10 ALASAN UNTUK TIDAK BERGABUNG DENGAN TIM YOUNG LIVING MAMA ESENSIAL

Hanita n Zuni:

A very important information about my Young Living Organization ‘Mama Esensial’

Originally posted on Mama Esensial:

imageSebut saja Mawar (tanpa suara chipmunk), seorang yang ingin berbagi tentang betapa sebuah Tim YL bernama Mama Esensial telah mengundang rasa bingung yang tak biasa baginya. Berikut uraiannya mengapa kita perlu berpikir dua kali sebelum menjadi member Mama Esensial.

1.Mama Esensial akan menjawab pertanyaan kamu dengan serangkaian pertanyaan balasan.
Mereka mengklaim tidak pernah menjamin kesembuhan lewat Young Living, namun mereka menjamin akan adanya perbaikan kualitas hidup lewat Young Living.

Gimana nggak gondok sih kalau kita nanya sakit X pakai oil apa malah dijawabnya kaya investigasi di polres terdekat. Ribet! Ditanyain riwayat kesehatan keluarga lah, ditanya apakah ada perubahan terbesar dalam hidup selama dua tahun terakhirlah, apakah ada riwayat alergi, sampai dikepoin juga masa kita asupan nutrisinya gimana. Belom lagi soal keluhan yang selama ini dirasakan, ampe sedetil-detilnya ditanyain, frekuensi-intensitas-pencetus-yang memperberat-diagnosa dokter apa. Haduh pusiiiiing berasa dijudge banget deh jadinya, kalo kaya gini mah mending beli sama yang lain…

View original 1,235 more words

THE WORLD OF VLOGGER

FINALTHIMBNAIL INFFUSED7 thumbbnail PicMonkey Collage RAMADANYLEO PicMonkey Collage

Hi folks…dah lama banget aku nggak update cerita di blog ini. By the way, i’m now a vlogger. Ini adalah salah satu enhancement hidup yang harus aku alami. Ada banyak sebab kenapa aku saat ini jauh lebih menikmati vlogging di YouTube. Pertama, I know i’m a darn awesome writer but I also have a real lazy butt. Aku sangat menikmati dunia menulis namun malas untuk terjun sebagai penulis published, such a pain in the ass menurutku. Intinya males ya, malas cari editor, malas cari penerbit, kirim naskah, promo buku, dan harus membangun image branding sebagai sosok inspirasional. Padahal all I want to do is just making the whole world to get my points (baca: ga mau ribet). Alasan kedua, jujur ya hehe, aku capek sama satu orang yang sering copycat tulisanku, ada deh pokoknya….’korban’nya bukan cuma aku saja, tapi juga temanku yang penulis beneran, cape ya. Menulis itu adalah sarana channeling inspirasi Tuhan yang sangat sakral menurutku. Kalau sudah nulis all out lalu tiba-tiba di masa depan kalimat itu muncul di postingan atau bukunya orang lain tanpa kredit, kebayang dong rasanya. Namun aku nggak mau berlama-lama ada dalam victim mind. I love and appreciate my bright mind and my gifted soul; and I will protect it as much. Belakangan kata-kata mutiaraku yang sebetulnya juga bukan aku pemiliknya ini (semua dari Alloh) gak aku umbar sembarangan, tapi aku khususkan buat klien-klien coaching privatku. Alasan ketiga, belakangan ini insight yang kuterima sebagai seorang intuitive lebih lancar kalau ditumpahkan secara lisan di depan kamera. Efeknya bagi yang melihat pun tidak kalah ‘mbrabak’nya dibandingkan kalau mereka menikmati tulisanku. Maka akupun merasa inilah hal yang paling benar untuk dilakukan saat ini.

Proses belajar vlogging juga nggak mudah ya. Pada awalnya kalo ngeliatin anak-anak vlogger muda macam Aron Ashab hasil videonya kok bisa pada ciamik banget gitu tuh pasti empetnya di dada sini. Namun di sisi lain aku juga melihat ada ruang yang kosong di genre Self Help dan Self Improvement dalam Bahasa Indonesia. Ini kok cewe-cewe isinya pada templokin muka pake pupur semua, dan yang cowo-cowo isinya pada nyanyik dan ngerap semua. Yang baca tarot mana? yang bahas topik psikologis mana? yang bahas memakai essential oils dengan benar mana? Waini, kayanya gue nih. Mulailah kubuat video pertamaku tentang Skincare dan Make up selama kehamilan. Tapingnya pakai iPad mini punya anak-anak, dengan keringet segede bulir jagung menetes dan jantung berdebar-debar aritmia. It felt so weird seeing myself talking in front of the camera. But I posted it anyway. There’s always be the-not so very impressive-first time, dan satu video menjadi dua, dari dua menjadi tiga dan seterusnya. Topik yang kubawakan pun berkembang seiring berkembangnya area mastery-ku. Rasa aneh dan kikuk perlahan menghilang. Komen-komen dalam hati ‘ih gua jelek banget’ atau ‘gua gendut banget’ perlahan bungkam; yang kulihat hanyalah aku, mengalirkan inspirasi hati.

Improvement terus terjadi, perlahan aku mulai berani vlogging pakai kamera DSLR. Sudah pasti kamera DSLR datang dengan ilmu dan aplikasi yang lebih rumit. Aku terus belajar gimana lighting yang baik agar muka kita nggak kelihatan buram dan kusam. Aku mulai melunakkan hati untuk pakai make up karena memang kenyataannya kamera DSLR will catch your slightest imperfection. Dari segi konten, i’m a natural speaker, aku nggak perlu scripting susah payah karena aku emang gifted buat ngobrol dengan ‘ngeflow’ di depan kamera. Mendadak aku sangat menikmati ini. I feel i’m in continuum with the universe and my true potential. Lewat vlogging aku bisa menyalurkan bakat seni dan musikku. Seperti yang kalian tahu aku adalah penggemar berat musik Bossa Nova. Salah satu past lifeku adalah wanita asal Sao Paulo, Brasil di tahun 1700-an, yang bekerja sebagai seorang  penata tari Samba. Sebagai Hanita yang sekarang aku masih menyimpan begitu banyak attachment kepada musik Brasil, dan library musik Bossa Novaku segambreng. Lewat vlogginglah aku bisa memadukan musik-musik favoritku dengan footage-footage video yang aku ambil. Proses editing video bagiku sekarang adalah ‘bat cave’ yang nyaman dan transendental. Dalam menentukan topik apa yang aku buat, seringkali saat aku di dapur mencuci piring atau pas di kamar lagi melipat baju, inspirasi dari Allah selalu aja datang. Misalnya, suatu pagi aku dapat dorongan untuk bikin audio training buat group Young Livingku, Mama Esensial. Besokannya aku pingin bahas self love book haul. Dan yang baru-baru ini datang adalah wangsit untuk bikin vlog buat remaja putri tentang sex education. Seru sih…

