A Gathering to Remember: Seminggu Bersama Abdy Electriciteh

Kalau saya sampai kejadian menambah postingan blog, artinya ada sesuatu yang benar-benar spesial. Mungkin ini adalah salah satu pengalaman paling berarti di hidup saya selain menikah dan melahirkan. Life goes on; setelah kembali resmi tinggal di Indonesia saya seperti tenggelam begitu saja dalam ritme kehidupan. Hari-hari berlalu begitu saja dengan segala kegiatannya. Sampai tibalah satu hari yang berbeda, the Day, di mana salah satu teman saya uni Evi mengabari dengan semangat bahwa Abdy, salah satu guru spiritual saya, akan bertandang ke Indonesia. Langsung deras darah ini mengalir, menaikkan bulu romaku, NO WAY…! kupikir perjumpaanku tahun lalu dengan Abdy di Berkeley adalah perjumpaan kami terakhir kalinya di kehidupan ini. Ternyata begitu dekatnya Allah mempertemukan lagi titik ordinatku dengan Abdy dan keluarganya di tahun 2016 ini. Jakarta dan Bali, begitu saja jarak kami nanti. Rasa membuncah itu hadir, saya tahu bahwa saya harus datang. Namun saya juga tahu bakal ada sejuta hambatan yang  bisa saja menghalangi saya untuk datang.

Benar saja, saat saya membuka web resmi Abdy; kata Bali Gathering ada di jadwal kunjungan. Mak sreng lagi rasanya hatiku. Gosh It’s real. Namun belum ada keterangan tanggal yang jelas di situ, hanya tertulis July 2016.

Hmm…Bisa saja itu nanti pas lebaran. Bisa saja itu pas hari pertama masuk sekolah anak. Seminggu aku bakal meninggalkan rumah dan anak-anak yang mungkin sudah masuk sekolah, akan jadi seperti apa? Maju mundur niatku. Yakin ragu. Ingin tidak ingin. Aku takut untuk terlalu banyak berharap, lebih memilih untuk berserah.

Kuutarakan niatku ke mama, my twinflame who also ironically happened to be my biological mother. Dia oke-oke saja untuk dititipkan anak-anak selama saya pergi. Lalu kuutarakan juga niatku ke suami, dan dia pun mengijinkan sambil kasak kusuk memikirkan pengajuan jadwal cuti mudik dan annual leave ke bosnya agar saat saya tidak ada, ia bisa mengurus anak-anak.

Beberapa minggu kemudian, jadwal fix acara sudah keluar: 18-23 Juli. Alhamdulillah, nggak pas Idul Fitri. Tapi Astaghfirullah, kayanya kok itu hari pertama Baim masuk sekolah deh.

Niatku hampir urung lagi.

Eh tapi tak jadi urung karena tak berapa lama, aku dapat konfirmasi bahwa hari pertama masuk Baim adalah tanggal 25 Juli.

Wow God…you’re good at playing surprises with me.

Sebulan sebelum acara, tiket citilink sudah dibelikan oleh suami. Jadwal leave dia pun sudah diajukan dan disetujui. Anak-anak sudah saya kabari nahwa nanti ibunya akan liburan sambil kerja selama seminggu.

But i still play surrender with God. Ya Allah saya tahu siapa saja bisa sakit, sayapun bisa sakit, dan perjalanan ini bisa batal. Saat packing koper pun saya masih percaya nggak percaya bahwa saya jadi berangkat.

Akhirnya saya benar-benar yakin kalau semua adalah kenyataan di Minggu sore saya menginjakkan kaki di Bandara Ngurah Rai. Saya meluncur menuju The Mansion Hotel and Resort Ubud dengan taksi Uber yang proses order dan masuk mobilnya kucing-kucingan karena Uber dan Grab car sudah tidak diijinkan lagi beroperasi oleh Gubernur Bali. Hanya saja surat resminya belum keluar. Supir Uber saya cukup baik dan ramah, kami mengobrol ngalor ngidul tentang berbagai isu; reklamasi teluk Benoa, kontroversi angkutan berbasis aplikasi, cuaca saat itu, dan lain-lain. Saya meminta dia untuk mampir di sebuah convenient store untuk membeli persediaan air mineral. Saya juga sempatkan mampir di sebuah warung Padang untuk membeli 2 nasi bungkus. Saya pilihkan menu yang tidak pedas dan berbasis vegetarian untuk teman sekamar saya. Kami tiba di hotel saat hampir gelap dan diguyur hujan. Aneh memang, karena seharusnya saat ini Bali sedang musim kemarau. Tapi seperti sudah jadi kebiasaan yang lumrah; di manapun Abdy datang, alam selalu nyeleneh.

Saya masuk ke kamar diantar Room Boy menggunakan payung, jauh juga ternyata dari lobby. And here she is… Teman sekamar saya adalah wanita asal Gold Coast Australia bernama Sally yang praktek reikinya sudah kelas kakap dan bikin minder. Dia juga ternyata adalah pengguna essential oils merk DoTerra, major competitor-nya Young Living. Dia kelihatan capek banget karena harus menunggu tiga jam di bandara demi carpooling gratisan pakai shuttle hotel bersama beberapa peserta  dari negara-negara lain. Dia sedikit cranky karena sakit kepala. Somehow aku jadi bersyukur banget bisa ‘bermain’ di kandang sendiri. Kami makan nasi padang bersama dan saling bertukar cerita latar belakang kami masing-masing. Too much personal information yang tidak akan saya sampaikan di sini. Intinya kami sama-sama wounded healer, telah banyak melalui masa sulit semenjak kecil dan juga memiliki gift spiritual yang unik dan tidak biasa. Two weirdos yang terdampar di sebuah spiritual retreat di Ubud. Kami punya kegemaran yang begitu sama namun kami juga punya polarisasi yang begitu berbeda. Nanti saya ceritakan di bagian yang berbeda.

Karena merasa iba, saya berbaik hati menawarkan pijatan di punggung untuk Sally, dan dia menerimanya dengan antusias. Jadilah saya langsung praktik berdukun dengan sambil mencoba-coba oil DoTerra yang direquest oleh Sally untuk saya oleskan. Dia lumayan merasa baikan dan memeluk saya sambil berterimakasih.

Malam itu saya mencoba menikmati tidur yang kurang nyenyak akibat serbuan nyamuk-nyamuk ganas khas Ubud. Dan Sally sukses nggak bisa tidur semalaman. Badannya selalu bolak balik tidak tenang. Dan satu lagi, temen sekamar gua ini rupanya agak freak di satu aspek. Dia nggak bisa tidur kalau ada lampu yang menyala. Yes, dia baru bisa tidur kalau tidak ada satu CAHAYA PUN yang menyala. Jadi dia meminta untuk mematikan semua lampu bahkan lampu temaram untuk tidur! Lha terus karepmu aku kon piye jal? Tengah malam itu saya mencoba ke toilet dengan berdoa sepenuh hati agar nggak kejedot atau jatuh tersandung sesuatu. Kesabaranku diuji untuk yang pertama kali.

Senin, 18 Juli 2016

Seperti murid yang semangat di hari pertama, saya mandi dan berangkat tepat waktu untuk sarapan. Alas yoga, bantal, dan selimut milik Yusuf turut saya tenteng karena ciri khasnya Abdy adalah selalu melakukan energy transmission saat kita semua sedang berbaring telentang. Teman sekamar saya agak grumpy pagi itu dan mengutarakan niatnya untuk pindah ke kamar lain karena penghuni sebelah yang ribut sekali anak-anaknya kalau malam. Memang semalam saya mendengar kegaduhan dari keluarga berlogat Amerika yang sepertinya masih jetlag. Wajar kalau Sally mau pindah. Sally juga mengaku bahwa dia super sensitif, dia gampang terbangun oleh cahaya ataupun suara sekecil apapun. Weladhalah…beruntung ya mbak nggak tinggal di samping lintasan KRL, selorohku dalam hati. Mengenai keinginannya untuk pindah kamar, saya sih oke saja meskipun agak pesimis bahwa pihak hotel masih punya kamar lain yang setipe. Saya membayangkan jumlah kami yang sangat banyak ini (53 orang), bisa jadi hotel sudah tidak vacant lagi saat ini.

