Pelajaran dari Oil Class

Alhamdulillah dengan ijin Allah saya sudah mengadakan pertemuan edukasi tentang essential oils di rumah saya. Sekarang saja masih berasa capeknya, tapi sudah gak sabar untuk berbagi. Posting ini mungkin lebih bercerita tentang proses menuju hari H ya, sedangkan seluruh ilmu di kelas tidak semua saya bagi. Anda bisa ikut pelatihan di Indonesia yang keterangannya ada di sini. Jadi anggap saja posting saya ini sebagai teaser ya. Semua foto event kemarin juga tidak saya sertakan di sini, silahkan lihat di album HEALING WORKS di FB saya, Hanita Fatmawati.

Awalnya, setelah kami pulang dari liburan September kemarin; saya mendapat telpon dari Tawney, salah satu anggota dari The Company of Angels, nama grup Young Living di area California utara di mana saya juga tergabung di dalamnya. Kami ngobrol banyak dan saya bilang saya ingin mengundang beberapa teman dan tetangga untuk berbagi ilmu. Gak tahu darimana juntrungannya, tercetus saja ide itu dari kepala saya. Tawney langsung semangat tahu saya ngomong begitu, dia langsung bilang ‘Oke! November ya!’. Setelah menutup telpon, saya jadi kaget sendiri: ini kok gue nekat amat ya? Emang siapa kenalan lo di sini? Kaya banyak aja temennya hihi. Dan lalu tiba-tiba mules. Proses 1,5 bulan itu saya isi dengan khawatir, khawatir, dan khawatir. Laura, silver upline yang akan mengajar kelas tersebut memberi saya sebuah tanggal, yang hanya pada hari itulah dia bisa datang. Rencana pertemuan ini saya obrolin juga dengan Judy guru Bahasa Inggris saya, dia banyak menasehati saya tentang tata krama menyambut tamu dan bagaimana berbicara di depan mereka. Kami membuat list berisi siapa saja yang akan diundang, teman-teman Asal Indonesia, tetangga sekitar komplek, dan para orangtua murid di sekolahnya anak-anak. Berjalanlah persiapan itu, beli printer untuk mencetak selebaran undangan, dan banyak TAT untuk mengobati keresahan.

Di tengah perjalanan menuju pertemuan ini, saya kembali diterpa kabar nggak enak yang bikin saya sedih sekaligus bikin saya termotivasi juga. Di Indonesia, petugas Bea Impor lagi sangat nggak kooperatif sama teman-teman sejawat yang mau masukin produk ini dari Singapur. Teman sejawat saya selalu kepentok di masalah ini. Saat saya konfirmasikan masalah ini ke ibu Frances Fuller (Diamond, pendiri Young Living Singapura dan Hong Kong), dia juga jawab jujur bahwa kantor Bea Indonesia sangat malesin, kasih tax sesuka hati, antara 20-100%! Ibu Frances bilang, karena masalah inilah, kontrak kantor YL Singapura hanya melayani pengiriman area Singapura saja. Sementara ini untuk Negara-negara lain seperti Malaysia, Indonesia, semua pengiriman dilakukan langsung dari US pakai FedEx. Alamak ga kebayang mahalnya. Atau bisa juga orang-orang Indonesia yang harus bolak-balik ke Sing untuk beli oils dan bawa sendiri ke Indonesia. Cuma dua itu pilihannya kalau nggak mau ribet sama urusan Bea masuk. Hiks, untuk itulah saya harap kalian jangan mengeluh bahwa essential oils ini mahal ya teman-teman, apalagi ngeluh di depan penjualnya langsung huhu, karena masukinnya saja sudah penuh perjuangan dan resiko. Tahu nggak sih, gara-gara ini saya sampe sempet browsing cara mengurus ijin BPOM loh, siapa tahu di masa depan kita benar-benar buka cabang warehouse Young Living Indonesia. Penasaran aja gimana sih gambarannya.

Setelah reda mikirin nasib teman-teman di Indo yang kepingin banget mengakses oil ini tapi sarana kurang mendukung; saya berganti mikirin nasib saya sendiri: mau nyuguhin apa, mau beres-beres rumah kapan, harus beli apa aja, dsb. Kebetulan di perayaan Halloween, banyak sekali anak-anak kecil yang datang ke rumah kami di malam trick or treat, di situ saya gunakan juga momennya untuk sebarin flyer.

