Sesuatu yang Hanya Bisa Dilihat oleh-NYA

Saya (kebetulan) terlahir Islam. Tumbuh dan berkembang di keluarga Islam yang tidak kental. Pengetahuan agama saya cetek. Tanyalah berapa surat Al Quran pendek yang saya hafal, maka saya akan menciut karena jawabannya adalah : hanya beberapa saja, beberapa surat di beberapa halaman paling belakang. Sisi egoisku berkata: salahkan orangtua yang tidak pernah mengirimku ke TPA, memperkenalkan Islam secara intensif,  atau  penanaman pendalaman agama sejak dini. Singkat kata, masa kecil saya yang kurang dekat dengan pendidikan agama membawa pelajaran tersendiri untuk koreksi dan evaluasi, hingga saya bisa melakukannya dengan lebih baik ke anak saya.

Kelas 5 dan kelas 6 SD saya habiskan di sebuah sekolah Katolik ternama. Sekali lagi, kualitas dan mutu pendidikan menjadi pertimbangan utama bagi orangtua saya, terlebih sekolah tersebut sangat dekat dengan rumah. You know what..sekarang saya malah sangat bersyukur bisa sekolah disana. Sekolah inilah yang berkontribusi pada jiwa kompetitif dan semangat belajar saya. Teman-teman saya mayoritas warga negara keturunan, mereka pintar-pintar dan ambisius. Sekolah ini membentukku jadi seorang pejuang keras. Poin kedua, sekolah ini membuka mata saya tentang agama lain. Saya ikut belajar agama Katolik, membaca doa Bapa Kami saat pagi hari, dan doa Santa Maria sebelum pulang. Setiap bulan ikut misa Gereja, menyimak isi khutbahnya, terpukau dengan beberapa anak yang boleh memakan sesuatu roti tak beragi yang belakangan kuketahui namanya Sakramen Ekaristi. Bahkan sayapun mengikuti retreat mereka, menghabiskan tiga hari di penginapan retreat yang merupakan perjalanan pertama jauh dari rumah. Intinya, dua tahun itu saya berkesimpulan bahwa agama Katolik mengajarkan yang baik-baik, mengasihi sesama, menyayangi semua orang seperti saudara. Di sini kudapatkan cikal bakal sifat toleransi dan open mind yang mengakar kuat. Tapi pelajaran itu tak mampu menggoyahkanku dari keyakinanku. Deeply inside, i’m still so attached to my religion.

Akhir masa SMP hingga Masa SMA adalah satu momen penting, karena di sini saya akan mengalami lonjakan keimanan yang signifikan. Tetangga di belakang rumah adalah seorang ustadzah, guru agama yang pintar. Eyang Mamiek, begitu saya memanggilnya. Mama memintanya untuk mengajari saya mengaji rutin setiap minggu siang. Bisa dibilang, hari minggu siang adalah saat-saat paling membosankan, karena harus ngaji. Tapi badan ini kupaksa juga untuk berangkat menemuinya. Alhamdulillah segala upaya dan kerja keras selama bertahun-tahun yang kukerahkan untuk melawan malas dan godaan syaitan berbuah manis juga, bacaan Quran ku meningkat pesat, beserta hukum-hukumnya, panjang pendeknya, qalqalahnya, dsb. Hingga bisa dibilang, saya mengaji dengan baik dan benar. Saya bahkan sempat mendalami Nahwu Sharaf sebentar sebelum akhirnya berhenti karena sudah mulai masuk kuliah. Secara spiritual juga saya merasa lebih dekat sama Allah SWT, karena eyang Mamiek sering memberikan materi dan wawasan-pengetahuan tentang para Nabi, hukum wajib-sunnah-mubah-haram, hukum menutup aurat, mahzab-mahzab yang ada di dunia, dsb. Akhirnya, di usia remaja saya dapatkan bekal agama yang lumayan lengkap. Saya bisa banyak bertanya kepada beliau, mengenai apa saja yang menggelitik pemikiran saya. I definitely got into a deeper meaning about Islam. Saya jadi rajin sekali mengajinya dan kencang sekali sholat malamnya. Semenjak itu saya mulai sedikit-sedikit mendapat kenikmatan spiritual yang susah dijelaskan oleh akal.

