Kebersamaan

Alhamdullilah 23 Agustus kemarin kami melewati usia pernikahan yang ke-4. Aku dan ayah masih bertakdir untuk terus hidup bersama, semoga sampai maut memisahkan kami. Di institusi pernikahan inilah kami juga berkembang menjadi figur baru, menjadi ayah dan ibu dari dua putra laki-laki yang luar biasa. Mereka adalah amanah dunia akhirat buat kami. Sungguh besar beban di pundak ini.

Empat tahun kami berproses, di mata saya ayah tidak pernah berubah, selalu hidup dengan menomorsatukan kami anak istrinya di segala langkah keputusannya :’) Ayah yang dulu kutaksir habis-habisan karena mirip gitaris jazz favoritku jaman ayah masih cungkring dulu🙂 Kini ayah sudah gemuk, tapi mata dan garis-garis mukanya masih Zuni yang itu. I still have those sparkles. Yeah kami juga pasangan biasa yang punya drama, ada ajalah yang dikeluhkan oleh satu sama lain. Ada saat-saat berantem, ada saat-saat banting HP (itu udah pasti saya), ada saat diem-dieman 3 hari, ada masa-masa kita ngomong apa aja gak pernah nyambung, ada detik-detik dimana rasanya sebentar lagi tendangan ini akan melayang (saking gedheknya), yah semua itu ada. Namanya juga pernikahan, pasti udah satu paket: ada bahagianya dan ada menderitanya.

Sebel dan cintaku sama ayah ibarat satpam, datangnya shift-shift an LOL. Tapi yang pasti di usia 4 tahun pernikahan ini aku jadi bisa lebih mengerti, lebih bisa jujur sama diri sendiri dan pasangan, dan juga bisa lebih berserah. Dan kalo ayah itu buku textbook yang tebalnya minta ampun, ya mungkin aku baru mempelajari sampai sepertiganya lah hehe masih panjang dong ya. Butuh sekian dasawarsa deh untuk memahami seorang ayah. Meski sudah beranak dua, akupun masih belajar tentang laki-laki yang mungkin selamanya akan selalu menyimpan misteri, tak pernah 100% kupahami.

Alhamdulilah meskipun secara pribadi masing-masing kami berkembang mengejar impian, tapi perkembangan karir kami sampai saat ini tak pernah lari ke dua arah yang berbeda. Aku selalu berkembang bersamanya meski ada waktu-waktu tertentu yang harus kami relakan untuk berpisah sementara.
Ayah selalu mendukung apa yang menjadi keinginanku, dia membiarkanku menjadi diriku. Cukup itu saja adalah sudah penghargaan terbesar yang bisa diterima oleh seorang istri. Dan sebaliknya, aku selalu mengamini apa yang menjadi keinginannya. Kalau dimintai saran tentang sebuah pengambilan keputusan; saya tetap kekeh untuk anti memberi saran. Setiap orang harus dibiasakan berkomunikasi dengan inner self nya sendiri, baik itu klien maupun suami. Bolak balik kalimat itu selalu aku lontarkan: what your inner wisdom tells you then?

Untungnya juga saya mendalami terapi holistik eklektik yang mempertemukan saya dengan banyak orang bijak dan guru-guru dengan ilmu yang luar biasa. Aplikasinya gak cuma buat klien-klien yang saya bantu, tapi juga buat kehidupan rumah tangga saya. Dari pelajaran yang saya dapat, saya jadi nggak ngoyo jadi manusia, nggak ngoyo jadi istri, dan nggak ngoyo dalam memandang makna pernikahan. Contoh kecil nih ya, cukup tahu aja bahwa saya dan Zuniawan itu njomplang secara fisik. Hanita itu cantik doang, Zuni itu cakep banget, njomplang kan ehehehe. Tapi ya bukan terus detik demi detik saya harus parno bahwa ayah akan direbut orang semata-mata karena dia lebih cakep dari saya, pikiran shallow dan ga ada gunanya itu. Saya lebih hidup di saat ini aja, nggak ada yang bisa tahu masa depan, semua itu pada dasarnya impermanent. Jadi ya kalau Tuhan dan semesta alam mengharuskan kami hidup bersama sampai mati atau cuma sebentar, ya saya akan jalani semua skenario dengan sama khusyuknya. Enteng kan?

Perceraian, sakit, kematian, adalah momok-momok yang ditakuti semua orang. Tapi jujur buat saya mereka hanya merupakan skenario yang harus dijalani dengan legowo bila kita memang sudah digariskan untuknya. Kalo berkenan sih, aku pingin sharing tips-tips asal jadi dari seorang Hanita yang padahal juga belum lama-lama amat nikahnya dan malah berantemnya juga sering banget ama suami hihi semoga bisa sedikit menginspirasi meski kemungkinan itu kecil sekali LOL.

