Dualitas Wajah

Manusia selalu punya dua sisi kehidupan: sisi yang ingin ia tunjukkan ke dunia, dan sisi yang sesungguhnya. Seperti wajah saya, jujur ini langka banget saya pasang foto wajah dari deket. Bukan maksud untuk narsis. Tapi ini ajang keberanian saya untuk menunjukkan kenyataan akan dua sisi wajah yang saya miliki: wajah asli dan wajah polesan.

Kalau dilihat foto yang kiri; kamu akan melihat seorang wanita yang lumayan cantik, terkesan modern dan sophisticated. Siapapun pasti sudah qodarullah nya ingin menunjukkan segala sisi yang terbaik dari dirinya. Wajah yang cantik, penampilan yang rapi, kalau perlu berbalut tas dan sepatu mahal. I call this self image building. Saya agak malas yah untuk memakai kata ‘pencitraan’, pertama, karena kata itu sudah terlalu banyak dipakai di luar sana, kedua karena arti ‘pencitraan’ yang sesungguhnya adalah pengambilan gambaran topografi dataran tanah dari atas udara hehe. Wanita secara turun temurun selalu punya semangat kompetisi yang mengalir dalam darahnya. Pun semangat untuk jadi pesolek, yang dibuktikan dengan penemuan benda-benda arkeologi yang kebanyakan kalo nggak alat masak, ya senjata dan….perhiasan! Sejak dulu wanita memang diciptakan suka eksis. Di luar konteks apakah eksisnya masih tergolong sehat atau malah akan merugikan diri sendiri ya. Dari dulu sampe sekarang, kalau saya foto bareng sama sahabat-sahabat saya, semua pasti pingin keliatan oke. Tiap ada satu orang yang merasa nggak oke dengan hasilnya, foto harus diulang. Bayangkan kalau orangnya ada 5 dan lima-limanya nggak pernah kompak terjepret dalam angle terbaiknya, bisa nggak selesai-selesai itu foto ampe sore 😝Karena manusia semua dasarnya narsis, kalau lihat hasil foto pasti yang dilihat pertama kali adalah dirinya sendiri.

Nah sekarang kita ke foto yang kanan. Hihihihihihihi aib banget dah wajah gue kalo gak dandan. Pembokat abees. Tapi at least beginilah saya yang sesungguhnya. Kalo lagi jelek ya juwelekk hihi meskipun saya sangat mencintai wajah asli kusem ini. Inilah realita dalam dualitas diri saya. Sedikit sekali orang yang mau menampakkan dirinya dalam kondisi yang rapuh dan penuh kekurangan. Satu dari sedikit orang besar yang mau menunjukkan foto jeleknya adalah Oprah Winfrey. Kalo lagi masak dan men-twitpic kegiatan sehari-harinya, Oprah tak ubahnya seperti mbokde-mbokde rumahan. Dia ingin menyadarkan semua orang bahwa ‘it takes so many hours of hair do and make up to look like me on Oprah show’. Tapi kalau sedang tidak on air, Oprah ya biasa saja seperti yang lainnya. FYI saya NGGAK PERNAH perawatan kulit muka ke dokter, nggak pernah facial dan nggak pernah peeling. Jadi dimaklumi saja kalo wajah ini kusem gak karuan penuh tumpukan sel-sel kulit mati menahun. Ada juga sih memang…wanita-wanita yang polos nggak pakai apa-apa aja udah cakep, kalau anda adalah salah satunya, itu berkahlo. Kalo saya musti dandan dulu baru cakep, namanya itu derita gue. Berkah lo, derita gue nyaaahaha. Ciyus muka saya ini sehari-hari makanannya cuma Olay total effect aja. Bahagia banget dah yang jadi suami saya karena perawatanku mureh kekekekek. Tapi yho dimaklumi ya ayah nek tangi turu rupoku sepet disawang. Hakhakhak.

Kalau lihat album foto, rata-rata semua manusia hanya mengabadikan momen-momen bahagia mereka saja: saat wisuda, saat menikah, saat pose menggendong buah hati sambil menenteng diaper bag keren, saat liburan ke luar negeri, semua penuh tawa dan senyuman. Pamer is our basic instict. Nah tapi, beranikah kita juga mengabadikan gambar-gambar jelek kehidupan: saat depresi, saat anak bikin stres gak mau makan, saat anak bingung puting, saat bertengkar dengan pasangan, saat mengalami kegagalan. So far saya belum pernah lihat. That’s why kenapa sedikit saja cobaan hidup menerpa bisa membuat kita gampang sekali putus asa, mengasihani diri berkepanjangan. Lha wong keseringan melihat gambar momen yang bagus-bagus terus ketimbang yang tidak bagus.

Selalu ada dua realitas kehidupan yang hadir berdampingan.

Saat lahir dan saat mati.

Saat sehat dan saat sakit.

Saat bertemu dan saat berpisah.

Saat tertawa dan saat menangis.

Dan so pasti: saat lagi cakep dandan, dan saat lagi lecek gak dandan….

20121021-000145.jpg

2 thoughts on “Dualitas Wajah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s