Another Big Transition in Our Life

Nggak ada bayangan sama sekali sebelumnya bahwa pindahan kali ini bakalan jauh banget.

Saat pelatihan Eat Pray Doula, aku tersentuh sama materinya Katherine Bramhall tentang I Ching Life Passage Card/Life Transition Card, yang kurang lebih maksudnya I Ching = The Book of Change. Everything in our life is about transition. Deal with it. Dan bener, tahun 2012 ini hidup berjalan begitu cepa

Oke, jadi kita pindah ke San Ramon, CA, US. Rencananya selama tahun. Ok, if so, then we must be really really blessed *sujud syukur. Bisa gratisan ke Amerika ga pake nabung ga pake planning? Wow ini duren runtuh segede gajah! Gimana nggak bengong, yang gak demen traveling macam saya malah dikasih momen-momen kayak gini sama Allah. Alright God, i take it as a compliment. I pinched myself and it hurts, it’s real Alhamdulillah.

Semua pada sedih…gak nyangka juga jelek-jelek begini kepergian saya bisa bikin sedih orang lain juga. Temen-temen genk gbus bilang harus ketemu, iyaa. Temen-temen FKG bilang harus ketemu, iyaa. Mas Reza dan Mbak Dewi lebih santai dan cuma pesan ‘As long as you got good internet access, dear’ (Baeklah kakak!). Relasi dan silaturahmi baik yang sudah kumiliki selama ini harus kutinggalkan sementara demi menemani tugas bapaknya anak-anak.

Dan….kembali ke titik awal, ingat, segala sesuatu mengandung bahagia dan derita. Sudah pasti ada tawa dan tangis di proses ini. Nangis mulu di awal-awal. Salah satunya karena masalah prinsip yang sensitif banget. Untuk memenuhi medical approvement guna memasuki wilayah Amerika kita sekeluarga harus menerima serentetan vaksin. Runyam holistic homeopathy treatment nya Yusuf yang udah bagus-bagus saya bangun dari awal kelahirannya, harus kena vaksin juga dia. Nangis edan, pagi nangis, sore nangis, malem nangis. Nangis ke ayah, ke Puti, ke Wida, ke Yuli, ke dr. Riyana, ke mas Reza. Random lah curhatnya, baik ke temen yang pro vaksin maupun yang aware vaksin. Di situlah arti teman sejati yah…mereka bener-bener mendengarkan saya sebagai teman. Yah akhirnya lama-lama aku pasrah menerima, ya sudahlah, aku gak mau mempersulit proses ini, kalo memang jalannya Yusuf harus divaksin, mari kita afirmasikan bahwa Yusuf tetap sehat dan kuat di luar kondisi zat apapun yang harus masuk ke tubuhnya. Sebelum dia disuntik, aku TAT dulu. Aku bisikin ke anak-anak ‘Yusuf, Baim, selaraskan tubuh kalian, tolong buang apapun yang jelek-jelek dari tubuh kalian’. Dan benar, Yusuf anak pintar, tiap malam dia bangun nangis sambil ngeden ngeluarin pup hitam berlendir di popoknya. Pupnya beda, warna dan baunya juga beda. Kayak lagi mendetoks sesuatu dari tubuhnya sendiri, dan itu berlangsung seminggu lebih, lumayan jadi cranky deh saya karena setiap malam harus bangun dan bikin Yusuf comfort. Pagi-pagi mata jadi sembab kurang tidur. Untung ayah sangat pengertian, dia hubungin seseorang entah siapa di Rumbai untuk perjuangin penolakan vaksin MMR buat Yusuf. Baim gapapa deh, dia sudah infinite banget tumbuh kembangnya, tapi Yusuf jangan. Yang lain (DPT, Influenza, varicella, hep B) silahkan, asal MMR tidak. Saya berhak nego, dan kebetulan dapet satu link juga dari mas Reza tentang form Medical and Personal Belief Exemption untuk negara bagian California. Ini link-nya Mas Reza emang canggih. Di situ dibilang bahwa di CA sudah berlaku hukum yang melindungi keluarga-keluarga yang memilih untuk tidak memvaksin anaknya karena alasan agama (gak cuma muslim ya, mormon juga) maupun karena alasan pribadi. Semua anak boleh masuk public school, di luar apakah dia fully/partially/unvaccinated. Semua dihormati asal data harus dilaporkan ke pihak sekolah apakah anak saya fully, partially, atau none. Nanti konsekuensinya cuma kalo pas ada kejadian wabah penyakit tertentu, anak-anak yang partially/unvaccinated yang (katanya) dianggap belum punya imunitas terhadap penyakit tersebut ya harus bersedia dirumahkan, tidak berinteraksi dengan anak lain sampai kejadian wabah selesai. Itupun kalo ada wabah ya.
Di sisi lain saya sungguh sangat mengerti bahwa posisi kami sekeluarga pada assignment ini adalah sebagai duta Chevron Indonesia, pihak medical CPI gak akan mau ambil resiko melepas kami pergi tanpa ‘perlindungan’ yang menurut kacamata medis adalah berupa serial vaksinasi. Mereka pasti takut kalau selama 3 tahun itu kami kenapa-kenapa maka nanti pasti pihak medical CPI-lah yang akan disalahkan. Kenapa lo berani lepas mereka pergi tanpa lo vaksin dulu? Padahal sih yang aku lihat malah pihak US nya nyantai aja tuh. Sebenarnya cuma masalah fear of incident dari staff medis di CPI indo aja sih. Saya ngerti banget kalau prinsip kerja kita semua adalah Think Incident Free. Jadi biar sama-sama enak, saya memilih untuk kooperatif aja, melucuti sedikit idealisme saya, yuk vaksin deh, tapi MMR jangan ya. Insya Allah ini ujian kesabaran yang kalau naik kelas pasti akan berbuah hal-hal manis lebih banyak lagi. Dan bener, tawakal itu sumber kemudahan, permintaan menolak MMR untuk Yusuf diapprove. Alhamdulillah… Dan gak lama, surat medical clearances yang menyatakan kami semua sehat sudah keluar, meski proses vaksinasi anak-anak belum selesai, dan Baim juga belum sempet kena MMR, baru DPT, influenza, varicella dan heb B (hiks banyak juga ituh T_T). Tapi yang penting masih diberi ganjaran manis lah dari Allah, kita nggak usah nongol-nongol lagi ke medical, udah langsung berangkeek🙂 Rasanya penuh kemenangan. Semoga nanti di San Ramon bisa punya satu dokter homeopati yang baik buat diskusi soal kesehatan anak-anak, meski so far mereka baik-baik saja. Preliminary action lah….pengennya ke dokter yang di web ini . Sudah sempat e-mail2an sama dokternya bahas kasus anak2 saya dan ini kutipan jawabannya:

