Finally…My Birth Story of Our First Son Ibrahim

Sun, May 31st 7 a.m, SSK II Airport
Melepas bapak mertua kembali ke pulau Jawa, satu kondisi darurat di rumah membutuhkannya lebih daripada kami dan jabang bayi. Sepuluh hari lewat due date, tanda-tanda persalinan tidak lebih dari sekedar Braxton Hicks, gerakan janin stabil lebih dari 10 kali per hari. Masih positif namun tidak juga takabur untuk ‘letting go’ terhadap semua ketentuan Allah apapun itu.

10.30 a.m, Klinik fetomaternal & perinatologi ANDINI
Kontrol memasuki minggu 42, semua Alhamdulillah dalam kondisi baik, BB bayi tetap stagnan di 3,1 kg sejak sebulan lalu, tidak tampak lilitan, air ketuban masih baik kualitasnya, kuantitasnya saja yg sedikit berkurang. Meski tanpa gawat janin atau kedaruratan medis, dokter dengan hati-hati menyarankan untuk memakai ‘sedikit bantuan’ tanpa meninggalkan prinsip persalinan alami yg sejak semula direncanakan.
‘Jangan berpikir ini induksi, ini pematangan serviks’ ujar beliau demi membuang rasa kecewaku. Akhirnya, rahim ini menyerah pada bantuan 1/4 dosis tablet sublingual bernama Gastrul.

01.00 p.m
Jalan kaki seantero Mal Ciputra, tanpa tahu persalinan yang sebenarnya akan dimulai kurang dari 12 jam kedepan.

05.30 p.m
Dosis 1/4 tablet kedua. Menonton tv bersama suami di rumah.

07.30 p.m
Akhirnya mengalami yang namanya ‘My water broke!’. Saat membuat teh untuk suami, terjadi sedikit rembesan yang tidak biasa. Hati jadi lumayan girang karena tahu Baim akan datang tak lama lagi. Alhamdulillah rembesan berwarna jernih bercampur sedikit darah dan tidak berbau.

08.00 p.m
The real surge coming, dua tekanan yang jauh lebih kuat dan mendesak dari biasanya. Saatnya mulai aplikasi pernapasan lambat, inhale dan exhale masing-masing 20 hitungan panjang. Setelah itu kembali fase tenang lumayan lama, sangat menantikan tekanan selanjutnya. Harap-harap cemas apakah semua akan bekerja dengan semestinya. Suami tahu semua, tapi melihat air mukaku dia tetap tenang seperti biasa, menonton tv dan bersiap tidur.
‘Ayah besok tetep ke kantor aja, kalo ada apa-apa baru aku telpon terus pulang lagi’ Kataku dengan pede sembari mesam-mesem.

11.00 p.m
Saat akan tidur dengan Ipod cd relaksasi ditelinga, rembesan kedua terjadi dengan tekanan his yang makin dalam. Pernapasan lambat jalan terus sambil menggembungkan perut sebisanya, dengan anggota badan lain selemas-lemasnya. Ini beneran udah mulai persalinan yg sebenarnya, pikirku. Wah,harus sms dokter nih kasih tau semuanya. Kukirimlah sms dengan isi pesan :
‘Dok, barusan ketuban saya merembes sedikit-sedikit disertai his ringan, warna dan bau bla-bla bla…saya masih boleh gak ke RS nya besok pagi aja?’
Dengan seketika balasanpun sampai dengan jawaban:
‘Kalau curiga itu air ketuban sekarang aja langsung ke RS’
‘Bentar ya dok saya cek lagi rembesan selanjutnya terjadi jam berapa, kalau memang terus-terusan dan makin banyak saya langsung berangkat’
‘OK’


Mon, June 1st, 00.00-02.00 a.m, in my room

Mengisi saat-saat his datang dan pergi dengan menonton kembali video2 persalinan para kerabat dekat kita (hewan mamalia) dan video hypnobabies berulang-ulang, kadang diselingi musik Tom Jobim dan Sergio Mendes sambil nyanyi2. Bosan melihat vodeo dan visualisasi, aku packing barang2 tambahan yg perlu dibawa. Suami kubiarkan menikmati tidur pulasnya sebelum nanti harus siaga menyetir dari Minas-Pekanbaru ditengah pagi buta. Aku memang ingin menghabiskan sebagian besar waktu persalinanku di rumah, tempat paling nyaman dan bersahabat. Saat sedang melewati his panjang dalam posisi berjongkok yang nyaman sambil memejamkan mata, suami sempat terbangun, bingung akan kondisi lampu kamar menyala terang dan melihat istrinya nungging. Aku cuma tersenyum dan bilang hai..lalu ia tertidur lagi.

