Pendidikan Anak 101

Tidak terasa sudah menginjak bulan keempat kami tinggal di San Ramon, dan tiga bulan di dalamnya anak-anak sudah menyicip pendidikan usia dini a la Amerika. Kalau mau dibilang kaget, ya memang kaget juga. Di sini rata-rata bayi umur 3 bulan sudah dititipkan full day di day care, dengan ASI perah maupun sufor, tergantung prinsip ibunya. Suka gak tega lihatnya, tapi bagaimana lagi, biaya hidup di sini nggak sedikit, mau tidak mau banyak ibu muda harus tetap bekerja mencari penghidupan. Sementara saya? hihi saya satu-satunya yang masih menyusui anak 18 bulan, semua seperti takjub melihat ASI saya kok masih keluar, mereka bilang apa nanti anaknya nggak susah dilepas ke dunia luar karena dekat sekali dengan ibunya? Saya senyum saja, saya yakin justru dengan menahan mereka lebih lama di pelukan kita, mereka bisa merasa lebih aman dan dicintai, sehingga nanti dewasanya mereka lebih feeling secure di setiap tahap hidupnya. Tapi ya menjauhkan mereka dari kita susah sekali jadinya. Wuih susahnya proses membiasakan anak-anakku sekolah di dua minggu pertama, mereka nangis-nangis nggak karuan di awal-awal. Dulu pertama kali mereka saya masukkan ke La Petite Academy karena paling dekat dari temporary apartment, dan gaya mengajarnya militer sekali *sigh… Gak ada tuh yang namanya istilah attachment parenting dsb, semua ikut jadwal, ikut aturan, yang tidak nurut akan dimarahi. Waduh nyesel saya jadinya pas lihat boroknya La Petite dari dalam, you know what bahkan saya sempat pergokin ada guru yang mukulin satu murid di playground. Wah kapok saya, akhirnya saya cari-cari lagi sekolah lain. Stres banget memang urusan sekolah ini, mana anak-anak pada sakit flu nggak kelar-kelar kan di bulan pertama itu. Doaku waktu itu cuma satu ‘Ya Alloh semoga anak-anak bisa enjoy di sekolahnya, Yusuf nggak inget nenen, jadi saya biar bisa tenang ngurusin hal-hal penting lain dan nggak kepikiran terus’. Setelah sebulan sekolah di La Petite, saya dapat info dari seorang teman ada sekolah lain yang lebih friendly di Jalan Morgan Drive, namanya Donna Daly’s Jumpin Day Care. Saya surveylah ke tempatnya, dan lebih sreg, serta lebih murah juga biayanya. Akhirnya Baim dan Yusuf resmi pindah ke situ. Dua minggu pertama saya masih (teteup…) nggak karuan mau ninggalin mereka full day, mau ngapa-ngapain di rumah jadi gak konsen. Tapi Alhamdulillah doaku terjawab, mereka betah sekali di tempat Donna. Lewat dari minggu kedua, Yusuf sudah bisa ketawa lepas sama Donna dan mau jawab pertanyaan-pertanyaan simpel. Dan tanpa kesulitan berarti, Yusuf bisa tahan nggak nenen sampai sore hari pas sampai di rumah. Baim jauh lebih maju lagi perkembangannya, kosakata Inggrisnya suka ngagetin sendiri, plus cara intonasinya juga American banget hihi. Donna Day Care jauh lebih mild daripada La Petite, namun tetap saja penerapan disiplin dan kemandirian tetap nomor satu, tetap the American way. Jujur sementara ini karena faktor pekerjaan dan pergaulan, saya masih penganut total attachment parenting dan gentle parenting. Namun semenjak tinggal di sini saya jadi tertarik juga untuk menganut sebagian pola pendidikan Amerika. Karena beneran lho anak-anak jadi lebih behaved, terkontrol, tidak seliar dulu waktu masih dimanja oleh saya dan eyang-eyangnya. Contoh: sekarang Baim sudah bisa pakai kaos kaki dan sepatu sendiri, hal sekecil itu berharga banget buat saya, karena ekstra waktu 2 menit tuh buat saya adalah sangat berharga, bisa manasin mobil, bisa masukin cucian, atau nyiapin Yusuf. So, ya…setiap pagi adalah waktu heboh bener buat saya, sendirian, suami sudah ke kantor, saya harus siapkan anak-anak dan ngenter mereka sekolah. Kemandirian sudah pasti perkara penting buat saya. Pas mereka di sekolah, fiuhhhh saya baru bisa narik nafas panjang, istirahat sejenak.

