Kontrakan Idaman

Mau cerita tentang bagaimana kami menemukan rumah kontrakan di San Ramon. Sejak masih di Indonesia aku dan ayah Zun udah mengontak teman kantor yang sudah duluan tinggal di sini. Mereka pada variatif dalam memilih kontrakannya, dengan berbagai alasan ada yang tinggal di Dublin, Danville, San Ramon, Walnut Creek, dll. Tipe rumahnya juga berbeda-beda tergantung selera dan kebutuhan masing-masing, ada yang single family home, townhouse, dan apartemen. Hmm, sedari awal kita berdua ngincernya yang di San Ramon aja, kalau bisa dekat dengan kantor, biar tak perlu membeli 2 mobil. Ada satu teman senior yang dapet rumah kontrakan yang deket banget sama kantor, cuma 15 menit jalan kaki dari rumah, sewa bulanannya pun nggak mahal-mahal amat. Wow enaknyaa, patut dicontoh ini, batinku. Mulai deh sejak di Duri browsingan-nya udah trulia.com. Badan masih di Sumatera tapi pikiran udah mumet ke US. Dan ternyata susah ih cari kontrakan di area sekitar kantor. Belom nemu juga. Ya udah akhirnya kita berangkat tanpa tahu mau dapat rumah di mana. Jalani hidup here and now.

Sampai di San Ramon, ayah kerjaannya pulang kantor selalu buka ipad nyari iklan rumah disewakan, sementara aku berkutat sama hebohnya anak-anak. Ceritanya kita masih tinggal sementara di Bridges Apartment. Eh di suatu Sabtu pagi di hari kelima, dia nemu satu iklan rumah disewakan yang fresh baru dipasang pagi itu! Dan letaknya di Jalan Winterside Circle. Kita masih belum tahu tepatnya di manakah Winterside Circle itu. Tapi cobalah yuk dilihat saja dulu. Sore-sore janjian sama pemilik rumahnya dan sampai di sana kita pun melongo. Hayah….ini mah cuma ngesot dari kantor! Dari pintu depan kita udah bisa lihat gedung kantornya ayah berdiri tegak, dipisahkan oleh jalur khusus jogging dan biking yang namanya Iron Horse Trail yang membentang panjang menghubungkan kawasan Tri Valley area (Danville, Dublin, San Ramon). Ini bahkan lebih dekat lagi dari jarak rumah teman kami tadi. Haduh ayah langsung mupeng, wis gak peduli sama yang lain-lain langsung dipepet terus ini sang land lord. Wis jatuh cintrong (bahasa Petruk). Rumah ini available karena penyewa yang lama akan pindah dalam 2 minggu. Hwaduh…pas banget, nggak sempet suwung dong rumah ini. Pihak penyewa lama sengaja diminta pergi keluar rumah sebelum kami datang, biar kami bisa bebas lihat-lihatnya tanpa merasa saling sungkan. Sayangnya kita bukan satu-satunya kandidat. Sudah ada 2 peminat lain yang lihat rumah ini. Dan mereka menentukan pilihan lewat sistem scoring. Yah, Bismillah aja deh. Kalau aku pribadi pas masuk ngerasain hawa rumah dan kondisi bangunannya, hmm…suka juga sih, gak ada yang aneh, gak ada yang butek, semua fine. Bangunan ini sebetulnya sudah cukup tua, dibangun tahun 1992. Sudah beberapa kali berganti penyewa. Rumah dengan 4 kamar, dua kamar mandi, satu toilet tamu, dan garasi 2 mobil. Aji gile, banyak ya kamarnya… Rumah ini juga sudah dilengkapi dengan perkakas seperti kompor listrik, microwave, dishwasher, washer dan dryer. Sisanya kita isi sendiri. Harga sewanya juga paling kecil diantara harga-harga yang sudah teman kami sebutkan. Masih kepala 2 gede. Sementara yang lain rata-rata kepala 3 bahkan 4.

Rumah ini dua lantai (two stories), itu yang bikin aku rada males, aku ngeri Yusuf jatoh. Tapi ya susah juga kalau mau cari yang ideal banget, toh bisa pasang pagar pengaman juga kan..
‘gimana bun?’ tanya Ayah
‘oke aja deh’ jawabku.