02.30 a.m
Benar-benar merasa perlu membangunkan suami. ‘Ayah..sekarang waktunya’
Suamiku yg selama ini terkenal selalu tidur dalam kondisi menyerupai sopor komateus dan naudzubilah susahnya untuk dibangunkan, Alhamdulillah kok saat istrinya akan bersalin dia langsung sigap terjaga dan packing barang-barang yang lebih ribet dan banyak, apalagi aku masih selalu dalam kondisi hypnosis diri, terlihat nyantai dan tenang. Maka dibawalah segala bed cover, makanan, cemilan, DVD player, bantal, guling dan kroni-kroninya. Sambil menunggu Pak Zun berbenah, aku sangat ingin merasakan berendam air hangat, mengingat kali ini belum bisa kesampaian merasakan waterbirth. Berendam memang benar-benar membuat semuanya berbeda, his langsung kalem, nikmat sekali, sayang cuma bisa sebentar. Setelah itu aku melakukan hal paling krusial dalam persiapan persalinan : makan ringan dan minum manis.

03.30 a.m
Semua rombongan penunggu Baim siap berangkat. Bila orangtua menanyakan rasa sakitnya sudah bagaimana, aku memilih diam dan kembali memasang Ipod. Dalam hati aku memohon maaf, sudah sejak awal aku tidak ingin membahas skala rasa sakit maupun rasa tidak nyaman yang membuatku keluar dari kondisi trance. Suami menenangkan suasana dengan memasang CD Tohpati ‘It’s time’ dan kamipun bernyanyi2.

04.00 a.m
Sampai di Emergency Room, persalinanku baru sampai pembukaan 2. Disinilah menfaat pijat perineum, saat tangan sang perawat masuk jauh mendesak kedalam sana, otot-otot kita sudah tak begitu tegang lagi, rasa risih dan traumatis yang ditimbulkan juga jauh berkurang. Jadi teringat masa rutin pemijatan dulu, sambil memijat aku selalu bergumam, ‘bicara’ pada jaringan otot2ku : ‘elastis ya…elastis ya, nanti kepala anakku mau lewat..’. Harusnya kata-kata sugesti itu ditambahkan ‘kepala anakku DAN tangan ganas perawat emergency mau lewat’

04.15 a.m
Masuk delivery room, anamnesa, shaving, dan minta segelas teh manis. Suami sibuk sendiri memasang peralatan DVD player untuk entertainment selama menunggu hingga pembukaan lengkap (tanpa tahu semua itu nggak akan kepakai, DVD Konser John Legend cuma nganggur tak jadi diputar).


05.00 a.m

Tekanan his yang semakin mendesak membuangku jauh dan semakin jauh dari hypnosis diri, waduh udah mulai gawat ini. Coba duduk di toilet aja deh, pikirku. Konon katanya nyaman banget buat yang akan bersalin. Setelah 15 menit di atas toilet membuat rasa tidak nyaman berkurang, aku kembali ke tempat tidur. Suami izin sembahyang Subuh.

05.30 a.m
Suami kembali dan mendapati air mukaku sudah mulai serius setiap gelombang itu datang, DVD playerpun berganti dengan Ipod murottal yang kita dengar bersama-sama sambil berpegangan tangan. Saat jeda tiba tanpa kontraksi, napasku kembali stabil dan hidup rasanya nikmat sekali. Dalam hati aku sangat bersyukur akan nikmat satu kali helaan napas dan hidup tanpa adanya gangguan kontraksi. Baru sadar kalo melahirkan itu jihad fisabilillah. Baru saja ada di kondisi spiritual yang kental, pasien lain jauh disana terdengar mengalami nausea berat dalam proses pembukaannya, dia mengeluarkan suara ‘hueeeeeeegggh’ yang panjang dan berat. Entah kenapa kami berdua sempat-sempatnya masih cekikikan ngetawain ibu itu. Dan benar saja kami ketulah, beberapa menit kedepan sesuatu yang lebih hebat terjadi…

06.00 a.m
Hypnosis bubar jalan, kemajuan persalinan dan gelombang rahim terlalu intens untuk dikendalikan. Sementara orangtua masih tertidur di kamar rawat inap, yakin bahwa Baim baru akan lahir sore nanti. Cuma ada suami yang selalu disamping menjadi kekuatanku dan perpanjangan kasih Allah SWT. Aku mulai ‘bersuara’. Memanggil Baim, menyebut Asma Allah, dan memanggil suamiku. Namun sekalipun aku tidak berkata ‘sakit Ayah..’