Suatu malam di bulan Ramadhan tahun 1998, setelah tadarus panjang hingga tertidur. Bermimpi sedang ada di halaman belakang rumah, malam hari. Saat itu saya merasakan kesejukan dan kegembiraan luar biasa. Tiba-tiba ketika menatap langit saya dihujani tumpahan kristal berlian bertubi-tubi dari langit, meluncur ke bawah seperti butiran galaksi. Ketika bangun saya merasakan kesyahduan luar biasa. Padahal malam itu tidak masuk hitungan ciri-ciri malam Lailatul Qadr, karena seingat saya itu malam genap.

Malam Ramadhan ke 30 tahun 1999, di rumah Eyang di kampung. Saya kelelahan setelah membaca Surat Yasin, tertidur pulas. Tiba-tiba rasanya seperti setengah terbangun, dan merasa berkomunikasi dengan Qarin (jin pendamping) saya, mengobrol dan berkenalan dengan beberapa Qarin lainnya, entah siapa. Tidak ingat lagi apa yang diperbincangkan, sedikit membahas agama, yang pasti sangat menyenangkan karena mama sesudahnya bilang saya selalu berbincang sambil tertawa dalam tidur, sepertinya asyik sekali. Saya bersikeras bahwa yang tadi itu beneran ngobrol ma..cuman nggak tahu sama siapa. Itulah kejadian pertama dan terakhir saya mengadakan kontak dengan makhluk lain yang juga muslim. Apakah itu bukan mimpi belaka? Hanya Tuhan yang mengetahui dengan pasti, namun saya cenderung merasakan itu sangat berbeda dari mimpi

9 September 1999 Yakin untuk mulai mengenakan hijab. Panggilan itu telah lama muncul sebelumnya, tapi banyak ditentang oleh mama, papa, dan kedua kakak saya, semuanya memang Islam moderat. Mama belum yakin bahwa ABG yang mungkin masih labil ini mampu menjaga komitmennya. Papa bilang setuju tapi dipikirkan dulu (papa lebih tinggi pemahaman agamanya). Mbak Rika bercerita bahwa akhwat-akhwat jilbaber di almamaternya (IPB, red) rata-rata menjadi pribadi yang kolot dan tidak asik, banyak memberi masukan dakwah ‘maksa’ kepada teman-teman yang belum berjilbab. Semua wanita muslim yang tidak memakai jilbab seakan dijauhi dan diperbincangkan seperti layaknya barang kotor, tidak suci. Mas Irwan berkata kalau sudah jilbaban nanti tidak boleh lagi dengerin kaset jazz. Wheww….that’s too sceptical.. Tapi saya bangga bahwa bagaimanapun penolakan dari lingkungan sekitar dan opini-opini negatif dan ‘ajaib’ tentang jilbab pada masa itu; saya tetap mampu memakainya, menjaga komitmen hingga sekarang, dan insya Allah sampai ajal.

Suatu malam di tahun 2002. Eyang Mamiek berpulang ke rahmatullah karena sakit kronis di Surabaya. Sekitar jam 02.00 saya bermimpi beliau datang, berdiri di pintu kamar dan memanggil saya (kalau orang-orang lain yang mimpi kaya gini sudah pasti horor banget nih langsung gemetaran LOL). Beliau berpesan supaya terus menjaga sholat dan mengaji, itu saja. Sayapun mengiyakan.