Outcome yang kuharapkan adalah people know I exist and know what life is according to me. Gak usah ngomongin berapa subscriber yang bisa aku jaring, tawaran kerja apa yang bisa kudapat dari brand-brand tertentu, itu biar menjadi urusan Allah. Menjadi YouTuber memang dapat mendatangkan lahan rejeki, namun prioritasku tetap jadi diri sendiri dulu dan self promoting hal-hal yang aku kerjakan saat ini: Doula, Tarot reader, Intuitive Healer, dan leader MLM baik hati :)

Jadi mohon maaf kalau frekuensiku hadir di sini jadi berkurang, aku sedang asyik di tempat bermain yang lain. Subscribe channelku yaa www.youtube.com/missHanita

Stay Happy, good people!

Guru Cantik Itu Bernama Hasnaa

When the student is ready, the teacher appears 

Tubuh ini masih terasa ringan bak melayang setelah aku selesai berbicara dengan Hasnaa At Tauhidi di sesi konseling pertama kami. Proses pertemuanku dengan Hasnaa adalah karena Allah. Aku mulai memfollow Hasnaa di jejaring sosial setelah salah satu teman mutual kami merepost twit Hasnaa dan twit tersebut muncul di linimasaku. Seperti kita tahu, twitter itu 70% isinya adalah cerminan jiwa penggunanya; dan twit Hasnaa ini terlihat sangat berbeda di mataku. Seperti benar-benar dari hati, bukan mengutip buku atau spammer twit-twit komersial. Seperti tertarik kekuatan magnet, aku memvisit dan mengamati isi-isi twit Hasnaa yang lain. Di detik pertama, instantly, aku tahu ini adalah guru kehidupan yang selama 2 tahun ini aku cari.

Secara umum Hasnaa (twitter @thatgirlhas, instagram @vibrationalmedicine) adalah seorang lightworker sepertiku, yang punya misi hidup untuk mengajar dan mengajak rekan-rekan di sekitar kami untuk lebih eling. Aku dan Hasnaa juga punya keterikatan di latar belakang kami yang sama-sama muslim. Setelah melewati masa awakening, kami sama-sama memilih untuk tetap menjalani kewajiban agama yang kami anut dengan sadar. Hasnaa mengajari banyak followernya untuk hidup tanpa penghakiman, hidup berdamai dengan dualitas, dan untuk riset sebanyak-banyaknya tentang apa saja yang ingin kita cari. Pada awalnya, aku tidak tahu kalau Hasnaa menyediakan jasa coaching one on one. Aku hanya ikut subscribe di mailing list yang tertera di bionya. Dan percayalah, dari blognya saja aku sudah banyak sekali mendapatkan pelajaran yang berharga secara gratis. Aku mulai menerapkan praktik Lucid Dreaming, Shadow Work, Third Eye Activation, dsb; yang kalau di Indonesia mungkin sudah bisa dikomersialkan menjadi workshop seharga jutaan rupiah. Namun Hasnaa membaginya dengan gratis bagi mereka yang mau membacanya, karena believe me, memahami bahasa Hasnaa juga bukan perkara yang mudah. But i’m a quick learner, aku jadi lebih paham akan konsep multiverse-multidimensional, bagaimana kita hidup ini sebenarnya tak terikat oleh konsep waktu past-present-future. Semua hal berlangsung secara simultan. Dan akupun jadi tahu betapa banyaknya pihak black hand di dunia ini yang tidak ingin kita (manusia) mengalami pencerahan. Mereka sengaja mengkalsifikasi kelenjar pineal manusia lewat sistem pengairan massal, fluoridasi ekstrim berbagai produk dan makanan jauh melampaui dosis yang sehat, obat-obatan, makanan GMO, dan penanaman dogma agama/keyakinan untuk sama-sama saling merasa paling benar dan suci. Sedih dan merinding sekali kalau dipikir, apabila kami para sage dan lightworker melihat kondisi umat manusia mainstream di dunia saat ini lewat mata batin kami. Tapi pada akhirnya, kami harus menerima bahwa setiap manusia perlu melalui proses pembelajarannya sendiri, perjalanan spiritualnya sendiri. Seperti bayi yang tidak bisa dipaksa-paksa untuk cepat lahir, atau kepompong yang tidak bisa dicongkel paksa keluar menjadi kupu-kupu, proses awakening seorang manusiapun harus dibiarkan terjadi sendiri sesuai dengan divine plan nya.