Selesai mandi saya berjalan menuju restoran untuk sarapan. Sebagai info, menuju ke meeting roomnya saja jalannya sudah lumayan jauh, karena Hotel tempat kami tinggal area terbukanya sangat luas dan kamar-kamarnya tersebar di segala penjuru. Kalau sampai ada yang tertinggal di kamar, jalan bolak-baliknya akan ngos-ngosan banget ditambah lagi meeting room kami ada di lantai 3 dan hanya ada tangga klasik memutar. Alrighty…hello gym. Di restoran saya melihat beberapa peserta lain yang berbicara dengan aksen Australia yang tampaknya mendominasi. Jadi nervous nih karena saya beneran gak kenal siapa-siapa di sini. Saya pilih meja yang hanya berisi dua seat untuk saya dan Sally. Menu sarapan di sini biasa banget rasanya, sangat plain. Belakangan saya tahu bahwa review menu makanan di sini memang agak jelek, namun hanya Hotel ini yang sanggup dan mau menerima rombongan Abdy yang seperti bedol desa. Di tengah menyantap sarapan, saya lihat Abdy datang bersama istri dan anaknya, dan hati ini langsung mak serr deg-degan gak jelas. Dia begitu ramah dan sederhana, dengan pakaian khas celana pendek khaki dan kemeja santai ala-ala Bob Sadino. Dia melihat saya dan saya pun berdiri memperkenalkan diri. Kami berpelukan sejenak lalu dia lanjut menyapa peserta lainnya. Ada seorang pria yogi paruh baya yang super hot bernama Tim, dia hanya makan pepaya ditabur garam. Penampilannya sungguh unik, rambut gondrong yang sebagian sudah beruban sebagian dan diikat kucir, kalung mala, kaos tanpa lengan dan celana selutut, dan kumis dan janggut yang dibiarkan tumbuh sedikit. Sudah pasti, Tim adalah peserta pria yang paling jawara sex appealnya di antara kami. Selama seminggu sesi indoor, dia akan berada di samping kanan saya dan akan menjadi salah satu yang paling berisik mengeluarkan bahasa-bahasa kuno selama sesi transmisi energi.

DSC02857.JPG

Satu sudut keindahan hotel dengan area terbuka yang luas

Detail sesi pagi sampai siang di hari ini adalah ceramah pembuka dari Abdy, sesi perkenalan diri dan sesi tanya jawab. Di kesempatan ini saya memberanikan untuk mengangkat tangan dan menanyakan ‘Why Bali?’ Abdy menjawab bahwa Bali adalah portal galaktik dari seluruh alam semesta. Tidak hanya vortex untuk planet Bumi, namun juga vortex untuk segala perubahan kosmik yang terjadi di luar planet Bumi. Saat ini sedang sedang terjadi transisi energi yang mempengaruhi seluruh Planet Bumi dan segala isinya; dan Bali menjadi inisiatornya. Hmm…menarik. Sally juga sempat mengangkat tangannya dan menanyakan kenapa dia merasa pusing setiba di Bali, dan pusingnya belum hilang sampai sekarang meskipun di sudah mengaplikasikan semua teknik reiki yang dia punya. Jawaban Abdy langsung bikin dia jleb: ‘kamu terlalu ingin mengkontrol semua hal di hidupmu’ (yess i feel it too!). Abdy melanjutkan ‘kamu pikir kamu bisa mengkontrol sakit kepala itu dan berharap ia menghilang, tapi setelahnya, keluhan lain akan muncul lagi dan lagi. Sesuatu yang salah akan hadir karena kamu selalu butuh sesuatu untuk bisa dikontrol dan dibenahi…’ TEREREDUNG JLEB! Roommateku yang super logis dan super analytical ini pun akhirnya sukses terdiam dan merenungkan kata-kata Abdy dengan dalam.

Setelah sesi perkenalan dan tanya jawab selesai, semua peserta diminta untuk saling berpelukan dengan peserta lainnya. Ini mirip dengan salah satu sesi yang saya jalani di pelatihan Eat Pray Doula empat tahun yang lalu. Bedanya kali ini saya juga harus berpelukan dengan peserta laki-laki yang kisaran usianya dari 30-70 tahun. Ada celoteh pikiran yang menarik di dalam kepala saya. Aku sih gak masalah ya berpelukan dengan lawan jenis yang bukan suami saya khusus di situasi seperti saat ini, sebuah group healing; yang orang-orangnya sudah jelas datang dari level kesadaran yang sudah lebih tinggi. Tapi, apakah mereka juga gak akan segan dan risih memeluk seorang hijabi seperti saya? Mereka nonton media ecek-ecek gak ya? Namun semua inner judgement dan inner doubt itu lenyap saat saya berpelukan dengan sama kuatnya dengan David, suami Leslie, seorang pengikut setia Abdy dari Australia. Bau David seperti bau khas seorang bapak, tubuhnya gempal dan gangat, dengan kemeja yang bersih dan wangi, colognenya pun segar di hidung. Kami disuruh berpelukan tanpa melakukan komunikasi apapun baik secara verbal, mental, maupun eye contact. Ternyata memeluk 53 orang dengan keindahan jiwa masing-masing yang mereka bawa berefek sangat menenangkan buatku. Sebagai empath, aku gak menerima vibrasi negatif sedikitpun dari orang-orang ini. Meskipun mereka beberapa ada yang menderita penyakit serius; energi yang saya rasakan tetap indah, surrenderacceptance

IMG_7143.JPG

Hugging is Healing

Hari pertama ini saya masih bego, belum tahu suasana sekitar, dan agak bingung kalau harus cari makan. Saat tiba istirahat makan siang, hujan turun dengan sangat derasnya. Teman-teman kebanyakan makan di Restoran hotel dan saya nggak rela banget untuk makan di sana. Saya putuskan untuk coba order Go-food. Wis lah untung-untungan wae, karena saya dengar kalau untuk Gojek resistensinya tidak begitu keras dari industri pariwisata lokal. Hanya saja memang jumlah armadanya masih sedikit. Saya coba untuk order makanan dari Bali Budda, dengan waktu tunggu yang lama banget sekitar 45 menit karena lagi hujan. Sementara menunggu Go-jek, staf hotel mengabari bahwa kamar pengganti kami tersedia. Saya dan Sally (yang masih cranky sakit kepala) diminta untuk melihat kamarnya dulu sebelum memutuskan untuk pindah dan menerima kunci. Rupanya kamar yang baru ini much much better, lebih modern (kamar kami sebelumnya model pondok beratapkan anyaman bambu), di sini lebih sedikit nyamuknya, lebih terang dan lebih bersih. Saya yakinkan lagi ke staf hotelnya ‘ini jatuhnya nggak upgrade kan mas?’ dan dia meyakinkan kembali, tidak. Walhasil drama berlanjut ke otong-otong koper dulu pindahan lagi. Dalam kondisi hujan, nunggu gojek lama, lapar dan bolak-balik ke tempat yang berbeda, sukses capek banget saya di hari itu. Gojek akhirnya datang membawa Pizza Margherita yang saya makan dengan terburu-buru. Dalam sesi energy transmission sore harinya, otot spiritual saya baal tak merasakan apa-apa. Capek bangeet…. Dari sudut mata kulihat teman-teman lain melakukan gerakan-gerakan ideomotor yang fenomenal dan berbicara dalam bahasa Aramaic (light language), terutama Tim dan Julia. Tim selalu mengawali light languagenya dengan ‘mmmBah…’ ‘mmmBahh…’ lalu berlanjut ke kata-kata ajaib yang saya baru dengar. Entah Dewa Dewi atau leluhur mana yang mereka channel, namun aku tak merasakan apapun juga. Not even close to what i felt in Berkeley…a current of electricity flowing in my whole body.

Malamnya pun saat kami menerima jamuan free dinner di restoran hotel, saya hanya mampu berbasa-basi seadanya, sekedar mengangguk tanpa benar-benar memperhatikan apa yang dikatakan lawan bicara saya. Esok hari kami harus siap ada di Bus jam 9 pagi. Hari yang indah namun juga stressful. Jujur di momen ini, saya merasa homesick dan pingin pulang. Kalau Abdy bilang kita sudah sempurna dan lengkap adanya, so what’s the point i’m being here?

Selasa, 19 Juli 2016

I don’t have a good mood this morning. Saya meninggalkan pouch make up saya di Jakarta. Bisa apa gue tanpa make up? Sementara aku menggerutu dalam hati, si Sally sibuk menyiapkan oil apa yang harus dia bawa (sakit kepalanya sudah pulih). Dia agak oiler garis keras rupanya, dalam hati aku menilai sepertinya dia di sini juga punya tujuan untuk memprospek beberapa orang dengan antusias. Buku Referensi oil tak pernah lepas dari genggamannya. Temenku ini juga orangnya agak kemrungsung, dia panik karena HP nya gak bisa ter-charge sehingga dia tidak bisa mengkontak keluarganya. Sekilas info, dia meninggalkan dua anaknya bersama soon to be mantan suaminya. Mereka memutuskan untuk berpisah akhir tahun lalu. Sedih banget dengernya, tapi memang dari ceritanya, temenku ini agak kurang disupport secara finansial dan emosional. Akan tidak etis kalau aku ceritakan semuanya. Intinya dia agak mumet kalau nggak bisa dapat kabar dari anak-anaknya, konon suaminya agak dodol dalam mengawasi anak-anak. Jadilah dia panikan bilang Hpnya tidak bisa charging. Dan kucoba untuk ngecharge, dan ditanganku, HPnya langsung bisa charging. Dia kaget… hmm…dalam hatiku, healer juga manusia yah ternyata, kalau lagi mumet ya bisa kacau juga energinya. Akhirnya Sally bisa ngobrol sebentar di facetime sama anak-anaknya, dengan gua ajarin dulu sebelumnya cara pake facetime gimana🙂