Jadi, semakin dewasa secara lahir batin, semakin saya paham bahwa suamiku bukan milikku, kemelekatan yang terlalu parah malah akan berakhir tidak baik. Aku tidak mengidentifikasikan diri pada suamiku. Ya, saya sangat mencintainya, tapi juga tidak menggantungkan kebahagiaan diri hanya padanya. Dengan berlatih, saya semakin mahir menemukan diri saya sendiri sebagai being, yang tidak melekatkan kebahagiaan hanya pada relasi cintanya. Karena di akhir hidup ini, semuanya pun akan berakhir dalam kesendirian kok. Harus sering-sering diingetin emang, biar kita gak segitu melekatnya sama apa yang kita miliki saat ini. ilmu ini beneran manjur deh buat aku.

Yang kedua, pengetahuan saya mengajarkan untuk selalu sabar, sabar, dan sabar. Mengalah, mengalah, dan mengalah. Sama pasangan gak perlu lah itung-itungan sekarang giliran siapa ngisi bensin, cuci piring, dsb. Ayo mulai berlomba-lomba melakukan pekerjaan rumah, setiap kerjaan rumah seremeh apapun itu adalah ladang pahala lho. Kalo kita sadar, maka ga akan ngeluh cape atau ngedumel tentang betapa seharusnya ini adalah giliran pasangan kita. Kalo ayah berantakan, sabar. Kalo ayah mulut sambelnya lagi kumat, sabar. Kalo ayah lagi dst dst dst, sabar. Kalo sabarnya abis? Sediakan satu HP bekas untuk selalu siap dibanting KROMPYANG!!!! LOL penyaluran energi negatif yang efektif.

Yang ketiga, kebetulan saya pernah berhubungan dengan kisah sedih di pernikahan, baik di lingkupan profesional maupun pribadi. Ketidaksetiaan adalah hal yang paling menyakitkan dalam sebuah pernikahan. Langit seperti runtuh, lutut lemas, dan nyawa seperti tercabut duluan saat mendapati ketidaksetiaan pasangan kita. Hidup rasanya selese. Kekuatan dan keputusan apakah mau fight or flight sungguh hanya ada di tangan kita sendiri. Mungkin kita perlu meredefinisi apa bahagia itu, saat pasangan sudah bukan lagi jadi sumbernya. Kalau tingkat luka batinnya parah ya harus datang ke terapis meminta bantuan. Beberapa orang menemukan bahwa cara-cara religius sudah cukup manjur menyembuhkan trauma perselingkuhan. Sedangkan yang lain butuh lebih dari itu. Kalo buat saya sih, ini adalah momentum untuk kembali mengetuk si inner wisdom, sahabat setia yang tak pernah pergi dari dalam diri kita. Semua akan hadir sendiri jawabnya, apakah ini saatnya kita check out dari sini, atau tetap di pernikahan dengan sabar mengumpulkan serpihan serpihan puzzle yang berserakan diterpa badai. Si inner wisdom tahu jalan mana yang paling sehat buat kita. Saya pribadi sih sekarang punya mantra andalan untuk menyikapi soal infidelity ini, yakni kalimat:

Untuk semua kemungkinan di masa depan yang bersifat menyakiti saya, saat ini sudah saya maafkan.

Keempat, saat mempelajari interbeing dari Thich Nhat Hanh; aku jadi mengerti bahwa aku dan ayah adalah satu dan sama. Kalau aku nyakitin dia, aku sendiri yang akan sakit. Dan kalau dia lagi nyakitin aku, aku jadi lebih bersimpati karena sebenarnya dia juga menyakiti dirinya sendiri. Di Jawa kita juga sering dengar kan, “nek arep diuwongke, awake dhewe mesthi nguwongke uwong” (kalau mau diperlakukan sebagai manusia, terlebih dahulu kita harus memanusiakan mereka). Kurang lebih begitu filosofinya. Bahwa pasangan kita adalah sesama makhluk yang juga merasakan sakit, senang, susah, sama seperti kita. Perlakukan pasangan sebagaimana kita ingin diperlakukan. Dan energi itu akan timbal balik dengan intensitas yang makin bertambah ke satu sama lain. Kalau yang satu mulai menghargai dan mencintai, yang lain akan ketularan untuk mengeluarkan energi cinta yang sama🙂 ini versi menurut saya.

Terakhir, kita hidup di dunia pasti ada maksudnya, Allah pasti punya rencana besar lewat kita, lewat pernikahan kita, lewat anak-anak kita. Sudahkah kita menemukan apa peran dan bagian kita di rencana besar itu? Rencana besar apa sih itu? Lakukan perenungan, coba kontak sisi batin kita yang paling dalam. Dan pernikahan kita yang sekarang pun akan terlihat begitu megah dan berartinya buat kita.

Dear ayah…aku telah mencintai dan menikahimu. Maka aku akan berpelukan sama mesranya pada baik dan burukmu. Dan aku akan berpelukan sama mesranya dengan suka dan duka pernikahan ini, pada indah dan pedihnya kebersamaan ini. Happy 4th anniversary ya ayah.

PS: dan bukan, tulisan maupun pujian-pujian di atas bukan karena sudah dibelikan aipun, sekian.

4 thoughts on “Kebersamaan

  1. Mbak hanita ala kabar? Jadi suamiku benar ya, pas amu bilang aku bbm mbk hanita tp kok gak dibls, dan itu fotonya gak diganti2 , kata suamiku mungin udah pake iphone. Hehe….kirain bb nya dibanting mbk? Nomorny masih sama mbk?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s