Pada saat aku berkomunikasi langsung dengan Hasnaa melalui e-mail untuk membicarakan kemungkinan adanya kerjasama sebagai mentor dan murid, di benakku terlintas sebuah penghakiman diri yang bilang ‘ejiyee mau punya penasehat spiritual baru niyee’. Self chatter ini sontak membuatku tersenyum geli, karena selama ini kepada klien-klien tarot maupun konsultasi essential oil-ku aku selalu bilang bahwa jangan sampai mereka ketagihan atau kecanduan akan terapi dan konsultasi. Jujur, aku sangat jengah apabila melihat seseorang yang attached sekali degan gurunya, coach, ustad, paranormal, tarot reader, dukun, peramal, atau apapun itu. Mau ngapa-ngapain nanya pendapat gurunya dulu, mau kesini ijin dulu, mau kesitu ijin dulu. Aduh runyam ya sebangsa kena sirep Eyang Subur gitu. Setiap diri kita sesungguhnya sudah punya satu peleton celestial beings yang siap menuntun, mengingatkan serta mengajari kita kapan saja, dengan syarat pineal gland (third eye) kita terjaga dengan baik dalam kondisi plastis, tidak terkalsifikasi. Terlalu mengkultuskan satu sosok guru justru akan menyebabkan komunikasi kita dengan higher self kita terputus. Belum lagi kalau ternyata sosok spiritual yang kita agung-agungkan selama ini ternyata tak lebih dari seorang oknum dukun palsu mata duitan. Seorang manusia dalam kondisi limbung tak tentu arah di mata para oknum dukun ala-ala akan tampak seperti target panahan bertuliskan ‘get my money‘. Segala dilematika paranormal abal-abal dan bagaimana cara menscanningnya sudah pernah saya bahas di video berikut ini https://m.youtube.com/watch?v=gwtiy678jJ4 . But then again, secara intuitif aku merasa sudah terlalu lama diri ini melakukan inner journey hanya bersama spirit guidesku yang tak terlihat ini. Tak kupungkiri, aku sangat rindu akan sosok master yang sedang bertakdir sebagai seorang manusia di era yang sama denganku. Di tanah air, aku pernah bertakdir bersama mami Lanny Kuswandi meski sebentar dan mas Reza Gunawan, mereka adalah start up ku. Gak kebayang kalau aku belum bertemu dan berinteraksi dengan sosok angelic mas Reza sebelum berangkat ke AS, aku nggak akan sekoheren dan sesinergis ini dengan guru-guruku yang sekarang dan akan datang. I missed being a student, as simple as that. Kini, ijinkan aku dengan bahagia menyampaikan bahwa aku sedang bekerja bersama Hasnaa, guru pintar yang kecantikannya melampaui semua deskripsi duniawi, seorang ibu dan yogi, seorang mistik sekaligus kutu buku, seorang yang akan meninggalkan sedikit  jejas kebijakasanaannya pada diriku yang masih dhaif ini. Semoga dengan menjadi murid yang baik, aku bisa menjadi guru yang lebih baik.

Salaam.

San Ramon, Spring 2015.

17 Miles Drive


image

image

image

image

Inilah tempat kesukaan kami yang hanya berjarak 2 jam perjalanan darat dari rumah. Minggu lalu saya ada keperluan presentasi YL di rumah seorang kenalan di Monterey, dan suami beserta anak-anak turut menemani. Acaranya cukup ramai dan melelahkan, hingga setelah selesai berpamitan aku dan keluarga langsung ingin kabur menyempatkan waktu menikmati udara pantai. Keterangan historis mengenai 17 Miles Drive bisa dilihat disini http://en.m.wikipedia.org/wiki/17-Mile_Drive , jalur lintasan ber-scenery ini ditemukan oleh penjelajah dari Spanyol berabad-abad yang lalu dan telah berpindah tangan berulang kali hingga akhirnya dikelola secara profesional menjadi jalur wisata dan hunian berkelas. Tempat ini subhanalloh banget indahnya. Entahlah, Allah dulu mungkin memberikan perhatian lebih saat penciptaan area coastal ini, berikut percikan cinta yang ekstra. Buatku ini kali kedua menyambangi 17 Miles Drive, dan setiap kunjungan selalu magis. Di momen kemarin kami mengincar sunsetnya, kaya apa sih tempat ini kalau menjelang sunset. Karena masih musim semi, area ini tidak begitu ramai, anginnya masih agak kencang serta dingin. Biasanya saat summer baru heboh semua spot parkir pinggir jalan akan penuh. Jadi analoginya begini, bayangkan kita masuk area taman Safari yang jalannya berkelok-kelok dan setiap viewpoint binatangnya beda-beda; nah 17 Miles Drive konsepnya sama. Kita masuk gate, bayar $10, dapat bekal sebuah brosur map, dan kita bisa berhenti di setiap viewpoint yang totalnya berjumlah 20 an. Di setiap viewpoint disediakan area parkir yang menampung 8-10 mobil agar wisatawan bisa turun sejenak untuk berfoto dan menikmati pemandangan tebing yang dinding dasarnya selalu dihantam debur ombak. Setiap viewpoint punya kisah uniknya sendiri, favoritku adalah the Lone Cypress yang fotonya pernah aku unggah di IG. Tempat dengan panorama memukau ini adalah saksi bisu sekian banyak generasi, sekian banyak perubahan, sedangkan kita manusia cuma singgah. Langit menjelang sunset di sini sungguh bikin speechless, kombinasi langit sore, laut, batuan karang, serta pepohonan hutan; membuat satu frame indah yang kayanya bakal bikin sirik semua alam semesta. Benarlah, Allah itu Maestro.

Meski dingin berangin, kami sungguh tak kuasa menahan godaan untuk berfoto dan bertafakur alam. Di perjalanan pulang, bapake bilang  ‘summer kita balik sini lagi yok’. Why not?

image

Tahun yang Genap. Kita Semua Genap.

Tulisan ini kupersembahkan untuk menggenapi akhir tahun keduaku di Amerika. How time really flies. Begitu banyak hal yang kulewati yang rasanya media blog pun tak kuasa menampungnya. Empat musim yang lain, orang-orang yang lain, kejadian yang lain, tempat wisata, restoran, produk make up, atau ratusan buku yang lain telah menghampiriku. Ratusan malam, ratusan menu yang kumasak di dapurku, langkah-langkahku keluar masuk Safeway, puluhan acara Steve Harvey, empat Crystal Fair yang aku hadiri, semua menggenapinya.

Bahasa Inggrisku kini mampu membuat orang lokal lain ternganga saat aku mulai tidak bisa berhenti bicara tentang apa saja, konspirasi, harga minyak dunia, bisnis online, atau bahkan sekedar diskusi seru Tarte vs Urban Decay atau Fitbit Flex vs Jawbone UP24. Talking is easy now, proses evolusi mental yang menarik. Tapi semua orang yang kenal dekat denganku akan selalu tahu, i prefer not talking at all.

Sekali psychic akan tetap psychic, tahun kedua kemarin si ‘divine guidance‘ makin rajin mampir tanpa diundang. Pesan-pesan lewat mimpi, insight yang tiba-tiba hadir dari segala arah, orang-orang yang sebenernya Angels in disguise, semua makin intens menyapaku. Allah sangat baik untuk membuat semuanya lancar kulalui tanpa jadi gila sendiri. Alhamdulillah psychic gift dari Allah ini banyak banget ngebantu di karir dan bisnis essential oils-ku. Somehow, aku jadi punya auto filter untuk menghindari dan menjauhi slithery people yang punya niat buruk. Siapapun yang culas dan licin Alhamdulillahnya selalu dibuat jauh dariku. Next, aku masih nggak tahu perjalanan spiritual ini akan menuju kemana. But i’m so freakin excited.