Hari berganti hari, rsvp cuma ada 2, dari kalangan teman Indonesia sendiri. Hati mulai bertanya, ini nyebar jala segini banyak, masa sih gak ada sedikitpun yang kepancing…. Sampai di H-1, telponku tetap bergeming, dan banyak email-email minta maaf ga bisa dateng hihi. Hwaduh, udah mulai panik dan mulai ngadu ke suami, which is tandanya gw udah bener-bener panik dan ga bisa mendem sendiri. Gemes, boooo nyadar dong ini kalo di Indonesia udah dikejar-kejar sama semua orang yang pingin ikut. Tapi ya memang skala proritas dan kecintaan orang beda-beda juga sih. Akhirnya di Jumat sore itu ayah maksa aku untuk kembali nyebar undangan ke area komplek yang lebih luas. Aku setir mobil, ayah yang nyelipin undangan di mailbox flag (tidak di dalam mailbox nya). Kata ayah “ini namanya napak tilas ke jaman aku masih jadi sales door to door dulu di Tangerang, cari duit emang susah bun. Masa-masa susah ini harus ada, ini yang bikin kamu gak sombong dan tampil jor-joran kalau nanti sudah jadi orang, biar jadi penginget aja”. Makasih banget punya suami yang mendukung. You know what, upaya kami sore itu membuahkan hasil, ada satu telpon yang nanyain tentang event besok. Ternyata dari tetanggaku sendiri, dan dia langsung cerita banyak tentang masalah kesehatan yang dia punya, tentang masalah dia sama ibunya, nanya sebenarnya essential oil ini apa, dsb. Aku jawab sebisanya dan memastikan bahwa dia bisa datang besok jam 1 siang. Duh, semoga besok semua lancar, batinku berdoa.

Besoknya, Laura dan Alice datang lebih awal untuk set up tempat dan slide presentasi. Subhanalloh ternyata mereka nggak main-main. Satu mobil penuh diisi dengan semua display produk, katalog, dan buku-buku tentang essential oils. Terharu banget lihatnya. Semua ditata rapi dan baguuus sekali. Ruang tengahku tiba-tiba disulap menjadi studio essential oils yang cantik. Jam 1 siang satu orang teman saya datang, mbak Fiona. Lima menit kemudian, nggak ada lagi yang datang. Hadeh ini payah amat ya kejadiannya, masa cuma sebiji doang pesertanya. Saya putuskan untuk menelpon tetangga yang saya sebut tadi untuk nanya apakah dia jadi datang. Di situlah mulai terlihat keanehan, dia menerima telpon dan berbicara seperti terkena panick attack dan tergagap. Dia bilang dia tidak bisa menemukan sepatunya, dia bilang ibunya tidak mau datang, tapi dia sangat butuh bicara ke seseorang dan sambil terus meracau seperti orang kebingungan. Nah lho, saya coba tenangkan dia pelan-pelan, nggak apa-apa kamu tidak perlu buru-buru, kami juga belum mulai, santai saja dan kami tunggu ya. Langsung abis nutup telpon saya langsung bilang ke semuanya ‘teman-teman, kayanya tamu yang bakalan dateng ini agak serius nih masalahnya, Laura kamu siap-siap ya’. Laura bilang santai saja, suruh di duduk di Lazyboy dan pakai oil, nanti juga tenang sendiri.

Saat Laura sedang mempresentasikan slide ketiga, ada suara ‘gedebuk!’ dari arah pintu masuk dan seorang gadis tampak tergopoh-gopoh masuk dengan napas terengah-engah. Gadis cantik namun tampak berpenampilan tidak lumrah sebagai mana rata-rata perempuan Amerika. Dia pakai bindi di third eye-nya, baju dan rok gypsi, rambut panjang dikuncir ekor kuda, anting-anting unik, dan berkacamata seperti saya. Cantik banget, dan ngomong gak berenti-berenti. Penalaranku kalau lihat sekilas, aku akan menyangka dia autistik, atau setres. Tapi kita semua lagi berusaha menyimak nih. Dia bilang mau nelpon ibunya dulu suruh dateng karena tanpa ibunya dia nggak bisa beli apa-apa di sini. Aku sempet bilang, kita sebenernya gak jualin apa-apa hari ini, edukasi doang kok. Sempet ada sedikit ketakutan dia akan mengalami tantrum dan semacam ‘episod’. Tapi akhirnya dia mau duduk dan melihat presentasi, sambil bilang ‘saya butuh oil sekarang, saya butuh oil sekarang’. Tak berapa lama, ibunya datang juga. Saya melihat mereka ini mirip saya dan mama saya, cek cok terus. Dan si gadis 26 tahun ini tidak pernah berhenti memotong Laura bicara, dan si Ibu terlihat malu bukan main dengan kondisi anaknya. Ya Allah, rupanya ini yang telah Kau persiapkan buatku selama ini. Saya sudah gatel pengen ngasih kode ke ibunya ‘it’s okay….’ tapi si ibu terus menunduk malu dan melihat ke arah folder berisi katalog yang kami bagikan.