Baru-baru ini saya juga nemu buku bekas diskonan di Bay Books yang judulnya ‘How to Raise a Happy Unspoiled Child’, dan isinya lumayan ngagetin, lumayan mentahin apa yang saya anut selama ini. Intinya adalah, terlalu memberikan semua bentuk pemuasan 100% pada anak justru akan merubah dia menjadi ‘the tiny terror’ di usia 2 tahun nanti. Penulis terutama memberi kritik serius pada cara kita menenangkan bayi yang kesakitan karena jatuh/terantuk. WOW. Jadi begini, mulai usia 5 bulan kan bayi mulai mengalami ‘kecelakaan-kecelakaan kecil’ karena mobilitasnya. Sebut saja kejedot, jatuh, kejepit, dsb. Nah respon dari para orangtua dan grandparents suka sangat berlebihan, dan ini investasi buruk buat masa depan anaknya. Ya, memang bayi bisa menangis sangat kencang sampai kita panik, tapi itu tidak apa-apa, kalau dia menangis tandanya tidak masalah, biarkan reda sendiri, cukup cek saja kondisinya, lalu bilang kalimat singkat ‘it’s okay lain kali lihat sekitarmu’ (dengan catatan seisi rumah sudah harus di-babyproof-kan terlebih dahulu). Lah ini para ibu atau nenek sukanya langsung ikutan nangis, nggendong, panik, bawa ke dokter, kejedot doang. Respon kita yang ‘segera datang menyelamatkanmu’ itu yang sering bikin bayi belajar pola yang nanti mereka pakai di usia lebih besar sebagai senjata untuk mengontrol orangtuanya. Memang susah sekali untuk mengubah kebiasaan, tapi saya sudah merasakan sendiri manfaat mengabaikan tangisan manjanya Yusuf. At some point dia mikir ‘waduh udah gak ngaruh nih gue nangis, bunbun cuek aja tuh’ dan akhirnya dia diem. Siapa yang susah sekali bahkan takut ngajak anak usia 2 tahun ke tempat keramaian? (*nunjuk tangan sendiri) Ya karena ternyata terrible two itu adalah hasil manifestasi cara didik kita sendiri :(( Belom lagi kalo yang anaknya kepentok malah ngajarin mukul tembok ‘nakal’, mukul lantai ‘nakal’, nyalahin meja, nyalahin tiang, kikikikikikik bisa pingsan si penulis buku di atas kalau tahu ortu-ortu di Indonesia have been acting like that. Buku ini bener-bener membuka cakrawala pemahaman saya tentang mendidik anak, dan akan sangat berguna buat klien-klienku. Karena segala ilmu di buku ini berdasarkan riset puluhan tahun, observasi langsung ke rumah-rumah. Saya jadi tahu bahwa anak-anak itu sengaja ngetes kita dari waktu ke waktu, contoh: sengaja jatuhin makanan, sengaja numpahin minum, sengaja itu, dan kalau respon kita langsung nyamber marahin, mereka akan ngulang pola itu lagi. Instead of langsung marah dengan nada tinggi, kita sebaiknya tetap bicara nada rendah dan muka lempeng, tapi tegas ngasih time out buat dia duduk diam di pojokan. Anak-anak paling menderita bila disuruh diam saja, jadi hukuman paling manjur buat anak tuh bukan pukulan, cubitan, tamparan, dsb, tapi hukuman untuk diam tidak melakukan apa-apa! Mirip-mirip Nanny 911 ya? Begitulah kurang lebih cara mendidik anak The American Way.

Mulai bulan depan Yusuf saya berhentikan sekolahnya karena alasan keuangan, kita pingin saving lebih banyak uang tiap bulannya sampai at least tahun depan. Ini akan jadi tantangan banget buat saya karena saya harus melanjutkan apa yang sudah Donna upayakan selama ini. Pesan Donna jangan kasih gadget, dan ini berat banget buat saya karena jujur bo…gua harus nyuci piring, beresin mainan, ngurus cucian.. Tapi bismillah pasti bisa, uang sekolah Yusuf bisa dialokasikan buat beli mainan edukatif yang bikin dia kreatif. Aku bener-bener butuh memahami lebih dalam buku di atas, kalau tidak, kami berdua akan berakhir nenen mulu dan tidur-tiduran seharian karena Yusuf nggak mau ditinggalšŸ˜¦ Prinsipku, kalau anak-anak ndeso di kampung aja bisa asyik sendiri meski dijarno ibu’e, berarti saya juga bisa.

Bener kata Kahlil Gibran, anakmu bukan anakmu. Kita nggak pernah bisa tahu 100% anak kita bagaimana, meski ‘bahan mentah’ tubuhnya adalah dari kita dan pasangan. Dari segi ilmu soul journey, kita nggak tahu soul/ruh mereka dari mana, mereka siapa, they’re totally strangers. Mereka adalah jiwa-jiwa yang digariskan untuk bertakdir bersama dengan kita selama waktu tertentu dalam kehidupan. Pahami konsep itu dulu untuk bisa menerima anak kita apa adanya, baik buruknya, karakternya, apapun itu, hormati mereka sebagai human being. Tugas kita adalah menunjukkan mereka tentang dunia, sampai mereka mandiri dan mengulangi siklus yang sekarang kita alami. Selama melewati semua tahap itu, pasti obstacles selalu ada. Disitulah pentingnya orangtua selalu belajar, dengan open minded, dengan rendah hati, merunduk seperti padi, demi hasil yang terbaik. Mau itu gentle parenting, conscious parenting, unspoiling parenting, tiger mom parenting, tidak ada yang paling salah maupun paling benar. Nikmati saja ilmu parenting 101 ini, tanpa harus jadi sempurna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s