Dear Hanita,
I agree that vaccines aren’t for everyone, and they don’t affect people equally. I would be happy to take your children’s cases and help in any way I can. As far as the local community goes, I suggest that you go to http://www.meetup.com and look for groups of parents that are about vaccine awareness. I would also suggest contacting Bay Area Homeopathy Association to see if they have local links.

Best regards,
Natalya Golovanov, ND

Satu pelajaran sudah kumengerti, yakni Ikhlas dan tawakal. Nggak semua hal di dunia bisa ada dalam kendali kita. Kalau kita gak sengak sama kehidupan, maka kehidupan pun gak sengak sama kita. Sekali lagi saya tekankan bahwa apapun yang saya sampaikan dalam tulisan ini tidak dapat berlaku mutlak untuk setiap orang. Buat saya, vaksin bukanlah satu-satunya cara untuk membangun imunitas manusia. Saya bisa seperti ini karena sudah banyak belajar. Saya bisa berlaku begini karena saya diberkahi lingkungan bersih dan sehat, pun saya bukan pembawa penyakit hep B, dan sudah yakin telah mengeliminir adanya daftar kemungkinan-kemungkinan faktor resiko di kedua anak saya. Tapi kalo prinsip ini diterapkan pukul rata buat masyarakat even yang tinggal di bantaran kali Ciliwung, di pinggiran rel kereta api, ya itu cari mati namanya. Lha wong mereka memang sehari-hari ‘dikepung’nya sama biang penyakit infeksius kok. So just be wise of what i write.

