Review Novel Committed by Liz Gilbert

Berkomitmen pada ikatan pernikahan, itulah yang menjadi benang merah di sepanjang novel ini. Novel yang sudah lama kuidamkan untuk kumiliki. Dari sejak Yusuf masih dalam kandungan, mata sudah lirak-lirik novel ini setiap lewat toko buku. Lalu nggak jadi, ditunda lagi. ‘Kan masih banyak kebutuhan yang lebih penting, jangan boros’. Itu celotehan pikiran yang membuat novel ini baru kejadian dibeli dan dibaca di akhir tahun 2012 ini. Belinya di Periplus terminal 2F Soetta pas mau mudik ke Solo. Commited sangat membuat saya excited karena di dalamnya terkuak A sampai Z misteri pernikahan yang diangkat dari bermacam-macam peradaban kultural di berbagai belahan dunia. Sampai kapanpun, pernikahan akan selalu menyimpan sebuah misteri untuk siapapun.

Adalah Liz Gilbert, seorang penulis tajir dan tenar yang sedang panen pohon uang dari kesuksesan novel dan film Eat, Pray, Love; memutuskan untuk mencoba peruntungannya kembali dengan menuliskan kelanjutan kisah hidupnya bersama Felipe sang kekasih hati. Ceritanya mereka berdua adalah pasangan yang sama-sama pernah bercerai dan kapok menikah lagi. Mereka sangat menikmati kebersamaan tanpa ikatannya itu sampai saat di mana Felipe nyaris terancam dideportasi. Felipe ini warga negara Australia, memiliki bisnis di Bali-Indonesia, dan berkampung halaman di Brasil. Cukup kompleks dan nomadik, sekompleks pekerjaannya yang pemasok batu-batu berharga, pemilik kafe, dan arranger music remix. Felipe oleh pemerintah Amerika dianggap terlalu sering mengunjungi Amerika melebihi kuota seharusnya. Satu-satunya cara agar Felipe tetap bisa masuk ke negara itu secara legal adalah dengan menikahi seorang warga negara Amerika. Eng ing eng…..ketulah dong ya sama sumpah kapok menikahnya. Mau tidak mau Liz dan Felipe terpaksa setuju untuk menikah secara resmi, tapi mereka jujur masih sangat galau dalam pergulatan batin masing-masing yang sangat trauma akan perceraian sebelumnya. Liz lebih galau dari Felipe. Karena dari riwayat sebelumnya, pembaca pasti tahu kalau Liz punya tendensi untuk depresi. Liz adalah wanita dengan pikiran modern yang sangat kompleks, gitu deh kalo pinternya kebangetan. Kerumitan cara berpikir Liz membuatnya tak tahan berada di satu kehidupan yang monoton. Si Liz ini nggak mau gejolak-gejolak dirinya menimbulkan kekacauan di pernikahannya nanti dengan Felipe, karena dia sangat mencintai Felipe. Dia ingin menjawab semua pertanyaannya tentang sebuah pernikahan. Dia ingin sebuah jawaban: kenapa dulu dia bisa tidak bahagia, kenapa dulu dia sangat ingin bercerai, kenapa manusia harus menikah, dan kenapa pernikahan itu ada yang berhasil ada yang tidak. Dimulailah pencarian itu di beberapa negara di Asia Tenggara: Vietnam, Laos, Kamboja, Thailand, dan Indonesia. Ya, di sini kita bisa tangkap satu kesamaan topik dari Eat Pray Love dan Commited: mencari jawaban lewat traveling. Dan kebetulan Felipe juga harus hengkang dari Amerika sampai urusan keimigrasian diurus tuntas. Berdua mereka bernomaden keliling Asia.

