KETIKA PASAR TRADISIONAL DAN SOL SEPATU BERBICARA

Sendal gunung Ayah Zun merk B**a mangap sebelah, saya diminta untuk mereparasinya di tukang sol sepatu. Ayah sepanjang hari training, cuma saya, Baim dan mbaknya yang bisa bebas beredar mengelilingi Pekanbaru selama seminggu itu. Alhamdulillah ketemu satu kios kecil tukang sol sepatu yang mangkal di pojokan Pasar Rumbai. Semua kena ongkos 15 ribu, hmm tidak mahal untuk ukuran luar Jawa, pasaran di Jakarta adalah 10 ribu (hebat yah saya sampai tahu pasaran harga sol sepatu lol). Perbaikannya perlu di lem dan dijahit, bisa ditunggu setengah jam. Setengah jam itu saya habiskan untuk mengajak Baim dan mbak Riski mengitari pasar, beli piyama Spongebob, mobil mainan, ikat rambut seribuan, baju rumah untuk yu Dar dan mbak Riski, rok batik dan kaos kaki panjang untuk saya. Lho kok jadi keluar banyak? hehe tidak apa-apa, hitung-hitung reuni masa lalu saat saya dan mama dulu memang suka banget ke pasar-pasar yang ada di Jakarta seperti Senen, Mester, Tebet Barat, Mayestik, Cikini, Ps. Rumput, PSPT, sebutlah semuanya, semua pernah saya sambangi berdua mama. Dan bentuk bangunan Pasar Rumbai ini bikin saya deja vu. Berkat mama yang rajin membawa saya sejak kecil ke pasar semi tradisional, saya jadi teredukasi sejak dini untuk pintar memilih barang murah dan hemat. Gak apa-apa deh pengap sedikit dan keringatan, sebanding dengan harga perkakas dapur dan baju-baju yang murah dan lucu-lucu. Meskipun sesudahnya saya sering jadi pusing kecapean karena kumat darah rendahnya hihi. Love you mama.

 

sumber: aboy_wew from skyscrapercity.com

 

Setengah jam berlalu, Baim saya suruh menunggu di mobil dulu biar dingin dan bisa menonton dvd. Saya kembali menemui bapak tukang sol. Ternyata dia masih menjahit, oh…ternyata yang dijahit bukan bagian yang rusak saja, melainkan dua-duanya. Jadi kerja beliau tidak hanya mengurusi gejala yang dikeluhkan, tapi juga memperhatikan kondisi perekat velcro-nya, menguatkan jahitannya. Ya sudahlah saya ikut duduk sebentar menemaninya bekerja. Di atas konblok semen saya duduk mengamati lalu lalang angkot, mobil, motor, dan mengamatinya menjahit. Diam, karena saya tak pandai basa-basi, tak pandai logat melayu juga. Diam…lama-lama kehausan. Pergi sebentar beli minuman dingin, duduk lagi, habis dalam tiga seruputan panjang, lalu diam lagi. Di tengah keramaian ini, panas teriknya siang bolong ini, i feel the ultimate stillness of time…

“Pak, itu di depan tumpukan sepatu yang belum diambil ya?

“iya dek, siap (selesai, red) kerja nanti sorelah pada baru datang orang-orang itu, mereka bawanya tadi pagi”

Melihat jejeran sepatu, tas ransel, dan sendal yang siap jadi ‘pasien selanjutnya’. Sepatu-sepatu itu menurut saya sih…sudah tidak layak, atau kasarnya butut, jelek, dekil, perlu diganti. Sepatu kets putih yang sekarang abu-abu, sepatu hak tinggi yang bahan kulitnya sudah berkerut-kerut. Tapi masih bisa diperbaiki, dengan 15 ribu saja mungkin masih bisa dipakai setahun lagi. Malu nut…kalo elo baru rusak dikit aja maunya langsung ganti baru…

Sepatu-sepatu itu terlihat lelah, menggambarkan pemiliknya yang juga lelah bekerja keras. Woow, it’s enlightening…

Betapa menariknya apresiasi orang-orang terhadap sepatu mereka. Beruntungnya sepatu-sepatu ini karena tetap disayang dan dirawat oleh pemiliknya, tidak mudah dicampakkan. Betapa berpahalanya si Bapak sol sepatu ini. I pray for you pak biar setelah baca tulisan ini orang-orang makin banyak yang mau ramai-ramai mereparasi sepatu mangapnya dan memakainya kembali. Kalau perlu satu hari bisa dapat orderan 30 pasang! Biar ada penghidupan yang lebih baik buat para tukang sol sepatu.

 

photo by ANDI KUSNADI, member of KF semarang. Nuwun sewu ya mas fotonya dipajang di sini

 

NB: Tulisan ini hanya sebuah renungan dan refleksi diri. Tidak ada maksud untuk mengeksploitasi kehidupan suatu lapisan masyarakat maupun profesi tertentu. Wallahu Alam Bi Shawab

One thought on “KETIKA PASAR TRADISIONAL DAN SOL SEPATU BERBICARA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s