Anak-anak sehat banget Alhamdulillah setahun ini, gak ada satu postingan pun yang aku jadikan ajang curhat anak sakit. Mereka sudah coping banget sama cuaca dan flora virus/bakteri di sini. Mereka selalu jadi dua jiwa spesial yang setiap hari menghiasi hidupku. Si dua bocah nakal yang basah-basahin karpet kamar mandi, ngacak-ngacak baju habis dicuci, makan snack dan gula seenak-enak udelnya, dan menjalani perawatan dokter gigi dengan berani bak perwira perang. Dua jiwa yang begitu tinggi, menyamar sebagai wujud anak-anak cerewet yang selalu nonton TV sambil nyuruh-nyuruh ibunya bikinin ini itu kaya batur. I’m so damn lucky.

Relasi dengan suamiku kini semakin jujur dan dewasa, selapis demi lapis topeng kemunafikan telah kita tanggalkan. Hidup berdua saja tanpa keluarga itu berkah banget, kita gak bisa lari dari masalah, tidak ada opsi flight, cuma ada fight. Aku akhirnya bisa came out dengan lega sekitar 4 bulan lalu, aku mengakui bahwa saya punya masalah yang gak mungkin saya tutupi lagi. Dan dengan aku mengambil resiko untuk jujur tentang kondisi spiritualku saat ini, malah outcome yang aku dapat indah banget. Dia jadi ngerti kenapa aku sering migrain dan marah-marah kalau terlalu lama ada di tempat yang penuh keramaian dan sumpek. Kita harus planning traveling yang ‘ramah psychic amatir’. Alhamdulillah nya lagi, suamiku ikutan ngalamin psychic phenomenon di rumah, jadinya diapun percaya kalo istrinya nggak gila. Pada suatu ketika,   dia majang satu foto capitol hall di dinding untuk dekorasi kamar mandi. Dua hari berikutnya, foto itu berganti jadi foto dia yang lain hahahaha. Pelakunya bukan aku ataupun anak-anak karena si ‘foto baru’ itu adalah foto sebuah patung manusia sedang menghisap cerutu yang dia simpan di folder dalam lemari. Gak ada yang tahu letak foto baru itu selain dia sendiri. Dia ketakutan setengah mati, tapi aku kegelian ngejelasin bahwa it’s okay mereka cuma ‘making fun of us‘ dan mereka pengen nunjukin selera interiornya sendiri hihi. Akhirnya itu foto aku ganti lagi dengan yang lama, sambil bilang ‘well, please…‘. Kini aku dan suami bisa lebih jujur satu sama lain, sama-sama bisa ungkapin apa mau kita. Aku janji ke dia bahwa meskipun aku yang sekarang sudah tidak terikat satu dogma apapun dan aku berkehidupan dengan prinsip non-denominational, aku nggak akan convert dari agamaku saat dilahirkan dan tetap akan menjaga rukun Islam yang kuanut. Pasti ada satu alasan Tuhan menjadikan aku seorang muslimah, Dia ingin aku menjadi ambassador agamaku di muka bumi, representasi Islam yang peaceful. Alhamdulillah banget Allah kasih suami yang pengertian, yang terserah aku mau jadi apa, belajar apa, yang penting semua tugas rumah tangga beres dan anak-anak perutnya kenyang. Suamiku gak begitu terganggu dengan keberadaan ‘harta benda’ku yang sewaktu dia kecil dinilai haram dan mengandung kesyirikan oleh guru ngajinya (well, guru ngajiku juga). I work with crystals, herbs, tarot, incense, full moon rituals, Angel therapy, and he’s very okay with it. Paling cuma komplain sedikit pas aku bersihin energi rumah pakai asap sage, karena asap sage baunya memang sepet.

Aku kini resmi menjadi seorang Tarot Reader, dan dalam beberapa bulan insya Allah akan menjalani Past Life Regression workshop buat persiapan karirku ke depannya. Ini akan menjadi karir yang sangat segmented tapi yang penting gua happy banget ngejalaninnya. Doula dan Hypnosis masih jalan terus, tapi memang lagi status hold dulu selama di sini. Begitu banyak pelajaran indah yang datang kepadaku selama ini. Aku ditunjukkan bahwa dunia ini tidak terbatas hitam dan putih, manusia tidak terbatas pada baik dan jahat, semua orang membawa hikmah. Dan hikmah Allah adalah yang paling indah dan sempurna.

Kini, dalam setahun terakhir di Amerika, aku ingin bebas. Bebas menikmati cupcake yang bisa kudapat tanpa membaginya dengan anakku, bebas mencoba make up dan memanjakan diri dengan produk perawatan tubuh yang selama ini paling anti kubeli. Bebas mencoba essential oils YL yang langka dan tidak ada di Asian market. Bebas menaikkan berat badan dan menggemukkan diri sampai berapa kilopun tanpa peduli ocehan mertua. Bebas berlari di sepanjang iron horse trail dan membakar kalori gila-gilaan pakai DVD PiYO Chalean Johnson. Bebas membeli dan membaca buku atau ilmu apa saja bahkan yang paling restricted sekalipun. Bebas mendalami The Lost Gospel. Bebas mencari isi Dead Sea Scroll. Bebas belanja kristal mineral dan menumpuknya untuk dijual di Indonesia. Bebas mengekspresikan cintaku kepada Tuhan, sahabat, dan pasangan hidup. Bebas melakukan ritual shaman pengusir setan. Bebas bersayang-sayangan sama Allah di malam hari dalam dekapan sholat malam. Bebas insomnia cekikikan chatting dengan temen-temen kesayangan ngomongin proyek masa depan. Bercinta, makan cokelat. Bebas untuk bahagia.

Because i’m freaking so damn lucky.

So are you.

Kita semua sudah genap.

Just Another Day in Mommy’s World

Iseng-iseng hari ini pingin posting masakan lagi setelah entah berapa lama tidak aktif di dapur dengan sepenuh hati. Beberapa bulan belakangan memang passion memasak sedang mati suri, kegiatan di dapur hanya sekedar untuk mengisi perut dan bertahan hidup kalau minjem istilahnya salah satu teman di inner circle group GBUS. Nggak pernah lagi masak sambil channeling Michael Pollan atau Nigella Lawson.