Pukul sembilan tepat saya sudah berada di dalam bus. Kami tour ke beberapa lokasi. Menurutku stopnya terlalu banyak ya, jadinya terburu-buru dan tidak fokus. Di hari kedua ini aku mengenal Abdy dengan lebih baik. Dia rupanya time freak. Ngeriii. Saat kami mampir di sebuah pasar, kami hanya diberikan waktu 15 menit untuk melihat-lihat dan berbelanja. Aku membantu Sally menawar alat musik kalimba dan satu Rudhraksa (jenitri) mala. Saya sendiri membeli rempah cinnamon dan star anise bubuk (buat ngeracik hoodoo remedy). Selanjutnya pas kami mampir di pedagang buah untuk beli jeruk, tour guide bus kami datang dengan tergopoh-gopoh dan bilang kami orang terakhir yang belum masuk bus, dan udah mau ditinggal. Buru-buru kami bertiga balik. Olga, salah satu tim organizer, berseloroh ‘Makanya lain kali perhatiin waktunya yaa’ sambil ketawa. Kami cuma mesem-mesem. Kita nggak ngerasa salah karena bagi kita sepertinya kita ontime-ontime aja, belum ngaret sampai 20 menit. Namun begitu kita berhenti di tujuan selanjutnya, Pura Alun Danu; Fiona yang duduk di depan saya berbisik ‘kamu tadi beneran mau ditinggal sama Abdy lho, kita panik banget mohon-mohon supaya tetep nunggu, tapi supir bus beneran hampir disuruh jalan tadi’. Mukaku langsung pucat. Dan kemudian sukses kapok gak berani lagi jauh-jauh dari grup. Selain itu, hujan deras juga terus setia menghantui kami. Tadinya, kukira jalan-jalan sebagai wanita single tanpa anak akan ringan rasanya, ternyata alamak repot juga. Aku memanggul ransel, kamera, dan payung dalam waktu bersamaan menembus hujan.

DSC02916.JPG

Hujan-hujanan di Pura Alun Danu, gelap deh fotonya

Ada insiden-insiden kecil juga di hari ini. Setelah kami selesai makan malam di Ubud, sekitar 25 orang tertinggal di belakang dan ketinggalan bus. Sally termasuk di dalamnya (dan kejadian itu sukses bikin sakit kepalanya balik lagi). Saya meskipun selamat sampai di bus, tapi merasa jompo juga karena jalan dari cafe Taksu ke parkiran busnya jauh banget. Malam itu aku dan Sally benar-benar kelelahan. Sally meneteskan air mata misuh-misuh. Sally dan sisa peserta yang lain harus berebut naik shuttle hotel dan mencarter taksi. Olga jatuh ke parit dan Leslie ketawa histeris. Ada satu sentilan dalam hati, today is soo not sacred, way too far from spiritual nor sacred. Saya merasa hari ini semua orang manusia banget. Kesan-kesan langitan langsung luruh saat kami menghadapi realita kehidupan. Reiki healer, NLP practitioner, Tibetan Bowl sound healer, Angelic channeler, Mary Magdalene Healing practitioner, Matrix Healing Medical intuitive, Craniosacral therapist, dan label-label profesi ajaib apalah itu namanya, semua langsung akan luruh dalam sekejap saat kita dipaksa untuk menjadi menusia biasa. Feeling tired and pissed.

Seakan Abdy sengaja mau ngajarin kita bahwa tugas terpenting kita di dunia ini adalah untuk menjadi manusia.

Dan perut gue gak enak, gosh… makanan apaan sih tadi yang gue makan?

Rabu, 20 Juli 2016

Di hari ketiga Bali Gathering bersama Abdy Electriciteh, runtuh juga dinding pertahananku, aku sukses mbrebes mili sore harinya. Begini kronologinya…. Sesi pagi ini adalah sesi tanya jawab yang rupanya memakan waktu 3 jam. Setiap peserta boleh bertanya apa saja mengenai apa yang sudah terjadi di dua hari pertama. Saya gak fokus karena perut masih masuk angin gara-gara makanan seharian kemarin kurang cocok sama perut saya. Apalagi malamnya kita makan di resto Rawfood Taksu Fresh yang buat lidah saya rasane gak karu-karuan. Pagi-pagi saya sempatkan menaruh baju kotor di laundry kiloan yang murah pake banget di dekat hotel, sekilo cuma 7 ribu saja dan selesai satu hari. Malah saya sempat ngobrol sama mas-mas penjaganya yang ternyata pernah lama tinggal di jakarta. Sisa capek kemarin masih berasa banget, pas jalan balik ke hotel dari laundry dan menuju hall gathering yang tangganya 3 lantai itu, jantung beneran kaya udah mau copot. I keep telling to myself ‘don’t collapse here don’t collapse here’ berulang-ulang. Ditambah lagi, tangga menuju lantai 3 tempat pertemuan kami memiliki energi yang sangat berat agak-agak medheni gitu karena sepanjang lorong tangga ada banyak sekali lukisan kuno. Napas makin tercekat rasanya. Sampe atas, saya kembali oles-oles oil dan minyak tawon di perut biar perut agak kalem dikit. Kalau di rumah sih saya biasa kentut sembarangan sepuasnya kapan saja dan di mana saja, tapi di tempat umum saya gak bisa melakukannya dengan alasan empati sama orang. Jadilah tiap mau buang angin saya kabur ke toilet dulu huhu.

Di tengah-tengah diskusi, Abdy ngebahas lagi kalau besok kita akan makan di Taksu Fresh lagi, wadezig matiiiiik kataku dalem hati. Udah touring seharian kena angin dan hujan, malemnya kudu makan raw organic food lagi, alamaaak. Baek-baek ya perut, pintaku.

Entah kenapa di kesempatan itu saya gak minat melontarkan pertanyaan apapun. Saya lebih banyak menyimak dan mencatat. Para peserta banyak yang sharing curhat release ngedumel tentang perkara semalam tapi sok sok ambil hikmahnya juga hahahaha. Abdy sendiri juga dengan tegas minta supaya kita tidak mengambil video pembahasan tanya jawab ini, karena yang Abdy ajarkan disini hanyalah eksklusif untuk kita soul family yang hadir; seluruh dunia gak perlu paham ataupun setuju. Sneak peeknya adalah seputar ilmu kosmos, yang sebetulnya untuk ngejelasin secara detil juga agak malesin dan susah hehe kalau ada waktu monggo simak langsung aja di banyak liputan dan interview Abdy di Youtube. Setiap peserta menanyakan hal-hal yang hakikat dan makrifat banget. Setiap insan yang hadir di pertemuan ini sejatinya adalah keluarga dekat yang telah melalui entah berapa peradaban dan kehidupan bersama, melakukan misi dan proyek kemanusiaan.

Saat tiba waktu istirahat makan siang saya langsung kabur ke kamar untuk BAB dan self medicating pakai oil DiGize. Didiffuse, dioles, diminum di air putih, semuanya deh. Roommate saya (yang rupanya seorang pasif agresif kaya laki gue itu) makan siang di luar, saya lagi butuh banget juga untuk punya space sendiri. Saya sukses menghabiskan 1,5 jam untuk menenangkan perut, makan seadanya, bikin esteemje panas, dan telpon suami dan anak-anak yang lagi berkunjung ke Tegal. Yusuf kangen banget sama saya, ‘i wanna sleep with you Mommy…’ katanya. Duh hatiku langsung terenyuh. Tapi lebih terenyuh lagi pas ngobrol sama Baim dan dia bilang ‘alright mom you have your own place there now…have fun’ Masya Allah langsung makjleb nerima pesan dari anak 7 tahun yang bijak banget. Semakin tambah terharu. Saya kembali menghadiri sesi siang dengan semangat karena keluarga turut memberikan support.

Abdy menamakan sesi siang ini dengan ‘Soul exchange’. Setiap peserta boleh menentukan ingin menjadi pasien atau penyembuh, kalau penyembuh, harap sebutkan trademark penyembuhannya apa. Saat tiba giliran saya, gak ada hal lain yang terlintas di kepala selain ngerokin. Saya tunjukkan foto hasil kerokan saya ke suami, dan saya sebut ‘healing Indonesian scraping’. Saya tambahkan bahwa Justin Bieber juga melakukannya. Sebelumnya saya perlu mengetes dulu apakah seseorang memang masuk angin. Kalau positif masuk angin baru akan saya kerokin, namun kalau hanya cepek biasa maka saya cuma akan memijatnya pakai oil. Tapi karena saya apa adanya, terlontarlah lagi di mulut ‘ini baru bisa kelar satu jam dan udahannya pasti aku capek banget dan butuh dipijet lagi sama orang’. Abdy langsung agak-agak nyinyir mukanya, dia langsung mengkritik saya di tempat ‘kamu tuh terlalu banyak pengkondisian deh…maksimal 20 menit ajalah. Dan siapa yang bilang kalo sesudahnya kamu akan kecapean? Siapa yang nentuin dan percaya? kamu sendiri kan yang bikin-bikin?’ Another TEREREDUNG JLEB!

