MOTHERHOOD 101 : Apa yang Dilakukan Pada Popok Hijau

Hi…long time no write. Sudah hampir genap sebulan aku, suami, dan Baim kembali ke Duri. Kami tinggal dalam satu kamar di Wisma Mutiara sementara bakal rumah hunian sedang dipersiapkan. Tantangan baru harus dihadapi karena Baim harus ekstra beradaptasi dengan ruang gerak yang sempit setelah terbiasa berlapang-lapang di rumah eyang Jatiwaringin. Saat perjalanan dari Jakarta-Duri Baim juga sangat lelah melalui berjam-jam penerbangan plus naik Bus Minas-Duri. Walhasil, si bocah agak masuk angin dan bermanifestasi ke gejala diare pertama di hidupnya. Pusing juga lho, saat mendapati feses Baim berubah drastis dan frekuensi BAB nya menjadi 7-8 kali sehari. Sebagai ibu baru, pastinya stres setiap kali mendengar bunyi ‘CROOOT’ dari balik celananya. Ada keluhan ruam popok pula karena pemakaian cloth diaper dihentikan dulu dan diganti disposable. Selain itu my baby’s bum juga memerah akibat sifat fesesnya yang asam karena diare. Hmm…keriting deh pokoknya Bunbun selama seminggu itu. Dua hari pertama kubiarkan mencretnya keluar tanpa antisipasi apa-apa, supaya racun di ususnya terbuang alami lewat mekanisme diare. Teringat artikal di babycenter.com ‘like fever and cough…diarrhea is your baby’s best buddy’. Semoga homeostasis akan terjaga lewat diare ini, begitu kata sisi naturopati dan holistik medisku. Kuperhatikan makan-minumnya tetap lahap, menyusu apalagi, lebih-lebih kelakuannya juga tetap high impact aerobic, malah bertambah banyak kemampuan baru dan kosakata. Ya sudah…adanya kemungkinan dehidrasi tak perlu dikhawatirkan. Menjelang hari ketiga dan keempat, hatiku semakin tidak tega, sisi medis pengobatan simptomatik mulai mengambil alih. Saatnya beli obat di apotik. Karena .Medical Service di Duri memiliki track record yang lumayan kelam, aku memilih untuk tidak membawa Baim kesana. Searching sana-sini, konsultasi teman sejawat dokter umum dan residen SpA, dan tak lupa narasumber yang paling terpercaya : para ibu lain. Akhirnya kuberikan Baim Lacto B, dan saat dua hari sesudahnya belum ada perubahan, kuberikan lagi satu dosis Kaopectate. Diare itu akibat rotavirus dan bakteri non spesifik yang masuk lewat tangan-tangan kecilnya yang tak pernah berhenti memegang-megang semua benda, selalu penasaran. Penanganannya hanya mencegah dehidrasinya saja, diarenya tidak usah diapa-apakan. Semua bayi pernah mengalami mencret. Tetap saja bagi ibu yang baru pertama mengalaminya akan merasa panik, apalagi bila disertai muntah (untungnya Baim tidak). Tapi kok aku tidak bisa tega ya membiarkan Baim berlama-lama sembuh secara alami. Kuberikan saja obat yang benar-benar aman dan tepat penggunaannya. Lacto B juga bukan obat, tapi suplemen penjaga keseimbangan flora normal usus. Kalau kaopectate itu barulah obat, yang hanya alternatif terakhir bila tidak ada perbaikan baru diberi, fungsinya sebagai zat penarik racun dan toksin-toksin bakteri pada usus, lalu melapisi dinding usus supaya luka-luka mikro pada vili atau jonjotnya cepat membaik. Alhamdulillah setelah pengobatan yang rasional, asupan kalori yang banyak, pilihan makanan yang netral (diet BRATY), ketelatenanku merawat nappy area Baim, dan terpenting ketenangan batin tanpa panik, anakku sembuh dengan sempurna. BAB kembali seperti dulu, 1-2 kali sehari dengan konsistensi padat lagi. Sekarang sepertinya ia mulai menggemuk dan semakin menggemaskan. Senangnya, aku telah melewati satu level lagi dalam merawat anak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s