Setelah itu kemampuan spiritual saya mati suri…sampai sekarang. Ditelan berbagai kehidupan kampus yang luar biasa stressful, diselingi masalah-malasalh pribadi dan pencarian jati diri yang rumit. Selama itu pendalaman ilmu agama saya hanya melalui buku, banyak buku. Dan kebetulan saya seperti diarahkan pada penelusuran agama secara filsafat, berusaha menagkap esensi keindahannya. Jarang terbeli lagi buku-buku fiqh karya imam-imam besar, berganti dengan buku zen living, holistic life, meditasi hening. Tema-tema itu menurut saya jauh dari sesat, malah membawa dampak positif dan pemahaman menyeluruh bagi pemeluk agama apa saja. Tak dipungkiri seringkali cara penyampaian ajaran agama kita sedari kecil cenderung bersifat reward and punishment sehingga sosok Tuhan diperkenalkan sebagai Sang Penghukum. Kalau nakal, nanti Tuhan marah. Kalau melawan orangtua, nanti Tuhan marah. Kalau tidak sholat, akan masuk neraka. Otomatis agama menjadi kerangkeng, di mana kita terkungkung di dalamnya. Melalui buku-buku ilmu spiritual modern, saya jadi menangkap banyak keindahan dan sisi pencerahan dari Islam dan Allah SWT. Merubah pandangan saya terhadap surga dan neraka. Saya menjadi tidak begitu takut lagi terhadap neraka yang ‘bahan bakarnya batu dan manusia’; karena saya sekarang penuh kasih, bebas dari rasa benci. Pribadi yang bersih dari rasa benci insya Allah susah untuk dijangkau oleh godaan syetan, pencerahan akan menjauhkan kita dari berbuat segala maksiat. Sehingga momok gambaran neraka tak perlu repot-repot lagi saya pikirkan.

Saya senang sekali menemukan banyak buku spiritual yang sinergis dengan agama saya, memiliki kesesuaian dengan semua ayat-ayat yang tercantum dalam Al Quran. Eckhart Tolle, Dalai Lama, Gede Prama, Erbe Sentanu, Paulo Coelho, dan Reza Gunawan adalah orang-orang yang memenuhi rak buku atau mengisi blogroll saya. Pandangan mereka mengunci pada kesederhanaan, hidup di masa kini, tanpa ada beban, menyatu dengan Kekuatan Maha Dahsyat. Sekian lama saya hidup dalam ketenangan dan kelimpahan, sebagai muslim yang hidup sadar berdampingan dengan alam kosmik. Sampai suatu hari…

‘Koran is not a scientific book. It is dangerous to justify a scientific evidence by the Koran, as science is falsifiable’

‘Kristen dan Islam juga melakukan hal sama, memperbaharui diri, agar tak terlalu beda dari lingkungan yg terus berubah’

‘Agama yg tak mau memperbaharui dirinya lama-kelamaan akan punah, ditinggalkan manusia yg terus berubah’

‘Agama juga berevolusi. Yg tak pandai beradaptasi bakal punah. Ada ratusan agama pernah muncul di dunia ini, sebagian besar punah, krn tak mampu beradaptasi dg perkembangan dunia’

dalam hati saya berkata…sebentar, berbaik sangkalah dahulu…jangan buru-buru menghakiminya, lihat secara menyeluruh mungkin saja maksud dia beda…

Tapi lama-lama…dia dan beberapa orang yang berbeda

‘Cewek berjilbab di dalam bar itu keren, gak perlu diusir. Berjilbab adlh hak asasi, minum wine di bar juga hak asasi. Tak perlu dilarang’

‘menggambar nabi muhammad boleh saja. dalam sejarah islam, figur Nabi sering digambar’

‘Bagaimana dg tatoo, apa menghalangi air wudu? Menurut saya tidak, sbb cat tatoo masuk menjadi satu dg kulit’

‘Jadi, kesimpulannya: kutex tidak membuat wudu kita tak sah. Yg pakai kutex, silahkan berwudu, tak harus mengelupasnya dulu’

‘Dalam pandangan saya, wudu tetap sah walau di jari2 kita ada kutex. Sbb, kutex hanya menutup sebagian kecil dr tangan’