I. Vietnam
Negara kunjungan pertama adalah Vietnam. Di Vietnam Liz bertemu dengan suku Hmong, suku asli yang masih hidup dengan tradisi yang kuat , tak tersentuh kemajuan jaman. Liz menunjuk seorang penerjemah untuk membantunya mewawancarai para wanita Hmong. Di situ kita dapet momen yang unik, betapa Liz Gilbert selalu melontarkan pertanyaan yang kompleks penuh makna namun selalu terpental oleh jawaban-jawaban yang sederhana namun mengena.
‘bagaimana anda dulu menikah dengan suami anda?’
‘kami dilamar dengan ritual seperti penculikan kecil-kecilan, pihak keluarga lelaki akan membawa kami tinggal di rumah mereka selama seminggu. Selama seminggu itu kami berinteraksi dengan calon suami kami beserta keluarganya. Setelah selesai masa penculikan, kami bisa menentukan apakah kami mau menikah dengannya, apakah kami cocok dengan keluarganya. Bila ada ketidakcocokan, kami boleh menolak untuk menikah’
‘Apakah suami anda sudah berperan sebagai suami yang baik?’
‘Suami saya sudah bekerja keras seharian, tentu dia suami yang baik’
‘Dari mana anda tahu bahwa anda telah menikahi pria yang tepat’
‘Semua suami adalah pria yang tepat buat istrinya’
‘kenapa bisa begitu?’
‘Karena semua pria, mau siapapun, ujung-ujungnya sama saja’
Dan Liz Gilbert terpana akan betapa simpelnya jalan hidup serta pikiran wanita-wanita Hmong ini. Diam-diam dia sedikit iri, karena sudah terlanjur menjadi wanita yang rumit.

II. Italia (flashback dari memori Liz Gilbert)
Percakapan di sebuah flat kecil dan sederhana tempat Liz akan menyewa:
Induk semang yang sudah tua, ‘Apakah kamu tidak menikah?’
‘Saya bercerai’
‘Kenapa kamu bercerai?’
‘Saya merasa tidak bahagia di pernikahan saya sebelumnya’
‘Loh, emangnya siapa yang bahagia dengan pernikahannya??’
Pernikahan tidak mengandung 100% kadar bahagia, ada porsi derita seperti rasa pahit dalam sirup obat batuk. Pahit namun menyembuhkan. Siapa memangnya yang bahagia? Dalem.

III. Kamboja
Negara ini sangat amat miskin, penuh dengan riwayat konflik dan derita penduduknya. Liz dan Felipe di sini berkenalan dengan seorang pria lokal yang mengundang mereka berdua untuk makan malam di rumahnya. Pas nyampe rumah pria tersebut, terngangalah pasangan itu karena yang mereka dapati adalah sebuah peternakan kodok mengelilingi satu petak bangunan rumah kecil. Kodok adalah ladang bisnis mereka, bahkan bak air di kamar mandinya pun berisi kodok, yikesss. Di dalam rumahnya pun kosong nggak ada apa-apa, hanya satu TV, kulkas, dan sepeda motor. Perabot nggak ada. Si tuan rumah sekeluarga menyuguhi mereka dengan kodok rebus terbaik dan tergemuk yang mereka punya. Liz dan felipe bengong musti gimana makannya -_-” Mau nggak mau mereka mencoba melahap daging paha kodok yang alot itu tanpa memuntahkannya. Hidangan tersebut bagaimanapun adalah hidangan terbaik menurut versi sang pengundang. Setelah makan, mereka disuguhi bir dan tontonan DVD musik yang dipasang dengan volume maksimal. Veryyyy annoying, tapi menurut penduduk setempat adalah sebuah kebanggaan yang tinggi bila mereka mampu membeli TV-DVD player dan menyalakannya keras-keras. Liz dan Felipe berusaha menjadi tamu yang baik, dan mereka malah terharu sama kondisi yang demikian sederhananya. Keluarga ini terlihat sangat bahagia, dengan istrinya yang sedang hamil besar, dan mereka masih punya cita-cita untuk membuat peternakan kodoknya makin maju lagi. :’) Pasangan ini kayak lagi ikutan acara Trans TV ‘Jika Aku Menjadi’ lah ya jatohnya. Pencerahan bertubi-tubi datang saat kita bersinggungan dengan garis kemiskinan. Felipe terlihat sangat terharu karena dulu ia melewati masa kecilnya di Brazil sebagai penduduk miskin yang sudah bekerja serabutan sejak usia 10 tahun. Kalo kita miskin, kayaknya udah gak musingin apakah pasangan kita sudah cukup baik atau belum. mikirin mau makan apa besok aja udah cukup menguras pikiran. Di sisi lain, banyak yang punya kekayaan dan kemudahan-kemudahan dalam hidup, tapi malah jadi ‘ngada-ngadain’ masalah. Berasa kurang terus. Saking kebanyakan waktu luang kali ya? Seperti bajing yang mengejar-ngejar ekornya. Nah kembali lagi ke si juragan kodok, dia ini selalu membanggakan istrinya di depan tamunya, segitu bangganya dia sampai-sampai pipi sang istri bersemu merah. Padahal cuma memuji soal kepiawaian beternak kodok. Tapi ya itu, sekecil apapun, pengakuan dan penghargaan dari pasangan sendiri tuh bener-bener melebihi penghargaan dari presiden loh. Itu kunci perekat hubungan pernikahan.

