The Card of I Ching

I’m in the middle of chaos. Iyes. Setiap insan pasti juga akan melalui masa-masa sulit, the sh*t moment in our life. Beberapa hari lagi aku, suami, dan anak-anak akan menghadapi perjalanan jauh yang luar biasa bikin tegangnya. Dan persiapan untuk kesitu bener-bener bikin kepala mau pecah. Karena sudah pasti ada derita di proses itu. Beberapa hari ini rasanya aku sudah separuh zombie, datar. Dikala secara internal hati udah galau tingkat kosmik, secara eksternal masalah juga ada aja yang dateng. Puncaknya, pagi ini aku terbangun dengan rasa hampa, jenuh, dan kesal yang nyaris meledak. My life sucks no matter how…everything goes wrong. Wah ini tarafnya udah gak kejangkau sama sekedar ibadah superfisial nih. Ritual pekerjaan pagi kulakukan setengah niat. Jam 8 Baim lagi kumat merajuknya, tiba-tiba merengek gak jelas dengan suara-suara annoying. Yusuf ngantuk minta nenen, dan ayah gak brenti gerecokin cukup dengen kehadiran dirinya yang sudah ajaib itu. Langsung pas ayah udah berangkat, Yusuf tidur. Aku keluar kamar, ke kulkas ambil segenggam cokelat chacha, sodorin di depan Baim biar langsung diem. I’m a former dentist, but I don’t care if it’s a bad way offering him sugar as a quick escape, I just need to stay SANE..

‘Bunbun mau mandi dulu!’ Jebrak. Tutup pintu kamar mandi.

Kubawa Iching trauma card pemberian Katherine Bramhall yang selama ini kupakai sebagai salah satu instrumen healing buat klien-klienku. Aku pasang penutup toilet, dan aku duduk di atasnya. Aku butuh ungkapin rasa sakit ini ke Dia. I hold the I ching card, and I said:
“Ya Allah….kenapa hidupku berat banget ya Allah”
“Kenapa anak-anak yang Kau berikan sulit banget”
“Kenapa pasangan yang Kau berikan sulit banget”
Aku ulang-ulang kalimat itu dengan emosi intens. Sebodo dengan peraturan ‘Jangan sebut nama Allah di wc’. Cuma tempat ini pilihan untuk bisa benar-benar sendiri. Uniknya, aku nggak nangis. Emang lagi bukan ke air mata bentuk pelepasannya.

10 menit menelungkupkan kedua tangan ke I Ching card dan bilang 3 kalimat di atas, lama-lama kalimat itu jadi biasa, lama-lama sakitnya mereda, lama-lama aku jadi numb sama pemicu-pemicu tadi. Badai sudah reda.

Saatnya berhenti, aku taruh kartu di luar, dan aku mandi. Saat keluar, Baim langsung mau disuruh mandi sama mbaknya.. Nakalnya ilang seketika. Yusuf tetap bobo.

Kini aku merasa perlu menulis semuanya, karena aku yakin yang pernah, sedang, dan akan merasakan sh*t moment in life bukan cuma aku doang. Pingin semua yang baca tuh tahu fase-fase meltdown akan selalu menghantui kita, terkadang penyakit yang satu itu perlu bertamu, sekedar untuk menyembangkan siklus hidup. Cuma sedikit disambi sama ulasan tentang I ching trauma card yang kebetulan saya punya. Kalau anda browsing, memang selalu ada 2 versi di luar sana tentang kartu I Ching ini, versi bagus, dan versi jelek. Apakah ini benar bekerja ataukah hanya placebo? Apakah satu bentuk instrumen psikologi modern atau propaganda penyesatan #illuminati? Yang jelas kartu ini telah banyak menolong korban-korban bencana di Aceh, Jogja, dan Haiti. Kartu ini telah banyak membantu pasien Bumi Sehat yang punya kondisi ‘spesial’. Kartu ini adalah sarana healing saat klien persalinan kita nanti kondisinya di luar ranah normal: korban perkosaan, single parent, ditinggal suami, korban incest, dsb. Saat punya banyak waktu (malam hari anak-anak sudah tidur), saya selalu TAT untuk membereskan hati. Tapi saat hari-hari masih hectic dan gak sempat TAT, kartu I Ching sangat berperan memberikan quick relief.

Pada kartu ini, terdapat kalimat di akhir petunjuk pemakaiannya: ‘share with others’.

Then I share this story to you.
Bahwa kita selalu berubah, seperti filosofi I ching itu sendiri (The Book of Change).
Kita gak melulu kuat, kadang kita lemah dan rapuh. Berkeluh kesahlah kepadaNya saat memang merasa perlu. Lapor. Minta kekuatan. Jangan denial. Kehidupan selalu berubah. Kondisi hati dan jiwa selalu berubah. Bila sebuah perubahan terkadang terasa terlalu berat, sudah saatnya masuk kamar, mengunci pintu, dan berdoa.

Hope I will get through this s**t.

*karena posting ini termasuk kategori nyampah, maka gak dishare twitter atau facebook.

@HanitaNitnut and @Maszuni Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s