Oke balik lagi ke moving stuff ya. Derita kedua adalah: penghakiman. Penghakiman pertama datang dari ibu saya sendiri. Beliau bilang ‘apa bisa kamu ngerjain semuanya sendiri di sana? Nanti kalo kamu sudah kewalahan baru akan menyesal kenapa nggak ngikuti kata-kata mama sekarang ini’ Ouch…that hurts. A lot. Sinyal kekhawatiran yang didasari rasa sayangnya sungguh keluar dengan output yang nggak ngenakin. Gak cuma dari mamaku sendiri, lingkungan sekitar juga ada yang meragukan kemampuanku untuk bisa bertahan di Amerika mengurus dua anak sekaligus rumah. Suamiku yang baik hati untungnya selalu bilang ‘Bun kamu belum tahu potensi maksimal apa yang kamu punya, ayo digeber mulai sekarang, genjot terus sampai kemampuanmu yang maksimal, buktiin ke orang-orang yang meragukan kamu kalo mereka salah. Berhentiin etek mulai besok, total urus Baim dan Yusuf, semua kerjaan rumah serahkan Dewi’ Dan kulakukanlah anjuran ayah. Aku banyak konsultasi dan mengamati juga temen-temen yang kuat ngasuh anak dua dan ngurus rumah sendirian macam @yani_bunda, hebat banget dia di Palembang ngurus rumah sama anak dua nggak pakai pembantu, orang batak memang mentalnya kuat-kuat (rasis abees). Aku juga belajar dari Chiara Pozzi Portegella temen doula di italy yang anaknya tiga cowok semua. Aku amat-amati selama kami nginep di bungalow yang sama di Ubud, ternyata kunci suksesnya Chiara tuh ada di faktor cuek. Anaknya dibiarin aja gitu nangis-nangis sampe diem sendiri. Kupingnya kaya udah baal sama suara tangisan. Kita yang di kamar sebelah bengong kenapa itu anak kuat bener nangis mulu gak diem-diem. Well, aku nggak sebegitunya juga sih berniat tega nyuekin anak nangis, tapi at least dari tiap orang aku pengen metik sedikit-sedikit sikapnya. Kadang memang perlu sedikit tega, kalo tiap merengek kita turutin maunya, kapan selesenya ini kerjaan rumah? Inilah hal yang gak bisa diterima sama mama papaku yang hidupnya udah biasa aaaallways dilayani, mindset nya udah mentok ‘kalo gak ada pembantu, gak akan bisa’. So, sebulan lebih aku menaikkan level sabarku tinggi-tinggi, anak berantem-senyum, anak teriak2-senyum, anak nangis-senyum, anak rewel-senyum, plus bersih-bersih rumah dan setrika. Ternyata bisa, dan berjalan begitu saja. Sambil terapin hypnoparenting ke anak-anak, bilang bahwa proses pindahan ini berlangsung nyaman , mudah dan menyenangkan. Selama perjalanan di pesawat sampai ke tempat tujuan anak-anak enjoy dan kooperatif. Alhamdulillah semoga Allah memudahkan segalanya.

Derita ketiga: menentukan jadwal penerbangan. It’s gonna be a looooong flight. Belom pernah bawa anak ke luar negeri. Belom pernah terbang ke Amerika. We’re ndeso people going international. Bawa dua bujang heboh-heboh gini enaknya transit di mana ya? Mulai browsing dan blogwalking lah saya tentang membawa bayi dan anak-anak di penerbangan ke Amerika. So, where to stop over: Korea (by Singapore Airlines), Hong Kong (by Cathay), or Dubai (Emirates)? 2 flights or 3 flights? Temen doula di twitter bilang enaknya ambil yang 2 flights aja, capek lho ganti-ganti pesawat mulu jalannya jauh. Bener juga ya, terminal di bandara internasional kan segede-gede stadion bola. Sempet mau stopover semalam di Dubai aja karena pasti akan gampang cari aneka makanan halal, tapi kami kepentok masalah visa Uni Emirat Arab karena nama tunggal suami. Yah gagal maning plan nya. Panik itu mutlak, makanya ini IChing trauma card diabuse mulu tiap hari. Ya sudahlah transit mana aja hayuk. Intinya gini, lo mau stop over di manapun, pilih maskapai manapun, rute manapun, gak ada yang paling baik or paling jelek. Selama lo enjoy yakin dan tenang, pasti semuanya happy. Apes itu adalah buah karya dari pikiran-pikiran buruk. Kalo memang nanti di tengah jalan anak saya sempat rewel dan bikin kesel, ya sudah begitu mungkin qadarullahnya, terima aja. Dan sekali lagi thanks to mbah Ajahn Brahmaverso buat pesan mujarabnya: segala sesuatu itu kadang lebih mudah menjalankannya dibanding memikirkannya. I love you mbah *salim, basuh kaki

Yes. It’s a really BIG transition for us.

