MEMINTA PERTOLONGAN SI PLASENTA PREVIA

Tidak mustahil diperbaiki

Banyak keajaiban terjadi di Bumi Sehat, yayasan yang dibina oleh Ibu Robin Lim. Saya tahu itu dari posting-posting beliau di facebook. Yang paling fantastis adalah pada suatu kasus gawat janin yang sudah tidak bernafas selama 3 jam, namun dengan doa dan upaya, janin tersebut akhirnya bernafas normal tanpa ada gejala kerusakan otak. Entah energi apa yang membuat segala keajaiban itu terjadi, mungkin daya spiritual Ibu Robin Lim yang sangat tinggi, atau memang rata-rata penduduk Bali punya optimisme dan mental berharap yang bagus, jarang berburuk sangka. Maka dari itu saya ingin menyebarkan satu saja dari sekian kasus fantastis yang terjadi di sana. Moga bisa menjadi bahan pembelajaran dan perenungan buat kita semua. Berikut adalah cerita Ibu Robin tentang pengalamannya dengan kasus plasenta previa.

Li Wati gembira bukan main saat mengetahui dirinya sedang hamil anak kedua. Anak pertamanya, Niti, dulu lahir dengan lembut dan penuh cinta di rumah. Kebetulan yayasan kami, Bumi Sehat, baru saja resmi dibuka tak jauh dari rumahnya, maka dengan penuh antusias ia ingin melahirkan secara waterbirth di Bumi Sehat bersama para bidan yang dulu juga menolong persalinan pertamanya. Namun, mimpi indah itu ternyata terusik oleh kejadian perdarahan di usia kandungan 16 minggu.

Flek selama kehamilan salah satunya dapat menjadi tanda adanya suatu kelainan yang jarang terjadi namun sangat berbahaya, yang disebut Plasenta Previa: yakni saat posisi plasenta di dalam rahim begitu rendahnya hingga menutupi mulut rahim. Bila plasenta tersebut secara total menutupi serviks, pasien bisa mengalami perdarahan hebat saat nanti kontraksi persalinan mulai terjadi, dan sudah pasti sangat beresiko pada kehidupan ibu maupun janinnya.

Begitu Li Wati melaporkan perdarahannya, saya membawanya untuk USG ke DSOG yang masih kolega baik saya, dr. Wedagama. Hasil USG menunjukkan bahwa plasenta secara total tumbuh menutupi jalan lahir, complete Placenta Previa. Ini berarti tidak ada jalan lain, kelahiran nanti harus melalui operasi cesar. Li Wati menangis sedih karena dia sangat menginginkan persalinan normal, bukan SC. Saya menganjurkan agar kita semua ‘bicara’ kepada plasenta: ‘Plasenta sang pelindung…tolong lakukan usaha terbaikmu untuk naik, menjauhi serviks sehingga kamu, ibu, dan bayi bisa aman dan selamat.’ Kami juga bicara kepada sang bayi: “Bayi, kamu harus bilang ke plasentamu, minta dia untuk berpindah ke utara dalam rahim ibumu, sehingga kamu mungkin bisa lahir secara normal.’

Dokter Wedagama memberikan tatapan aneh kepada saya. Saya tahu dia menganggap ini gila. ‘Well’ ujarnya dengan penuh keraguan, ‘ini sangat butuh keajaiban, tapi tidak ada ruginya dicoba.’ Dia terus membuat mimik wajah yang sangat aneh keheranan sehingga Li Wati tak kuasa tertawa serta menghapus air matanya. Kami menyuruhnya bed rest selama beberapa minggu untuk menghilangkan tekanan pada serviks guna mencegah terjadinya dilatasi akibat menanggung tumpuan plasenta di atasnya. Saya juga minta agar kita semua tetap fokus, yakin, satu visi, sehingga plasenta dapat melakukan usaha terbaiknya untuk naik dan tidak terganggu oleh keraguan maupun kecemasan kita. Dengan begitu maka seharusnya perdarahan akan berhenti, dan kami tidak perlu lagi melakukan USG hingga nanti usia kandungan Li Wati mencapai 8 setengah bulan.

Setelah beberapa minggu melakukan bed rest, Li Wati pelan-pelan mulai bangun dan bergerak, tapi dia berusaha untuk tidak pernah mengangkat benda apapun atau membuat tubuhnya lelah. Dia secara seimbang beristirahat, beraktifitas, makan sehat, minum banyak air putih, dan mengkonsumsi vitamin organik ‘Perfect Prenatal’ sumbangan dari New Chapter. dIa juga terus melakukan perbincangan dengan plasenta. Dia bicara dan terus bicara padanya, memintanya untuk memberikan jalan yang aman buat sang bayi. Saya juga selalu ikut dalam komunikasi ini, bersama keluarganya, dan seluruh staf Bumi Sehat. Bicara kepada plasenta bayi Li Wati telah menjadi sebuah proyek bagi seluruh desa.

Dua minggu sebelum due date, kami datang lagi ke tempat praktek dr. Wedagama. Dokter itu tampak tegang penuh dilema, seperti merasa bahwa dia dan alat USG nya akan menjadi pembawa kabar buruk. Sebenarnya dia juga sangat berharap agar ibu ini jangan sampai mengalami operasi SC, namun dia tahu semua kondisi ini adalah kontra indikasi untuk persalinan normal. Dia mempersiapkan alat-alat lebih lambat dari biasanya. Akhirnya, dia mengoleskan gel dingin pada perut Li Wati dan menempelkan alat USG di atasnya, mencoba melihat hasil perjuangan, doa dan pengharapan kami selama berbulan-bulan ini.

Saat dr. Wedagama pertama-tama mencari di separuh rahim bawah, kami hanya melihat kepala bayi, sudah masuk panggul dengan sempurna. Tapi mana plasentanya? Dia bergerak ke atas sedikit, sedikit lagi, lalu balik turun, terus ke atas lagi, mencari pelan-pelan. Akhirnya jauh di atas sana, setinggi posisi yang seharusnya terjadi pada kasus normal, di sanalah kami melihat plasenta berada, plasenta yang luar biasa.. Sang pelindung ini ternyata mampu mendengar dan bertindak. Li Wati akan bisa melahirkan normal seperti yang selalu didoakannya. Setelah melompat-lompat kegirangan, dr. Wedagama bertanya ‘ibu ingin tahu jenis kelaminnya?’ Li Wati berkata ‘tidak perlu dokter, saya akan menunggu sampai saat lahir apakah bayi ini laki-laki atau perempuan. Saya sudah sangat bahagia cukup dengan mendengar bahwa saya tidak perlu dioperasi’

Tiga minggu kemudian (minggu 41), Kakak Edi lahir di dalam kolam bersalin penuh bunga-bunga. Saat si plasenta keluar, kami menaruhnya dalam mangkuk khusus dan menaburinya dengan bunga, mengucapkan terima kasih karena ia telah melakukan sebuah keajaiban.

(translator mewek lagi…)

One thought on “MEMINTA PERTOLONGAN SI PLASENTA PREVIA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s