IV. Laos
Dasar emang jurnalis iseng… Liz Gilbert mata-matain Samanera (bakal bhiksu) di perguruan calon Sangha (monastery) dekat penginapan mereka di Laos. Berawal dari satu keanehan saat Liz mengunjungi warnet dan ia melihat selalu ada bhiksu muda yang rutin mengunjungi warnet itu. Kok aneh bener ya…ngapain pula dia ke situ. Liz memahami usia Samanera tersebut memang masih di fase ingin tahu. Bisa jadi memang mau browsing ceramah-ceramah Buddhisme di Youtube. Nah satu momen mentakdirkan Liz untuk duduk tepat bersebelahan dengan si Samanera gaul. Nggak tanggung-tanggung, Liz spying aja loh ke layar komputernya si Samanera. Wih canggih bener ya penglihatannya si Liz. Ternyata pemuda itu buka e-mail, hey dia punya e-mail! Tetep…diliatin lagi e-mail apa yang dibuka, dibaca pula sama si Liz. Hmm…Liz the kepo girl. Ternyata rasa penasaran Liz memang bersambut, e-mail yang dibuka dan dibaca si Samanera dengan khusyunya adalah sebuah surat cinta dari seorang turis asing yang sempat cinlok dengannya beberapa waktu lalu, turis bule…berusia lebih tua. Hmm…. Ceritanya di surat itu si turis nembak nih, betapa dia nggak bisa lupain momen yang mereka habiskan bersama. Betapa dia pingin merajut semuanya kembali, akankah kesempatan itu ada? Akankah si Samanera rela meninggalkan kehidupan monastiknya demi hidup bersama dia? Si kepo Liz tetap tak geming menunggu apa yang akan dibalas oleh Samanera muda gaul ganteng itu. Lama….gak ada yang di balas. Si pemuda cuma diam, seperti berpikir keras. Lalu dia menekan pilihan ‘print e mail’. Lalu pulang kembali ke monasterynya. Liz tertegun, cinta buta, sampai-sampai tak gentar meminang seseorang yang telah mengabdikan hidupnya untuk dhamma dan berkomitmen untuk hidup selibat. Liz yang berpikiran kompleks mulai menebak-nebak lagi nih affair mereka ngapain aja, karena di e-mail tidak disebutkan detail. Halah utekmu Liz…. Insight yang didapat liz adalah, cinta buta sekedar lust hanya akan membawa kehancuran. Beruntung si Samanera hanya mem-print dan menyimpan surat cinta itu. Coba kalau dia ikuti hasratnya, udah pasti ujungnya hanya penderitaan. Cinta kilat 2 malam kan nggak jaminan langgeng selamanya. Beruntung deh Liz dan Felipe sudah mencapai tahap cinta yang dewasa, bukan cinta monyet lagi.

V. Thailand
Wah di sini kayaknya Liz dan Felipe berantem mulu deh. Mereka memang sudah berbulan-bulan menunggalkan rumah, sudah bosan sekali dengan status yang menggantung. Felipe mulai insecure dan jadi pendiam, lalu bisa berubah nyolot dan bentak-bentak. Pas ditanya ‘sebenernya kamu mau apa sih??!?’ Felipe jawab ‘aku cuma mau punya teko sendiri, bukan teko hotel’ hiks, kasihan Felipe…. Ya sudah akhirnya mereka memutuskan pindah ke Bali aja deh, ke kontrakan Felipe jaman dulu. Rejeki nggak kemana, rumah bekas kontrakan Felipe pun setelah dicek masih available lengkap dengan segala isinya, termasuk teko Felipe 3 tahun lalu.