Jadi, kembali seperti masa-masa saya dulu menanti kelahiran anak kedua, saya pengen kembali bikin semacam ‘journal of our moving to America’. Bukan mau pamer gaya-gayaan, toh kalau mau digoogling pasti sudah ada ribuan orang lain yang sudah pernah ke Amerika dan perjalanannya jauh lebih fancy dari kami. Di atas langit masih ada langit. Jurnal ini lebih menjadi panduan bagi mereka yang mungkin dalam tahun-tahun kedepan juga menghadapi IWA dan mengalami suka duka yang sama dengan yang saya alami sekarang ini. Moga maksud ini dapat diterima dengan baik.

Senin, 28 Jan 2013
Anak-anak masih batuk pilek bawaan debu packing dan mungkin juga karena mereka menangkap vibrasi stres yang aku dan ayah pancarkan. Saya compulsive snacking sebagai pelarian hihi. Ayah banyak pikiran sampai turun 8 kg, sembilan kilo lagi berat kita sama 😖jangan sampe jangan sampe. But we’re still smiling all the time. Beda tipis memang antara senyum-senyum dibawa santai dengan senyum-senyum kurang waras. Entah ya kami yang mana…
Fixed plan mau stop over di Korea, janji ketemuan sama Ocha FKG 2001. Dia nitip buku dari Indo, aku nitip dicariin makanan halalan thoyyiban, akad sempurna.
Besok mau pamit ke keluarga suami, ke Tegal 3 hari. Selama tiga tahun kedepan nggak tahu kapan bisa sempat ketemu lagi. Bismillaah 1000x #kode

Sabtu, 2 Februari 2013
Berpamitan ke rumah guru sekaligus sahabat baik saya, mas Reza Gunawan dan mbak Dewi Lestari. Selalu suka kalau bertemu mereka dan anak-anaknya yang ramah bukan main. Keenan yang terobsesi pingin makan orang (i wanna eat human lungs!! *Dude…seriously?) dan Atisha yang berteman sama semua benda even itu air mancur. Lovely family. Kilas balik singkat ke tahun 2007, ketemu sama Reza Gunawan lewat layar kaca di o-channel, langsung ada koneksi kuat sama kata-katanya dan materinya. Cari-cari link di dunia maya, dapet kontak ke dia dan akhirnya mulai berkomunikasi sebagai bakal murid dan guru. Thank God dia dulu gak sefenomenal sekarang, masih lumayan cepat balas e-mail. Sama seperti saya ke Dewa (a Balinese gifted person i wrote about in ‘Kemanakah Dewa?’), ke mas Reza pun saya gak ada personal attraction. Soul saya nempelnya ke soul dia dari awal udah sebagai teman seperjalanan di healingwork. Dulu malah seringnya saya curhat tentang hari-hari menuju pernikahan sama ayah, tentang bagaimana masih insecure nya saya yang akan membina rumah tangga dengan calon suami. Dan beliaupun memberikan insight-insight yang saat itu menurut saya sudah cetar membahana. Lalu diapun menikah dengan Dee Lestari, damn… she’s one of my favorite authors and my favorite personil in RSD! Ada apa inih! Dan tahu-tahu entah bagaimana aku sudah beneran temenan sama dua manusia ‘langitan’ ini. Mereka sangat baik, sampai mau mengundang kami datang ke rumah baru mereka di BSD. Seru banget diajakin house tour sama mas Reza. Rumahnya adeem, konsepnya zen sekali. Aku yakin gak lama lagi rumah ini bakal nongol di semua majalah home & living di Endonesah. Dari semua ruangan, yang paling memesona saya udah pasti library nya, takjub dan ndomblong (ga bisa mingkem) lihat koleksi buku-buku bagus yang ditata rapi per kategori. Paling terpana melihat section pregnancy & birth, bukunya banyak sekali…wow bidan aja mungkin ga sebanyak ini koleksi bukunya, pasangan ini emang nggak main-main mendharmakan sebagian hidup mereka buat gentle birth. Dapat suntikan semangat lagi dari mereka. Si ayah juga paling suka sama rak perpustakaan ini, selain detil lantai granitnya. Pas mau pergi dari perpustakaan, tahu-tahu saya dikasih satu buku Essential Oils 101 sama mas Reza, huhuhu terharu… Berarti ini gue disuruh belajar perminyakan juga mungkin ya, suami kerja di oil & gas, isteri belajar minyak esensial penyembuhan. What a weird coincidence. Minyaaak minyaaaak!
Pasangan yang cakep-cakep ini lalu mengajak kami makan siang dan sesudahnya kami pun pamit pulang. Baim sempet dibilang kasep sama mbak Dee, jiyee Baim! Sepanjang perjalanan pulang, saya mulai kompetitif pengen bisa baca banyak buku melebihi mereka dan bisa berbuat baik kaya mereka. Satu kata aja deh kalo abis ketemu sama soul group : kontemplatif.

