SECOND MONTH REVIEW: Desert Mallow

Soften and Be Gentle with Yourself

desert malow

Bulan kedua ini aku mengkonsumsi esensi bunga bernama Desert Mallow yang tumbuh di dataran Arizona, USA. Bagi kamu yang baru mendengar tentang #Flowerevolution, kamu bisa kunjungi dua postinganku sebelum ini. Secara singkat, di program pengembangan diri ini aku bekerja dengan 6 jenis eliksir bunga yang berbeda selama 6 bulan untuk mendapatkan efek perubahan hidup yang transformasional. Selama aku mengkonsumsi esensi bunga-bungaan ini; aku juga akan ‘channeling’ karakter bunga yang aku minum, menyatu dengannya, menjadi dirinya, dan mendengarkan pesan magisnya. Bunga dan herbal adalah ‘Plant Teacher’-ku. Saat aku menggunakan bunga dan herbal dalam kehidupanku, secara tidak langsung aku juga bekerja dengan spirit energy. Aku akan lebih mudah mendengarkan intuisi, menguatkan mata ketiga, dan lebih tahan banting dalam menghadapi dilema hidup sehari-hari. Bagaimana kabarku di bulan kedua ini?

Aku masih asik dengan Periscopeku dan teman-teman baruku. Followerku sekarang sudah 194, bukan angka yang fenomenal sih.. tapi mereka ini my real crowd yang benar-benar mau mendengarkan ocehanku setiap hari hehe. Cakrawalaku makin terbuka lebar di berbagai aspek pengetahuan. Aku makin pede dengan what i’m capable of. Aku makin menghargai kemampuanku sendiri tanpa harus membanding-bandingkan dengan orang lain. Aku selalu bisa ‘ngonangi’ diri sendiri saat hampir melakukan self abuse. Aku mendapati diriku makin mahir dalam melakukan pembacaan Tarot, lalu aku pun mulai hoarding kartu Tarot haha. Tarot dan Oracle card deck adalah ‘tas’ dan ‘sepatu’ku. Kayanya aku makin mantap deh untuk semakin menekuni Tarot ini secara profesional…

Lewat catatan ini aku ingin kalian tahu bahwa kita hidup untuk mengulang sebuah rumus abadi, the cycle of infinity. Sejatinya kita ini selalu mendaur ulang energi; energi yang kita lempar keluar akan kembali lagi pada kita untuk kemudian kita oper lagi ke alam semesta, dan begitu seterusnya. Kelembutan yang telah kuberikan kepada diriku sendiri ternyata membuat suamiku pun semakin lembut padaku. Mau cerita sedikit tentang hubungan personal kami yang belum pernah kubagi di media manapun. Suami saya bukan lelaki yang sempurna, everyone has a baggage, and he also got his own baggage. Saat benar-benar stres dan bingung, suamiku bisa sangat temperamen dan mengerikan. Tahun-tahun awal pernikahan aku merasa dan mengira ini hal yang normal. Namun saat kami tinggal di luar negeri jauh dari keluarga, respon survivalku sebagai seorang wanita mulai bangkit. This can’t be rightVerbal dan mental abuse juga adalah bentuk kekerasan. Tidak peduli betapa kerasnya lingkungan dan kehidupan dia di masa lalu, that’s not an excuse. Di tahun kedua kami di Amerika, saya mulai ‘berontak’. Alih-alih memendam semua rasa tersakiti dan berpura-pura bahwa aku bahagia dan baik-baik saja; aku mengakui ini ada yang salah. Pastinya sangat sulit untuk merombak pola hubungan toksik yang sudah berlangsung sekian tahun, yang sudah kadung menjadi sebuah game di mana kami berdua kecanduan memainkan perannya. Di saat akhirnya aku bisa bilang (well, teriak gahar sebenernya)  ‘Hey…it’s NOT okay to treat me like a doormat!‘; suamiku tertegun kaget. Seperti dikejutkan sebuah terapi listrik, dia tak menyangka bahwa selama ini dia sudah menjadi salah satu pemain watak dari skenario patriarchal oppression yang telah diwariskan turun-temurun oleh Nenek Moyang kami. Pelan-pelan hubungan kami membaik, tak ada lagi memendam perasaan, tak ada lagi ego pria mendominasi rumah ini. I did something victorious to myself. I thanked myself a lot for doing this noble self care. Perlahan aku dilingkupi kelembutan. Anak-anakku berubah lebih manis, suamiku memperlakukanku bak permaisuri, dan aku ‘kebanjiran’ klien-klien privat yang masih dalam fase korban patriarchal oppression di rumah tangganya sendiri hehe. Aku tak bisa berhenti bersyukur kepada Allah atas  transformasi indah di tiga tahun terakhir ini. Benar-benar terbukti, semua adalah energi timbal balik. Seringkali kita nekat mengambil jalan pintas dengan percaya bahwa ‘saya telah salah pilih suami’. Hmm…ketahuilah bahwa selama inner game ini masih selalu kita mainkan secara mental, mau sampai suami keempat atau kelima-pun, hubungan percintaan kita tidak akan pernah membaik. Bahkan memutuskan untuk hidup sendiri tanpa pasangan pun tidak akan membuat kita selamat dari si inner game. Sosok ‘suami’ hanya akan berubah kulit menjadi Bos, rekan kerja, orangtua, bahkan anak kita sendiri; karena kita sejatinya masih selalu ingin menciptakan lakon-lakon lain untuk diajak ‘bermain dan belajar’. Lalu harus bagaimana? Aku beristiqomah untuk memutus pola hubungan abusive di kehidupanku, aku stop berlaku dan berkata abusive kepada diriku sendiri, dan hasilnya orang lain pun tidak ada yang berani berbuat abusive kepadaku. Well… kalaupun masih ada, aku siap menyingsingkan lengan bajuku, meladeni mereka berbekal secangkir kopi dan extra large Black Tourmaline. Di layanan private coaching-ku, aku akan sharing secara detail bagaimana memutus soul contracts yang tidak sehat agar pola pembelajaran itu tidak selalu berulang dan berganti wujud. When you learn the lesson, the lesson itself dissolves.

Energi Desert Mallow terasa seperti Malaikat pelindung. Hidupku terasa ringan di luar apapun masalah yang kuhadapi. Mengijinkan diri sendiri untuk santai apa adanya, itu kunci ajaran yang kuterima dari Desert Mallow. Semoga bisa menginspirasi kalian yang membaca. See you in the next month review (LILAC essence).

 

(bersambung….)