Kemanakah Dewa?

Dulu saya punya seorang kawan healer bernama Dewa. Kami dikenalkan oleh seseorang. Waktu itu saya lagi galau maksimal, stres berat sedikit lagi menuju depresi, segala sesuatu di hidupku sepertinya rumit dan segala masalah nampaknya tak berujung. Seseorang berkata bahwa Dewa ini anak muda yang gifted (indigo) dan saya bisa banyak belajar dari dia dan siapa tahu bisa menemukan jalan keluar dari masalah saya. Tanpa tedeng aling-aling, saya langsung menemui dia. Tak peduli apakah nanti yang saya temui adalah seorang dukun menyeramkan, atau peramal psycho, yang penting saya butuh bicara dengan seseorang. Dan keluarga sama sekali BUKAN pilihan waktu itu. Eh Alhamdulillah orangnya baik dan kami banyak mengobrol di pertemuan pertama itu. So historiku berkawan sama orang-orang penyembuh sebenarnya sudah terjadi sejak lama.

Dewa itu sosok yang tinggi tegap berkulit sawo matang, sorot matanya tajam. Ada crowding di gigi atas anterior. Dia selalu berbaju serba hitam, plus kupluk hitam yang selalu menghiasi kepalanya, rambutnya yang gondrong dicepol kebelakang. Kisah Dewa bisa ada di tempat prakteknya waktu itu sungguh panjang. Dia bernama lengkap Marwa Mahadewa, seorang putera Bali dari keluarga sangat terpandang, sukses dan kaya raya. Dewa adalah calon pewaris tunggal kekayaan keluarganya dan dia sangat disayang (cucu laki-laki satu-satunya). Dan kebetulan dia indigo/berkesadaran tinggi sejak lahir. Sejak bayi, Dewa sudah kasihan sekali nasibnya. Terberkati dengan kemampuan luar biasa seperti itu, di awal-awal dia nggak sanggup menjalaninya. Jadilah selama bayi tuh kerjaan dia hanya tidur, bangun sebentar, menangis kencang karena kontaknya dengan ‘the others’ begitu mengagetkan, lalu kecapean dan tidur lagi. Pas bangun, liat yang aneh-aneh, nangis, tidur lagi. Begitu seterusnya😦 Hebat banget yah orangtuanya bisa melalui masa-masa sulit itu dengan sabar.

Beranjak dewasa, Dewa sudah biasa dengan kemampuannya, dan hidupnya dijalani begitu saja karena toh keluarganya sudah cukup berada. Dia tidak menggunakan gift-nya itu untuk mencari nafkah. Mau lihat makhluk berbentuk apapun yang menghampirinya, dia sudah biasa. Kontrakan tempat dia praktekpun penuh dengan ‘penduduk setempat’, pantesan harganya murah banget, karena dari sekian banyak penyewa, hanya Dewa yang boisa betah bertahan di situ🙂

Saat kuliah merantau ke Jakarta, perjalanan batin membuat dia memutuskan untuk pindah agama, menjadi Muslim. Sebabnya kenapa, saya lupa, dapat mimpi tentang ka’bah apa ya? pokoknya itu yang terasa paling benar buat dia saat itu. Diapun mendatangi seorang imam di sebuah Masjid di Kalimalang dan minta dituntun untuk mengucapkan dua kalimat Syahadat. Setelahnya dia mengaku merasa sangat lega dan haru meski bacaan sholat saja belum ngerti sedikitpun. Semua keluarga. Dewa sangat terpukul dan kecewa, marah lebih tepatnya. Segala fasilitas kemewahan ditarik. Dewa langsung tidak punya apa-apa. Sang Ibu sebenarnya begitu pilu dan iba dengan nasib anaknya, tapi si kakek yang begitu berkuasa membuat mamanya Dewa nggak bisa berbuat apa-apa, pasrah dan cuma berdoa semoga anaknya baik-baik saja. Di situlah Dewa memutuskan untuk harus mulai cari uang dari kemampuan istimewanya. Berbekal gift bawaan dan ilmu agama Islam yang baru dipelajarinya, dia mulai jadi ‘penasehat spiritual’ di usia yang sangat muda.

