Panggilan Tak Kesampaian : Menjadi Doula

Manusia melakukan banyak hal untuk mencari penghidupan. Ada yang kerja kantoran, menumpuk uang sebanyak-banyaknya demi kesejahteraan keluarga dan rasa aman di masa depan. Ada pula yang mengejar passion, saldo tabungan pas-pasan tapi sudah pernah keliling dunia ber-back packing, mengantongi pengalaman tak ternilai harganya, plus bonus kepuasan batin.  Saya sendiri sebagai ibu rumah tangga, punya banyak panggilan batin yang ingin saya wujudkan, tapi belum kesampaian. Salah satu diantaranya adalah menjadi doula.

Berawal dari kehamilan dan persalinan pertama yang sukses dengan normal meski pakai induksi, saya jadi semangat sekali menyebar luaskan hypnobirthing ke semua wanita. Karena gentle birth pada hakikatnya adalah hak asasi setiap ibu dan bayi yang dikandungnya. Gentle birth adalah hak semua pasien bersalin. Pengalaman melahirkan saya yang dominan terasa pegal dan sakit di area belakang (back labour), ditambah lagi suami sangat cemas dan takut sehingga hanya mampu menggenggam tangan saya saja sambil panik sendiri, membuat saya mengkhayal hingga kini : ‘andai saja saya dulu punya doula…’ 

Lalu apa sih doula itu? hmm jawaban ini mungkin versi saya sendiri ya, maaf kalau ternyata berbeda dengan yang tertulis di wikipedia.

Doula adalah pendamping persalinan, bisa itu suami, ibu, kakak, maupun orang lain tanpa hubungan keluarga yang mendampingi ibu selama bersalin. Karena keluarga biasanya malah panik sendiri dan kadang malah membawa pengaruh negatif buat sang ibu, maka kebanyakan doula adalah orang lain yang di hire khusus, orang yang sudah terlatih dan paham betul akan makna bersalin dengan nyaman. Doula melewati setiap fase persalinan dengan memberi kenyamanan sepenuhnya kepada sang ibu. Bisa dengan memijat, membisikkan kata-kata affirmasi, menyalakan lilin aromatherapy, menjaga suhu air tetap hangat (bila menggunakan bak waterbirth) dsb. So doula adalah pesuruh? Noooo….tugas doula sangat berat dan dimulai jauh sebelum itu. Semenjak usia kandungan masih dini, doula mengemban tugas terberat bersama sang ibu : mencari petugas persalinan dan tempat bersalin yang ‘ramah pasien’ dan kooperatif. Hmm no wonder tugas ini sangat berat karena di Indonesia tipe-tipe begini susaaah sekali dicari. Begitu sudah bertemu calon dokter SpOG yang memadai, tugas doula adalah beralih menjadi penyambung lidah antara dokter yang kerjanya prosedural vs pasien yang berfilosofi hypnobirthing dan punya birth plan masing-masing. Tugas doula adalah memastikan semua sama-sama puas, tidak ada adu mulut seperti saya dengan dr. Fidruzal dulu karena saya terlalu cerewet nanya-nanya hehe.

Di Amrik sana, doula sudah bertebaran di mana-mana, akses mencari doula sangat gampang, profesi mereka dihormati dan berlisensi. Semua orang bisa menjadi doula setelah mengikuti training bersertifikat. Kalau dokter SpOG punya nyali dan skill, perawat punya suara toak nyemangatin pasien dan teriak ‘dorong! dorong!’; well…doula lebih dituntut untuk punya hati dan kelembutan. Saya berani bertaruh, di dalam ruang bersalin sana…akan jauh lebih baik bila ada doula, believe me.

Doula membersihkan ibu hamil dari trauma masa lalu.

Doula meyakinkan ibu bahwa semua akan baik-baik saja.

Doula menjauhkan ibu hamil dari orang-orang negatif dan cerita-cerita seram kelahiran.

Doula menahan emosi ibu bila bertemu perawat galak.

Dan ada lagi doula post partum, meringankan segala beban ibu baru yang kelelahan dengan bantuan fisik dan support setiap hari. Mempercepat penyembuhan luka dan tenaga.

Sayangnya, di Indonesia sini susah sekali mencari doula. Menjadi doula pun malah justru beresiko ditangkap karena profesi tsb belum dilegalkan oleh IBI maupun IDI. Jadi saya cuma bisa menelan ludah dulu. Kalaupun ada yang minta sharing soal hypnobirthing, saya belum mau berbicara banyak karena takut disangka menggurui. Jadi mungkin tulisan di blog adalah pilihan yang tepat untuk berbagi. Berujung pada suatu kesimpulan. Kalau buat saya uang bukan lagi segalanya, maka profesi yang saya pilih adalah menjadi doula, meski belum kesampaian.

4 thoughts on “Panggilan Tak Kesampaian : Menjadi Doula

  1. mba tau banyak tentang doula ngga ? terutama tentang perkembangan doula di indonesia?
    dimana saya bisa mendapatkan informasi2 tersebut?
    terimakasih

    • Sudah banyak kok say doula di Indonesia. Teman satu angkatan saya adalah Fani Faniasuri, Lanny kuswandi, Yasminida Muridan, dan Marie Hutapea. Bisa kontak mereka semua di Facebook.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s