Aya Aya Wae

Postingan ini menanggapi riuh dan panasnya diskusi gentle birth di kampung Endonesah. Apa daya idupku juga lagi riweh, baru tahu dan mampir ke TKP diskusi barusan. Padahal diskusi panasnya berlangsung sudah 10 hari yang lalu.

Kalau sampai khusus dibikin postingan oleh doula Hanita, berarti mantap dong ah pasti isunya. Debat panas antara Prita dan Henny Zainal ini terjadi dalam satu status di profil seorang bidan di Nganjuk. Entah mengapa status yang men-tag kedua tokoh yang saya sebut di atas tersebut menjadi sebuah perdebatan sengit. Well, Henny Zainal sih ya yang lebih sengit…as usual. Saya ampe pedih teriris-iris baca komennya bu Henny yang ditujukan ke Prita, hiks FPI sekali. Beliau ini sedang giat-giatnya mengajak kaum muslimin dan muslimat di Indonesia untuk kembali ke makna persalinan yang Islami sesuai dengan ajaran Al Quran dan hadist. Beliau merasa sangat penting dan urgen untuk menjauhkan segenap muslim se-Indonesia Raya dari kobaran api neraka karena lalai menjaga iman semata-mata demi melakukan ‘Gentle Birth’ yang tidak sesuai dengan kaidah agama. Patut diacungi jempol….api neraka panas bok…. But, errrrr….. mind your language dear….would….you…..please?
Menurut penerawangan jeng Nitnut keberadaan ibu Henny tidak akan bertahan lama di dunia persilatan gentle birth kalau beliau tetap berlaku dan bertutur kata seperti sekarang di media. People hate harsh words from harsh people…i swear in the name of God Azza wa Jalla. Who will like harsh people, dude?

Nah di sisi lain, tanpa bermaksud ingin membela salah satu pihak. Jadi Prita itu berat. Sudah lama saya mulai lelah dan malas dengan grup GBUS karena jumlah membernya yang terus eksponensial, suka asal bertanya tanpa meresapi pertanyaannya sendiri. Cape yah. Tapi Prita bertahan mengedukasi, tak kenal lelah berbagi. Dia cuma ingin semua ibu hamil di Indonesia punya akses informasi yang berimbang. Prita memang hebat, dia jurnalis, penulis buku, penerima penerima penghargaan jurnalisme, dan punya banyak, banyak, banyak, informasi kesehatan. Jujur, saya saja sangat iri padanya luar dalam. Udah solehah, pintar, bijak, hidup sangat sehat, berwawasan. Gak mustahil kesempurnaan seorang Prita akan mengundang ‘mara’ dalam bentuk hadirnya sesosok Prita wanna be yang ingin menggulingkan Prita beneran. Udah mulai ngaco kan bahasanya… Hihi intinya, perseteruan dan hujatan pada Prita dan GBUS selain dikarenakan rasa dengki, bisa juga merupakan isu berbasis jualan, baru salah satu kemungkinan lho ya. Analisa lain bisa juga karena self arrogancy dan the need of fame. Tapi dari sekilas mata saja saya sudah tahu, jiwa Prita jauh lebih matang dibanding Henny. Satu mature satu baby. Untung Prita jiwanya mature, coba kalau nggak, bisa nggak tidur tuh dia mikirin komen-komen pedih dari Henny.

Sekarang mari kita lakukan perenungan bersama..
Apa sih yang mau dikejar dari hidup ini? Harta benda? Nama? Ketenaran?
Jujur, dulu pun saya haus ketenaran…apalagi pas masa euforia lahiran Yusuf, i’m the center of attention, siapa yang gak suka? Tapi untungnya Tuhan kasih saya guru-guru bijak yang selalu ngingetin untuk stay stick to the earth. Terakhir, kata-kata yang paling nancep adalah dari Pak Eddy Soetyono pas baca golden era saya. Dia bilang,

jaman dulu itu manusia gak mikir nama dia mau sebesar apa, yang penting apa karya yang sudah dia buat untuk dunia. Orang dulu secure-secure, sedangkan orang sekarang insecure, dikit-dikit maunya publikasi, kesian banget….

jleb menohok di tenggorokan. Ngapain sih cari tenar di kalangan manusia? Mending cari tenar di kalangan malaikat dan dimensi-dimensi lain karena kebaikan dan welas asih kita buat sesama.

So…yang berlalu biarlah berlalu, everything happens for a reason. Kalo hidup adem ayem terus kayaknya kurang bumbu. Analisa jeng doula sesat saat ini mungkin hanya ‘Hiduplah simpel. Hamil ya belajar…. Gentle birth ya belajar…. Islam yang baik ya belajar…. Mengendapkan meresapi. Semoga Yang Maha Tahu melingkupi kita semua dengan ilmu-Nya’