Hari ini sebenernya Hari kedua lebaran nih, masih dalam suasana penuh kemenangan. Namun karena si ayah malah ditugasin ke luar kota seminggu, jadilah saya merayakan hari kemenangan sendirian aja sama anak-anak. Mereka ini lagi liburan sampai akhir bulan depan, harus rajin-rajin diajak keluar biar nggak bosen. Hari ini saya putuskan ngajak anak-anak ke toko buku untuk membeli CD soundtrack Frozen. Gak tahu kenapa anak-anakku meski laki-laki tapi sangat kesirep dengan musik film Frozen sejak pertama kali mereka lihat 2 bulan lalu di xfinity on demand. Padahal niat nge-rental film Frozen cuma buat bunbun doang karena penasaran, ternyata mereka ngikut nonton dan sukses mematung sampai film selesai, so cute. Setelahnya, mereka berdua tiap ada kesempatan selalu minta diputarjan lagu ‘Let it go’, malah sampai bisa nyanyiin dan ngikutin gerakannya Elsa haha saya sampai ngakak sendiri liatnya. Oke akhirnya kami ke subway dulu cari sarapan, anak-anak sukanya Cheese Flatizza dishare rame-rame, dan saya beli white chocolate chip cookie. Di sana habisnya $4.99. Lalu kita ke Barnes Noble Hacienda Crossing lewat jalan alternatif non free way karena bunbun demen nyetir selow. Sampai sana kita bikin deal dulu nih, gak ada ya beli mainan, cuma beli CD aja buat disetel di mobil. Mereka setuju dan berjanji, dan beneran cuma pegang-pegang dan liat-liat aja. Nah kebetulan di sana ternyata lagi ada jadwal book reading di satu sudut toko. Yang bacain buku bapak-bapak karyawan toko berumur kira-kira 40-an. Sehabis ikut book reading dan puas berkeliling, bunbun mampir sebentar ke rak self improvent, genre kesayangan 😅. Dan gatau gimana saya pulang dengan 3 buku baru. Asli bukan saya lho yang niat beli, alter egoku kalik hahah ngeles.

Sampai di rumah jam setengah 1 dan Yusuf langsung ke atas sendiri dan bobo 😂😂. Pas lagi mikir mau kasih makan apa, nongollah si box Rotini di depan mata yang isinya tinggal sedikit. Yasudah sayapun iseng-iseng nyoba buat Rotini panggang yang bahannya:

1 cup rainbow rotini (tipe vegetable enriched)
1 cup susu plain
1 siung bawang putih rajang
1/4 bawang bombay uk kecil dirajang
1 sdm butter
4 lembar keju kraft singles
1 butir telur
1 jagung manis dipipil
Keju parut untuk taburan
Garam Merica sesuai selera

Cara membuat:

Tumis bawang putih dan bawang bombay bersama butter dalam panci sampai harum. Tuangkan susu disusul kemudian jagung dan pasta rotini. Aduk-aduk sebentar. Masukkan keju, aduk-aduk. Masukkan garam dan merica, aduk-aduk lagi. Pas sudah agak seret kulihat rotininya masih belum aldente, saya masukkan lagi setengah cup air, lalu saya aduk kembali sambil icip-icip. Terakhir saya masukkan telur, aduk-aduk. Saat pasta masih becek-becek basah gitu, pindahkan ke pinggan yang sudah diolesi minyak atau spray anti lengket. Taburkan keju di atas pasta dengan merata, saya pakai yang 3 cheese shredded cheddar, sudah diparut dari sononya. Lalu panggang selama 20 menit dengan suhu 425 F.

Sesudah matang, jadinya tipis ya, kegedean pyrex :) tapi rasanya enak, jagung manisnya kriuk-kriuk yang di permukaan. Wah coba kalo ditambah wortel dan jamur ya, makin umamiii pasti. Yusuf begitu bangun makannya lahap banget, sayang Baimnya nggak doyan hiks, picky berats dia. Akhirnya Baim minta dibikinin kraft mac & cheese yang instant, ihh junk food ni ye. Ditengah-tengah nemenin mereka makan, ada suara pager dibuka dan bunyi paket dijatohin di depan pintu. Apakah gerangan? Eh ternyata paket dari Sephora sudah datang, bunbun pesan bedak dan primer kesukaan yg sudah mau habis. Alhamdulillah syenangnya… Asik dan serulah menghabiskan waktu bertiga kaya gini, rumah messy banget, tapi nanti baru diberesin deket-deket waktu ayahnya sampai wkwkwkwk. Hope you like my recipe moms… Kreasi ngawur yang hasilnya lumayan.

20140729-164747-60467731.jpg

20140729-164748-60468399.jpg

20140729-164747-60467007.jpg

Ramadhan di Rantau

Alhamdulillah masih diberi usia untuk menyicipi Ramadhan ke dua di Negara persinggahan ini. Puasa di sini yang pasti penuh suka cita dan kunikmati seluruh momennya. Perbedaan suasana, durasi, jenis makanan, semuanya warna warni indah yang memperkaya pengalaman hidup kami. Sok hayuk ikuti detailnya.

Perbedaan pertama sudah pasti durasi, durasi puasa kami adalah 16 jam 20 menit, selisih 3 jam-an dengan durasi puasa di Indonesia. ‘Subhanallooh panjangnya ckckck luar biasa kalian’ adalah komentar yang sering kami dengar dari keluarga dekat. Eits…biasa aja kali, karena memang di hari kedua dan ketiga rutinitas ini nggak ada apa-apanya dan badan kami udah terbiasa. Bukan…bukan karena iman kami tinggi sehingga Allah memendekkan hari buat kami haha. Saya yakin tubuh kita punya kelenturannya sendiri seperti karet, sehingga mudah untuk membujuknya bertahan dalam kondisi apapun. Mungkin nggak enaknya dari kondisi ini adalah sulitnya alokasi ibadah. Dengan jujur kuakui Tarawihku bolong terus sejak hari pertama puasa. Karena selesai buka puasa, kami menunggu waktu Isya pukul 22.00 lalu harus segera menidurkan anak-anak, yang kebanyakan endingnya adalah aku juga kebawa tidur hehe. Entah apa reaksi ibu mertuaku bila tahu hal ini, mungkin ngelus dada yah 😂😂