Setelah semua selesai menyebutkan ‘jualannya’, kami berdiri dan langsung disuruh praktek satu sama lain melakukan keahlian masing-masing. Seperti pasar tumpah, kami pun mendatangi siapapun yang terlihat menganggur dan menawarkan sesi healing yang syaratnya tidak boleh lebih dari 20 menit per sesinya. Pertama saya menjadi pasien reiki oleh seorang wanita cantik paruh baya bernama Sandra. Wuik kapan meneh rek diterapi reiki gratisan. Rasanya sehabis diterapi reiki tuh ngantuk ya. Si terapis kesannya tidak melakukan suatu gerakan ataupun tekanan yang berarti. She barely even touched me. Tapi badan ini seperti merasakan hangat dan setruman yang bikin nyaman. Once in a lifetime experience banget ini..Alhamdulillah.

Setelah itu saya nganggur, dan Abdy mengarahkan saya untuk menerapi bapak-bapak yang kemarin pas di mau ke Bali panik lihat hijaber baca Quran di pesawatnya hahahaha dia pikir pesawatnya mau di-hijack. Bapak yang sudah lumayan berumur ini bernama  Michles dan dia datang bersama istrinya. Saya minta ijin untuk melepas kaos kakinya dan memijatnya dengan minyak tawon, minyak telon, Digize dan Peppermint oil. Opa ini tinggal di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat; jadi tergolong mudah untuk berkomunikasi dengannya. Dia bolak balik mengacungkan jempolnya sambil bilang ‘fantastic‘ tentang pijatan saya, bikin saya ngakak. Setelah selesai, opa ini meluk saya erat banget bilang makasih. Tidak sampai 15 menit kemudian tentu saja, dia sudah terlelap tidur. Sekarang giliran saya jadi pasien lagi, saya umumkan di depan kelas bahwa siapa saja yang butuh pasien, saya lagi available. Langsung Fiona yang satu Bus kemarin dan satu meja dengan saya tadi malam menawarkan chakra & reiki healing lagi. Rasanya enak banget, padahal cuma disentuh doang 10 menitan. Langsung seger lagi rasanya. Saat saya kembali menganggur, ada ego menyeruak untuk merekam video singkat pemandangan ajaib ini. Betapa serunya…setiap yoga mat menjadi TKP penyembuhan berbagai healers dari berbagai penjuru dunia. Ada yang ujug-ujug channeling bahasa Aramaic, ada yang menggelepar sambil nangis-nangis, ada yang menggelar singing bowls 7 chakra, ada yang menyanyi nada-nada primal dari dalam jiwa, wah excited banget rasanya. Baru mau mengambil HP, eh…ada yang nyolek minta pijet lagi hehe. Kali ini mbak-mbak super hot aal Kolombia yang pingin rasain pijetan saya, dan kembali saya beraksi memijat kaki dan punggungnya. Saya belum terdorong untuk ngerokin, hanya di punggungnya saya terarahkan untuk memberi oil-oil feelings (lavender, harmony, joy). Eh dia sukses ketiduran juga sehabis saya terapi bagian kepalanya.

Suasana di kelas mulai sedikit santai, beberapa peserta mulai rehat dulu duduk ngobrol sambil ketawa-ketawa. Seorang cewek Asia Amerika datang lagi kepadaku minta dipijat. Kali ini kulihat punggungnya gampang sekali merah kalau dikerok (saya tidak menggunakan koin namun kristal nuumite untuk mengerok). Hasilnya gosongg banget dan dia bilang enaknya minta ampun. Iyo awakku sing kesel mbake haha tapi buru-buru inget lagi pesan Abdy bahwa capek dan tepar hanyalah sebuah pengkondisian rekaan gue sendiri. Sesudahnya aku sempat ditawarin jadi pasien sama Clemence, seorang mas-mas sound healer yang mengajakku untuk datang ke ‘lapaknya’ 5 menit lagi setelah pasiennya selesai. Tapi Abdy keburu menyudahi kelas Soul Exchange ini dan menyuruh kita berbaring untuk melakukan sesi Source Energy Transmission lagi.

Dan momen meweknya ya pas sesi ini.

Seperti biasa, Abdy melakukan group transmission seperti yang kaya di youtube-youtube itu. Wah kebeneran lah bisa sekalian leren sambil merem…batinku. Eh sekitar 15 menit kemudian, tiba-tiba aku diterpa serangan rasa haru yang luar biasa. No verbal language can perfectly describe what i felt. Aku dibawa ke rekaman-rekaman memori kehidupan yang pahit dan manis, yang sakit dan senang, yang blissful dan yang koyo taek, dan semuanya berputar bergantian semakin lama semakin cepat hingga semuanya menyatu seperti pusaran air (atau baling-baling pesawat) yang begitu cepat hingga menjadi satu kesimpulan: aku dicintai. Nyaris tak kuasa aku menerima luapan perasaan ini sehingga nangisku sampe yang sesenggukan. Dalam hatiku: please jangan berkembang jadi nangis melolong kaya ibu-ibu kemarin, isin rek…, malah nanti kesannya kaya kesurupan. Kepalaku masih penuh dengan berbagai penghakiman dan komentar. Namun detik kemudian, ada tangan yang menggenggamku dari samping kanan. Kupikir si Julia, terapis Mary Magdalene healing yang energinya goddess abis itu. Perlahan aku bisa calm down dan mengambil nafas panjang, airmataku terus mengalir namun tidak sesenggukan lagi. Tangan misterius itupun mulai melonggarkan genggamannya dan melepasku. Asyem, ini pertama kalinya energi cinta di ruangan ini begitu dahsyat sehingga aku tak mampu lagi membendungnya. Setelah sesi selesai dan aku membuka mata, rupanya yang menggenggam tanganku tadi adalah Emily, istri Abdy, yang ndelalah kok sore ini memilih untuk berbaring di sampingku.

Malam itu aku memilih menyendiri di kamar, melewatkan makan malam, menenangkan perut, dan mencoba mengendapkan semuanya.

Kamis, 21 Juli 2016

Sakit perutku masih tersisa sedikit. Semalam saya terbangun untuk ke belakang dan kemudian terjaga selama 3 jam. Pagi ini saya masih merasa capek dan ngantuk. Saya memilih untuk tidak membawa kamera DSLR, males banget kalau ternyata mendung dan hujan lagi. Dan saya juga menyerah kalah minta ijin ngembatin make upnya Sally. Sally dengan senang hati meminjamkan alat make upnya ke saya. Agak kaget sih, ternyata ritual make up Sally simpel sekali, hanya foundation, blush on, maskara, dan lipstik. Sungguh sesuatu hal yang baru, dan terasa kurang afdol di saya; namun riasan simpel ini sudah cukup untuk menutupi garis hitam di mata panda saya.

Saat selesai sarapan, kami mendengar berita yang sangat bikin kaget. Salah satu kawan kami bernama Kerry dari Phoenix Arizona mandapatkan kabar bahwa suaminya meninggal. Aku melongok kaget dibuatnya. Kerry ini kemarin sempat menyapa dan ngajak ngobrol menanyakan kabar anak-anak saya, dia orang yang baik dan ramah. Ya Allah, Tuhan…..sedih banget dengernya. Abdy berujar Kerry akan berangkat kembali ke AS malam ini.

Di dalam Bus saya bengong, what a twilight zone. Sepanjang jalan saya lebih rajin lagi mengoleskan peppermint dan DiGize di perut, sambil berdoa semoga cuaca hari ini lebih bersahabat dan nggak bikin saya masuk angin lagi. Saya sempat diajak ngobrol dengan Leslie, peserta senior yang sudah ikut sesi gatheringnya Abdy sejak 2002. Leslie bercerita tentang daerah asalnya di Australia. Ternyata Tazmanian Devil itu makhluk nyata dan sudah nyaris punah saat ini, tinggal beberapa ekor saja yang kerap mengawasi savanna dalam gelap. Kunikmati alur cerita dan energi Leslie yang ceria, tentang hari lahirnya yang bertepatan dengan mulai punahnya populasi Tazmanian Devil, dan kisah tanggalnya seluruh gigi rahang atasnya akibat masalah periodontal. Saya penasaran bertanya apakah gigi rahang atasnya itu implant. Dia jawab bukan, itu adalah denture/gigi tiruan lengkap (GTL Rahang Atas). Dia hanya boleh menggunakannya selama satu jam demi menjaga kesehatan dan sirkulasi darah di gusinya. Kisahnya berlanjut ke pengalamannya bekerja sebagai Registered Nurse selama beberapa dasawarsa yang penuh dengan derita dan nestapa hehe, sounds familiar to me. Sayapun bercerita tentang latar belakang saya sebagai dokter gigi dan mengemukakan beberapa pendapat mengenai bagaimana seharusnya praktik kedokteran gigi bisa lebih holistik lagi. Raut mukanya tiba-tiba berubah agak kaget dan matanya membelalak. Dia kaget akan sebuah kebetulan ini, katanya…semalam spirit Mother Mary (Bunda Maria/Maryam binti Imran) datang memberikan beberapa wejangan kepadanya dan salah satunya adalah: kamu akan bertemu dengan seorang Divine Dentist. ‘And that is you!’ katanya. HOAAA? tentu saja saya bengong. Seorang peserta bernama Angel yang duduk di belakang saya pun jadi ikut nimbrung, Angel ini adalah seorang counselor/psikolog yang kehidupan profesionalnya juga lumayan ribet dengan birokrasi profesi. Tapi berbeda dengan saya dan Leslie, Angel memilih tetap bertahan menjalani ‘derita’ profesinya demi bisa mendakwahkan hidup eling dan damai kepada klien-klien prakteknya. Seru dan nyambung banget obrolan kita bertiga pagi itu. Saat Bus melaju, pikiranku riuh dengan konsep how to create a positive ripple effect in the world through our existence.

