Discovery Home & Health Saluran Penebar Rasa Syukur

Saat masih di Jakarta, saya sering menghabiskan waktu bersama newborn Yusuf seharian sambil menonton program tv berlangganan. Saya suka sekali channel Discovery Home & Health yang isinya rata-rata reality show dunia parenting. Saya suka acara-acaranya, karena dekat dengan dunia sehari-hari saya sebagai seorang ibu. Beberapa acara yang selalu saya ikuti antara lain Baby Story, Surviving Motherhood, Making Room for Triplets, 19 Kids and Counting , dsb. Paling antusias kalau melihat Baby Story, berhubung passion terkini saya adalah dunia melahirkan dengan lembut minim trauma. Baby Story mengisahkan pasangan-pasangan muda yang akan menjadi orangtua, bagaimana kegiatan sang Ibu sehari-sehari menjelang persalinan hingga saat bayi lahir. Variatif sekali jenis persalinan di Baby Story ini: normal, normal dengan induksi dan epidural, normal homebirth, bahkan cesar. Pesan dari acara ini adalah semua proses kelahiran bayi sungguh menakjubkan. Namun buat yang belum pernah melahirkan, saya sarankan jangan sering-sering menontonnya. Banyak adegan menunjukkan ekspresi ataupun suara si ibu yang lumayan ‘horor’, sedangkan dokter-dokternya juga memberi instruksi untuk mengejan dengan menggunakan aba-aba keras (udah kaya pelatih baseball nyemangatinnya, heboh…). Takutnya nanti anda malah seram dan tersugesti negatif jadinya.

Kalau Surviving Motherhood isinya adalah sekumpulan ibu yang menyempatkan diri selama satu jam untuk bertemu di satu cafe sambil membawa anak-anaknya. Mereka ngopi, sarapan ala bule, bercengkerama, bertukar pikiran mengenai masalah-masalah parenting apa saja yang mereka hadapi. Ya kalo di Duri sini kurang lebih mirip-mirip sama kelas parentingnya Bunda Wita lah. Di sini saya menemukan berbagai problem orang tua di US yang unik-unik, ada yang anaknya nuakal banget suka jerit-jerit, ada yang umur 5 tahun masih belum bisa potty training karena ternyata dia trauma pernah sembelit dan pupnya sakit sekali, ada ibu bekerja yang baru sampai rumah pukul 8 malam dan masih harus mengurus anak-anaknya tanpa asisten sama sekali. Wuiiiih nonton ini jadi bengong sendiri, orang tua itu hebat-hebat yah! Di akhir acara selalu ada ‘Tips from The Expert’ dari para psikolog, DSA, ataupun pakar pendidikan yang memberikan solusi masalah atau jalan tengah yang terbaik kalau ada dua kubu yang bertolak belakang. Selama ini saya tahunya cuma acara Super Nanny dan Nanny 911 saja, ternyata di Disc Home & Health ada yang lebih seru ternyata…

Nah…yang paling mengetuk pintu rasa syukurku adalah acara yang berbau anak kembar/ anak banyak. Making Room for Triplets contohnya, menggambarkan keseharian orangtua dari bayi kembar tiga, mulai dari masih di kandungan sampai setelah lahir pulang dari Rumah Sakit. Wow….rempong dan heboh, kerepotanku dikali 3, gak bisa kebayang lelah dan capeknya. Apalagi kembar 3 biasanya lahir (atau terpaksa harus dilahirkan) prematur, lebih ringkih dan challenging. Ada tangisan disana-sini, popok kotor disana-sini. Wedeeewww….sungguhlah masalah dan kerepotanku gak ada apa-apanya dibanding mereka. Ya ujung-ujungnya jadi bersyukur… Dan jadinya malu sama Allah dan para ortu hebat yang ada di tv itu kalo saya gampang banget ngeluh cape dan stres. Kagum sama orang bule yang bagus banget manajemen teknis dan manajemen emosinya dalam menghadapi anak…kerja tim antara ayah dan ibu juga oke banget. Mereka gak terlalu ‘mikir’ atau nanya ‘kenapa juga harus gw yang dikasih anak triplets Tuhan?’. Mereka lebih banyak bertindak. Entah apa maksud dari Disc Home & Health menampilkan keluarga-keluarga besar yang ‘tidak biasa’, mulai dari kembar 2 sampai kembar 6. Apakah sengaja ingin memberi efek dramatis agar penontonnya membatasi hanya punya 2 anak saja? Atau justru malah sebaliknya? Hmm…

Pelajaran bisa dipetik dari mana saja. Salah satunya dari acara-acara TV yang mendidik. Discovery Home and Health bisa memberikan kita banyak pelajaran menjadi orangtua, berkaca melalui kehidupan dan masalah keluarga lain di belahan dunia lain. Semoga bisa terus dan terus belajar jadi ortu yang baik, karena sekolah dan kuliahku tidak pernah mengajarkan hal ini.

@HanitaNitnut and @Maszuni Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s