VISA PAMAN SAM

Maaf sebelumnya, mungkin ini posting ternorak dan terndeso dari kami berduašŸ™‚ Dua minggu lalu saya dan ayah mengurus visa di Kedubes AS di Jl. Medan Merdeka Selatan belakang Stasiun Gambir. Pengurusan visa ini berkenaan dengan ditugaskannya ayah untuk ke San Ramon selama beberapa hari. Sebenarnya sih sebelum kami sudah banyak teman-teman senior di kantor yang duluan sukses ngurus visa, dan mereka gak norak-norak amat untuk posting di blog hihihi. Tapi kami merasa pengalaman kemarin tuh cukup seru sehingga pingin berbagi ke semua.

Ini kronologi percakapan saya dengan ayah beberapa minggu yang lalu, nggak lama setelah Yusuf lahir,

“Bun, aku training bun 2 minggu, kamu ikut aja”

“Yah….bayine piye????”

“Tinggal aja sama mama, kamu peres asi yang banyak”

“Kenapa harus ikut sih yah…aku males…Yusuf kasian”

“Aku males kemana-mana makan dan jalan sendiri, durung nek mblasuk, kalo ada barengan kan enak…”

Saya bimbang….bergidik juga bayangin tiket PP saya yang bikin pingsan karena harus cover sendiri. Lalu konsultasilah saya sama mbak Rika via bbm, dia bilang,

“Ya ampun deeek, nek suami malah nyuruh dan mengijinkan ya jalan ajaaa! it’s a rare chance! Udah berangkat! Dulu aku ke aussie 5 harian pas Fadhil 3 bulan, pulangnya dia masih mau nyusu gak bingung puting”

*asli kompor berat nih kakak gue*

*kemudian sayapun mengeksploitasi diri sendiri seperti sapi perah, beli kantong asip banyak, pompa, pompa, pompa. Cihuuuuuyyy jalan-jalan ke amriki*

Dan dua minggu kemudian…..

“Bun! bun!”

“Apa Yah….?”

“Di training ada si Jati bun! aku ada barengan yang kenal! Kamu gak usah jadi ikut ya…tapi tetep bikin visa aja”

“Alhamdulillaah gak perlu ninggalin Yusuf”Ā (dalem hati: ngoks, gubrak!!! gak relaaaa dibuanggg, setelah dikomporin sana sini untuk mantep berangkat, weladhalahhh kok jadi agak sedikit menyesal ya hihihihi)

Jadilah saya berangkat untuk mengurus visa yang gak jadi saya pakai, intinya cuma jadi partner penguatnya ayah yang bolak-balik udah ketar-ketir takut nggak disetujui visanya. Dia udah too much baca cerita-cerita negatif dari temen-temennya. Visa US susah, visa US susah. Nama tunggal rentan ditolak. Ituuu aja yang dipikirin sepanjang beberapa hari sebelum ngurus. Weleh-weleh….kok kalo ada beban ‘harus berangkat’ dari kantor emang jadi parnoan gitu ya..aku yg udah jelas gak akan berangkat, malah santai kaya di pantai.

“Bun, kalo ditanya ini, jawabnya ini ya!”

“Iyee”

“Bun, kalo ditanya mau ke mana aja, jawabnya ke sini dan ke sini ya, nginepnya di sini”

“Iyaaaa!”

Mengenai prosedur lengkap berkas kepengurusannya bisa dilihat di siniĀ , semua berkas yang ngurus ayah, saya cuma di suruh foto dengan background putih, sisanya, bukti appointment dll sudah tahu beres. Kita berangkat jam setengah 7 pagi, sampai Kedubes jam 8, sampe sana ternyataaaa kita bengong, mobil gak bisa masuk, apalagi numpang parkir, orangnya doang yang boleh turun. Yak muter lagi parkir di Gambir, terus jalan kaki dengan tangan kosong hanya bawa berkas dan kunci mobil. Ayah yang telah banyak survey, telah tau banyak hal. Dia tahu bahwa semua HP-BB-kunci dan semua metal-metalan akan disuruh titipin penjaga. Dan itu benar, di depan kami ada tante paruh baya yang tasnya segembolan, akhirnya harus ngeluarin segala iPad, handphone, kunci, charger, ya ampun ribet ya tante….

Pemandangan antrian yang ruame itu benar-benar beraneka ragam. ada keluarga borju yang akan liburan, ada bapak-bapak entrepreneur yang bolak balik resah karena tak terbiasa lepas dari gadget, ada mbak-mbak necis modis dandan yang asik ngobrol sama temannya, dan ada dua keluarga bersahaja khas pegawai chevron yang istrinya berkerudung dan bawa semua anak-anaknya. Ayah langsung seneng ketemu orang sekantor yang sama-sama lagi ngantri duluan, satunya dari Balikpapan, satu lagi Minas. Hmm….lama ya antri nunggu dipanggilnya, semua yang dateng sendirian jadi resaaaah karena terbukti orang kota itu nggak bisa lepas dari gadget, udah kaya diamputasi aja mereka rasanya kalo gak ada BB atau iPhone. Kalau saya dan ayah, udah pasti ngegosip ngisi waktunya, nambah tabungan dosa hihihi.

