Eight Months Son…Twenty Seven Me…(Akumulasi Curhatku)

Kadang dunia luar berputar lebih cepat daripada diri kita, sampai akhirnya saya berhenti dan berkata ‘Wow…anakku udah 8 bulan aja, perasaan kemarin baru lahiran’. Merawat anak memang penuh dengan tantangan dan keasyikannya sendiri, sehingga waktu berlalu dengan begitu cepatnya. Hmm…usia 25 menikah, usia 26 punya anak, dan kini 27 tahun, di 2010. Angka-angka itu sering menari-nari di kepalaku, merepresentasikan perjalanan hidupku yang bergulir melesat bagai roket ultraspeed. Begitu saja deret ingatan itu muncul, momentum demi momentum, kadang gambarku yang sedang pusing memikirkan requirement Klinik terpeta kembali, kemudian dengan cepat berganti ke masa PTT di KalBar, lalu tiba-tiba ZAPP kembali ke masa kini, memandang Baim yang tidur pulas seperti malaikat. Haru, bersyukur, sesal, bahagia, lalu senyum-senyum sendiri. Di usia 27 ini penuh dengan deret ingatan yang muncul kembali. Kalu bisa dibilang, perasaanku campur-campur, berpadu lezat bak gado-gado Boplo.

Rasa bersyukur, itu pasti. Menikah-dapat suami yang baik-hamil-dapat anak = serasa kejatuhan durian bertubi-tubi.

Rasa bangga dan puas akan prestasi diri sendiri. Melahirkan normal dan air susu berlimpah = serasa memenangkan piagam jadi juara kelas. Sehabis bersalin dan masuk kamar inap, berkali-kali tersenyum dan bergumam ‘good job, my body…good job’. Kuasa Allah berperan banyak untuk hal ini. Tidak semua wanita diberi apa yang dicari.

Rasa sesal, karena seharusnya bisa melakukan lebih banyak hal saat hamil, tidak mengalah pada rasa malas bawaan janin. Menyadari bahwa spare time yang banyak pada masa hamil tidak kumiliki lagi sekarang sampai beberapa tahun kedepan.

Rasa bahagia, karena cukuplah karunia Allah bagiku saat ini, di titik ini. Aku merasa sangat nyaman tanpa merasa kekurangan suatu apapun entah bagaimana kondisinya. Lagi apes maupun lagi mujur. Semua bisa dinikmati bersama.

Rasa malu, terutama pada teman-teman sejawat, karena aku belum kembali praktek juga. Kalau ada kumpul-kumpul reunian dan pada membahas tipe GIC terbaru atau obat intrapulpa apa saja yang oke, aku serasa kambing congek. Sangat ingin kembali berkarya, mengemban tugas buat menolong orang lain. Berpraktek bukan hanya untuk gaya-gayaan atau mencetak uang semata, tapi sekedar bisa mengubah ekpresi kecemasan pasien akan putaran bur menjadi senyuman ketenangan setelahnya karena tidurnya kembali nyenyak. Mungkin Allah mendengar keinginanku dan suatu saat memberi kesempatan untuk itu.

Rasa terimakasih, karena punya kesempatan merawat Baim 24 jam, di saat banyak ibu lain yang ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan baby nya tapi kondisi tidak memungkinkan.

Rasa tidak pede, karena harus kemana-mana dengan beban ekstra 11kg pregnancy weight yang belum hilang juga meski Baim sudah sangat menguras tenaga. Masih menanti saat sebelum hamil di timbangan 50kg. Tubuh ini memang bukan tipe ‘segera kembali ke bentuk semula’. Kalau ada yang bilang ‘sekarang gemukan ya?’ jawaban paling bijaksana hanyalah ‘iya nih belum balik lagi’. Soon i will get my butt back on crosstrainer, kalau sudah di Rumah Apel. Just never give up.

Rasa haru, karena Baim makannya lahap dan belum ada tanda-tanda kebiasaan anak kecil yang dikeluhkan para ibu : nggak doyan makan lalu disembur. Semoga seperti ini terus sampai batita-balita-dst.

