Well Visit yang Menyenangkan

Akhirnya di bulan kedelapan tinggal di Amerika kami punya family physician dan pediatrician juga. Meski anak-anak penanganan kesehatannya sudah dipegang sama homeopatis, tetap kami berdua pingin sekali punya DSA yang bisa diajak berdiskusi dan terus memantau dan memastikan perkembangannya anak-anak apakah selalu di ranah normal. Bunbun deg-degan sekali nih karena sudah keburu skeptis duluan, yakin kalau semua dokter itu pasti sangat textbook dan science driven. Tapi sisi hati kecilku yang lain bilang, cobalah Nut ga ada salahnya, ini kan California, hukum dan Undang-undang sudah mendukung para orangtua yang merawat kesehatan anaknya secara natural. Akhirnya kami coba bikin janji dengan Dokter Umum dan Dokter Anak di klinik Blackhawk Medical Center. Dapat rekomendasi tempat ini dari Dokter yang bekerja di kantor ayah. Ayah punya feeling oke sama tempat ini. Kalau Bunbun masih fifty-fifty belum kebayang. Enaknya mengunjungi dokter konvensional adalah semua biaya dicover oleh asuransi. Sementara kalau kami pergi ke naturopath dan homeopath, ya harus bayar sendiri hiks hiks. Intinya, seminggu lebih saya kurang tenang jadinya memikirkan tentang akan seperti apa DSA saya nanti. Hih lumayan bikin susah tidur. Sempet curhat sama temen-temen di grup Young Living northern Caliornia, mereka pada bilang santai aja, kalau memang ga sepaham kamu bisa pergi kapanpun kamu mau. Oke, kita siapkan semua berkas medical clearance dari Cvx yang direlease dulu itu sebelum kita berangkat, plus immunization recordnya anak-anak (yang super bolong-bolong pastinya). Sampai di Blackhawk Plaza Danville, kita isi data pasien dulu, di sini saya baca dengan sangat cermat tuh semua lembar right & policy sebelum berani tanda tangan. Setelah selesai mengurus berkas, anak-anak ditimbang dan diukur tinggi badannya. Lalu di ruangan yang berbeda mereka diukur suhu tubuh dan Baim diukur juga tekanan darahnya. Dan step terakhir tinggal nunggu DSA nya masuk. Nama Dokternya Denise, perempuan, Alhamdulillah baik sekali, dia gak pakai snelli. Dia masuk ke ruangan dengan membawa laptop, mirip dengan Natalya si Homeopatis kami kerjanya. Dia menanya-nanyai kami sembari mengetikkan jari jemarinya di laptop yang terletak di pangkuannya. Dia sangat komunikatif, sangat pintar berkomunikasi dengan anak, dan cerita sedikit kehidupan pribadinya. Hatiku mulai jatuh cinta juga sama ini orang. Statement-statement yang membuat saya luluh oleh dia adalah:
• saat konsultasi soal menyapih, dia sama sekali tidak merekomendasikan susu sebagai replacement di malam hari, dia suruhnya air putih
• dia bilang menyusui di atas 2 tahun itu oke-oke saja apalagi dalam transisi kami yang baru pindahan begini
• pas anak-anak ngerubungin dia sambil main-mainin Rubber ducky yang nempel di stetoskopnya, dia ga marah, dia bilang dia juga punya anak 3 laki-laki semua hihi anak-anak gak ngerasa sama sekali kalau dia itu dokter, beda yah hawanya kalo dibandingin sama medical D*ri nyahahahahahaha (glek)

Lalu setelah berbasa-basi dan ngobrol asik kesana kemari, perbincangan pun sampai ke topik riwayat imunisasi. Dia membacakan list imunisasi apa saja sudah diterima Baim dan Yusuf (dengan liat contekan di laptopnya). Aku dari rumah sudah siap nyusun kalimat yang apik dan sopan untuk ngasih tahu anak-anakku sengaja partially vaccinated. Dia sebutin tuh kurangnya apa aja, trus dia nanya, apakah kamu mau catch up ketertinggalan itu atau stay di sini aja? Langsung saya jawab yang kedua lah hehe. Ayah sempet nimbrung nanti bakal masalah nggak ya pas mau masuk sekolah, dan langsung kusamber dengan ‘not in California’. Dan itu dibenarkan oleh dr. Denise. Siapa saja boleh menentukan anaknya mau divaksin apa saja, nanti pas Baim mau daftar TK tahun depan dia akan senang hati memvalidasi daftar imunisasinya Baim. Weh, gini doang nih yang udah gue khawatirin berhari-hari?? Ya ampun gampang banget nyambungnya ga usah pake berantem (padahal udah nyiapin skenario berantem kekeke). Jadi triknya begini, saya tidak 100% menunjukkan penolakan terhadap vaksin, saya bilangnya saya mau pilih-pilih dulu vaksin yang kira-kira benar-benar mereka butuhkan, kalau sudah yakin, baru saya akan kabari dokter. Dia senang banget saya ngomong begitu, dia bilang kalau ada yang mau ditanyakan lebih lanjut tentang vaksin apa saja yang tersedia, silahkan tanya kapan saja, kami siap bantu. Kaya skill komunikasi sama seller aja, jangan dimentahin, kasih penghargaan, pastikan anggap dia sebagai orang yang lebih tahu. Jadi kebanyakan kami malah bahas masalah parenting tadi, ara mendisiplinkan anak, cara menyapih Yusuf, dokter ini seneng sekali saat saya mintai saran. Selesai diskusi, Baim dan Yusuf diperiksa mata, telinga, dan nafasnya. Mereka enjoy banget dan ketawa-ketawa karena dokternya lucu.. Haduh demen sangat bunbun sama dr. Denise. Yang paling bikin Bunbun sumringah adalah saat dr. Denise bilang Baim dan Yusuf sehat banget! Semua ada di kurva pertumbuhan normal, badannya tergolong tinggi-tinggi, dan BB Baim adalah sempurna untuk anak seusianya (saya sempet curhat suka ada yang nyablak komen baim kurus, you know lah), dia menenangkan saya ‘udah deh, Amerika udah sibuk campaign anti obesitas, lah kok kalian masih sibuk gemukin anak’. Heu heu bener juga ya…