Selasa, 5 Februari 2013

Perpisahan sama anak-anak FKG!!!! Mau cerita dikit tentang hubunganku sama anak-anak ini. FYI sekolah di FKG itu seleksi alam ya, genk yang kita punya di awal-awal semester pasti akan tercerai-berai pas masa ko-ass. Jadi genk FKG itu berevolusi, gak ada yang awet hehe. Apalagi masa-masa sekarang pasca lulus, lebih menyebar lagi. Entah kenapa manusia-manusia yang rajin kumpul dan didekatkan dengan saya adalah 8 orang ini (yang 2 orang gak datang krn berhalangan). Kesamaan kami adalah sama-sama tukang makan, dan sama-sama kurang waras. Hehe FKG emang kayak military camp, masuk waras, lulus gila. Kita kenal udah dari jaman masih jaman kere juelek-juelek, sampe sekarang udah lumayan kantong tebel dan cantik-cantik. Pokoknya kelompok ini adalah yang paling tahu saya luar dalam, saksi hidup transformasi saya dari dokter gigi murtad pindah ke doula, dan yang menyerah pasrah nggak nyuruh-nyuruh balik jadi dokter gigi lagi. Mereka ini yang tahu betapa sudah malasnya saya sejak kuliah, betapa pernah terobsesinya saya dulu dengan diet, betapa kleniknya saya yang sedari dulu sudah menclok-menclok cari solusi kejenuhan hidup. Jadi ya inilah kami. Grup di mana kalo ada yang pamer yang lain udah gak ada lagi yang sirik. Grup di mana kalo ada yang kumat gilanya yang lain udah gak ada yang heran. Sangat paham. Sangat nyaman. Dan mereka pada mewek aja loh gua mau pindah. Huhuhuuuu….. Love you guys! 3 years are not that long…
Pertanyaan paling edan adalah dari @putiful , juragan @lapakemaklamak dan juragan daycare/TK Khalifah Duren Sawit : ‘Nut emang lo di sana ntar masih mau pake jilbab??’ Gubrak, wkwkwkwkek gelok! Nggak put, di sana gw ntar mau nambah piercing plus tatoan ( -_-“)
Moga kalian semua tambah sukses dan tambah berkah ya hidupnya. Makan-makan hari ini dentalicious sekali….

Kamis, 7 Februari 2013
Ketemuan dengan genk GBUS Jakarta Selatan🙂 dr. Riyana SpOG yang pernah satu kelas bareng di pelatihan basic hypnobirthing, Dela klien hypnobirthingku yang lahirannya gak kesampean aku dampingi karena keburu balik ke Duri, dan Fani temen alumni Eat Pray Doula. Janji ketemuan di PS jam 11…dan baru selesai ngobrol jam setengah 3 huah betah amat ya kita. Dari situ aku langsung ada janji lagi sama Pak Eddy Semesta dan bu Lanny Kuswandi, wah yang ini level langit nih obrolannya hehehe tentang Golden Era reading, mau diceritain lengkap takut pada mispersepsi. Pak Eddy orangnya baik dan low profile, gak mau terkenal di media. Kalo penasaan japri aja yah pada…

Minggu, 10 Februari 2013
Gilaaaaaak Korea lagi minus 9 derajat!!! Oh my, disuruh pakai baju rangkap-rangkap sama Oca. Dan mules-mules nervous dan ngemil-ngemil nervous haha. Ini anak-anak pada belom mudeng semua apa ya besok mau pindahan, lempeng aja gayanya. Ayahnya yang stres, ibunya juga. But no matter how, i loove my new hair cut!

