Semakin Mengerti Makna Rahmatan Lil Aalamin….lewat Biksu!

Si Biksu Kocak

Si Biksu Kocak

Lagi #nowreading bukunya Ajahn Brahm yang berjudul ‘Cacing dan Kotoran Kesayangannya’. Saya membeli buku ini 2 minggu lalu saat kabur sebentar dari rumah buat nikmatin me time, ngemall sendirian. Proses saya mendapatkan setiap buku itu unik. Bukan saya yang menemukan buku, tapi buku yang menemukan saya. Setelah menclok kesana kemari menghampiri tiap rak, saya melihat buku ini. Buku ini hadir biasa saja, bukan di bagian ‘best seller’, bukan juga di sektor ‘buku baru’. Tapi keberadaannya menggugah, aku ambil, baca sekilas cover belakangnya, dan mantap mutusin ‘aku ambil yang ini’. Bener kan, pas dibaca halaman demi halaman, isinya jleb semua, gue banget. Sangat sinergis dengan jati diri saya yang menjunjung tinggi makna hidup, kesederhanaan, ke-‘nggak neko-neko’-an, dan bahagia tanpa menjadi apa-apa. Meski buku ini ditulis oleh seorang Biksu bule yang menganut tradisi Therawada, entah mengapa lewat tulisannya saya justru makin bisa memaknai dengan lebih dalam agama saya sendiri.

Ajahn Brahm tidak bisa menutupi sifat aslinya yang kocak, semua pepatah maupun ajaran kebijakan yang dia sampaikan selalu dibumbui komen-komen menggelikan. Nggak ngantuk deh pokoknya, seru! Apalagi semua konten bukunya berisikan testimoni pengalamannya sendiri dalam berproses menjadi Biksu, hingga menjadi Biksu senior sekaligus pembicara ulung, sering diundang ke berbagai acara dan mengunjungi penjara-penjara untuk memberikan konsultasi bagi para napi. Kurang lebih seperti ini contoh-contoh banyolannya.
‘Meski saya hidup selibat tidak pernah menikah, tapi banyak banget pasangan suami istri yang minta saran saya tentang kehidupan rumah tangga, kenapa nggak ke konselor pernikahan aja sih? Ah, saya tahu, mereka memilih datang ke seorang biksu karena kamilah satu-satunya yang tidak pernah minta bayaran’ LOL!
Atau suatu kali saat dia menghadapi seorang pemabuk yang hampir ingin memukulinya habis-habisan, dia menulis ‘Saya berada dalam diam saat ia mengarahkan tinjunya ke muka saya, kami beradu pandang, saya tetap tenang dalam waktu lama, hingga akhirnya dia melepaskan cengkeramannya di baju saya dan menunduk diam, tidak ada teman-teman biksu yang menghampiri atau melakukan sesuatu untuk membela saya. WELL MAKASEH YA TEMAN-TEMAN, GRRRR!!!’

Pemaafan, amarah, pernikahan, cinta, kebahagiaan, rasa sakit, ketakutan, semua dibahas dengan menarik dan indah. Even cara makan aja dibahas loh, gimana orang-orang barat dengan gampangnya makan di restoran mahal tapi nggak pernah nikmatin makanannya, malah sibuk ngomongin tender dan deal bisnis, gimana nggak mau jadi lemak itu makanan? Lha nggak dicerna dengan penuh sadar dan penghayatan.

Di buku ini saya juga jadi tahu bagaimana ritual seorang Biksu Therawada, yang harus bangun sangatttt dini untuk membaca hafalan Paritta, bekerja membangun tempat ibadahnya sendiri, tidak boleh punya harta SAMA SEKALI, tidak boleh makan lagi setelah jam 12 siang sampai keesokan paginya, woww ritualnya bener-bener sangat mengikat, tapi mereka bahagia, mau menjalani itu semua dengan sepenuh hati. Bukannya merasa terpenjara tapi malah merasa bebas, tenang, dan bahagia. Dan tahukah anda saya jadi berkaca dan memaknai ulang ajaran agama saya sendiri. Sebenernya nggak jauh beda ya, kami juga dianjurkan untuk bangun di sepertiga malam, ajaran puasa, sholat, menutup aurat, menjaga kemaluan. Buddha dan Islam memiliki ajaran yang sama-sama mengikat, terlebih lagi seorang Biksu. Sosok biksu mungkin versi paling zuhud nya di agama kami. Bayangin, hidup miskin, gak boleh pegang uang pribadi sama sekali, semua harta adalah untuk wihara dan umat, mirip ya sama Rasulullah…