Alhamdulillah rupanya tour hari ini tidak seberat dan sehectic Selasa kemarin. Kami mengunjungi rumah tradisional Bali penduduk lokal, melihat keajaiban pemandian sakral Pura Tirta Empul, dan mampir rehat di sebuah kafe Kopi Luwak. Kerry masih berusaha ikut tour hari ini meski saya tahu kondisi hatinya sedang tidak karu-karuan. Wajahnya masih menampakkan senyum yang ramah. Alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk memeluk Kerry tanpa mengcapkan apa-apa. Abdy malah lebih parah lagi…dia bilang kematian suami Kerry adalah hadiah buat Kerry yang naasnya pas banget lagi ultah, karena sesungguhnya Kerry nggak harmonis-harmonis amat dengan suaminya itu namun kondisi tidak memungkinkan Kerry untuk leaving. ‘Yauwis…pas tho suamimu dipanggil Tuhan?’ kurang lebih begitu terjemahan dari pesan super gamblang dan super nyeplos tapi bener banget khas Abdy.

Ada satu kejadian menarik saat kami mengunjungi rumah penduduk. Abdy menghampiri saya dan bertanya ‘So, How do you enjoy this?’ Saya jawab saya suka dan ini mirip seperti yang saya jalani di pelatihan Doula dulu, di mana kami mengunjungi rumah penduduk yang sedang mengadakan upacara 40 harian bayi. Saya ceritakanlah secara singkat tradisi 40 harian itu kaya gimana. Abdy kemudian bercerita bahwa dulu kedua anaknya lahir dengan bantuan seorang Doula bernama Uva di Costa Rica. Dia asli Jerman namun saat ini tinggal di Costa Rica dan rutin keliling dunia untuk mengajar.  ‘She is very amazing, very connected to the Source, very spiritual, and you will see her one day. Matik….aye diramal ketemu Uva Meiner. Ucapan Abdy tersebut agak bikin saya merinding ya…secara porsi doula-ing saya kan sudah beralih memudar digantikan oleh porsi dukun-ing. Klaim Abdy bahwa di hidup ini saya akan dipertemukan oleh Uva dan belajar kepadanya agak bikin  fixed feelings, antara excited dan ah yang bener….But we’ll see, i’m open to anything.

Di separuh hari akhir, ada drama yang lain. Di Pura Kehen, saat kami akan beranjak pulang ke Ubud; ada sebuah kecelakaan yang menimpa kawan kami Alyssa dari Perth, Australia. Alyssa jatuh terpeleset di jalan yang licin di pelataran Pura, dan mengalami retak multipel di bagian ankle-nya😦. Alyssa berasal dari rombongan Bus yang berbeda denganku. Perjalanan kami pun tertunda oleh insiden ini. Oh come on….not again. Hoalaaah opo meneh ikiii. Aku bolak balik hirup oil cedarwood biar nggak panik dan kembali grounding, sampe temen-temen yang lain akhirnya juga pada minta. Ada banyak banget peserta yang turun dari Bus dan ngerumunin Alyssa. Aku memilih untuk tetap di kursiku dan meresapi spiritual retreat pertamaku yang penuh dengan drama dan warna ini. Bus yang saya naiki langsung mengantar kami menuju Resto Taksu (again) untuk makan malam, dan Bus lain mengantar Alyssa ke Rumah Sakit dulu. Sepanjang makan malam kami kasak kusuk membicarakan perkembangan Alyssa, siapa yang menemaninya di RS, apa diagnosanya, dan sebagainya. Sudah tentu Abdy dan cowok-cowok lain mendampingi di RS dan tidak muncul di cafe Fresh Taksu sampai kami pulang. Makanan organik malam itu kembali membuat perut saya kembali melilit, meh. Dasar perut produk chemically engineered food, nggak biasa makan makanan bersih. Malah jadi mules begini dan malamnya jadi indigestion lagi. Begitu banyak hal di hari ini yang bikin geleng-geleng kepala. retreat kok ya bisa chaotic benget gini sih?

Satu hal unik yang Abdy bilang ke kita, bahwa Kerry dan Alyssa datang ke pertama kali ke Hotel dalam satu taksi yang sama, dan kini mereka berdua sama-sama pergi meninggalkan kita duluan. Kurenungkan berbagai fakta aneh tapi nyata ini di dalam tidurku.

 

IMG_7482

Saya dan Alyssa sempat berfoto di bagian belakang Gerbang Pura Kehen dan mengagumi pohon beringin raksasa yang begitu magis

Jumat 22 Juli 2016

THANK GOD IT’S FRIDAY!!!!!

Hari ini adalah free day dimana tidak ada acara apapun bersama Abdy, kami boleh pelesir kemanapun dari pagi sampai malam. Aku agak bingung tadinya mau kemana, antara pingin sowanin ibu Robin ke Klinik Bumi Sehat, main ke Wisdom Shop, nekat nyari rumahnya Shervin Boloorian (guru sound healer yang pernah saya ikuti workshopnya di Jakarta) dan sowanin dia, atau window shopping di Downtown Ubud. Namun jempol dan jiwa otomatis ngubunginnya ke Yasmin, rekan satu angkatan di EPD dulu. Rasanya sudah kangen pingin cerita-cerita banyak. Yasmin mengajak saya bertemu di sebuah cafe bernama Monseur Spoon di jalan Hanoman. Saya berjalan cukup jauh dari pemberhentian shuttle hotel di Ubud Palace. Ada kali 35 menit baru nyampe, my workout of the day, hehe. Saya sampai duluan dan memesan satu iced cappuccino latte dan satu mini chocolate tart. Harganya nggak bikin ilfeel, menu minuman dan makanan berkisar antara 30-58 ribu saja. Yasmin muncul di pintu dan sayapun dadah-dadah ke dia. Kami berpelukan dan mengeluarkan suara-suara berisik yang heboh. Seperti bertemu keluarga yang lama terpisah. Kami mengobrol tanpa henti sampai kurang ebih 5 jam huahahahahahaha. Kita sama-sama nangis dan release, ketawa, ranting, ngobrol hantu, permaculture, ngomongin pasangan masing-masing, curcol mengenai luka kami masing-masing di masa lalu, pengalaman ketemu spirit guides, menyampah dan mengkritik dunia seperti dua alien yang sedang melakukan galactic meeting. Meski sambil terkantuk-ngantuk (semalam kurang tidur lagi nenangin perut dan mikirin insiden-insiden ajaib), aku merasa segar dan excited mengikuti cerita Yasmin. Healing banget bisa ngobrol dengan sesama doula sakti yang ilmu hakikatnya juga udah mumpuni banget. Kami meninggalkan cafe saat sudah hampir tutup, dan semua pastry sudah habis. Yamin memboncengku untuk hunting perintilan sound healing yang secara khusus memang kuniatkan untuk beli di sini. Saya sudah lama ingin memiliki sebuah lonceng Bali yang biasa digunakan dalam upacara adat. Muter-muter di beberapa tempat, akhirnya nemu di toko Ekasari Jalan Hanoman. Meski lonceng yang dijual hanya berupa lonceng replika biasa yang proses pembuatannya tanpa melibatkan prosesi sakral mengikuti fase bulan, namun saya menemukan satu buah yang bunyinya paling bening dan pas di hati. Harganya juga nggak sampai 300 ribu, konon yang lonceng ‘beneran’ yang dipakai para Pemangku adat harganya bisa mencapai kisaran 1 hingga 2 juta rupiah. Selain itu saya juga membeli 2 buah alat musik kalimba untuk anak-anak di sebuah toko bernama Lucky Family musical instruments. Di toko ini juga saya jatuh cinta dengan sebuah Native American Drum dan sebuah chakra chimes yang bunyinya menusuk jiwa. Dua alat musik ini serasa langsung lengket aja sama tangan dan hatiku, namun aku hanya mencobanya selewat dan berencana mengikuti intuisi selama sehari kedepan, gak mau impulsif. Malam itu saya sampai hotel dengan hati bahagia. Yasmin sudah memberikan suntikan semangat yang besar buat saya, sisterhood empowerment. Ditambah lagi saya bisa nemu warung tenda enak banget dan memesan nasi goreng tak jauh dari hotel. Saya makan dengan lahapnya sambil mengobrol dengan penjual yang asli Jawa Timur. Tidak terasa besok sudah hari terakhir, saya mulai menikmati keberadaan saya di sini. Anak-anak di rumah juga happy karena ibunya happy nggak kepikiran. Bobo saya malam itu nyenyak banget.

