WANITA, MELAHIRKAN, DAN RASA SAKIT

Saya pernah membaca sebuah kolom kecil di salah satu halaman majalah kesehatan dan olahraga mengadakan polling tentang urutan skala rasa sakit untuk berbagai prosedur kecantikan. Mereka menggunakan skala 1 hingga 10. Facial berikut pengangkatan komedo menempati skala 2, nyeri pasca operasi plastik berada di skala 7, brazilian waxing ada di skala 9. Yes, beauty is gained through pain, they say. Dan mereka menggunakan parameter nyeri melahirkan normal sebagai skala 10 yang paling sakit, jadi Bikini wax itu sedikit dibawah nyeri melahirkan normal, demikian klaim nya. Kok pake bawa-bawa nyeri melahirkan normal ya? Jujur saat membaca kolom itu saya belum pernah sama sekali Bikini Wax, dan belum pernah juga melahirkan normal. Namun mau tidak mau saya jadi tersugestikan juga untuk tidak mencoba-coba bikini waxing. Gila…nyerinya cuma setingkat aja di bawah melahirkan boo…pasti sakit banget berarti. Waxing sih bisa di-skip, lha tapi kalo nyeri melahirkan kan tidak bisa dihindari, pikirku waktu itu, lha wong melahirkan itu harus dan kodrat.

Kembali ke perbincangan masa kanak-kanak dulu, ketika saya dan teman-teman bermain di acara kantor papa, laki-laki perempuan gabung dan berceloteh a la anak kecil.

“Eh, enakan jadi laki apa perempuan?” Celetukan seorang anak telah memicu diskusi panjang

“Ya perempuan dong, aku ga mau jadi laki-laki, ogah disunat, sakit!” kata satu anak perempuan

“Biarin disunat, daripada kamu nanti ngelahirin…aduuuh sakit banget tuh, berkali-kali lagi, perempuan tuh banyakan sakitnya” Bela si anak laki-laki, anak perempuan tadi langsung meringis ngeri.

“Ya memang sama saja, semua rata. Laki-laki sakitnya pas disunat. Perempuan sakitnya pas melahirkan. Tapi perempuan gak perlu capek cari uang. Laki-laki musti kerja sampe tua” Sahut anak lain yang lebih tua dari yang lain. Di masa itu memang belum banyak working mom, role model kami rata-rata adalah ibu kami masing-masing yang full time ada di rumah.

Dari percakapan singkat di masa kecil saya tadipun sudah kelihatan jelas ya momok sugesti sakit melahirkan adalah kodrat yang harus ditanggung wanita. Dan sugesti negatif itu sudah mewabah sejak usia dini.

Nah terus anda akan saya ajak loncat ke masa sekarang, tepatnya kemarin saat saya dan Yusuf dijenguk oleh salah satu sepupu dan anak laki-lakinya yang berusia belasan, awal-awal puber. Saya bercerita seru tentang kelahiran Yusuf kemarin, di tengah-tengah cerita, dia nyeletuk bertanya.

“Jadi anaknya tante nggak dipukul pantatnya dulu biar nangis? Kan kalo sama dokter biar nangis harus dibalik dulu bayinya, kakinya dipegang, menggantung kepala di bawah, baru pantatnya dipukul-pukul sampe nangis”

Errr….sempet bengong sebentar, lalu saya jawab “Nggak perlu dek, bayinya akan otomatis nangis saat dia melakukan kontak pertama dengan udara. Kalau kamu pernah dikasih cerita-cerita serem kaya gitu…gak usah dipercaya ya. Pantes saja banyak para ayah yang bergidik nggak mau masuk ruangan bersalin, lha dari usia segini ditanamkannnya sama cerita kasar dan serem begitu”

Saya sangat kaget dan concerned dengan pernyataan keponakan saya itu, karena saya tahu suatu saat nanti dia sendiri akan menjadi ayah yang menunggui istrinya melahirkan. Kasihan kan kalau nggak buru-buru saya luruskan pemahamannya…

