LET’S LEARN FROM THE EXPERT: Sharing Homeschooling Kak Seto 19 September 2011

Perpisahan perdana terlamaku dengan Yusuf terjadi Senin kemarin. Sebelumnya sih pernah juga ninggalin dia untuk belanja bulanan, tapi itu cuma sebentar dan tidak jauh dari rumah. Kesempatan bagus datang kepada saya, saya diajak Mbak Endah untuk menghadiri sharing tentang Homeschooling (HS) oleh Kak Seto di acara RKS (Revousi Kasih Sayang), yakni event mingguan rutin para seller Tigaraksa. Banyak untungnya juga ternyata jadi costumer Tigaraksa, kita jadi boleh ikut hadir di acara-acara internal seperti ini yang sering mengundang para pakar. Apalagi kali ini yang bicara adalah Kak Seto, salah satu idola saya banget di dunia HS, and it’s for free! So berbekal ASI Perah di freezer, sayapun jalan pagi-pagi dan menitipkan Yusuf ke mama.

Kak Seto ternyata punya gaya yang unik dalam setiap seminarnya, tidak hanya presentasi slide, beliau juga membawa asisten khusus yang memainkan keyboard. Jadi di saat Kak Seto berceritera dan membanyol, selalu ada sound effect dari si pemain keyboard, seru sekali, kita seperti kembali menjadi anak-anak TK yang didongengin, diajak bernyanyi, menari, bahkan disuguhi pertunjukan sulap! Jadi tidak ada namanya kesan boring selama 2 jam itu. Beliau ternyata benar-benar expert dan multi talenta. Esensi materinya sudah bagus, cara membawakannya apalagi, dipersiapkan dengan benar-benar matang, jadinya komplit…plit…plit. Semua panca indra terpuaskan dan terstimulasi.

Meski topik utamanya adalah HS, beliau tetap menyisipkan misi utama KOMNAS Anak yakni STOP kekerasan pada anak. Menurut saya esensi HS nya malah standar banget, sudah pernah saya baca semua di buku-buku koleksi saya. Cuma menekankan legalitas HS, sistem ujian kesetaraan HS, keuntungan-keuntungan HS. Yang serunya cuma beliau menambahkan sekian deretan artis maupun anak-anaknya artis yang bersekolah di HS miliknya, salah satunya adalah Kevin Vierra. Beliau memang pro sekali sama HS, dan mengedepankan masalah-masalah yang sering terjadi di public school, kekurangan dari kurikulum DikNas, dan beberapa data miris yang beliau tekankan fakta tersebut jangan sampai ke luar ruangan, off the record saja (serem).

Saya malah lebih jleb sama materi-materi di luar HS nya. Ada banyak slide tentang studi-studi dan data statistik tentang tingkat bunuh diri anak, jumlah persentase anak yang mengunduh situs pornografi, dan  persentase konten acara-acara di TV. Meski tidak sempat mencatat atau mengambil foto detail slidenya, kira-kira inilah fakta-fakta yang mengguncang batin saya:

  • Isi dari acara TV 30 hingga 40% nya adalah iklan, diikuti dengan sinetron, hiburan, lain-lain, lain-lain, turuuun kebawah…barulah di paling bawah sebesar 0.02% adalah pendidikan. Bayangkan teman…pendidikan HANYA 0,02% nya. Duh beneran langsung pengen jual-jualin TV di rumah dan langsung paksain ayahnya puasa Daud nonton TV. (Ayahnya anak-anak suka banget nonton tv terutama acara-acara musik/kuis yang gak mutu, sekedar buat dikomentarin dan dicela-cela, hadeeh)
  • Tingkat bunuh diri anak makin lama makin bertambah, dengan range usia yang makin lama makin menurun. Terakhir ada anak TK, iya….ANAK TK, yang bunuh diri karena sakit hati dipaksa-paksa dan dimarahi ibunya untuk pergi sekolah, padahal ibunya istri pejabat daerah lho. OMYGOOOD itu anak apa yang terlintas di pikirannya ya, kursus TAT dong deek #eaaa ga boleh kali di bawah 18 tahun hihihi *isi blog mulai ngaco*
  • Anak SMP ditemukan dalam kondisi terikat di pohon dengan kondisi lebam-lebam seluruh muka dan badannya. Ternyata anak tersebut menerima bully dari teman-teman sekelasnya sendiri. Jadi bullying sudah tidak di strata kuliah lagi sepeti OSPEK atau kasus IPDN, tapi sudah turun jauuh hingga ke tingkat SMP. Jangan sampee, amit-amit jangan sampe besok turun lagi ke SD ya Alloh…..
  • 50-60% anak usia SMP mengaku sudah pernah mengunduh situs pornografi.

