JEJAS SI GUNDUL

Hai there….posting ini khusus untuk ibu-ibu sepertinya. Buat bapak-bapak juga boleh, monggo saja kalau tidak risih dan malu, karena kisah ini seputar puting payudara dan penyakit mastitis (radang kelenjar penghasil ASI) yang baru saja saya alami.

Semanjak Baim tumbuh gigi, menyusunya jadi tidak biasa lagi. Ada sesuatu yang baru di mulutnya, dan saat menghisap, gusi yang dulu bebas bersentuhan dengan areola kini terhalang benda kecil yang keras itu.
‘Apa ya ini yang bikin mentok saat aku menghisap?’
‘Bagaimana ya benda ini dipakai? Aku coba aah…’
Dan ‘AAAAUWWW, sakit IIIMM!!!’
Lalu dia menangis kaget…aku salah apa bun…? tau-tau dimarahi. Maaf sayang…bunbun teriak karena gigitanmu itu mengenai nosiseptor penerima rangsang nyeri yang ada di kulitku, tanpa melalui otak langsung berubah menjadi reflek teriak dan menarik…
Kejadian menggigit pun berulang…lama kelamaan reflek sakit itu bisa ditahan oleh bunbun, jadi cuma meringis kesakitan dan menegang. Tidak bisa pakai trik pencet hidung, karena Baim bisa menahan nafasnya sampai dia puas menggigit. Paling banter pakai trik gelitik leher, dia bisa tuh digelitik lalu ketawa-ketawa dan membuka lebar mulutnya. Tapi lama-lama jadi kebal tidak geli lagi.

Luka-sembuh-gigit lagi-luka-sembuh-gigit lagi, siklus terus berulang.

Selalu yang jadi korban adalah PD kanan, mungkin karena ukuran putingnya lebih besar dan menonjol dibanding yang kiri, sehingga lebih ‘mengundang’ untuk digigit. PD kiriku memiliki nipple yang agak kecil ‘mendelep’, Baim kurang excited kalau menyusu disini, tapi tetap selalu kuberikan seimbang kiri-kanan.
Sampai suatu hari ada banyak darah…merembes deras keluar dari nipple kananku, diantara bekas jejas gigitan lima gigi yang jelas tercetak di areolaku…baim jadi ogah menyusu. Ya Allah kenapa ini? Titik terendahku dan pandangan skeptisku pada proses menyusui segera akan dimulai.

Dua hari kemudian, libur tanggal merah dan waktunya belanja bulanan. Aduuh, itu yang namanya swalayan Mandiri Duri sumpeknya bukan main, tumplek blek penuh orang yang belanja. Tapi tetap kami bela-belain belanja disitu, sekalian persiapan buat acara syukuran rumah minggu depannya, sekalian syukuran Ultahnya Baim. Maklum harga di sini jauh lebih hemat dari yang lain, dan kami sebagai pasangan muda memegang kuat prinsip menghargai setiap sen yang kami punya dan mengejar setiap sen yang bisa kami hemat. Untung Baim ditinggal di rumah sama Yu Dar, kalau ikut pasti bakal rewel. Belanja pun berlanjut ke toko kelontong Marigold untuk beli teh kotak dan susu kotak kemasan dus dengan harga grosiran. Kemudian lanjut ke warung jajanan Kampung untuk memesan kue-kue basah. Panas, sumpek, antri, lapar, luka di nipple. Malamnya aku mulai pusing dan pegal-pegal sana sini.

Paginya aku merasa tidak enak badan.
Sorenya aku tumbang, minta bantuan Yu Dar untuk mandiin Baim dan jagain dia. Aku KO, pusing, nyeri sendi, kedinginan, dan demam. Ya Allah, aku sakit, bagaimana mungkin aku sakit saat Baim begitu hiperaktifnya berjalan, main, dan manja. Duh aku jauh-jauh dulu deh, ngumpet di kamar, cuma bisa tiduran dan mijetin bagian tubuh yang nyeri pakai mesin pijat Sumo.
Ya Allah…jangan sakit dong…hari Senin mau ada acara nih…gimana… Rasanya bingung, sakit, pusing, sambil dari kejauhan terdengar Baim teriak merengek-rengek nyari Bunbunnya. Si ayah berusaha menghibur dengan mengajak bermain. Akirnya aku tahan-tahanin untuk bangkit setiap 2 jam nyusuin Baim lewat PD yang kiri, sampai akhirnya dia tertidur jam 21.30. Aduuh badanku sakiiiit semua, minum air putih sebanyak yang aku bisa, dan pipis lusinan kali. Tengah malam kuukur suhuku 38,5 derajat celcius. Kuminum paracetamol, dan bilang sama ayah kalau besok masih demam tolong diantar ke emergency. Malam itu rasanya sangat panjang, menggigil dan nyeri..dan masih menyusui kalau baim terbangun sambil merengek.

Tolong ya Allah supaya ini benar mastitis, bukan yang lain…
Tolong ya Allah sembuhkan aku, aku ga bisa sakit…aku adalah tiang keluarga ini…
That night I cursed the proccess of breastfeeding, it hurts, it’s not fun again, it’s hard.

