget buat semua dukungannya di saat aku down banget beberapa bulan terakhir ini. Karena kalianlah aku akhirnya mau tulis posting ini, setelah lama memilih diam. Ga perlu aku sebutin nama kalian satu-satu, kalian pasti udah ngerti. Jangan keseringan bikin status curcol dong hahaha sini yang ngalamin kok situ yang panas. Semua orang hadir, berlaku dan bertindak sudah sesuai kapasitasnya untuk menggenapi Dharmanya masing-masing. Do the right thing even when it’s not the easiest one. Terimakasih sekali lagi…

Hidup penuh kelucuan, dan saya hanya perlu menemukan di mana letak lucunya. Nanti juga paling ada posting jawaban dari seberang atau leadernya seberang, gakpapa. Kalau saya mau, saya bisa beberkan lengkap semua capture percakapan WA, e-mail, dan i-message saya dulu dengan mereka yang menunjukkan betapa lucu dan tidak konsistennya kawan-kawan kita ini. Tapi ngapain toh kaya kurang kerjaan ngungkit lagi yang sudah lalu kaya blog tante Marissa Haque (baca juga nih ye bun). It’s okay bila saya harus bernafas dalam lumpur MLM Young Living, orang bilang lumpur itu bagus buat menghaluskan kulit, anyhow.

6 thoughts on “Bernafas dalam Lumpur MLM

  1. Mbak…ah…seberat itukah duka kampretnya? pantas posting2 menu meja makan jarang muncul..marilah dimunculkan kembali. Aku uda mulai praktekin pijit2 ke diri sendiri…walaupun oilnya masih pake minyak tawon..tetep uenak mbak.

  2. Masih aktif mb sbg pengguna yl? Sebenarnya mau tanya banyak soal yl ini khususnya yg di klaim sbg anticancer. Masih berkenan kah mb?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s