VI. Bali
Di sini masalah Liz dan Felipe sudah hampir selesai, akhirnya pengacara mereka memberi kabar baik tentang immigration thingy. Sebentar lagi mereka bisa kembali ke Amerika untuk menikah๐Ÿ™‚ Selama menetap di Bali yang indah dan nyaman itu mereka mengkontemplasikan semuanya yang sudah mereka lalui. Ubud di waktu malam tuh panas banget buat mereka, apalagi rumahnya no air-con. Cuma modal kelambu dan jendela yang dibuka lebar. Apesnya, kalo jendela dibuka artinya semua suara berisik masuk ke dalam, motor lalu lalang lah, orang-orang lokal yang suka hang out sampai subuh. Wah insomnia banget deh. Kalau mereka sedang tak bisa tidur, atau terbangun karena suara berisik motor dan gak bisa tidur lagi, mereka suka sharing stories… Jaman dulu malah sesama musafir-musafir arab kalau bersua ditengah gurun harus barter makanan/minuman/barang dengan cerita. Bagi mereka cerita dan pengalaman masing-masing itu harta berharga. Satu cerita worths a lot of things, jaman dulu begitu. Dan kadang para pengelana itu punya permainan story telling dengan metode lempar kata. Mereka mengelilingi api unggun, satu orang yang mendapat giliran harus menceritakan topik kata yang dilempar teman-temannya. Saat temannya bilang ‘apel’ maka dia harus bercerita semua yang ia ketahui tentang apel di sepanjang perjalanan hidupnya berkelana selama ini. Nah permainan inilah yang dilakukan Liz dan Felipe saat tidak bisa tidur. Pernah tiba-tiba di tengah malam Liz membangunkan Felipe hanya untuk minta ‘tell me your story about river’. Dan dengan sabarnya Felipe menceritakan pengalaman masa kecilnya berburu ikan di sungai untuk dijual. Liz mendengarkan dengan takjub, seakan dia sendiri yang menyelam dengan tangan kosong di sungai pedalaman Brazil yang rawan binatang buas itu. Insightnya: inilah perekat hubungan pernikahan lainnya, saling bertukar cerita. Kita dan pasangan telah banyak berbagi cerita, tanpa sadar kita membawa banyak memori pasangan, pun sebaliknya. Saya telah menjadi kloning memori suami saya. Suami saya pun telah menjadi kloning-an memori saya. Saya pribadi, sudah banyak sekali menyimpan memori dari cerita-cerita suami saya mendaki gunung waktu dia muda. Waktu dia melamar pekerjaan pertamanya. Waktu dia membeli TV pertamanya, dsb. Ini harta tak ternilai buatku, aku telah menjadi suamiku. Aku telah mengkopi kisah hidupnya di kepalaku. That’s what marriage is all about. By sharing stories, i become him, he becomes me…

Nah, sesudahnya Liz dan Felipe kembali ke US dan mempersiapkan pernikahan mereka yang sangat amat sederhana. Dan, ihik, dengan jujur saya katakan saya belum menyelesaikan membaca dari titik ini. Mulai malas dan keburu pulang ke Duri dan si novel ketinggalan di Jakarta. Haahaa, intinya sih tetep si Liz kekeh mempertahankan idealismenya untuk gak mau rayain pernikahan keduanya dengan meriah. Toh dulu pernikahan pertamanya sangat meriah dan ternyata nggak long lasting kan.

Aku mau kasih tiga bintang ah di novel ini. Insight-insightnya bagus, data sejarahnya mantap. Tapi sekali lagi, ada banyak bagian di mana si Liz terlalu asyik berceloteh meladeni pikirannya sendiri yang kompleks itu. Kalau bahas satu tema, komennya panjang dan banyak, suka bosen bacanya. Terus dia juga terlalu jauh dan banyak obral kehidupan pribadi yah, sampai jelek-jeleknya Felipe juga dibahas semua, marah nggak ya Felipe. Makanya review Sunday Times di cover depan aja udah ‘Irresistibly confessional’ hehe karena memang confession mulu isinya. Kalo aku sih ogah bikin bestseller tapi harus menelanjangi semua kehidupan pribadi gini. Yah moga ke depannya Liz masih ada rejeki terus buat nulis judul-judul selanjutnya yang bukan testimoni kehidupan sendiri. Yuk kita lihat next projectnya, karena kalau hidupnya sudah anteng-anteng bahagia saja dengan Felipe kan artinya sudah nggak ‘menjual’ lagi ya. Harus cari topik lain. Liz Gilbert ini sebenarnya sangat diuntungkan lho dengan adiknya yang seorang historian. Dia ngaku sendiri bahwa kalau mau nulis satu novel apa aja, butuh riset tentang apa aja, si adik langsung ngirim sebundel tebel data-data sejarah dan skrip-skrip langka untuk dibaca sebagai riset dasar. Waaw enaknyaaaa, gua juga mau kalo gitu hakhak.

Pokoknya lumayan nambah pengetahuan dan jawaban misteri tentang pernikahan lah novel ini. Ada yang mau kasih review novel Commited juga? Link di bawah yaa, pasti aku baca sesempetnya.

Bintang tiga, gan…tring tring tring

๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐Ÿ”ณ๐Ÿ”ณ

20121225-225045.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s