Sabtu, 23 Juli 2016

Ya ampun udah hari terakhir aja. Saya terbangun sangat awal saat langit masih gelap, sekitar jam 5-an. Cek-cek HP, lalu merasakan dorongan yang amat kuat untuk earthing dan meditasi di luar. Ini adalah pagi terakhir yang bisa kunikmati di Hotel mahal warbiayasak ini, pikirku. Di dalam gelap gulita (akibat teman sekamar yang mungkin half troll dan bisa meleleh kalo kena cahaya ini) kucari japa mala rudhraksa kesayanganku, kubuka pintu kamar yang langsung berakses ke lapangan rumput dengan kolam ikan berbentuk persegi sebagai focal pointnya. Kubiarkan kaki telanjangku mencicip dinginnya rumput basah di pagi hari. Kupilih sebuah kursi lounge yang berada di bawah pohon. Karena otak yang masih belum on, kuputuskan untuk mengulang kata Ahem Prema yang artinya I Am Divine Love. Jadi chanting ini semacam dzikir sih, yang kalau di kita (Islam) mengucapkan lafadz-lafadz Arab dan repetisinya 99 kali. Kalau chanting mantra di Hindu/Buddha menggunakan ‘tasbih’ japa Mala yang repetisinya 108 kali. Tujuannya sama, yakni untuk bisa fokus melebur ke dalam lafadz atau mantra yang kita ucapkan untuk kemudian dapat mengkondisikan batin untuk kembali ke ke fitrah atau true essence kita: seorang insan yang sempurna dan mulia, wujud cinta yang Maha Kuasa, dan sekaligus juga ekspresi unik Allah untuk Alam Semesta. Kalau saya sampai terang-terangan membagi hal ini dalam blog saya, karena sudah kepalang tanggung. Sudah terlambat bagi saya untuk takut mengakui bahwa…i taste God in every form and any way i want. Viralnya vlog saya tentang Kristenisasi dan Islamisasi di sini serta ribuan caci maki para anonim di komen di bawahnya malah makin membuat saya selevel lebih kuat. It’s okay to express my true self. And it’s okay to have resistance from others. Saat saya mengucapkan Ahem Prema di dalam hati dan menggeser butir demi butir rudhraksa beads di jemari saya, saya merasakan cinta. Saya bisa rasakan tetes-tetes embun perlahan jatuh menyentuh lembut paha, punggung, dan rambut saya; seakan butir air itu menyapa selamat pagi khusus kepada saya. Sekujur tubuh saya ikut bergetar bersama tiap lantunan mantra yang saya ucapkan hingga selesai.

Sesudahnya, saya baru nyadar kalau ternyata cahaya Bulan sisa full moon kemarin masih terang. Literally saya sedang diterangi sinar rembulan. Secara naluri saya pingin rebahan di kursi lounge sambil memandang Bulan. Saat memposisikan punggung, tiba-tiba sandaran kursinya sukses ngejeglak ke belakang. Kaget luar biasa. Asyem, what are you doing to me?? (ngomel sama entah siapa). Sumpah kaget banget karena badanku ikut terjengkang hingga posisi datar sejajar dengan kaki. Shoot, am i that heavy now? Kursi loungenya jadi datar, lebih kaya meja pijet sekarang, dan aku berbaring telentang di atasnya, dengan mala tergeletak di bawah kakiku. Setelah sejenak menyembuhkan kaget dan menormalkan nafas, aku melihat kini seluruh tubuhku sedang bermandikan cahaya rembulan dini hari. Oh wow…jadi ini toh maksudlo ngejeglakin gue Tuhan…. Asik juga, i can feel that i am charging now, i can feel that my Mala is charging too. All part of my existence is now receiving energy from the waning moon. Kunikmati momen romantis sendiri ini sampai langit Subuh berganti pagi dan langkah kaki terdengar dari seorang staf yang mematikan lampu koridor dan menyalakan air mancur kolam. Sudah jam 6 pagi, tubuhku segar sekali.

IMG_7394

Tidak ada yang tahu materi penutup dan hands on apa yang akan diberikan Abdy kali ini. Kita sudah mulai meresapi dan mengikuti prinsip let go of control ala-ala Abdy. Saya sudah menyicil packing. Semua baju bersih yang baru diambil dari laundry dan baju kotor sudah rapi tertata. Tinggal perintilan alat mandi dan kamera saja yang belum kusiapkan, alas yoga dan bantal selimut juga baru sore nanti bisa aku packing. Pagi ini Abdy kembali memberikan wejangan dan rangkuman tentang apa saja yang kita alami bersama seminggu ini. Kenapa harus ada human error dan miskomunikasi, kenapa ada musibah yang menimpa beberapa dari kami, kenapa Pura Kehen seakan mistis sekali. Seru sekali pembahasannya, kamipun tak ada yang bergerak sedikitpun, mata kami tak pernah lepas dari Abdy. Ada banyak teman yang sharing pengalamannya masing-masing. Ada yang menyesal tidak bisa mencegah jatuhnya Alyssa padahal dia ada di dekatnya waktu kejadian. Abdy bilang, tidak ada yang bisa mencegah sebuah pengalaman yang memang seharusnya dilalui Alyssa. Tidak ada yang patut mengemban rasa bersalah atas sebuah musibah yang pada akhirnya berefek baik bagi kehidupan seseorang. Sesungguhnya keinginan untuk menolong dan memperbaiki kondisi orang lain juga adalah ego. ‘Hmm…termasuk keinginan untuk memboyong segenap penduduk dunia masuk Surga versinya dia yah pakde’, timpal saya dalam hati. ALL is part of the Nature, the good, the bad, the pretty, the ugly, the chaos, peace, Donald Trump, vaksin palsu, vaksin asli!, Monsanto, bakar Gereja, atheis, kumpul kebo, Islam kejawen, Jonru, Jokowi, Ahok, Israel, Menteri Pendidikan, korupsi, kemiskinan, pembakaran hutan, penjagalan hewan, vegan, saya, kamu, orangtua, sistem pendidikan, bencana alam, kegagalan, perceraian, pertemanan, perpisahan, pengkhianatan, jilbab syar’i, jilboob, tak berhijab, Abang Habib Izieq, ISIS, Salafy, Ahmadiyah, Suriah, Syiah, utangmu, dengkulmu, endasmu, kabeh…is part of the Nature.

Dengan demikian kami diharapkan dapat terjun kembali ke dunia masing-masing dengan tidak lagi menjadi control freak ngurusin kehidupan orang lain, mbenerin kelakuan orang lain, mati-matian nyembuhin orang lain, mati-matian memperbaiki seluruh dunia dengan menjadi seorang fixer upper.

Even the destruction and the corruption of the Nature is also part of the Nature itself.

jleb….

Kalau ada seseorang yang sakit parah, taruhlah misalnya kanker, and he’s dying…yang menderita sebetulnya siapa, dia atau keluarganya?

Kalau ada seseorang meninggal, dan ramai-ramai kita mengadakan peringatan hari kematiannya dengan tradisi seremonial yang jenisnya berbeda-beda di seluruh dunia, sebenarnya itu diadakan untuk siapa? untuk yang meninggal atau untuk keluarganya?

Kalau ada seorang anak yang terlahir dengan special condition/disability, sebenarnya yang paling perlu ditolong anaknya atau orangtuanya?

Jawabannya selalu sama, It’s all about the mourning family. It’s all about us.

Sejatinya…apa-apa yang kita lakukan sebenarnya hanyalah demi diri kita sendiri, bukan siapa-siapa. Kita selalu ingin mengontrol segala kondisi di luar demi merasa aman di dalam.

Saat Abdy mengatakan hal tersebut, kami semua tenggelam dalam jeda hening yang panjang. Dan Abdy tidak pernah mengulangi materi yang sama untuk setiap Gathering. Dalam setiap event yang berbeda, pesan yang ter-channel akan selalu unik sesuai dengan kondisi dan situasi saat itu. Ceramah Abdy tidak pernah terencana, semuanya flowing apa adanya. Tanpa beban, tanpa kekhawatiran yang tidak perlu. Wow ternyata begini kalau seseorang sudah dalam kondisi berpasrah dan surrender menjadi perpanjangan Divine Source. Dengan indah dia mampu menjadi vessel atau corong penyambung namun tetap asertif.