Rasa tertantang, karena masih menyimpan target bisa pintar masak enak segala hidangan dan bisa pakai mesin jahit. Inilah kenapa dulu pas hamil tidak dimanfaatkan saja ya buat kursus…

Rasa rindu, rindu pada kesukaanku dulu pada dunia holistic-ayurveda-prana-living. Sebisa mungkin masih bisa menerapkan sedikit-sedikit good habit yang sudah kudapat selama ini. Yaa…walaupun kehidupan ‘hening’ kini sebagian besar sudah tergantikan dengan ‘ramai’ bernyanyi-nyanyi bersama Baim dan jeritan kepanikan saat dia merambah kabel listrik.

Rasa kesal pada diri sendiri, karena kerap kali aku mengeluh ‘cape banget sih ngurus anak’. Disaat orang lain sekian lama menanti kehadirannya. Seharusnya aku sadar, gerakannya yang bikin capek adalah anugrah, bukti bahwa perkembangan fisik dan fungsi motoriknya bagus, bukannya karena nakal. Tidak mau sekali-kali lagi ah bilang Baim nakal.

Rasa terpacu, terpacu untuk melakukan yang terbaik buat Baim (dan adik-adiknya, bila diberi lagi..amin) selama periode emasnya 0-6 tahun. Terpacu untuk lebih mendalami lagi pendidikan penuh kasih di rumah, bersama ibunya, guru yang terbaik untuknya, sebelum akhirnya nanti dia lepas dari pelukanku saat menghadapi usia sekolah yang rentan stres dan kurikulum tak karuan. Aku pasti tak luput dari kesalahan, semoga kesalahan itulah yang membentukku jadi makin pintar. Harus lebih rajin lagi nih nunjukin flashcard. Berdoa dan berdoa supaya suatu saat diberi rejeki superlebih bisa belikan Baim seri pengetahuan Timelife yang harganya melebihi sepeda motor dan cicilannya seharga cicilan mobil…hufff entah kapan bisa punya, atau bisa nemu seseorang yang jual second-nya. Udah ngeper duluan nih, ajarin pake buku yang ada saja dulu. Sel otaknya tetap akan terus berkembang kayanya meski pakai buku apapun, asal saya membacakannya dengan penuh cinta.

Rasa sedih, karena melihat fisikku di cermin yang makin hari kok makin jelek aja hihihi. Pemandangan indah buat suami tiap pagi : rambut acak-acakan, badan bau naga, belek dimana-mana, ouch just wonder why he keeps loving me…lol. Pingin cantik lagi, tapi kapan ya?

Rasa gembira, karena semakin menemukan keasyikan hidup di Riau, tepatnya Minas dan Duri. Ternyata camp
berisi begitu banyak ibu-ibu pintar, cantik dan baik hati, baik yang seumuran atau lebih senior, mereka mau berbagi dan tak segan menyapa duluan pendatang baru yang masih malu-malu. I love this kind of living. I love them all.

Rasa-rasa lain, yang tidak bisa di listing satu persatu.


Intinya, kita sebagai orang dewasa tak ubahnya anak kecil ya ternyata, minta ini-itu, pingin ini-itu, mengeluh ini-itu, tak puas ini-itu. Namun saat menoleh kembali ke berita Bilqis, liat acara ‘Bedah Rumah’, atau ‘Minta Tolong’, akhirnya sadar kembali bahwa kita semua adalah orang paling beruntung di dunia. Manusia berkehendak…Allah juga yang memutuskan.

Well…God…i’m twenty seven now. Aku tidak selamanya akan menjadi 27, Baim tidak selamanya akan menjadi bayi. Waktu pasti akan tetap terus melesat jauh. Maka, akan kunikmati seriap detik di tahun ke-27 ini, per momennya, per episodenya, dengan seperti ini adanya. Dengan mengalir bersama setiap kado garisan tangan dari DIA.

One thought on “Eight Months Son…Twenty Seven Me…(Akumulasi Curhatku)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s