Rabu, 13 Februari 2013
Alhamdulillah sudah di San Ramon. Fiuuhhhh we finally made it. Ada berjuta rasa pas sampai sini…campur aduk. Lega, nervous, takut, minder, seneng, newbie banget lah. Perjalanan kemarin woow pengalaman berharga banget. Banyak kejadian seru dan bikin mules. Di Bandara Korea, passport case nya ayah sempet ketinggalan di troli!!!! Baru nyadar pas mobil sudah jalan ninggalin bandara. Kasihan ayah, saya emang fokus gendongin Yusuf sih, jadi gak sempet lagi ngawasin barang-barang. Lucu deh si sopir jemputannya pas dibilangin dompet passport kita ketinggalan. ‘Sir you need to turn around, i left my passport at the airport’ ‘HEEEEEEEEH…..?’ dengan nada kecekik kaget…terus balik arah sambil ngebut hehe. Aku cuma bilang ke supirnya ‘I believe there’s one nice person who found it and will give it back to us’. Lalu pas nyampe di tempat kita ninggalin troli, dompet hitam itu ada, aku lihat jelas dari dalam mobil, senengnya bukan main.
Satu keajaiban sudah terjadi. Selamat, utuh. Kami mungkin cuma punya banyak tabungan karma baik.
Semalam di Korea kita cuma sempet istirahat dan makan di hotel. Oca FKG 2001 main ke kamar sama keluarganya, anaknya dua heboh-heboh persis kaya anak kita juga, hedeeeeeh sama aja yah di mana-mana anak kecil hihihi, tambah 2 murid lagi jadi TK deh ini kamar. Pas pulang, Oca ninggalin memo di kertas buat nunjukin ke tiap resto kalo kita gak makan babi. Disarankan untuk makan di resto seafood. Dan memo itu nggak pernah dipakai, karena ternyata besoknya kita cuma sempet sarapan di Krespy Kreme ( -_-”)
Esok harinya, sampai di Incheon sangat dini, kita nunggu di krisflyer business lounge lumayan lama, anak-anak makan, main, nonton tv. Sampai waktunya boarding, mereka udah pada capek kali ya, jadinya langsung bobo semua. Aku khawatir banget nih sama penerbangan ini karena di momen inilah yang paling lama durasinya, 10 jam ke SF. Haduuuh ilmu-ilmu saktinya mental semua, aku stres, aku takut Yusuf kebangun terus rewel, aku takut ini, aku takut itu. Akhirnya sepanjang malam aku gak nyenyak tidur, resah liatin jam, dan mulai mules. Di situ belum ngeh kalau aku mau diare. Tapi besok paginya pas mau landing baru sadar aku ini diare masuk angin, sudah 2 kali ke belakang. Untung toiletnya sangat bersih dan lengkap, akunya juga nggak jorok. Dan aku juga mulai berasa demam, huhuhu ngedrop deh ni emaknya. Tapi aku gak berani bilang ke ayah, kasihan dia lagi pusing juga mau lewatin imigrasi. Akhirnya turun dari pesawat (jam 11 siang waktu San Francisco), menuju imigrasi aku minta ke toilet sekali lagi. Lalu mengantri panjang di imigrasi sambil gendong Yusuf dengan rasa badan nggreges-greges gak karuan. Doaku: Ya Alloh jangan pingsan, jangan muntah, saya kuat, saya kuat. Alhamdulillah gak pakai pusing, jadi gak kejadian collapse di depan publik. Lewat dari imigrasi (yang Alhamdulillahnya lancar) kita ambil bagasi, lagi-lagi alhamdulillah semua koper lengkap selamat. Keluar dari baggage claim langsung ketemu Lisa yang jemput kita, finally we’re in good hands. Lisa dan satu orang supir bawa kita ke San Ramon, sekitar 50 menit. Anak-anak tidur di carseat, Lisa nerangin banyak hal dan aku mau gak mau harus ladenin dia ngobrol😦 Lisa ini punya banyak kesamaan sama saya. Dia punya dua anak laki-laki, dia bawa anaknya ke naturopath, dia dia juga partially vaccinate anak-anaknya. Kita udah nyambung bener pas ngomongin Personal Belief Exemption Form. Lisa ini khusus dibayar buat dampingin kami selama masa transisi, tapi dia juga ibu rumah tangga, jadi sehari kerja, sehari libur. Sampai di San Ramon, cobaan ketiga dateng, kita harus ngabisin waktu semalem di hotel yang sempit dan kurang layak karena apartemen kita belum siap. Oh no…Mukanya lisa juga ngenes sih lihat kamar hotel kita, kayak motel-motel tempat kru CSI suka nemuin jasad korban pembunuhan wkwkwkwkwk. Tapi ya mau gimana lagi. Pas Lisa nawarin keluar buat cari makan, akhirnya