Orang-orang yang Tulus Hidup

Tak ada gambaran visual indah dalam postingan ini, tak ada copas gambar dari internet, tak ada jepretan dengan resolusi tajam dari lensa kamera Nikon suami saya, hanya cerita. Mengisi waktu insomnia yang tidak bisa dilawan. Pasti Tuhan ada maksud khusus dibalik mata melekku ini. Allah ingin aku berbagi cerita.

Adalah seorang Bucek, berperawakan tinggi kurus. Kulitnya hitam, giginya rusak tak karuan, saya rasa usianya 40 something. Dia bekerja untuk mengurus taman kami. Saat pertama bertemu, komunikasi saya dan dia bagai dua spesies berbeda, gak nyambung. Saya bertanya dengan bahasa Indonesia, dia menjawab dengan bahasa Minang asli. Dengan campuran bahasa tubuh dan penekanan-penekanan ulang; kami deal untuk mempekerjakan dia sebulan empat kali (tiap minggu di hari senin) dengan gaji Rp. 150.000 rupiah. Di hari senin dia seharian ada di taman dari jam 06.00 teng sampai menjelang Maghrib. Di hari-hari lain, saya bisa melihatnya bekerja di sekitaran rumah, 4 rumah lainnya mungkin. Tiap mobil saya lewat, eh ada Bucek di sini, eh ada Bucek di sana hari ini. Rajin, dedikasinya tinggi.

Bucek berangkat dari rumahnya JALAN KAKI total selama 1 jam. Kenapa gak pakai sepeda Cek? Entah tidak punya, atau tidak bisa naik sepeda, antara dua itulah yang bisa saya raba dari kata-katanya. Sebelum suami berangkat ke kantor, dia sudah ada; baik cuaca cerah maupun hujan rintik dia selalu datang. Saat suami pulang dari kantor, dia belum pulang. Kadang saya berpikir, 10 jam itu ngapain aja sih ada di taman? Saya sendiri bakal mati gaya pastinya, tidak betah, jenuh dan akan bengong. Tapi Bucek tidak, saat saya mengintip keluar dia tidak pernah kedapatan sedang leyeh-leyeh. Dia selalu kerja, memangkas tanaman hias bagai seorang stylist salon ternama. Taman ini adalah kanvasnya. Taman ini adalah hidupnya. Dia senang berkebun, dia menikmati pekerjaannya. Saya rasa semua tanaman ikut merasakan energinya, mereka tumbuh subur cantik berseri. Uang 150 ribu itu kalau saya lagi kalap bisa langsung habis di commisary atau supermarket membeli cemilan ini itu. Tapi buat Bucek, 150 ribu adalah nafas, degup jantung, kelangsungan hidup. Saya malu sama Bucek dan kesungguhannya menikmati kerja tanpa keluhan dan keterpaksaan. Inilah satu orang yang tulus hidup, mudah dijumpai, dekat dengan kita, diutus Allah supaya kita ngaca.

Sebut saja dia Mak Wo, saya tidak tahu nama lengkapnya. Saya menyebutnya wanita pemberi kenikmatan seribu umat. Dia tukang pijat ternama di kalangan penghuni camp. Pijatannya….biarkan saya mengingatnya lagi sambil merem, enak. Semua ibu-ibu yang kelelahan menaruh pengharapan besar padanya. Sosoknya tambun tapi lincah, satu hari mampu melayani hingga 8 orang. Ketika semua energi saya hampir jatuh di titik nadir, telpon saja HPnya, dia akan datang merecharge tenaga ini, membangunkannya dari koma. Baim, ayah, tetangga sebelah kiri, tetangga sebelah kanan, semua memakai jasanya. Saya berani bertaruh, dialah satu-satunya yang sudah melihat hampir seluruh penghuni camp ini dalam keadaan setengah telanjang. Lalu berapa Mak Wo memasang tarifnya? dia tidak pernah sebut angka, angka misteri itu harus kami cari sendiri dari pelanggan-pelanggan sebelumnya, dan angka keramat itupun saya dapatkan : 50 ribu saja.

Mak Wo juga menerima panggilan Spa dari rumah ke rumah. Sudah saya coba dan mantap rasanya. Inilah SOP dari perawatan paripurna ala Mak Wo : creambath, pijat, terapi getar, lulur, menggosok-gosok daki, steam badan, steam daerah kewanitaan dengan ratus, masker badan, facial, totok wajah pakai alat massage MLM KK, pencet komedo yang paling saya benci, dan terakhir masker wajah. Selesai terapi saya lapar setengah mati, dan terbirit-birit mandi mengejar sholat Dzuhur yang hampir habis waktunya. Tiga jam kawan…tiga jam semuanya. Tiga jam itu dia sabar, detail, perfeksionis, tak melewatkan satupun kotoran di badan ini. Mulutnya bergurau, bercerita, tapi tak pernah bergosip atau menyebar aib pelanggan lain. Strategi bisnisnya dikupas mantap, semua bahan yang dia pakai alami didatangkan langsung dari Bali (kecuali creambath dari kita sendiri), saya lihat sendiri lulur dan maskernya, saya cium sendiri, saya pegang sendiri. Yakin sangat itu semua buah dan susu yang dia sebut, enak..wangi…

Lalu berapa harga semua perawatan diatas? Rp. 175.000 saja. Apa nggak rugi? Jelas tidak katanya, kalau toh nantinya si pelanggan akan memanggil dan memanggilnya lagi. Rp 175.000 itu dia sisihkan sebagian untuk belanja bahan lagi. Dari 40-an pelanggan tetap lulurnya setiap bulan, dan ratusan pasien pijatnya, dia bisa makan kenyang tiap hari, belanja bulanan yang layak, dan anak-anak semua sekolah dengan tenang. Luar biasa, semoga Allah selalu melimpahinya kesehatan dan umur panjang. Pernah dia tidak dibayar-bayar sama pelanggan, dia diam saja tidak menagih, kasihan katanya. Hati ini diam-diam kagum, banyak pelajaran hidup yang bisa diambil, bekerja dan menjalani semua dengan tulus. Inilah orang tulus yang kedua. Bisnis itu pelan-pelan, modal besar dulu di awal, upahnya kita nikmati belakangan. Selesai memijat dia minta tolong ditelponkan suaminya, Papah Aa’ panggilnya ‘dah siap nih, jemput yoo, nomor tiga ratui’. Tak lama suara motorpun datang, mereka pulang berpelukan. Hwaaa mau nangis lihat mesranya.

Wajah Bucek dan Mak Wo biarlah menjadi privasi mereka. Cerita ini nyata tidak dikarang-karang. Mereka guru yang bermakna. Bahwa apapun kehidupan yang kita jalani saat ini, kerja lembur, kerjaan monoton, perjalanan macet, jenuh dengan rutinitas, gaji gak naik-naik, ibu-ibu dirumah saja, gak dapat kerja, ngurus anak, atau masih stucked di kuliahan; percayalah  saat ini kita semua ada di kondisi berkelimpahan. Sesungguhnya setiap hari adalah kanvas putih yang siap menerima hasil karya kita.

Maka sesungguhnya nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan? Qur’an Surat Ar Rahman ayat 13

4 thoughts on “Orang-orang yang Tulus Hidup

  1. mama Nina kalo mau naik gaji di Durikan dulu katanyah…mantap gan nanti slipnya

    Insomnia krn BB gak ada…pengantar tidur kan liat timeline twitter kaya liat domba lompat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s