Gadis itu, sebut saja Mary, terus mengunyah keripik dengan kencang sambil menyimak semuanya. Ibunya mengingatkan ‘apa kamu harus makan sekarang?’ dan Mary menjawab ‘Aku sudah tanya ke Kesadaran Tertinggi-ku dan dia bilang aku boleh makan ini, di sini dan sekarang’. Aku motong ‘iya gapapa kok, ini aku juga makan’. Setelah itu dia terus menanyai Laura dan mengulang-ngulang apa yang pernah dia baca di sumber lain dengan detil dan akurat. Laura tetap tangguh menjawab dengan sesekali menyeruput air putih dari botol minumnya. Alice terduduk dan ternganga sambil sesekali mencuri pandang ke arah saya. Mbak Fiona cuma bisa melihat lurus ke depan, atau ke folder. Di momen itu aku tahu, Gadis ini bukan autistik, gadis ini bukan sakit jiwa, dia star child. Dan ibunya sungguh sedang diterpa kebingungan akan nasib anaknya. Ya Allah, ternyata ini yang sudah Kau siapkan buatku. Mary bercerita bahwa sejak usia 16 tahun, dia mendadak sakit gak jelas, infeksi, inflamasi, peumonia. Dan setiap kali sakit, dia selalu disembuhkan oleh Kesadaran Tertingginya sendiri, dengan cara dihisap dari tubuhnya lalu dikembalikan lagi setelah sembuh. Bunbun bengong, ternyata ada yang lebih ajaib dari saya. Laura bilang baguslah kalau begitu, kamu punya level kesadaran yang lebih tinggi dibanding kami semua. Dan yang menjadi keluhan Mary saat ini adalah dia mengidap Lyme disease. Dia selalu merasa tersengat di seluruh area tubuhnya terutama kulit, dan selalu rutin minum pain medication, juga menemui seorang psikolog. Jujur saat itu kami sama sekali gak prepared dengan informasi tentang lyme disease, dan kita jujur bilang ke Mary bahwa kita akan cari referensi tentang itu. Hiks kasihan sekali dia ternyata, ada banyak sensasi terjadi di tubuhnya, itu menjawab semua tingkahnya yang seperti kurang fokus dan kebingungan.

Dan begitulah kelas pertama di rumahku berjalan. Kami mengedarkan 10 Everyday Oils ke para peserta, mengajarkan cara melakukan neuroauricular technique, dan membagikan sampel jus Ning Xia Red. Namun selalu dan selalu, presentasi diinterupsi oleh Mary. Mary yang meracau tentang dirinya sendiri, Mary yang minta dipakaikan oil saat ini juga padahal topik slide belum sampai ke situ. Tapi Laura, Alice, dan saya bisa bekerja sebagai tim yang baik. Laura banyak mengalah dan akhirnya kata-kata itu keluar dari mulutnya ‘Mary, aku ngerti banget kondisi kamu, karena aku ADHD’ hiyaaaa silver uplineku ternyata ADHD, pantes dia juga kalo ngomong kok cepet banget. Setelah diberi oil peace & calming, lavender, dan NAT di area brain stemnya, Mary bisa lebih tenang dan kooperatif. Pas sudah hampir jam 5 buru-buru aku tutup kelasnya biar mbak Fiona bisa pulang dan kabur dari situasi sulit ini hehe karena kalo diladenin ini anak gak akan stop sampai malam meracaunya. Aku bilang makasih banget sudah mau jadi satu-satunya audienceku dari kalangan temen Indonesia, semoga Allah yang membalas kebaikannya.

Ibu dan anak ini akhirnya memutuskan untuk membeli premium kit dan mulai belajar pakai oil, alhamdulillah semoga ini menjadi rejeki kesembuhan dan kedamaian buat mereka. Di sore itu Laura udah kelihatan capek banget ladenin Mary, aku dan Alice akhirnya yang lebih sering menjawab. Dan akhirnya Mary pulang juga, kami bertiga langsung terkapar.

Malam itu, ternyata kembali Mary masih saja ‘mengganggu’ Alice dan Laura via telpon untuk menanyai berbagai hal. Alice akhirnya yang mendengarkan dengan sabar hingga 1 jam. Saya sangat beruntung karena dianggap kurang cakap berbahasa Inggris oleh Mary hehe jadi malah selamet deh. Intinya, banyak pelajaran bisa dipetik dari kelas ini. Tidak ada sesuatu yang kebetulan, ada kinerja cosmic consciousness terlibat di sini. Dari Mary dan ibunya saya berkaca tentang hubungan saya dan mama saya sendiri. Mereka ribut dan berdebat terus tapi saya tahu mereka nggak bisa lepas satu sama lain. Saya seperti diingatkan oleh Allah bahwa kamu akan dipertemukan dengan orang-orang yang memang membutuhkan kamu di saat yang tepat. We always exist in the right place, at the right time, with the right people.

Meski Mary nanti kedepannya akan banyak merepotkan saya, insya Allah saya siap dan ikhlas membantu dia seperti adik saya. Ini bener-bener rasanya energi saya masih habis lho sejak ketemu dia. Mirip kaya kalau habis ketemu klien yang jejas traumanya masih besar dan masalah hidupnya banyak. Doa saya semoga Mary dan ibunya bisa menyembuh dan saling bisa menunjukkan cintanya dengan wajar, bukan lewat pertengkaran dan perdebatan.

Saya nggak tahu kapan saya siap bikin event lagi. Saya hanya tahu bahwa saat ini saya makin jatuh cinta sama oil-oil saya, dan akan pesan terus yang banyak selagi bisa. Semuanya berujung pada satu hasil akhir: practice of gratitude.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s