Si pengusung kebebasan dan liberalisme harus baca buku ini, biar nggak gampang menghina Islam. Agama, terlebih lagi agama samawi, diturunkan sebagai panduan manual tubuh dan jiwa kita…bukan untuk memenjara kita. Ini pendapat menarik dari Ajahn Brahm tentang kebebasan, ‘Negara Barat sangat menjunjung tinggi hak-hak kebebasan rakyatnya melalui undang-undang, anehnya, orang-orangnya tetap saja tidak pernah merasa bebas….selalu dikungkung kehampaan (perceraian tinggi, obesitas tinggi, kejahatan, narkoba, dll). Sebaliknya, dalam komunitas ajaran Timur yang sangat ketat seperti di agama Islam dan di wihara saya, orang-orangnya justru merasa bebas dan bahagia’. Nah kan, peraturan mengikat itu perlu, biksu aja sepakat. Maka siapapun yang menghina dan melabel Islam itu kolot, memenjarakan hak perempuan, anti kebebasan; berarti dia sama saja telah menghina seluruh Biksu di dunia. Lha wong ajaran Biksu malah berlipat-lipat beratnya dari ajaran kami kok. Biksu hutan malah nggak boleh dan nggak bisa minum Paracetamol kalau sakit gigi, bayangin betapa beratnya kehidupan dan tempaan mereka, tapi ternyata hasilnya adalah insan-insan yang tenang bahagia dan penyayang. Kami umat Islam merasa bersyukur bahwa ajaran kami ternyata ringan lho. Bener deh kita harus belajar dari seorang Biksu yang sungguh devoted terhadap agamanya, tapi nggak nyinyir sama agama lain. Biksu menghormati dan mengakui kebebasan beragama, tapi nggak nyampur adukkan ajaran-ajaran itu.

Tidak semua penganut Buddha mampu menjadi Biksu, hanya orang-orang terpilih saja, dan harus sangat kuat iman. Ckckck betapa Rahmatan Lil Aalamin-nya agama saya, yang menentukan kadar-kadar kewajiban beribadah sesuai dengan standar kemampuan manusianya. Tidak terlalu mengikat, tidak juga terlalu bebas. Paaas banget sama sekali nggak nyusahin kita.

Kita sholat wajib cuma 5 kali sehari lho, nggak perlu duduk lama berjam-jam kaya Biksu, masih bolong-bolong juga?

Biksu nggak boleh merokok, minum khamr, dan segala jenis protein hewani. Aturan kita lebih ringan, jadi ayo semangat lakukan dan makan minum yang HALAL, ati-ati jajan, buat ibu-ibu yang suka masak….no angciu, no mirin, no rum (no sushi tei….hiks). Jangan kalah sama Biksu.

Biksu bisa ngafalin Paritta segitu banyak. Lha gue juz 30 aja belon apal-apal *toyor, nunduk, malu*

Kita disuruh nahan selibat cuma sampe menikah lho, habis itu bebas mau ngapain aja sama suami. Masih sex under marriage aka zina juga? Ih malu ah diketawain sama Ajahn Brahm.

Biksu itu I’tikafnya tiap hari lho….kita setahun sekali dijabanin I’tikaf juga nggak 10 malem Ramadhan terakhir? *jleb and then another jleb*

Dan lain-lain banyak banget analogi yang bisa dikaji mendalam dari topik Biksu. Belajar dari seorang Buddhis tidak membuat saya menjadi Buddhis. Come on….mengambil ilmu seseorang itu bukan berarti 100% menjadi dirinya. Guru dan mentor kehidupan saya terdiri dari berbagai tipe, karakter dan agama, saya ambil yang bagus-bagusnya saja, tidak 100%, yang kurang sreg ya saya tinggalin. Jangan suudzon besok-besok beredar rumor ‘Hanita separo muslim separo dukun campur-campur’ hehe. ‘Nitnut pengen belajar meditasi berarti separo murtad kuwi’ huuushhh. Banyaaak banget yang ngecap seseorang kalo belajar self healing, meditasi dan ilmu hening berarti udah nggak pernah sholat. Ya ampyuun, sholat itu pribadi, yang tahu cuma Allah….gak usah menyangka-nyangka dan menghina-hina. Jangan heran kalau rak buku saya banyakan buku His Holiness Dalai Lama, Thich Nath Hahn, dan Ajahn Brahm, habis gimana lagi….mau belajar jadi muslim yang baik saja belajarnya harus dari orang-orang arif yang bukan muslim dulu sih. Tidak bisa dipungkiri sosok ustadz saat ini yang mendekati profil Rasulullah tuh dikiiiiit banget langka ditemuin, adanya ustadz seleb narsis semua hihi. Malah saya lebih ngelihat sosok Rasul di jaman sekarang ini hadir lewat Biksu-biksu itu, tenang, miskin meski kaya, bersahaja, penyayang, baik, bijak, nggak banci tampil dll. Mohon maaf kalo memang ada yang persepsinya beda. Kita belajar melalui jalan kita masing-masing. Dan saya mampu memaknai Islam dan mencintai Islam lebih dalam lewat sosok Ajahn Brahm.

Saya Islam yang cinta damai, Islam yang tidak pernah menyakiti kecuali kalo disakiti duluan. Inilah Islam yang Rahmatan Lil Aalamin.

@HanitaNitnut and @Maszuni Posted with WordPress for BlackBerry.

2 thoughts on “Semakin Mengerti Makna Rahmatan Lil Aalamin….lewat Biksu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s