Setelah itu kami kembali menjalani sesi Soul Exchange. Makin banyak yang ngantri pingin saya kerokin dan saya pijat pakai oil. Saya langsung mengerjakan tiga orang berturut-turut. Satu orang cowo bernama Clemence (the Tibetan sound healing practitioner) yang gampang banget channeling ini sampe mengaum-ngaum pas saya kerok, bahahaha kalo orang awam yang liat langsung bisa diliput Hitam Putih atau bahlan ILK (Indonesian Lawak Klub) nih. Satu orang lagi bernama Catherine juga sama, saya ngerokinnya biasa, tapi dia bergetarnya ampe heboh banget, sekujur bahu dan dadanya yang beneran vibrating gitu, sampe ribet saya ngerokinnya wkwkwkwk tapi emang pas gosong banget hasilnya. So it’s soo awesome, i barely did anything energetically…i just scraped their back, tapi respon yang keluar bisa epic banget karena mereka adalah orang-orang paling sensitif secara energi.

Pasien saya yang paling unik di hari ini adalah Fiona yang menderita suatu penyakit kronis di livernya (Hepatitis B). Bila kalian lihat di foto kedua di atas, Fiona ada di pojok kiri, sedang duduk sambil menunduk. Kalau diingat, di Soul Exchange hari pertama Fiona sudah menerapi saya dengan Reiki. Kali ini saya yang berkesempatan gantian healing dia. Berat badannya menurun drastis karena penyakit ini, dan kulitnya pucat agak kuning. Saya dudukkan dia di yoga mat saya, saya tidak ingin mengeroknya. Secara intuitif saya hanya lakukan pemijatan di area tengkuk dan punggung menggunakan beberapa essential oils. Tubuhnya masih menyimpan energi kehidupan yang sangat baik, namun ia mendapati banyak masalah dari serangan patogen dari luar. Imunitasnya lemah sekali, dari raut wajah ia sudah tampak lemah, dan sering terbatuk. Saya pijat perlahan area tulang punggungnya untuk memasukkan molekul oil yang healing dan purifying. Entah kenapa, kontak fisik antara kulit saya dengan punggungnya begitu kuat membangkitkan clairsentience saya. Tangan saya meraih oil DiGize, menuangkan satu tetes di telapak tangan, dan mengoleskannya di area liver Fiona. Da saya seperti tersedot dalam kesadaran sang liver. Ada banyak kesedihan dan amarah yang saya rasakan. Saya reflek malantunkan mantra Triambakam (well being mantra), awalnya dengan suara yang kecil separuh bersenandung, namun perlahan nyanyian saya semakin nyaring dan bergetar. Sentuhan telapak tangan saya dengan liver fIona membuat saya meneteskan air mata selama beberapa detik. Lalu saya stabil kembali, dan saya suruh Fiona menghirup beberapa oil seperti Acceptance, Present Time, dan Into the Future. Saya minta Fiona untuk mengatupkan kedua tangannya di dada selama lima menit dan hening. Setelah selesai, Fiona memeluk saya dengan erat dan melontarkan sesuatu yang sebenernya agak ragu mau saya tulis, hadeeeh soalnya bikin riya euy. Dia bilang ‘this is the most beautiful and powerful healing i ever received here‘. Aku jadi gak enak hati rada-rada blushing gitu dengernya. Leslie juga ikutan nimbrung datengin saya (karena jujur kayaknya semua yang ada di ruangan itu sempat terbengong-bengong mengetahui saya yang berhijab dapat fasih melantunkan mantra sanskrit yang mungkin mereka sendiri belum hafal). Leslie berujar ‘aah you’re carrying a very beautiful Divine Mother love and energy‘. Dan dia endingnya minta diterapi juga haha. Gak ada yang salah dengan Leslie, saya hanya memijat dan mengoleskan oil biasa. Leslie ini the top three healer diantara kami; dia gantian menjanjikan saya sebuah sesi terapi setelah istirahat makan siang. Saya tersenyum lega, asyik gue diterapi Leslie. Siang itu saya memilih untuk makan sendirian di warung dekat hotel yang ramai didatangi para karyawan, nasi bali ayam suwirnya enak banget dan murah. Sembari makan saya sempatkan untuk web check in penerbangan saya besok siang menggunakan Citilink.

Kami berkumpul kembali jam 13.45. Leslie langsung menidurkanku telentang, dan memulai teknik penyembuhannya. Dia seperti melakukan perpaduan teknik mudra, reiki, napas, dan…metode injek. Yes…dia benaran nginjek kedua telapak tangan saya bergantian dengan satu kakinya hingga menempel lantai. Sama sekali tidak sakit, malah enak dan sayapun mengantuk. Sesi tersebut selesai dalam 15 menit, lalu Leslie menyelimuti saya. Saya merasakan kondisi trance yang kuat, mata saya jadi berat dan seluruh tubuh relaks seperti habis disuntik zat pelemas otot. Abdy membuka sesi tanya jawab terakhir, namun saya tidak mempedulikan apa yang Abdy katakan di depan kelas. Setelah kondisi trance itu berlangsung 15 menit, saya kembali sadar penuh untuk bisa mengambil notebook dan pulpen, mencatat setiap kalimat Abdy yang selalu bermakna dalam.

Kemudian kami dipersilahkan untuk bergiliran berbagi uneg-uneg lagi tentang apa yang dirasakan di akhir acara ini. Dan di sini saya sudah langsung mewek dengerin cerita orang-orang. Gak tahu ya…setiap seseorang berbicara, saya merasakan pancaran cinta yang terlontar dari mukanya, mengenai saya dan seluruh ruangan. Saat orang berikutnya berbicara, pancaran cintanya nambah lagi. Jadilah aku seperti tertampar-tampar plak plok plak plok oleh kepungan emosi yang sangat intens, kaya mau tumpah. Saat tiba giliranku, aku bilang terimakasih kepada Emily dan Abdy yang sudah memberi kesempatan yang begitu berharga buat saya untuk menghadiri sebuah retreat yang life changing.

Mengenal Abdy dengan lebih intensif selama seminggu adalah sebuah pengalaman yang tidak bisa tergantikan oleh apapun. Kadang dia bikin ngeri, kadang galak, nyeremin, njeplak, nyebelin (saya masih baper karena dia menolak untuk kuajakin selfie berdua, gak penting katanya hiks); namun dia juga begitu lembut, baik hati, dan penyayang. Dia selalu dengan sabar melayani semua pedagang buah yang ngerubungin dan menyerangnya dengan agresif di manapun kami bertandang. Itu pedagang buah beneran yang diborong semua sampai habis, lalu buahnya dibagikan untuk kami semua. Di Pura Tirta Empul dia memborong pisang, di Gunung batur dia memborong jeruk.

‘Kenapa kamu harus membeli semuanya Abdy? kamu punya pilihan untuk gak beli kok’

‘Kenapa nggak? saya seneng beli dari orang-orang baik dan jujur, buahnya juga enak kan rasanya?’ ujarnya sambil tersenyum

Beda ceritanya dengan Leslie, kalau dia sukanya menolong tapi kudu main ‘game’ dulu sama penjual-penjual itu. Ada satu penjual kaos yang sukses dia kerjain, dia melakukan proses tawar menawar dari atas bus dan kemudian memasang muka gak minat hingga membuat raut muka penjualnya berubah mupeng memelas penuh harap. Dia biarkan penjual itu kecewa dan pasrah tak jadi dibeli. Lalu, saat bus sudah beranjak bergerak pelan meninggalkan tempat itu; Leslie baru memanggil kembali sang penjual dan membeli kaosnya dengan harga sebelum ditawar. ‘It’s not about the money…i just love playing the game with them hahaha

Sembari menangis haru, saya mengatakan hal ini ‘Each of your face will always be remembered and loved, i will always energetically hug all of you. This is a group that’s already whole from the start, not demanding and needy. I know that i am here to complete this human crystal grid, and i’m very grateful for that’

Kami semua di sini sedang mempersiapkan sebuah transformasi energi dalam skup worldwide. Sepuluh tahun yang lalu, ternyata Abdy juga sudah pernah mengadakan retreat yang sama di Hotel ini juga. Momen itu dia sebut dengan inisiasi atau menanamkan benih. Dan sekarang adalah masa panennya, semuanya telah selesai ‘dimasak’ dalam tungku kesadaran universal. Joel, seorang clairvoyant ganteng berkebangsaan Australia yang sehari-hari bekerja sebagai pelukis mural profesional sempat membagikan apa yang hadir di vision mata ketiganya. ‘secara energi, di ruangan ini sudah terbentuk sebuah vortex yang sudah mulai berpendar ke segala penjuru Bumi, bentuknya seperti bunga utuh dari akar hingga kelopak, indah sekali, apa yang memancar dari kelopak akan kembali ke akar, dan dari akar akan naik ke kelopak, begitu seterusnya’

Apa yang terjadi akan terjadi dengan sendirinya tanpa kita harus melakukan apa-apa. Persis seperti sebuah kepompong yang menetas jadi kupu-kupu. Seperti bayi yang lahir secara vaginal. Seperti telur ayam yang menetas. Seperti kecambah yang menembus tanah. Siapalah kita? yang hanya manusia, tidak dapat melakukan intervensi apa-apa. Kita hanya bisa mengijinkannya hadir, dan menyerahkan diri menyatu di dalamnya. Saya jadi sangat bersyukur karena sudah di dekatkan dengan dunia persalinan. Karena persalinan adalah refleksi kehidupan dan kesadaran Alam Semesta itu sendiri. Sebuah kesyahduan merayapi seluruh keberadaanku, saat akau menemukan sebuah AHA moment ini.