Dia orang yang supel dan humble, banyak ikut kegiatan di kampusnya, pergaulannya luas hingga dia bisa punya banyak klien, bahkan sampai ke kalangan selebritas. Biar nggak dicap cuma ngomong doang, itu di rumahnya beneran ada album foto tempat dia memasang foto-foto dia sama klien artisnya (meski kebanyakan adalah penyanyi dangdut LOL).

Nah, pas pertama saya masuk ke ruang prakteknya, memang agak angker. Gelap, meski nggak ada tengkorak atau benda-benda mengerikan lainnya. Tapi berasa energi penyembuhannya besar sekali. Sebenarnya di situ saya lebih banyak mendengar kisahnya dia dibanding saya yang curhat. Intinya saya bilang bahwa saya lagi sumpek banget sama hidup, jenuh sama kuliah, keluarga, gak punya gairah hidup, kosong, hampa, sebenernya saya ini bisa nggak sih menyelesaikan kuliah yang sebenernya sudah dijalani setengah hati? Pendeknya: ramal gw dong, gw bisa lulus apa nggak?

Dan saya kurang beruntung, dia bukan peramal, dia nggak ngeramal, dia gak mau, dia cuma bilang sesuatu dalam bahasa Arab lalu menuturkan terjemahannya dalam bahasa Indonesia: ‘Aku memberikan segala sesuatu sesuai persangkaan hambaKu’

Haaa? Udahgitudoang?? Kecewa sebenernya. Jadi sepanjang sesi dia cuma cuap-cuap segala kutipan-kutipan bijak dan saya mendengarkan. Betapa manusia itu memiliki potensi yang luar bisa dari Allah, potensi penyembuhan, potensi karya cipta, potensi welas asih dsb. Tapi sayang kebanyakan manusia hanya memakai 1% kemampuan otaknya saja. Kita tuh bisa melakukan apa saja, mewujudkan apa saja, dan harus mau belajar untuk mengembangkan fungsi otak biar gak hanya 1% itu. Di akhir sesi, dia menyelaraskan energi saya dengan gerakan tangan (mirip NTSnya suhu Haryanto di klinik ProV). Yah pokoknya gerakan healing energy gitu deh. Anehnya, pada saat dia menyelaraskan energi di sekitar leher, saya merasakan ada yang mengganjal di jalan nafas dan tiba-tiba pingin muntah. Dia bilang ‘wah!’ Lalu buru-buru ambil kantong plastik kecil sambil memandu saya untuk batuk memuntahkan ‘sesuatu’ itu. Rasanya lega bener, cuma lendir sih, kaya dahak gitu. OMG, what the HELL was that??

‘Dewa yang barusan itu apa???’ Tanyaku masih dengan mata sembab karena barusan terbatuk-batuk hingga keluar air mata.

‘Kamu pernah ke suatu tempat yang sepi di luar kota? Semacam gunung atau hutan’

‘Haah, orang rumahan kaya aku? Jarang banget! Aku gak pernah kemana-mana’

‘Coba diingat lagi, kamu semacam ketempelan, dan yang nempel ini asalnya dari situ’

‘Ya palingan ke tempat kaya gitu cuma pas acara kampus aja, Wa. Waktu tingkat-tingkat awal, yang ikut outbond’

‘Nah, iya itu, bisa jadi’

‘Lha terus berarti itu udah lama dong ngikutnya?? Kan udah bertahun-tahun yang lalu??’

‘Gak papa, yang penting ini udah aku buang ke laut’

‘Ih sumpah, serem!!! Kenapa dia ngikut aku??’