Nah, kini saya sudah dua kali melahirkan normal. Satu induksi, satu 100% natural. Bagaimana menurut anda kira-kira skala sakit yang saya alami? Hmm, pertama-tama, persepsi sakit antara satu orang dengan yang lain sangat relatif ya. Jujur, menurut saya jauh lebih sakit waktu saya kena polip pulpa dulu waktu SMA. Dulu itu, huiikkkkssss…..sakitnya ampun luar biasa kalau dibandingkan melahirkan. Nyeri gigi karena pulpitis kronis dengan polip pulpa adalah rasa sakit terparah yang pernah saya rasakan, terutama saat polip itu diambil oleh dokter gigi saya, saya waktu itu menangis meraung-raung. That was the lowest point in my life, itulah yang membuat saya kekeuh untuk mengambil jurusan Kedokteran Gigi saat kuliah, sebenernya cuma pingin tahu apa sih sebenernya yang sudah terjadi sama saya ini, kok sampe sakit banget. Jaman dulu belum ada internet siih, coba kalo dulu sudah ada fasilitas browsing, kan bisa dapet jawabannya dalam hitungan detik dan gak usah kuliah lama-lama (eaaa beralih ke sesi curcol).

Jadi yang saya ingin sampaikan adalah…persepsi sakit, ambang rangsang sakit, sangat dipengaruhi oleh riwayat hidup, lingkungan dimana kita tumbuh besar, pengalaman-pengalaman hidup masa lalu, dan apa saja yang tertanam di pikiran. Pengalaman hidup saya memberikan memori bahwa polip pulpalah yang paling sakit, nggak mau kejadian lagi dan jangan sampai lagi. Nah di sisi lain, melahirkan ternyata tidak sesakit yang orang-orang sebarkan dari mulut ke mulut, tayangkan di televisi. Kalau ada wanita lain yang dilanda cemas dan takut saat akan melahirkan, itu berarti dia sudah mengkonsumsi terlalu banyak cerita seram di luar sana, dari orang-orang yang entah sengaja atau tidak menyebarkan ketakutan.

Wanita hamil sejak awal harus dilindungi rapat-rapat dari cerita-cerita negatif teman di kantor, keluarga, sanak famili, atau bahkan terkadang dari orang yang sehari-harinya paling sering menemui kondisi patologis, yakni dokter kandungan itu sendiri. Menurut saya nggak usahlah wanita hamil itu terlalu banyak tahu tentang placenta previa, ACA Syndrome, breech baby, dsb. Nggak perlu juga baca-baca tentang hal yang nggak perlu seperti ‘what causes breech baby?’ ‘what causes stillborn?’ ‘What could make higher risk of toxoplasmosis?’, dsb. Michel Odent berkata: makin sedikit seorang wanita tahu tentang tetek bengek prosedur medis melahirkan, rasa sakit dan komplikasinya, maka semakin pandai dia akan melakukannya.

You are what you read,

You are what you hear,

You are  what you think,

You are what you believe.

Percaya atau tidak, teman saya suatu kali dengan yakin bercerita: ‘Bun, pas gue belum baca buku What to Expect In pregnancy, gue sama sekali nggak ada keluhan. Eh begitu gue baca dan sampe bagian morning sickness, besoknya gue langsung mabok gak karuan’ Sekali lagi terbukti, you are what your read.

So, wanita sangat erat dengan rasa sakit? Melahirkan adalah derita bawaan, kutukan hawa? Haduuh kita sudah nggak hidup di era yang percaya hal-hal kaya gitu. Ini sudah tahun 2011, saat ini kita tahu bahwa ‘sakit’ itu terkait siklus respon ‘fear-tension-pain’. Sakit itu ada karena rasa ‘takut’. Rasa takut itu ada karena kita ditakut-takutin. Terkutuklah orang-orang yang suka menakut-nakuti ibu hamil.

Beranilah dalam menghadapi persalinan, karena siapa tahu sakit yang selama ini kau takuti ternyata hanya seganas gonggongan anjing Pomeranian nan mungil. Jalani kehamilan dengan penuh sadar, fokus, tenang, hingga komplikasipun jauh-jauh pergi.

Lalu bagaimana bila persalinan normal itu akhirnya tiba dan saat kepala crowning rasa sakit yang sebenar-benarnya datang menghantam meski cuma sebentar? Saya cuma bisa mengutip kata-kata Ajahn Brahm yang sangat indah tentang bagaimana menghadapi rasa sakit di bukunya ‘Cacing dan Kotoran Kesayangannya’… Tiap rasa sakit datang di kehidupan, dia berkata:

“Sakit, pintu hatiku akan selalu terbuka untukmu, apapun yang kamu lakukan. Masuklah”

Dan apa yang terjadi? Rasa sakit itupun pergi berlalu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s