Sebagai penutup, kami menjalani sebuah energy transmission terakhir. Kami secara opsional dipersilahkan untuk chanting mengikuti suara primal kami. Abdy memulainya dengan melagukan suara-suara tenggorokan yang terdengar tribal. Lalu seperti biasa, kami secara massal ditidurkan. Aku yang sudah enggan berekspektasi ini, tak lagi berharap sesuatu yang epic terjadi padaku di sesi ini. Tak perlu bertemu dengan kakek berjenggot putih panjang di gerbang pintu khayangan. Tak perlu melayang melakukan perjalanan astral ke tempat persemayaman para Dewa Dewi. Tak perlu mengalami versi mini Isra Miraj-nya Rasulullah, ngukur galaksi luar angkasa dan hopping dari satu dimensi ke dimensi lainnya. Tak perlu main catur dengan Gusti Allah. Tak perlu ngopi-ngopi atau makan mendoan bareng Gandhi dan St. Francis. Cukup saja aku di sini merebahkan tubuh dengan nyaman, menggumamkan Om bersama kawan-kawanku yang lainnya, menyumbangkan satu nada dasar untuk melengkapi vibrasi kolektif yang indah. Suara yang kukeluarkan secara insting benar-benar datang dari tenggorokan yang paling dalam, rendah banget meski bukan overtone singing. Menarak nafas panjang hingga perutku menggelembung, melepaskan satu nada Om yang panjang dan dalam, lalu istirahat untuk memulai lagi. Kondisi sekitarku ‘riuh’ seperti yang sudah-sudah, bukan situasi yang asing lagi bagiku. Tim dan Julia dalam kondisi trance masih ‘ceramah’ dalam bahasa Aramaik kuno entah kepada siapa, mungkin hanya mata ketiga kami saja yang bisa mengerti dan men-download. Secuil sudut pikiranku yang masih aktif kembali melayang membayangkan Native American Drum dan Chakra xylophone yang kemarin kulihat di Lucky Family Music, seperti menggodaku untuk kembali ke sana malam ini dan jadi membelinya. Lalu aku kembali fokus ke harmonisasi chanting Om yang kulakukan bersama yang lain. Dengan kondisi mata selalu terpejam. Seketika, tangan kiriku melakukan gerakan involunter ke atas, mengembangkan telapaknya seperti sebuah parabola jaman dahulu, dan tetap dalam posisi seperti itu seterusnya tanpa merasa pegal dan lelah. Sementara itu, tanganku yang lain tetap diam menyelip di bawah bantal karena posisi berbaringku miring menghadap kanan. Saat itu pikiranku masih lumayan terlatih untuk fokus tanpa penghakiman. I tried not to react in any possible way. Kubiarkan segalanya terjadi. Kubiarkan pikiranku menjadi pengamat yang baik. Kurasakan pergelangan tangan dan jari jemariku berinteraksi dengan partikel energi yang makin penuh dan intens hadir di ruangan ini. Tanganku melanjutkan kegiatan involunter/ideomotorik-nya. Dan terjadilah momen itu, saya merasakan jutaan partikel menghambur keluar dari pergelangan tangan saya yang selalu menghadap ke arah depan (panggung). Entah apa yang saya alami ini, terasa antara seperti arus listrik, kesemutan yang mengalir keluar, atau mungkin ribuan lebah berukuran mikro. Saya benar-benar bisa menyentuhnya dan bermain-main dengannya. Mata saya tetap terpejam dengan relaks. Sekali saya beranikan diri untuk memanipulasi gerakan tangan saya membentuk simbol infinity (delapan melintang), dan lalu malah sensasi aliran energi menjadi hilang dari tangan saya. It only happened when i let go of control… 

Di sini saya dipaksa untuk belajar lagi tentang makna surrender. Saya tahu Abdy menolak berselfie dengan saya karena dia dapat membaca hati saya dan tahu kebutuhan selfie ini hanyalah untuk ajang memuaskan ego (seperti yang kalian tahu, saya menggunakan selfie dengan berbagai guru dan trainer terkenal sebagai resume online di medsos, yang lagi-lagi adalah demi untuk memboosting praktik coaching saya). Setahun lalu mungkin dia masih oke berfoto dengan saya di Berkeley, karena mungkin level saya masih segitu, yang selalu butuh pengakuan lewat instagrammable photos. Namun seiring dengan spiritualitas saya yang semakin berkembang, he wants me to understand that a close relationship doesn’t need a selfie.

Saat saya biarkan tangan saya kembali idle tegak ke atas, pancaran energi yang luar biasa hebat kembali keluar dari telepak tangan saya.Dan saya berpasrah, tidak membuka mata, tidak mengintip meski ingin. Begitu seterusnya hingga tak terasa hal tersebut berlangsung lebih dari 20 menit dan Abdy pun mengakhiri sesi tersebut.

‘What you just experienced is the topping of everything we had here. We’ll gather at the lobby in 10 minutes. We’ll embark for our last dinner’

 

 *** POST GATHERING LIFE ***

Waktu berjalan begitu cepat semenjak saya pulang dari Bali. Yes, saya jadi membeli Native American Drum dan Chakra Xylophone-nya. Lumayan jadi kantong bolong setelah pulang gathering haha.

Jemari tangan kiri saya masih suka menari sendiri di saat-saat tertentu. Pernah suatu kali di sebuah tempat makan seorang bikkhu yang sedang berkeliling meminta dharma mendatangi saya dan saya berikan uang seadanya. Saat ia pergi, tangan kiri saya yang sedang main HP tiba-tiba bergerak membentuk mudra-mudra tertentu ke arah Bhikku tadi; lalu saat ia sudah menjauh, tangan saya kembali diam. Seperti ada sebuah aktivasi di tangan kiri saya, tapi sekali lagi saya tidak ingin menjanjikan apa-apa atau mengharap yang muluk-muluk. Saya langsung disibukkan oleh rutinitas mengantar jemput anak sekolah, yang mungkin update cerita tentang sekolahnya anak-anak suatu saat akan saya bagi di postingan lain. Saya resmi menjadi bagian dari kehidupan kota yang ruwet awut-awutan. Tuhan sudah begitu baik memberikan saya kesempatan mengikuti retreatnya Abdy sebelum terjun ke chaotic life ini.

Konon setelah bertemu Abdy dan menjalani proses aligning, salah satu hubungan yang kita punya akan bergejolak, relasi-relasi yang sudah tidak sesuai dengan progress jiwa kita akan merenggang atau bahkan berakhir. Dan ini terjadi pada hubungan saya dengan mama. Di hari ketiga kepulangan saya dari Bali, mama saya tiba-tiba ‘kumat’ lagi melakukan suatu tindakan yang membuat saya merasa tidak dihargai. Oh shit, i thought it would be my husband, but it’s my mom. Padahal selama beberapa bulan awal-awal saya tinggal di Indonesia, mama dan saya seperti dua soulmate yang sangat akrab. Sounds too good to be true huh? Ternyata hubungan saya yang paling primal dan mengakarlah yang kudu dibenahi pasca Abdy gathering. Serta merta setelah mendengar komentar dan kritikan pedas mama saat itu, saya tumpahkan energi amarah sepuasnya sambil menangis. I released the bitch inside of me. Dan kemudian seperti yang sudah-sudah, kututup lagi pintu hatiku dan kamarku dari mama. Yang tadinya dia setiap hari selalu bisa leyeh-leyeh di rumah saya dan menjauh dari suaminya, kali ini sudah tidak bisa lagi. Aksesnya dari anak-anak pun saya kurangi. Selalu ada hikmah di balik peristiwa. Dengan renggangnya hubungan mama dan saya, dia jadi mau tidak mau menghadapi sendiri masalah hidupnya, di rumahnya, dan tidak bisa lagi selalu lari berlindung di balik kenyamanan kamarku yang super charged oleh kristal dan essential oils.

So yeah, in a highlight….i might gain wisdom and superpower in my left hand,

i’m not talking with my mom (again),

i adopted some new family members from Crystal Kingdom: new Jade bangle, lapis lazuli, and fluorite,

…and run this life like a boss, like i always did.