Kutipan-kutipan di atas berasal dari account twitter dua orang yang saya tidak mau sebut namanya. Mereka merangkul para followernya dengan mengusung kebebasan beragama dan pembaruan. Mereka juga berteman dan menggandeng para tokoh spiriual modern yang saya sebutkan di atas. Mau tahu bagaimana reaksi saya: sakit hati, kecewa, sedih… Siapa orang-orang ini? Berbalut bahasa yang cerdas, pemilihan kata tingkat tinggi, bergelar pendidikan tinggi hingga sepertinya kita semua ini idiot tidak ada apa-apanya. Berbungkus jubah pengetahuan luas, istilah-istilah rumit. Saya akui mereka semua para pemikir yang pintar. Namun kok tega ya mengatas namakan “persatuan universal” lalu menyerang ajaran agamanya sendiri. Menjelekkan para ulama dan saudaranya sendiri. Mempersalahkan syariat karena sudah tidak sesuai lagi dengan dunia ini. Lalu apa agamamu? Islam seperti apa maumu? Twitter ternyata telah membuka mata saya lebar-lebar. Memang harus dimaklumi ada banyak kalangan dan ribuan opini bercampur baur di dunia twitter sana, memang kita harus menghormatinya. Mereka boleh menyuarakan bentuk spiritualitas apa saja, pendapat apa saja, masukan apa saja. Tapi, bisa nggak kalau tidak mengusik kehidupan pribadi kami? Kerena sesungguhnya dalam hal ini, agama Islam yang saya anut merupakan hal pribadi dan termasuk kehidupan pribadi juga.

Bagai ditampar berulang-ulang, saya meredefinisi dan refleksi ke dalam.

‘Islam seperti apa saya?’

‘Islam seperti apa mereka?’

‘Termasuk golongan orang-orang yang benarkah saya? atau mereka?’

Dan dalam hati ada dorongan yang sangat kuat dan meyakinkan bahwa ‘mereka tidak benar, jangan ikuti, lawan…karena nasib banyak umat yang dipertaruhkan,  akan banyak orang terpengaruhi, imbangi dengan sedikit suara kebenaran sebisa mungkin meskipun kecil’

If you don’t like the essence inside the Holy Quran, then why don’t you just leave it?

If you criticize us as the bad behaved muslims, then why are you still be a part of us?

Too afraid to proclaim the new religion?

Why don’t you just announce yourself as a founder of “Islam-revised edition”?

and then never bother us again?

Baru tahu saya, baru sadar saya, bahwa ilmu spiritual modern yang tadinya sinergis dengan agama Islam ternyata telah banyak dibonceng oleh pihak-pihak tertentu yang membawa kepentingannya sendiri, entah untuk apa. Demi maksud politik mungkin? Menciptakan lingkungan dan tata negara yang lebih kondusif bagi mereka mungkin? Tidak tahu. Yang saya tahu adalah: benar bahwa umat Islam di akhir jaman akan terpecah belah menjadi 73 golongan, dan masing-masing akan mengklaim dirinya sebagai pihak yang paling benar. Hadist sahih telah mengatakan demikian. Mungkin orang-orang cendekia yang sangat pintar dan kritis itu adalah salah satu golongan yang termasuk di dalamnya. Biarlah kami mengaku sebagai umat yang bodoh saja, memang kami bodoh…karena itulah kami butuh petunjuk dari Al Quran dan hadist, di mana tidak ada keraguan di dalamnya. Yang merasa sudah pintar mah gak usah amalin ajaran Quran mentah-mentah lagi, tapi dicerna dan ditelaah lalu dijabarkan dengan versinya sendiri saja. Betul?