Di hari kedua kita dapet telpon dari pemilik rumah (Wendy dan Jim) kalau mereka milih kita untuk jadi new tenant nya. Entah apa yang bikin mereka suka sama kita, solidaritas sesama orang Asia mungkin? Kebetulan mereka beretnis Cina. Alhamdulillah… Sujud syukur banget nih, dapat semua yang diimpikan.

Udah, sekarang ngomongin yang gak enak-gak enaknya ya. Kita dikejar tugas segambreng. Beberapa diantaranya daftar PG&E (PLN), daftar jasa truk sampah (Waste Management), sama mengurus jasa instalasi tv kabel dan internet. Yah kalo disebutin semuanya mah jadi ngajak-ngajak stres yang baca hehehe. Intinya kita resmi serah terima kunci rumah mulai tanggal 15 Maret kemarin. Ada rasa-rasa heboh dan cape. Pinggangku menerima cobaan luar biasa. Ini Yusuf tiap masuk ke kontrakannya selalu naik turun tangga nggak selesai-selesai.
Ada rasa terbebani juga takut aku gak bisa merawat rumah ini seperti seharusnya. Ini rumah gede dan cakep, aku takut mengacaukan segalanya. Tapi buru-buru aku sadar, aku cuma akan menyiksa diri sendiri kalo matokin tolak ukur setinggi langit. Gue gak perlu sok-sokan kepingin jadi kaya Martha Stewart. Jadi sejak saat itu saya total berfungsi sebagai Housewife, istrinya rumah, sehari-hari di rumah dan mengurusi rumah. Frekuensi kultwit merosot tajam, posting blog juga. Pokoknya, tiada hari tanpa membatur.

Tidak terasa, sekarang sudah Oktober 2013. Sudah 7 bulan kami menempati rumah ini. Di rumah ini kami beristirahat, beribadah, berkumpul, bersenda gurau, bertengkar, marah-marah, merawat anak sakit, menerima tamu, dll. Yusufpun sudah piawai naik turun tangga dengan aman. Suka dan duka terjadi di rumah ini. Setelah 7 bulan, kami baru menemukan kekurangan rumah ini yakni terlalu dempet dengan tetangga kiri/kanan/belakang. Jadi kalau kita buka pintu voyer menuju halaman belakang, kedengeranlah segala suara kiri-kanan kalau mereka ada di halaman belakang juga. But that’s okay, masih jauh lebih nyaman dibanding apartemen. Kalau Baim dan Yusuf lagi drama nangis-nangis berantem, tidak sampai mengganggu tetangga.

Untuk kondisi rumah, Bunbun berayukur sekali karena di rumah ini sama sekali tidak ada semutnya seperti di Duri dulu. Jadi semisal ada remah roti atau bahkan meises yang berserakan di lantai tidak perlu buru-buru disapu. Dan di San Ramon juga tidak pernah ada nyamuk. Berbulan-bulan kulit kami mulus tanpa gigitan nyamuk. Kalau Bunbun sudah capek dan pusing sekali sama urusan rumah, kami memakai jasa housekeeper dengan tarif per kedatangan. So, intinya dijalani dengan santai apa adanya.

Sekarang belum apa-apa sudah sedih kalau mikir waktu kita di Negeri ini tinggal 2 tahun 5 bulan lagi, ihihihi kemaruk tenan tho? Ada rasa di mana pasti akan berat nanti saat kita harus pisah sama rumah ini, jualan garage sale lagi, ngepak-ngepak lagi, dan berputar mengikuti gerak siklus alam semesta lagi… Apapun yang terjadi nanti, saya cuma pingin makasiih banget sama Allah yang sudah memberikan apa-apa yang persis kita sebutkan kan minta di dalam hati. Betapa nyatanya kinerja afirmasi dan doa serta prasangka baik pada Sang Pencipta. Kepingin rumah kontrakan dekat kantor, dikasihnya plek sama seperti itu. Hal ini tambah membuat saya yakin, Allah selalu menolong dan membantu kita. He’s not just our Lord, He’s our best buddy.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s