Pokoknya well visit hari ini bener-bener bikin saya lega. Saya merasa aman mengetahui bahwa anak saya dirawat lengkap sama ibunya, homeopatis, dan dokter anak yang luar biasa supportive. Finally i really found someone who can walk together with me, support whatever i’m doing, and work as a team in my children healthcare. Pas udah ngerasa nyaman banget, aku ngaku kalo aku ini bawa anak-anakku ke homeopatis juga, dia nanya homeopatisnya di mana, aku jawab di Walnut Creek. Kayanya dia welcome, karena sempat aku puji-puji juga kalau yang bikin aku datang ke dia adalah karena banyak orang yang rekomendasikan dia dan tempat ini (padahal mah cuma satu orang aja yang rekomendasiin hehe).

Sekali lagi, i feel blessed, di usia anak-anak yang rentan dibombardir puluhan vaksin, kami malah bisa tinggal di California yang sangat-sangat melindungi kami. Di saat teman-teman naturalis di Indonesia menemui banyak sandungan dalam menemukan DSA yang mau berbesar hati merawat unvaccinated/partially vaccinated children tanpa merendahkan mereka, di sini semua DSA malah harus menghargai setiap anak tanpa memandang riwayat imunisasinya, dan dilarang keras untuk mengintimidasi mereka. Hmm…susah ya untuk nggak ngejudge Indonesia, tapi ya gimana lagi, mungkin memang kejadian outbreak (KLB) di Indonesia masih banyak, malah kata dokter Joserizal juga outbreak suatu penyakit di daerah tertentu tuh terkadang memang ‘kiriman kado’ dari pihak-pihak tertentu sih😦 gimana gak mau parno dokter-dokter Indonesah… Jadi menurutku sih emang yang bisa unvaccinate dan partially vaccinate di Indonesia hanya highly educated & well living parents aja sih menurutku, karena sistem masih usang, faktor resiko gedha, orang-orangnya ignorant, teror senjata biologis juga masih banyak. Yah, intinya i’m so blessed lah…tanpa bermaksud menyombongkan diri.

Pesanku buat ortu di Indonesia yang tidak memvaksin anaknya atau hanya partially memvaksin anaknya cuma satu, tetaplah ikhtiar cari DSA yang mendukung anda, karena Indonesia ga punya Homeopatis, dan jangan juga terlalu ngandelin herbalis heheh… Saya udah dikasih pelajaran untuk jangan menggeneralisasikan orang, saya sudah ketemu DSA yang pas dihati. Anda juga pasti bisa kook, kalau udah jodoh pasti ketemu. Kalau dibully, jangan sakit hati, cari yang lain. DSA yang baik tidak akan mencaci maki. Dan andapun gak boleh radikalis buta, yang belum apa-apa udah ngajak berantem duluan. Kuasai seni berkomunikasi yang baik. Saya juga punya teman-teman sejawat yang tidak sepaham dengan saya, kalau saya share link yang nyerempet-nyerempet vaksin mereka juga sering ngajak debat dengan ngasih opponent link yang lain. Tapi jangan kemudian perang sampai berhari-hari sampe urusan anak-suami dilupain yaa hehheheh. Segala sesuatu yang baik selalu dimulai dari kerendahan hati. Saya bukan salah satu dari Grup ASI for Thinker maupun Grup Stop Antivaks, buat saya dua-duanya sama aja psycho-nya, marah-marah mulu, trauma healing mana trauma healing. Serius, sedih saya lihat kalian. Dan saya ga akan pernah mau menjadi salah satu bagian dari keduanya (semisal ada yang ngajak). Wallahu Alam.
PS: komen saya tutup

20131101-221004.jpg