On My Way Planning…

I’m at the deepest, lowest point in my housewife life. I failed these 6 months as a good housekeeper. Aku payah. Suami kecewa banget sama kinerjaku di rumah. Berkali-kali ketidakbecusanku mengurus rumah tangga telah mengundang amarahnya. Kalau setrikaan kelar, dapur berantakan. Kalau dapur sudah bersih, gantian kamar amburadul. Giliran semua bersih, saya bingung makan apa karena baru nyadar ternyata belum masak! We are in the darkest era of our marriage. Dan suami saya perfeksionis, tidak (belum) bisa melihat cacat dari sebuah rumah maupun seseorang. Kasihan, pasti kaget sekali dia menyadari bahwa saya sungguh istri yang payah. Realita berupa foto-foto betapa berantakannya rumahku selalu rutin kuunggah khusus buat komunitas pribadiku di path, yang isinya hanya orang-orang yang beneran saya kenal dekat dan saya merasa nyaman dengannya, yakni beberapa teman SMA dan kuliah yang sudah tahu saya sampai ke borok-boroknya. Path itu therapeutic banget, karena itu satu-satunya socmed dimana aku sudah gak minat lagi untuk pamer ini-itu, ga harus rutin kultwit tentang normal labor, dan sudah ga ragu untuk all out bikin status nyablak dan no filter, about my pain, and about people i hate who aren’t in my path absolutely LOL.

Back to the topic, jadi if you are on my path, you must know my suffering. Foto setrikaan, foto kamar, foto dapur dan masakannya, it’s all there. Sampai akhirnya saya berpikir, sebegitu malasnya kah saya sampai rumah ini tidak pernah bisa berada dalam kondisi 100% rapi? Sementara suami saya yang cenderung OCD selalu ingin pulang kerja dalam kondisi rumah yang rapi, organized, dan kinclong. Gosh saya paling tidak tahan mendengar omelan khas Tegal Laka Laka nya yang sungguh mengiris hati kalau komen tentang kondisi rumah dan kinerja saya dalam mengurus anak-anak. I just can’t handle that Tegal rooted rudeness, pardon my racism.

Mungkin saya yang salah. Mungkin saya yang belum menggeber kemampuan saya sampai di titik tertinggi. Saya ini memang anak mami yang pemalas sejak kecil. Terkondisi untuk selalu punya pembantu dan tidak pernah inisiatif belajar jadi istri. Lalu tiba-tiba harus jadi istri dan dikasih anak dua berentetan, jegher, beginilah jadinya.

Mungkin juga karena saya bukan planner yang baik. Saya nyaris tidak pernah merencanakan atau menjadwalkan apapun di kehidupan sehari-hari saya. Menu masak hari inipun mikirnya baru pagi harinya. Pribadi yang spontan dan penuh kejutan, tapi jadinya payah kalau ketemu tugas daily basis ibu rumah tangga, dan jadinya disaster kalau ketemu suami yang super terencana.

Well, saya bisa saja terus mengeluhkan segala seauatu di kehidupan ini seperti nenek-nenek bawel. Atau, saya bisa bangkit dan membereskan puing-puing berserakan ini (literally, it IS a bundle of puing-puing berserakan in my house). Saya pilih yang kedua. Saya ingin mencoba untuk berserah menjadi budak dari jadwal yang saya buat sendiri. Nitnut yang spontan kini ingin menjadi Nitnut yang terencana. Bisa nggak ya….bakal dijalanin nggak ya komitmen ini….

Please…please…please…. Aku ingin berhasil at least dalam satu hal saja, mengurus rumah dengan baik.

Kebetulan tadi bertemu dengen sebuah planner/organizer yang cantik sekali, dan hadir dalam warna baby blue kesukaanku. Mungkin ini sentilan dari Allah, sepertinya kok planner ini memang khusus dibuat untukku. Namanya Mom’s Weekly Planner, di dalamnya banyak quote tentang kehidupan sehari-hari menjadi ibu, dan time table selama 18 bulan dari Juli 2013 hingga akhir Desember 2014 nanti. Deg, dalam hati langsung komen ‘mungkin ini yang kubutuhkan’. Godaan-godaan dan bisikan-bisikan skeptis sempat timbul ‘Ah, kaya bakalan dipake aja’ ‘ah, paling juga lo langgar sendiri nanti tuh jadwal’ ’20 dolar, mahal-mahal ntar ujungnya pasti cuman buat menuh-menuhin meja’ and many stuffs like that. Gila yah betapa kejemnya my disempowering mind ini. Tanpa sadar ternyata isi kepala gue juga udah punya komentator yang lebih Tegal dari laki gue rupanya! Ish udah default nih… Tapi konon musuh terbesar adalah isi kepala sendiri, si iblis pembisik yang hobinya ngenyek dan menghancurkan mimpi. Satu-satunya cara untuk membuktikan bisa atau tidaknya saya adalah dengan membeli planner ini. Semoga ini awal yang baik…. Semoga dengan planner ini saya bisa istiqomah mengerjakan semua tugas ibu rumah tangga, karena ini jihad saya.

Bismillah….

20130811-231739.jpg

20130811-231822.jpg

20130811-231936.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s