aku ngaku kalo i’m having a slight fever and i’m shivering now. Akhirnya ayah, sopir, dan lisa yang cariin makan. Aku ke belakang sekali lagi dan langsung bongkar koper ngembatin intunal dan diatabs titipannya mbak Icha Ari. Maaf yho mbak huuhuhuhu i didn’t anticipate this. Aku tepar tuh di situ, meriang selimutan, anak-anak tak biarin berdua sendiri di kamar sempit itu. Alhamdulillah ndelalahnya ya mereka gak ribut dan gak bikin insiden apa-apa. Aku sempet beneran tidur dan cuekin anak-anak. Pas ayah pulang dan bawa makanan, aku sudah berasa mendingan, suhu badan turun, pain killer does really work. Anak-anak mau makan Alhamdulillah…. Pokoknya yah kalo urusan makanin anak, aku selalu mikir manusia itu kodratnya pasti laper dan minta makan sendiri..jadi gak usah stres kalo mereka nolak makan. Eh bener, Yusuf nggiling terus meski selama dua hari ini menu kesukaannya belum bisa terhidang buat dia. Baim lebih picky tapi kalo ketemu donat dan pizza seneng banget. Buat saya sendiri, aku selalu apply Thieves oil setiap setengah jam di telapak kaki, anak-anak juga kukasih. Plus aku jadi kayak orang OCD cuci tangannya karena aku gak mau nularin anak-anak. Eh beneeeer aku sembuhnya cepet banget. Hari kedua di San Ramon aku udah gak demam dan diare lagi. Dan kita akhirnya pindah ke apartemen pilihan kita the Bridges yang ternyata beneran nyaman banget lengkap dengan washer-dryer, ironing table, dan dishwasher. Alhamdulillah ya Alloh perjuangan kemarin gak sia-sia. Anak-anak meski nakalnya minta ampun menggoda iman tapi at least mereka sehat wal afiat dan beradaptasi dengan baik. Baim sempat kejedot pinggir meja di kamar sempit kemarin pas excited mau ngambil donat, nangis merintih kasian banget ayah langsung sedih banget. Tapi aku langsung inget testimoni di Essential Oil 101 ada yg anaknya kejedot pintu dioles lavender langsung sembuh. Aku coba deh, dan berhasil, Baim gak lebam. Biru dikit trus langsung ilang. Terus aku sempet kehilangan si Thieves oil pas packing sebelum pindah hotel, maklum kamar berantakan banget sama anak-anak. Masih baru gres. Sudah bilang ke front desk buat simpenin kalau housekeepernya nemuin. Dan setelah 2 jam mereka cari di semua kolong tempat tidur dan tetep gak ketemu. Hiks, aku pasrah dan ikhlas lah, enem ratus rebu. Aku bilang makasih ya Alloh at least si thieves oil sudah bantu aku sama anak-anak buat sehat selama 2 malam ini. Terimakasih. And guess what, si botol thieves oil kayaknya masih pengen jadi milik gue, dia nongol di salah satu koper pas gue tadi unpacking. Haduh senangnyaaa.
Selama dua hari ini kita grocery hopping, dari wholefood-costco-nobhill foods, udah ketemuan sama mbak Icha Ari dan udah dipinjemin rice cooker mini, yeeaaay. Belum sempet ke Target buat beli baju, gosh i only have two pieces of cloth. Gilak pedenya kelewat pede nih gue hahahaha.
Dan well, i’m here now….happily facing my jet lag writing this story. Mungkin akan jarang ngeblog lagi selama masa adaptasi beberapa minggu atau bulan ke depan. Mungkin sibuk, mungkin asik. Masih belom canggih nih ngomong inggris ala californian, harus banyak-banyak ngobrol sama Lisa, she is my moving doula.
Pesanku, ada derita dan bahagia dalam satu paket…ini aku coba untuk kasih cerita dua-duanya dengan berimbang. Biar orang-orang gak cuma denger jeleknya aja. Ke depan pasti kami akan nemuin banyak masalah, di nungguin barang shipping yang ketunda lah, di leasing house lah, di pengurusan SIM lah, tapi kalau semuanya dilalui dengan tetep penuh rasa gratitude, gue yakin gue akan berhasil. Cerita-cerita ngeri yang sudah disampaikan ke gue ya akan gue denger selewat aja, tanpa kukasih energi kekhawatiran di situ.
Gak usah takut untuk keluar dari zona nyamanmu…
Kita dikasih tugas, pasti dikasih hint nya…
Berpelukanlah dengan erat sama apapun yang menghampiri kehidupanmu…
Sukses selalu, buat emak-emak camp CPI gue doain pada nular IWAnya.
Wish me luck guys!!!!