Pada akhirnya, saya masih terus melakukan perjalanan spiritual. Saya masih awam, saya masih dini sekali untuk menjadi muslimah yang baik, mukmin sejati. Tapi saya akan terus berusaha. Dan setiap mulai belajar saya akan selalu membaca bismillah dan memohon perlindungan Allah dari godaan syetan. Dengan begitu semoga jalan pikiran saya akan diarahkan ke jalan yang lurus, tidak salah kaprah. I choose to simplify everything. Memahami agama saya dari kacamata kesederhanaan. Menyederhanakan istilah-istilah new age untuk spiritualitas. Contohnya:

Earthing sama saja dengan tafakur alam

spiritual retreat adalah rihlah

meditasi ya tidak beda dengan sholat lima waktu, terhubung dengan Dzat Yang Maha Agung

bagaimanapun cara ilmu spiritual modern menyebutnya, semuanya sudah termaktub dalam segala tata ibadah Islam…gitu aja kok repot?

Allah memang ada di mana-mana, segala yang kita tangkap oleh pandangan mata adalah ayat-ayat kauliyah dan kauniyah…bentuk otentik dari kebesaran Nya

Ilmu spiritual modern ibarat blender untuk seorang bayi yang mulai makan MP ASI. Dia melembutkan segala nutrisi makanan sehingga lebih mudah dicerna dan dinikmati. Segala makro dan mikro nutrien pada sayuran tentunya tidak bisa begitu saja dilahap dalam bentuk wortel atau brokoli utuh. Sebuah blender akan sangat membantu memberikan presentasi dan konsistensi yang diinginkan. Begitupun  hubungan antara spiritual modern dengan Islam, kita semua adalah bayi yang butuh nutrisi agama, ingin memahami agama yang tampak begitu sulit. Ilmu spiritual modern akan sedikit membantu mencernanya. Tapi apa jadinya bila blender tanpa makanan? atau menggantinya dengan bahan pangan yang rusak dan tidak segar lagi? Sudah pasti memblendernya hanya akan menambah mudahnya racun untuk tersebar ke dalam tubuh. Ilmu spiritual modern hanya sebatas blender, dia tidak bisa menggantikan bahan makanan itu sendiri, atau mengambil alih fungsi ajaran pokok Islam yang sudah baik,yang oleh Allah SWT diturunkan ke bumi sebagai rahmatan lil alamin. Please teman-temanku…jangan perlakukan ilmu spiritual modern lebih jauh dari blender. Akibatnya mungkin kita akan seperti orang-orang pintar golongan ‘sana’. Menjadi budak kecerdasannya sendiri, semoga Allah melindungi…

Wahai saudaraku baik yang sejalan maupun yang tidak… Kita berjalan di atas bumi demi mencari kebenaran, kita selalu menjadi seeker. Menjalankan misi masing-masing, baik itu lewat profesi, harta, kepemimpinan, atau melalui keturunan kita. Jangan ganggu jalanku, niscaya aku takkan mengganggu jalanmu. Soal siapakah kebenaran yang sejati dan hakiki…itu sesuatu yang hanya bisa dilihat dan dinilai oleh Nya saja.

Allah SWT membiarkan JIL  dan orang-orangnya ada karena suatu alasan, mungkin untuk mencerahkan sebagian kami umat muslim, supaya kami mau berpikir…tidak asal percaya.

Kebencian tidak akan bermanfaat. What you resist persists… Keberadaan sosok LA, UAA, GR, ND, dan lain-lain tak perlu mengacaukan hidupku. Semakin saya menolak mereka, semakin berkobarlah  semangat mereka untuk terus mengubek-ngubek Ayat-ayat suci Al Quran. Cermati dan amati saja, biarkan mereka dengan tarian dan lantunan fatwa-fatwa kecerdasannya terus eksis di jagat raya ini. Sesatmu justru menguatkan imanku, mengkokohkan keyakinanku. Semakin kau olok-olok kami, semakin teguh kami dalam menjalankan syariat dan perintahNya dengan benar.

Pada akhirnya, tidak ada lagi rasa benci. Aku bersyukur karena JIL ada. Karena ada JIL, kita memperoleh kehormatan menjadi saksi hidup atas adanya kebathilan di bumi…berbungkus sastra indah penuh dengan kosakata Arab.

Wallaahu Alam Bi Shawab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s