Perbedaan kedua adalah suasana. Tidak ada rentetan iklan sirup, mie instan dan jingle Teh Botol Sosro yang sudah meresap sampai ke memori sel-sel kami. Tidak ada acara striping sahur dengan talent-talent komikal yang bertindak absurd, neurotik, dan dibayar. Tidak ada penjaja iftar musiman yang menggelar dagangannya di pinggir jalan. Tidak ada lantunan azan dan bacaan Sholat Tarawih yang terakselerasi jelas lewat pengeras suara. Dan tidak ada keluarga intiku, orangtua, kakak-kakak, dan ponakan-ponakanku yang heboh luar biasa saat berkumpul dan berbuka bersama baik di rumah maupun di mall. Rindu? Sudah pasti iya. Tapi aku lebih merasa ini privilage, bentuk pembebasan diri, bok….udah 29 tahun ngerasain wujud puasa begitu terus berulang-ulang, masa nggak seneng sih ngerasain 2 kali fase penyegaran.

Perbedaan ketiga, di variasi makanan. Karena di rumah ini yang puasa hanya aku dan suami, sudah pasti jumlah dan varian makanan yang kusiapkan normal-normal saja dan sederhana. Sangat sederhana malah. Anak-anak belum kuajarkan puasa, dan mereka seperti gak sadar bahwa ortunya lagi puasa. Kalau Baim lagi baik banget nyuapin aku sesuatu, aku cuma bilang ‘No thanks, i’m good’. Alhamdulillah tahun ini Yusuf sudah tidak menyusu lagi dan bobonya jadi bablas. Akupun tenang saat menyiapkan sahur di dini hari. Kalau tahun lalu aku inget banget Yusuf ini masih drama, sering owak owek kalau tahu Bunbunnya gak ada dan akunya yang harus ribet naik turun bolak balik nidurin dia dan lalu kabur ke bawah lagi mengendap-endap.

Perbedaan keempat ada di lingkungan sosial dan industrialisasi ibadah. Keluar dari rumah, tidak ada lagi yang berpuasa selain kami. Tidak ada suasana festive. Paling banter kami cuma diberi ucapan resmi ‘Ramadan Kareem‘ oleh Obama. Semua aktivitas normal. Restoran, kafe, toko liquor, ya buka aja gitu. Dan kami nggak ngerasa ini jadi godaan berat. Yaelah…kita udah gede ini, bukan anak-anak lagi. Kontrol diri ya ada di dalam hati. Sangat kondusif malah ya jadinya, puasa kita tuh tulus gak bersyarat. Lebih nikmat tho? Ohya, satu-satunya persamaan mungkin ada di musim SALE, kalau di tanah air mungkin kalian sedang diberondong SALE Idul Fitri, di sini kami juga digoda oleh banyak Summer Sale dan 4th of July sale di semua toko online maupun pusat perbelanjaan. Tutup mataa.

Dan perbedaan terakhir yang paling favorit adalah…bebas dari kewajiban mudik!! Please jangan salah sangka dulu, bukannya aku gak cinta dan gak menjunjung nilai silaturahmi yaa. Tapi jujur deh, kalo kakakku baca ini, pasti dia setuju haha karena kita tuh pada males sama urusan mudik ke Solo yang harus kita lakukan rutin tiap tahun kalo masih mau dianggap cucu yang berbakti :) Dalam setahun, pengorbanan waktu, tenaga, dan biaya harus kita anggarkan demi silaturahmi dengan keluarga besar yang entah kenapa tempatnya harus di Kota Kelahiran orang tua kita. Dan itu harus lebaran yang peak season. Why???. Kok pada mau aja sih ya diatur sama kapitalis Indonesia. Menurut hematku mengunjungi kampung lebih enak di saat-saat lain. ‘Loh tapi kan ini momennya tepat karena menyambut hari kemenangan, sungkem maaf-maafan, hari yang fitrah dan semuanya hadir…’ Tuh kan, sekali lagi itu mindset yang tanpa sadar sudah diperbudak oleh kaum kapitalis. Why are we willing to spend money twice on airfare, new clothes, bags, and make up to look fab, and deal with delayed flights, crazy traffic, uneccessary accidents and fatality; just to spend time in some place that will be less hectic & much more convinient if we visit at other times, with too much people we don’t really care whose kids name we can’t remember? I can be very bitter if i start to talk about the hidden capitalism behind this very sacred so called ‘Mudik Lebaran/visiting hometown’ tradition. Dan sekarang aku dikasih masa pembebasan tiga tahun dari kewajiban mudik lebaran? Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan? *big grin* kunikmati bangeet selagi bisa.

Well, kalau bisa ditarik garis besarnya, sudah pasti puasa di sini nikmat banget ya. Mau itu siang-siang dipusingin sama anak-anak yang berentem teriak-teriak pukul-pukulan, atau malam-malam yang hanya sempat tadarus satu ain karena Baim memanggil dan minta dipeluk lagi, meski aku sudah memelankan suara. Bener banget kata status seorang teman SMA di Facebook, bahwa puasa itu ibadah paling romantis antara seseorang dengan Tuhannya.

Salam dari San Ramon….

Bernafas dalam Lumpur MLM

Maybe i was once a comedian…

Karena saya selalu mampu untuk menertawakan diri sendiri dan kehidupan ini. Bukan kebetulan pula saat saya makan bersama keluarga di Pier 39 kemarin, meja tempat kami makan bertuliskan kata-kata ‘it’s funny how things work’. Pas banget. Semua memang lucu. Hal-hal yang terlihat lucu ini pulalah yang selalu bikin saya gagal untuk menulis buku serius. Karena tiap kali sehabis membuat sembilan kalimat serius, sok pintar, dan mungkin hasil nyadur dari buku lain, di kalimat kesepuluh jiwa saya selalu mensabotase pola itu dengan bikin kata-kata banyol, sarkastik, dan kadang sedikit cabul. Bye-bye karir menulis…

Berangkat dari konflik yang saya hadapi di MLM teranyar saya, Young Living Essential Oils; saya menemukan guru terbaik dengan mata pelajaran terspektakuler di hidup ini. Mengutip seorang bijak tempat saya curhat yang baiknya tidak usah saya sebut namanya:

Siddharta’s truth #1: Hidup selalu menjanjikan momen-momen terusik. Dan dia mengakhiri nasihat tadi dengan kata Kampret.