Materi penting lainnya adalah mengenai kekerasan pada anak. Ternyata semua anak pertama kali menerima kekerasan di rumah, dan oleh orangtuanya sendiri dengan atau tanpa disadari…merinding. Bentakan, jeweran, pukulan, tendangan, tidak sedikit yang menerima itu semua dari orangtuanya sendiri. Himpitan ekonomi, kelelahan, stress berkepanjangan, ketidakharmonian suami-istri adalah faktor pemicu yang memperberat tindakan kekerasan. Orangtua sih tetep ngelesnya pasti bilang anaknya yang nakal, padahal merekanya tuh yang stres. Aduduh…kayaknya sayapun sudah pernah melakukan kekerasan pada Baim nih, hiks rasanya hancur lebur hati saya waktu itu sambil membaca slide, merasa sudah berdosa karena pernah jadi ibu yang sedang lelah lalu marah-marah. Habis itu tambah lemes karena teringat satu momen di pelatihan self healing dulu, sang gurunda menyebutkan ‘Memori anak paling kuat terekam dalam otak selama 7 tahun awal kehidupannya, segala bentuk trauma paling mungkin dihasilkan dari masa ini’. HUAAAAAAAAA tambah pengen cabik-cabik diri sendiri.

Jadi jangan suka marahin anak deh, ujar Kak Seto. Banyak-banyaklah bernyanyi buat mereka, mendongeng, bermain, bersulap (aduh kalo sulap…PR banget berarti). Beliau lalu mencontohkan bagaimana mendongeng dengan disisipkan pelajaran sejarah penjajahan Jepang, bagaimana bernyanyi dengan isi hapalan nama-nama latin hewan, atau bermain hand puppet untuk mengajar berhitung. Asli…pinteeeeeer banget Kak Seto mainin puppetnya, pakai suara 1 suara 2, lucuuu. Besoknya saya langsung terinspirasi buat ngajak baim sikat gigi dengan metode hand puppet, dan berhasiiil, Baim mau sikat gigi dengan menyeluruh sampai bersih karena si Teddy Bear yang mengajak, bukan bunbun nya yang menyuruh, wiiiih berhasil. Yang bikin terbengong-bengong lagi adalah cara Kak Seto memperagakan sulap untuk menghentikan kebiasaan anak minum soda yang sangat berpotensi menyebabkan gigi berlubang itu. Caranya, ‘Nak…kalau botol soda ini bisa hilang dari tangan ayah….maka kamu janji ya untuk gak minum soda lagi’ Lalu dia menutup seluruh botol soda dengan lembaran koran, menghitung sampai tiga, lalu blesss setelah dipukul dengan tangan, lembaran korannya rata dan botolnya hilang! Ckckckck beneran bisa sulap dia… PR banget suatu saat harus hunting toko alat-alat sulap.

Intinya, anak-anak kita adalah manusia yang punya hak: hak hidup termasuk di dalamnya ASI eksklusif (dan gentle birth kaaaak….teriak saya dalam hati), hak belajar, hak perlindungan, dan hak partisipasi. Belajar itu hak anak, bukan kewajiban. Belajar di rumah seharusnya bisa sangat alami dan menyenangkan, homeschooling itu mudah, asal ortunya kreatif dan multi talenta seperti artis. Saya pribadi memang merasa saat ini jaman sudah berbalik kembali seperti dulu deh, karena hukumnya secara filsafat memang begitu, kata seorang teman saya. Coba perhatikan, jaman sekarang trend nya kembali ke makanan organik, booming banget popok bayi dan pembalut wanita kembali ke bahan kain, gerakan go green, pilihan melahirkan kembali beralih ke bidan dan di rumah, penyembuhan kembali ke non medis dan holistik, lalu pendidikan? Ya mungkin saatnya (buat saya) kembali ke fitrah jaman dulu yakni homeschooling.

Well intisari yang bisa saya petik dari seminar ini adalah… Mau itu dengan HS atau public school, pada hakikatnya semua anak itu senang belajar, hanya saja cara belajarnya yang beda-beda. Hadapi secara personal, cintai mereka sepenuh hati. Karena pendidikan yang baik selalu berawal dari rumah, pendidikan yang penuh kasih sayang. Apalagi kalau dilengkapi dengan sarana bantuan berupa buku atau program yang bisa menstimulasi anak dengan maksimal. Buku adalah gudang ilmu juga harta, karena saya kutu buku maka saya bisa jadi seperti sekarang ini. Saya pingin membuat anak-anak saya senang membaca. Ayo moms budayakan membaca, karena anak-anak kita adalah peniru yang baik. Dan jangan lupa salurkan terus hasrat dan keinginan kita untuk belajar. Usia boleh makin tua, tapi kehausan untuk belajar sebisa mungkin tetap sama seperti seorang bayi. Kejar terus dan dekati mentor yang kira-kira membawa ilmu yang bermanfaat, sambil tetap selalu berdoa meminta lindungan Alloh SWT supaya kita tetap di jalan yang benar dan dijauhkan dari kesesatan.

I only learn from the experts….so let’s learn from the experts….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s