13 thoughts on “Another Big Transition in Our Life

  1. Nitnut..I’ve to agree with you.. Apapun,pasti bs dilewatin ya..asal kita yakin kita pasti bisa..
    Pindahan emg bikin stress,apalagi lgsg ke luar negeri gt.. Tp kl Allah ridho,Dia pasti kasih kemudahan koq utk kita😉

    Sukses ya dengan hidup barunya! Moga dirimu n keluarga sehat selalu n terus istiqomah😉

    • Aamiin aamiin rie. Makasih banget ya doa tulusnya… Manusia kalau mau survive emang harus pintar2 memfilter data dari lingkungan sekitarnya.
      Proses apapun, lahiran, pindahan, harus percaya sama kata hati, bukan sama cerita-cerita miring dari orang lain. Karena pengalamanmu belum tentu akan jadi pengalamanku.
      Tapinya gw masih selalu kebangun nih jam segini tengah malem buta. Anak2 malah alami banget transisi jam tidurnya.

      • Well,ur mom n mine are not much different. The best demotivator in the world! Hahaha.. Since it’s a MOM’s opinion, I don’t know how to convince myself that I’m also right (baca: ngeyel).. Any tips?😀

        Yg lbh penting kn transisi anak2 ya Nut.. Anak2 betah,emaknya jg pasti betah deh.. Moga2 jetlag-nya cpt ilang. Jalan2 gih,kenali lingkungan..biar cpt akrab😀

  2. huhuhuhuhu… percaya ga percaya lo pergi nutttt….. jadiiihh??? cuman bawa baju 2?? jilbab kmrn ga kebawa yak berartih… #salah pokus#

  3. Accidentally i just read ur latest article above.. I just cant believe my sister whom i pushed to study everyday, whom i was always complaining about her laziness, whom being my friend from she was born until i am married.. Now already far away there struggle to take care of her family🙂 All the best Nut.. Allah SWT Blessed u and ur family.. Always..

    Sorry for all my mistakes in the past caused i always made judgement about u before knowing all the reasons behind that…

    ** Sorry for being curhat abang ke adek di Blog** 🙂

    • Hahaha you’re most welcome mas… Aku hanya kebetulan punya old soul dan malangnya terlahir sebagai anak bungsu di keluarga kita, dan kita punya ortu yang dua2nya baby soul, jadi deh suka konflik.

      Laziness ku karena right brain dominancy ku mas, makanya mataku kebuka banget pas udah emak-emak baca 8 kecerdasan howard gardner, aku hanya cerdas dan minat di area lain. That’s why kuliah kedokteran gigi bikin aku sumpek dan lulusnya lama kekekekek

      Setiap jiwa pasti sebelum lahir sudah milih mau lahir di keluarga mana dan ngumpulnya sama siapa. So we all must have been destined to each other for a really good reason.

      Semoga sama-sama makin berkembang karir-kesehatan-mental-spiritual yaaa i pray for your health wealth and happiness

      Love xoxo

  4. Senang bisa mengenal dirimu mbak…:) banyak belajar tentang ‘per mamak-an” terimakasih sudah hadir di keluarga kami yaaaa, saya mau lho diundang ke san ramon…#opoiki?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s