Yang kalau boleh saya edit ulang:
Bunbun’s rule #1: Hidup selalu menjanjikan momen-momen ter-kampret. Dan ngomong-ngomong, kampret masih satu keturunan dengan Batman

Kisah saya dengan MLM sudah sepanjang kisah drama korea, panjang bener. Saya pernah terdaftar di Oriflame, Sophie Martin, Pulsa elektronik, Herbalife, Tianshi, Melilea, Kangzhen Kenko, High Desert, dan lalu Young Living. Capek ya? Karena sebelum-sebelumnya juga tidak ada yang berbuah manis, dualisme di sebuah MLM selalu ada, selalu timpang antara kebaikan produknya dengan watak dan cara kerja pelaku-pelakunya. Di Young Living ini juga ada helaan nafas panjang disertai kata ‘yaelah….’ saat saya buka http://www.youngliving.com dan tahu YL ini MLM. I just knew something bad was coming. My whole inner self somehow prepared me for any potential kampret moments.

Ya, dan sayapun punya andil besar di balik lahirnya benih-benih YL pompom groupies di Indonesia. Dengan sangat puasnya saya pajang oil-oil saya berderet rapih di jejaring sosial. Tentu saja saya jadi menciptakan awareness dan demand dari produk ini. Dan saya pun telah mengirim seekor kampret ke masing-masing kehidupan orang lain karena kini mereka jadi tahu ada barang namanya YLEO dan itu menjadi wishlist mereka. Sial bunbun, jadi ada kepengenan baru deh.

Saat momen kampret sedang mereplikasikan dirinya sebelum datang ke saya, hidup ini terasa manis-manis sepet. Satu persatu downline mulai bergabung dan bermanis manja dengan saya. Hati kecil mulai bilang, mungkin bisa dicoba kali ya untuk terapkan 3 kunci sukses Young Living: Wellness (kesehatan diri sendiri), Purpose (ngejar tujuan), & Abundance ($$$$$$$$$$). Buat saya, demi Allah $$$$$ bukan tujuan utama, aktualisasi diri lebih penting (baca: di Amerika ga dapet-dapet klien doula, masa bengang-bengong aja, ngapain dong, hayuklah sharing-sharing beginian aja). Dan motif non komersil saya telah terbukti dengan stagnannya angka nominal cek saya yang setia nangkring di situ-situ saja dan ga pernah naik lagi. And i’m happy with it, karena sudah bisa mengcover pembelian bulanan saya yang paling juga cuma Thieves, Peppermint, Lavender, Peace & Calming, dan DiGize buat sekeluarga. Buat saya itu juga sudah Alhamdulillah banget.

Momen kampret masuk menyusup ke dalam hidup saya lewat satu pintu masuk yang selalu lalai tak dikunci : kepolosan. Ampun, polos bener saya ini. Saya melihat semua orang sebagai teman sejati yang selalu setia bisa diajak lari-lari di pantai bergandengan tangan riang gembira. Saat pendaftaran downline non-USA di bawah jaringan USA terlihat agak di-anak tiri-kan oleh Kantor Corporate Singapura, saya cuma menyangka ah…saya belum bertanya ke orang yang benar kali. Dengan riang gembira saya dedikasikan 40% mommy duty saya untuk ngurusin YL ini. Sampai leader Singapura yang sudah sepuh juga saya deketin untuk saya tanya bagaimana cara orang Indonesia menjadi member di bawah kantor Singapura. Saat kemudian beliau malah bertanya ‘Diamondmu siapa?’, tetap ya, bunbun tak merasa ada yang aneh. Semua orang kunilai baik dan siap membantu. Blame it on all my Louise Hay books…

Email-email ke pihak corporate yang berbalas nada ketus, info-info yang sengaja dibuat simpang siur, calon member saya yang saat hendak mendaftar di Kantor Concourse dikerubungi member oknum yang berusaha mengintimidasi dia untuk bergabung dengan mereka saja, itu semua tanda-tanda sebentar lagi akan datang momen kampretos. Namun tetap, bunbun selalu riang gembira sepolos gadis Amish yang mencari buket bunga ke dalam hutan rimba yang gelap, tak tahu apa yang sedang menantinya.

Setelah saya mendapat artikel ini saya jadi tahu bahwa skup doula dan skup distributor YL harus dipisahkan baik-baik, garis tipis ini kalau tidak diperjelas, cepat atau lambat akan menimbulkan prahara. Saya tanamkan itu ke teman-teman member, namun sayang, idealisme bunbun tak sejalan dengan motif umum masyarakat Indonesia, yang lebih berat ke tujuan komersial.

Dalam linimasa yang begitu cepat, saya berpisah dengan 6 teman dan guru saya yang mereka ini sebenarnya juga sudah sangat berjasa buat saya, beberapa sudah downline, yang lainnya baru calon downline. The Kampret strikes me right on the face. Sensasi yang paling menohok adalah shoknya, jauh sebelum marah, kesal, dan sakit hati timbul. Shok karena rasanya seperti saya baru ngelihat separuh muka Joker yang lain di film Batman (this post is truly full of kampret things eh?), atau mukanya Penyanyi Hudson-Jessica Indonesia Mencari Bakat (two face Singer). Satu detik saya lihat Hudson, detik berikutnya, Lohh? Jessica? *shock

Keluarnya member-member saya dari group saya tidak ada yang ditempuh lewat cara resmi (pindah upline), namun lewat cara double membership/daftar baru di bawah group SG yang bisa dibilang group VIP beromset fantastis. Mereka ini memang rajin dan hebat sekali perjuangannya masukkan barang ke Indonesia. Jadi memang mereka aura dan energinya lebih berjodoh dengan mantan member-member saya yang lucu nan menggemaskan ini, barangkali wetonnya juga sama. Naasnya, tidak puas mendapatkan kenyamanan dengan menjadi member Singapur, mereka tetap menggunakan akses keanggotaan USA-nya yang berada di bawah organisasi saya; untuk memborong oil-oil yang tidak tersedia di Singapura. Sempat ada satu E-mail permintaan maaf dari salah seorang diantara mereka, dan dia sudah bersedia apabila saya minta dia untuk menghapus keanggotaan USAnya, tapi lucunya, di akhir e-mail dia bilang ‘Please mba Hanita ga usah balas email ini’. Lha? Terus aku nyuruh hapus US membershipnya lewat apa dong hihi. Kalau memang yang bersangkutan sedang membaca alangkah bijaknya bila ia akhirnya legowo dan mau menghapus akun USA-nya, cukuplah berbahagia dengan akses produk, komunitas, dan jalur yang dia punya sekarang.