Paginya masih lemas, Baim ga peduli bunbunnya sakit, tetaaap ajlut-ajlutan ngajakin main kesana sini. Oh dear aku gak punya tenagaa, ga bisa bacain kamu buku seperti biasanya, dengan suara lebay khas guru TK, ga bisa nyanyi dan joget bersama. Aku knocked down Baim…
Sudahlah…kalau dia memang sudah saatnya disapih, mungkin ini yang terbaik. Menyusui itu seharusnya proses intim yang indah, anak dan ibu saling bertatapan mesra dan ada banjir hormonal diantara keduanya yang saling memberikan kenikmatan. Anak kenyang, ibu mengantuk nyaman. Kalau sekarang? Setiap menyusui badanku jadi menegang siap-siap digigit, keningku berkerut, dan gigi kurapatkan. Apakah itu proses yang sehat? Sudah bukan saatnya lagi sepertinya, Baim sudah besar, sudah saatnya disapih. Godaan semakin kuat, aku tak perlu lagi hunting baju bukaan kancing depan. Mungkin PD ku akan mengecil seperti dulu sebelum menikah. Aku bisa kembali bekerja dan meninggalkan Baim tanpa khawatir. Mungkin aku akan kembali langsing dengan lebih mudah bila berhenti menyusui. Bisa diet dengan metode radikal tanpa perlu merasa bersalah. Dan banyak godaan-godaan lainnya.

Jam 9 tubuhku semakin menggigil dan berangkat ke emergency diantar ayah, Baim sama Yu Dar di rumah. Di RS suhuku naik jadi 39, mantrinya geleng-geleng kepala, kok panas setinggi ini masih kuat jalan-jalan. Dokter jaga yang bertugas kebetulan temannya ayah dari klub NLC, dan dia setuju kalau ini mastitis, harus dikasih antibiotik dan memerah ASI sampai luka sembuh. Begitu pulang aku langsung minum obat dan istirahat, tak lama kemudian Mak Uwo tukang urut datang…seluruh badanku diurut, dan katanya aku terlalu capek sampai semua inci dari tubuhku kaku. Aku kurang istirahat katanya. Dan aku baru ingat juga kalau belakangan ini aku diet, ga makan pagi dan malam demi bergeraknya jarum timbangan ke arah kiri meski cuma sedikit. Setelah diurut aku disuruh kembali istirahat, sore itu sempat ada satu serangan demam lagi sampai menggigil, setelah itu perlahan-lahan badanku membaik. Keesokannya aku sudah bisa kembali seperti biasa mandiin baim, nyuapin, dan bertugas sebagai ibu dan istri seperti biasa, Alhamdulillah…

Dan setelah 3 hari, luka mneganga di nipple kananku sudah menutup dan bisa dipakai menyusui lagi, masih sedikit sakit tapi tidak masalah.

Ada dua merk sufor yang terbengkalai, sempat kubeli saat sedang desperate merasa tidak akan bisa dan tidak akan mau kembali menyusui. Namun semuanya ditolak mentah-mentah sama Baim, dia tidak mau menyentuhnya sama sekali. Terbukti air susu ciptaan Allah tak tertandingi oleh air susu keluaran pabrik manapun. Ada yang pakai dancow 1+ dan pediasure vanilla? Datanglah ke rumahku dan kuberikan GRATIS daripada dibuang.

Ayah dengan begitu perhatiannya mengundur semua acara yang undangannya sudah disebar via e mail ke teman-teman kantor. Maaf ya Ayah.. Orderan makanan semua dicancel

Diet aku tangguhkan dulu, semoga orang lain di luar sana bisa menerimaku yang seperti ini untuk sementara waktu. Dan tidak ada komentar-komentar nyelekit tentang bentuk tubuhku sekarang, tolong ya…you don’t have any idea what I’m going through everyday with one toddler, how hard it is, and just can’t simply judge me as overeating.

Penjalaran penyakit mastitis yang umum adalah luka/tekanan/trauma – berhenti menyusui – ASI menumpuk dan tidak diperah – nyeri kelenjar – infeksi – abses -demam.

Sedangkan mastitis non abses yang kualami ini penjalaran penyakitnya adalah luka/tekanan/trauma gigitan – masuknya bakteri dari mulut bayi atau bra -kondisi tubuh yang buruk – infeksi – demam. Aku sakit demam tapi tidak ada bengkak bernanah di payudara.

Kini aku sudah sembuh, jejas gigi si gundul terkadang masih ada di payudaraku, persis seperti jejasnya pada sebuah apel. Namun aku tetap akan menyusui sampai Baim 2 tahun.

So..ibu-ibu, rawatlah PD anda semampunya. Jaga kebersihan dan keluarkan ASI secara berkala. Jangan sampai mastitis seperti saya. Saya berdoa semoga anak anda tidak menggigit separah Baim. Namun bila iya, saya cuma bisa mendoakan agar anda diberi kekuatan dan kesabaran untuk melaluinya. Menyusui ASI adalah tetap yang terbaik, meski tidak mudah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s