‘Ya nggak tahu, tapi kamu beruntung dapet tempelan cuma yang pasif-pasif aja, dan bukan yang pingin balas dendam atau apa, dia cuma iseng pingin ikut. Naasnya ya kamu jadi kebawa rusak energinya, jadi gak balance, ya karena ketempelan itu’

Sore itu aku menyetir mobil pulang dengan masih terbengong-bengong. Gak bisa mencerna semuanya. Dewa yang tengah meditasi dengan mantra dzikir dan Asmaul Husna tiba-tiba tersadar badannya sudah melayang dari tanah. Hell no, gue pasti udah gila. Gak masuk akal banget. Saya terus pada tahap penyangkalan, tanpa sadar bahwa beberapa tahun ke depan saya sendiri akan belajar meditasi dan sang guru berpesan sambil bercanda ‘siap-siap nanti kalau sudah bisa melayang jangan sampai jatuh terjerembab’.

Intinya setelah ketemu Dewa yang super aneh itu, aku jadi lebih spiritual, karena takut kejadian ketempelan lagi. Jadilah aku kayak freak beli majalah Ghaib wkwkwkwkwk dan rajin baca-baca tentang ruqyah syar’iah. Pertemananku dengan Dewa masih terus lanjut. Dia tuh gak bisa diandelin yah orangnya. Kadang-kadang ilang gitu aja kayak ditelan bumi. Besok-besok bisa ditelpon lagi, bilang kalo kemaren dua bulan habis jadi relawan di sini, di sana, kerja ini, kerja itu. Waah nomaden banget deh dia. Saat musibah jatuhnya pesawat Adam Air dulu itu, Dewa adalah salah satu dari tim paranormal yang diminta untuk ‘melihat’ lokasi pesawat Adam Air itu di mana. Dewa bertutur, dari semua orang, mau yang kere kaya dia sampai yang terkenal macam Ki Kusumo, semua visionnya sama, cuma lihat pesawat itu terbang di atas laut, lalu tiba-tiba gelap, semua gelap, sepertinya Allah sengaja menutup tabir di atas pesawat itu. Semua orang pinter gak bisa kasih jawaban apa-apa ke tim KNKT yang berwenang. Entah bener atau nggak cerita ini, yang pasti seru ya hidupnya.

Saat berbulan-bulan gak ada juntrungannya, tau-tau Dewa menghubungi lagi minta tolong bantu sebarkan siapa yang bisa beli kamera DSLR dan motornya, karena dia butuh banget uang untuk terbang ke Kalimantan ke lokasi bencana berikutnya. Just another disaster site volunteering. Aah Dewa, kamu begitu lugu dan naif sampe kadang suka nggak mikir logis.

Dan tidak, aku dan Dewa tidak pernah terlibat secara perasaan. Cewek yang suka dia banyak katanya, iyalah orang sakti. Tapi saya tidak. Buat saya dia memang charming, dengan segala kemampuan magisnya itu. Tapi buat saya dia juga naif, tidak bisa diam di satu tempat, Dewa tidak diciptakan untuk sebuah hubungan. Gak tau ya kalo sekarang, jangan-jangan dia sudah punya anak?

Saat akhirnya aku bertemu dengan bakal ayahnya anak-anak. Sekali lagi aku tanya Dewa, benerkah Zuni jodohku. Dan sekali lagi dimentahin dengan jawaban: ‘Bisa iya, bisa juga tidak, kamu sendiri yang menentukan nasibmu’.

Pernah Dewa akhirnya ‘ditanggap’ mama papaku untuk menjadi penyembuh selama seminggu buat tetangga-tetangga di sekitar komplek. Ada satu kotak sumbangan, siapa yang berobat bisa masukin uang seikhlasnya berapapun ke situ. Aku inget ada satu orang bapak sudah tua, tadinya nggak bisa jalan, di pertemuan keempat sudah bisa jalan lagi🙂