06.30 a.m
Para suster tampaknya sudah mulai jengah akan kondisiku yang semakin tidak nyaman. Salah satu datang dengan bertanya ‘Memangnya udah sakit banget ya?’. Saat ia mendapati telah banyak darah di bawah sana, aku ingat dia bilang ‘Wah kalo udah banyak darah begini biasanya udah bagus bu bukaannya’. Periksa dalampun kembali dilakukan, wow kali ini jauh lebih tidak nyaman. Sang perawat melongo sendiri, lalu heboh grusa-grusu menyuruh para sejawatnya untuk menyiapkan alat-alat dan menelpon dokter. Kesibukan berjamaahpun terjadi. ‘Ibu sudah bukaan delapan!’. Baru sekarang suami mengaku, saat itu yang ada di pikirannya adalah ‘Alhamdulillah ini tidak akan lama lagi…fiuhh’

06.55 a.m
Dokter datang, tetap dengan senyumnya yang tak pernah absen. Suami menyambut dengan ucapan selamat pagi. Sedangkan aku menyambut dengan :
‘Dokterr AKU MAU EEG…..!!!’ Kata-kata paling tidak sopan seorang pasikepada dokternya.
‘Gak apa-apa Bu bagus didorong aja, sudah bukaan lengkap’
Dokter berinstruksi teknik mengejan yang benar, sedang aku sudah tidak bisa berpikir jernih lagi, susahnya bukan main mencerna kata-katanya. Pikiran bercampur aduk, kata per kata yang ada di buku panduan melahirkan, website-website yang aku unduh setiap hari, pesan-pesan bidan perusahaan,semua tiba-tiba tumplek jadi satu menari-nari di ingatanku, mana nih yang dipakai duluan..
Semua perlahan-lahan kembali jernih, oke..tunggu sampai puncak gelombang, ikuti dengan dorongan, mata dibuka, rahang dibuka, seluruh tubuh lemas kecuali otot-otot dibawah sana. Aliran darah dan energi hanya terfokus pada organ yang bekerja. Dorongan pertama, dokter berujar rambut Baim mulai tampak lebat sekali. Pertanyaan sopan itu datang juga akhirnya: ‘Bu, saya epis sedikit ya…?’
Aku langsung mengangguk berulang2 ‘He eh, he eh…’ Apapun bisa kulalui saat ini, aku bahkan merasa sanggup mengangkat sebuah rumah (mau ketemu Baim gitu lowh…). Episiotomy yang selama ini kubaca cara-caranya di internet ternyata terasa tak lebih dari sebuah sensasi panas. Badan ini telah siap sesiap-siapnya.
Tak disangka-sangka, tiga gelombang setelah itu, Baim meluncur dengan mudahnya keluar tubuhku. Proses mengejan tak lebih dari sepuluh menit. Euphoria membahana di seluruh ruangan Terimakasih ya Allah…

Terimakasih sudah membuat kami berdua langsung jatuh cinta pada anak pertama kami
Terimakasih karena proses jahitanku berlangsung 15 menit saja
Terimakasih karena tubuh dan jaringanku sembuh dengan baik dalam beberapa hari
Terimakasih sudah memberiku kekuatan wanita paling besar di muka bumi
Terimakasih karena sudah membuatku seperti ini adanya..
Dan saat semua reda, aku bertanya dengan lantangnya ‘Suster, menu sarapan pagi ini apa ya???’

2 thoughts on “Finally…My Birth Story of Our First Son Ibrahim

  1. subhanallah seru banget ceritanya…alhamdulillah Hanita dikasi kekuatan yg luar biasa untuk melahirkan Baim dengan selamat dan natural… cepet sekali dari bukaan 2 ke lahirannya….🙂

    • Iya kayanya semua birth story seru deh, dan jangan salah. meski semua lancar..namanya ibu baru sempet terguncang jg lho bbrp hari, gmn ya, bdn rasanya agak lumayan kaget habis ngeluarin another human being, sempet takut BAB bbrp hari, sempet parno jahitan ga nyambung hihihi, masi baru kali ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s