Influenza Pertamanya

Ibrahim kena flu juga ternyata di usia 9 bulan. Ceritanya kami memang lagi sibuk sekali mempersiapkan pindahan ke Duri. Tiap sabtu nyaris selalu pergi ke Pekanbaru seharian, memesan gorden, ngemall, belanja mingguan, ke bengkel, dll. Dan selalu berangkat pagi, pulang sore. Kontak dengan penderita flu juga tidak bisa dihindari pastinya. Ruang menyusui di Mal SKA tidak bisa dibandingkan dengan yang ada di mal-mal Jakarta. Sempit ya pastinya, dan ramai! Ya…tiap beberapa menit pasti ada ibu yang masuk dengan babynya yang menangis kencang minta disusui, lalu ibu lain membawa anaknya yang pilek untuk diberi obat. Wah, tidak nyaman lah pokoknya. Mal memang sumber penularan yang sangat potensial. Jadilah penyebab multifaktorial tersebut mengalahkan pertahanan tubuh Baim : virus, capek, lack of nutrition karena tidak leluasa menyusu setiap saat seperti di rumah. Jreng-jreng…influenza menyerang tubuhnya.

Gejala pertama muncul di minggu sore, anakku batuk, tapi bukan tipe batuk ‘keselek’ yang selama ini kukenal bila dia minum buru-buru atau makan tidak dikunyah. Kuingat-ingat semalam dia mencaplok makanan berminyak, gorengan pastel dari kawan kami yang kebetulan sedang menginap di rumah. Terus dia juga sempat menyicip beberapa makanan manis yang aku kelepasan tidak sempat larang karena faktor kelelahan juga. Biasanya bun-bun paling ketat mengawasi makanannya, namun kebetulan saat itu lengah juga karena terlalu capek. Reaksi pertama, insting ini sudah berkata ‘aduh…kejadian deh dia sakit’. Ya mau bagaimana lagi, kalau mau hidup di bumi ya harus pernah terpapar virus. Hati ini tetap tenang dan hadapi saja dengan sabar. Benarlah, mulai Senin pagi saat ayahnya berangkat ke Duri, sampai beberapa hari selanjutnya aku menghadapi Baim yang batuk-pilek-subfebris. Mau tahu cerita ibu amatir merawat bayi Flu?

Hari pertama, batuk berdahak, sering, tampak mengganggu. Badan hangat 37 derajat, tetap ceria, sedikit manja. Treatment : banyak air putih hangat, diberikan sedikit-sedikit, sesering mungkin kapanpun aku ingat. ASI tidak usah ditanya tetap kejar tayang dan nafsu makan still fine.

Hari kedua, gejala sama, ditambah hidung mampet dan gangguan tidur. Treatment masih air putih, ditambah metode uap (nebulizer wanna be terinspirasi dari prinsip fisioterapi di RS) beserta minyak-minyak inhalasinya. ASI jalan terus, bunbun makan buanyak demi kualitas ASI optimal, gendut gendut deh demi bayiku sehat kembali. Sangat menyesal belum punya Bach Flower Rescue Remedy dari Plant and Planet untuk terapi holistiknya, padahal ini oke sekali untuk memberi efek menenangkan tanpa harus lewat obat. Ya sudah yang ada saja dirumah. Kalau tidurnya resah gelisah, kudekatkan saja balsem untuk bayi ke hidungnya Baim supaya gangguan nafasnya berkurang. Bersyukur sekali deh, tidak sampai begadang-begadang seperti anak-anak lain. Mungkin dia mengerti ya, ayahnya jauh, kasihan sama Bunbun kalau aku rewel.

Hari ketiga dan seterusnya, hidung jadi meler, beringus sepanjang hari. Makan jadi terganggu karena jalan napas yang sempit, Baim jadi sering mau muntah saat menelan makanannya. So far pengeluaran dahak lancar lewat muntahan air putih, lewat ingus, dan lewat feses. Fesesnya jadi berlendir mirip waktu diare dulu. Tapi ini tidak lebih dari 3 kali perhari. Bunbun merasa perlu memberikan paracetamol nih, meski Baim baru subfebris (di bawah 38,3 derajat celcius, belum indikasi untuk paracetamol) tapi saya butuh efek menenangkan, penghilang nyeri, pereda sakit kepala dan efek tidurnya. Karena jujur setelah hari ketiga sudah mulai melelahkan juga ya ternyata mengurus anak sakit yang bawaannya nemplok terus, susah tidur, rewel minta gendong kemana-mana, 9 kilo berat euy… Padahal istirahat itu perlu untuk regenerasi sel-selnya, jadi sempat kuberikan dia dosis 0,6 ml paracetamol agar tidurnya enak dan tenang, tidak ‘glebak sana glebak sini’ sambil terbatuk-batuk.

Hari kelima dan seterusnya, dahak masih ada, upil banyak! Infeksi mulai menunjukkan self limitingnya, hilang sendiri, kalah oleh pasukan imunitas tubuh. Baim tak ubahnya anak biasa yang ceria, namun masih dengan hidung sedikit berair. Alhamdulillah tak lama kemudian waktunya Baim vaksin Campak, dan dinyatakan healthy, boleh disuntik. Beratnya ternyata turun 1 ons gara-gara flu ini, jadi 8,9 kg. Butuh waktu sampai 2 minggu untuk benar-benar menghilangkan dahak secara bersih dari seluruh tubuhnya. Besok-besok nggak lagi deh mendekatkan Baim pada faktor resiko terkena flu. Capek lho meskipun Baim tergolong anak ‘gampang’. Satu-satunya hal baik dari pengalaman sakit ini adalah Baim jadi punya kebiasaan baru yang bagus, setiap bangun tidur minum air putih hangat. Sangat sehat, membersihkan apa saja yang mengotori tubuh.

Semua orang tidak ada yang ingin anaknya sakit. Tapi semua bayi pasti pernah sakit. DR Sears bilang setidaknya butuh 4-8 influenza untuk membangun kekebalan tubuh seorang balita. Kalau saya pilih yang dibawah 4 saja. Semoga seterusnya sehat selalu tidak batuk pilek lagi. Alhamdulillah sekali lagi bisa melalui tantangan baru sebagai ibu. Merawat anak flu senatural mungkin, dan tanpa antibiotik. Semoga jauh-jauh terus sama yang satu ini, it stains your’s baby tooth bud and defect mineralization proccess inside his gum. Semoga bisa sesedikit mungkin memaparkan zat kimia pada Baim dan terus belajar natural healing. Amin ya Allah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s