Saat mau berangkat ke Kalimantan untuk PTT, kembali aku mengejar Dewa. ‘Dewa, takut nih, ke Kalimantan nih, daerah terpencil, orang-orang lokal, gimana nasibku’
‘Tenang, kalo ketemu yang aneh-aneh, baca aja Al Fatihah. Al Fatihah dulu ya, bukan ayat Qursiy. Kan yang menampakkan diri tuh belum tentu jahat. Kalau sudah jelas sepertinya jahat, baru ayat Qursiy’ Lalu Dewa memberiku 2 tasbih, yang satu besar untaian 33 biji dari kayu cendana yang wangi, satu lagi kecil untaian 11 biji untuk dipakai sebagai gelang. Apa ya maksudnya, apakah ini jimat? Atau cuma untuk afirmasi aja biar aku tak lupa untuk selalu bertasbih. Kayanya sih buat sugesti positif aja sih, sekarang kedua benda pemberian Dewa itu udah hilang entah kemana. Lucunya nih, di Pontianak, aku ketemu sama satu orang lagi yang indigo juga. Taulah kalo ketemu sama orang-orang ajaib begini pasti aku korek sedalam-dalamnya pengalaman mereka, bisa lupa waktu bahas hal-hal ghoib. Dan kusebutkanlah nama Dewa, si cowo tadi (namanya lupa) merem sebentar, dan akhirnya dia bilang ‘Saya tau, gak kenal sih, tapi saya bisa lihat dia, dia orangnya baik. Dia udah kasih kamu doa pelindung tuh buat menyertai kamu kemana-mana, coba kapan-kapan dicek deh, di punggung bawah deket pinggang, ada satu tahi lalat kecil yang bukan bawaan lahir. Nah itu bentuk perlindungan dari dia’ Weh, ni orang sinting apa yah, sejak kapan gw punya tahi lalat di punggung, ada-ada aja. Dan setelah dicek besokannya saya ngaca dan melihat ke belakang punggung saya, ADA. Cukup, dunia pasti sudah edan.

Fiuh gak habis-habis deh bahas Dewa dan kejeniusannya. Semenjak aku selesai PTT dan mempersiapkan pernikahan, Dewa ilang gitu aja, seperti biasa. Kali ini sudah tak berbekas. Entah kali ini HPnya yang dijualkah, entah dia pergi merantau ke luar negerikah, dia memang gak bisa dipegang. Kami bertakdir untuk menjalani pertemanan kami segitu saja. Sampe sekarangpun ayah masih suka nanya: ‘Mana bun temenmu itu si Dewa?’ Btw ayah juga sudah pernah sekali diterapi Dewa, jaman waktu kita masi PDKT dulu hihihi. Kalo ditanya Dewa di mana, entah. Tapi aku yakin dia ada di suatu tempat, entah sedang menyembuhkan seseorang atau menolong sesama. Yang pasti dia eksis di suatu tempat.

Dewa, kamu udah kemana aja? Udah ngapain aja? Seru nih kalo bisa ketemu lagi dan sharing cerita masing-masing.
Aku sekarang juga lagi mendalami penyembuhan batin untuk ibu hamil, Wa. Ternyata berat yah, ternyata gak mudah, banyak rintangannya.
Cuma berharap semoga selain menyembuhkan banyak orang, kamu juga sudah bisa menyembuhkan hubunganmu sama orangtua sendiri, keluarga sendiri…area yang dulu gak pernah kamu benahin.

Jadi inget pesan dr. Tubagus Erwin Kusuma, Sp.KJ , seorang psikiater anak yang juga ahli tafsir dan filsafat yang sangat berilmu. ‘Memang di AlQuran Allah itu tidak memberikan pengetahuan tentang ruh kecuali sedikit saja. Kenapa? Ya karena kaum Nabi Muhammad waktu itu sangat realistis dan antipati dengan hal-hal berbau sihir. Makanya agar lebih mudah diterima, Allah menurunkan banyak ayat yang membahas persoalan muamalah, tata cara bermasyarakat, berniaga dsb. Padahal ruh sungguh membawa potensi yang baik dan besar bila kita mau belajar’

Dan lalu saya terpikir akan kata @gobindvashdev : ‘Manusia bukanlah wujud jasmani yang mengalami pengalaman spiritual, tapi wujud spiritual yang mengalami pengalaman wujud jasmaniah’

Love you all….

@HanitaNitnut and @Maszuni Posted with WordPress for BlackBerry.

5 thoughts on “Kemanakah Dewa?

  1. ka, nama saya willi. saya boleh minta telp siapa saja, org yg ka2 kenal bs jd guru spiritual buat saya. krn saya sdg menghadapi masalah hidup yang cukup berat. ini no telp saya 081517551557

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s