Kira-kira 45 menitan yang begitu lama, kelompok kami dipanggil masuk ke ruangan wawancara. Di dalam ruangan itupun teteeep duduk antri lagi, tapi untungnya kali ini ber-AC. Gosip lagi sambil komenin orang-orang lain hihihi penting banget ya… Di ruangan itu kita akan di scan sidik jari, lalu wawancara, abis itu pulang dengan hasil masing-masing. Di ruangan itu, saat menunggu sudah nggak bosan lagi, karena bisa melihat langsung orang-orang lain yang sedang diwawancara oleh 4 petugas bule si penentu nasib mereka. Seruuuu, dan ayah makin sakit perut hihihihi. Dua pegawai sekantor tadi, bawa anak-anaknya segambreng dan kadang bayinya nangis gak betah, kasihan…. Semua pewawancara bule ternyata sangat fasih berbahasa Indonesia. Mereka secara random melakukan interview dalam bahasa Inggris dan Indonesia secara bergantian, kita nggak pernah tahu akan ditanya dalam bahasa apa, dan nggak pernah tahu akan ditanya tentang apa, Bismillah aja. Mau lo konglomerat, artis, ayu ting ting, semua setara, gak ada yang bisa nyogok atau apa. Ada seorang mbak-mbak modis gaya necis dari atas sampe bawah, sepatu stiletto tak tok tak tok, pas diwawancara,

“I work for Multivision Plus, i’m mr. Punjabi’s right hand, you know?”

Kagak ngaruh mbak….tetep aja dia ditanya-tanya lama banget.

Ayah makin tegang karena ternyata dua orang kantor sebelum kami, dua-duanya ditolak aja lho….hiks, mereka nerimanya kertas warna kuning dan paspor dibalikin, kita nggak tahu warna kuning itu artinya apa. Tapi yang lain kalo disetujui, selalu dikasihnya kertas putih sambil dikasih tahu “Selamat, visa anda disetujui, paspor anda ditahan disini ya”. Huuuu makin pucet dia ngeliat temennya gugur semua, aku tetep lempeng aja….ah diterima pasti (dukun gadungan). Kedua teman kami itu feeling saya apes karena dapet pewawancara loket 9 yang judes dan bawel, cewek, masih muda, cantik, tapi ceriwisnya minta ampun dan suka menjebak,

“Anda di Amerika untuk apa”

“Anda selama di Amerika training tentang apa”

“Lalu anda akan kerja di kantor mana”

“Kalau anda training selama 6 bulan kenapa juga bekerja di kantor mereka” *salah jawab deh, teeeet! kertas kuning, ngoks lagi*

Waktu terus berjalan, doaku cuma semoga Yusuf anteng di rumah sama mama. Lalu bengong karena si partner gosip udag gak konsen diajak gosip, dia berdiri terus jalan-jalan di ruangan yang meski ber-AC tetep sumpek itu, karena makin siang makin tambah terus orang yang ngantri, fuihh. Aku bengong, gak ada gadget, gak bisa 4square, gak bisa foto-fotoin ruangan, yang ada mulai berkhayal….ini 4 bule digaji berapa ya kerja disini ampe faseh ngomong Indo? Mereka tinggal di apartemen apa kosan? mereka pulang naek apa? jangan-jangan pulangnya ngojek terus jajan batagor di belakang Sarinah hihihišŸ™‚

Dan kamipun dipanggil, yesss feelingku bener, dari tadi ngurutin kelompok sama loket, ngitung-ngitung, kok kayanya kelompok 17 akan dapet loket 8 yang mas-masnya kalem ya…ah semoga benar. Dan iyaa, kita dapet mas-mas itu. Dan kalo suami istri ternyata ditanya-tanyanya langsung berdua. Ayah udah siapin misil pede sebanyak satu truk.

“Hello….i’m Zuniawan”

“Where will you go?”

“San Ramon, i’m attending a leadership workshop for two weeks”

“Can you explain me what this workshop is all about?”Ā “Where do you work?” “For how long have you been working here” “You studied at Diponegoro?” “Explain me about your job” “Who’s gonna pay for this trip”

Mateng dah ayah ngejawabin satu-satu, dia pede banget dan lancar banget sampe masnya manggut-manggut, tapi itu jelas banget keringet ngocor dari keningnya hihihi. Saya cuma ditanya ikut untuk apa, punya anak berapa, dan yang jagain anak-anak kami siapa.

“Where else will you visit on this trip?” Ngincer ayah lagi dia…

“Golden gate….we’re gonna have our second honeymoon”

Masnya senyum seakan berkata so sweet…

Gue? Dalem hati, preeettttt, honeymoon? hihihihi

Terus lamaaa banget itu si mas bule matiin speaker, kita nunggu sambil deg-degan, aku komat kamit baca surat pendek.

“Sorry…our system has been….ppfffffft” katanya sambil ngeklik-ngekilk mouse

“it’s okay…”

Setelah waktu yang lama sampe suamiku udah janggutan tebel *halah*, akhirnya si mas nyalain speaker

“Congratulations! Your visa has been approved! Have a great time you two!” Sambil nyerahin kertas putih, paspor ditahan.

Perjalanan pulang, dia selalu mesam mesem sambil ngulang-ngulang “Your visa has been approved, your visa has been approved yeessss” Alhamdulillah…

Intinya ternyata benar, ngurus visa amriki itu ternyata susah…

Tapi selama kita nggak tahu kalo itu susah, maka kita dapetinnya jadi gampang….

Selamat ayah….jadi juga berangkat nanti, dan yang penting beliin aku DVD terbaru Ricki Lake “More Business of Being Born” lho yah! Buat dakwah gentle birth…..

Kalo gak dibeliin, aku kayang!