Ikhlas atau tidak, saya cuma bisa deal with it… Yang bikin sedih bukan omset group yang hilang, tapi rasa percaya dan kredibilitas. Kecewaku mungkin cuma bisa dirasa lalu dibiarkan melebur. Beberapa kontemplasi yang muncul saat momen kampretos ini sudah datang antara lain,

Sudah pakai oil kok masih ganggu?

Sehari-harinya ngajarin kirim cinta, oksitosin, doa dan salam damai buat semua, tapi aslinya ternyata kok gini ya? (lalu bunbun nangis waktu mikir ini).

Selama ini kami di GBUS selalu mengajarkan untuk berdayakan diri. Kalau memang essential oils ada di dalamnya, ya pakailah sebagai satu opsi. Lha kok sekarang nyuruhnya apa-apa A-Z dipakaikan oil? kalau yang ditangkap masyarakat saat ini adalah Gentle Birth = YLEO dari mulai testpack positif sampai melahirkan, alangkah hinanya saya yang sudah memulai semuanya ini terjadi…

Paling sedih kalau saya nerima inbox atau e-mail dari seseorang yang bilang ‘mba saya sebenarnya mau sekali jadi member tapi oleh ibu X saya disuruh daftar yang programnya harus belanja setiap bulan, saya kan nggak mampu mba’ Oh God seriously???
Dan kaget juga waktu seorang teman cerita ada pasien yang mengeluh sering dibujuk untuk beli oil oleh bidannya berulang kali meski sudah ditolak, dan lalu tetap ditawari oil dalam taraf yang mulai mengganggu. Saya minta maaf sekali, meski itu bukan dari organisasi saya, saya turut bertanggung jawab atas semua ini.

Kini saya dan member yang masih tersisa cuma bisa evaluasi diri. Hikmahnya apa? Sudah pasti kita bersyukur karena kita masih dikumpulkan dengan orang-orang dengan motivasi tulus tanpa hidden agenda. Kami bertahan dan bisa move on karena kami punya integritas. Jujur kalau saya masih disatukan bersama member-member lama saya, justru saya akan malu dan bila terjadi apa-apa, pertanggungjawaban saya akan sampai ke akhirat, padahal saya tidak pernah mengarahkan mereka untuk menjalankan MLM dengan cara melacurkan prinsip, nilai, dan idealisme tulus sebagai gentle birth worker (sedih lagi)…

Kenapa untuk bisa pakai oil aja dramanya harus banyak banget ya? Terus insight yang muncul di kepala saya secara visual adalah: kita ini ibarat mau beli sayuran yang bagus, tapi sayur yang paling bagus itu cuma ada di pasar kecil di tengah kompleks lokalisasi prostitusi, dan jalan menuju ke sana sangat kotor dan berlumpur. Kalau masih sepadan kualitas sayurnya dengan usaha perjalanan mendapatkannya, ya lakukan saja. Kalau tidak merasa sepadan, kita bisa cari sayur di pasar lain dengan konsekuensi mungkin sudah layu sedikit.

Illegal poaching? Unethical advertising? Corrupted practice? Come on, itu sudah kejadian sehari-hari di YL dan pihak perusahaan selalu melakukan aksi pembiaran, bahkan setelah dikirimnya laporan pelanggaran resmi ke divisi resolusi. Itu poin yang aku dapat setelah berdiskusi dengan figur teman dan guru yang kusinggung di awal posting tadi. Beliau yang juga sering menjadi korban illegal poaching oleh group lain menyarankan saya untuk terima aja, ini sisi gelap MLM yang bila menikah dengan sisi gelap materi & duniawi manusia, akan jadi combo kampret yang akan sangat menyakitkan buat orang-orang yang mereka rugikan.

The Kampret moment has come, and i accept it with all my heart. Semesta sudah menentukan jalanku dan mereka yang tak kusebut namanya hanya sampai di sini saja. Memang hanya Allah yang menentukan berapa lama langgengnya jodoh. Allah mungkin masih sayang padaku, masih ingin aku reevaluasi lagi niat dan motivasiku, Dia ingin aku tawadhu, Dia tidak ingin YL ini menjauhkan aku dari diri sejatiku yang sebenarnya.

Buat member-memberku yang masih ada untuk berjuang bersamaku, kuharap kita bisa release sama-sama. Jangan nyiksa diri sendiri dengan meresapi sakitku, ini bukan pertarunganmu, ini bahkan bukan pertarungan sama sekali, ini cuma salah satu momen lucu menggemaskan… Makasih banget buat semua dukungannya di saat aku down banget beberapa bulan terakhir ini. Karena kalianlah aku akhirnya mau tulis posting ini, setelah lama memilih diam. Ga perlu aku sebutin nama kalian satu-satu, kalian pasti udah ngerti. Jangan keseringan bikin status curcol dong hahaha sini yang ngalamin kok situ yang panas. Semua orang hadir, berlaku dan bertindak sudah sesuai kapasitasnya untuk menggenapi Dharmanya masing-masing. Do the right thing even when it’s not the easiest one. Terimakasih sekali lagi…

Hidup penuh kelucuan, dan saya hanya perlu menemukan di mana letak lucunya. Nanti juga paling ada posting jawaban dari seberang atau leadernya seberang, gakpapa. Kalau saya mau, saya bisa beberkan lengkap semua capture percakapan WA, e-mail, dan i-message saya dulu dengan mereka yang menunjukkan betapa lucu dan tidak konsistennya kawan-kawan kita ini. Tapi ngapain toh kaya kurang kerjaan ngungkit lagi yang sudah lalu kaya blog tante Marissa Haque (baca juga nih ye bun). It’s okay bila saya harus bernafas dalam lumpur MLM Young Living, orang bilang lumpur itu bagus buat menghaluskan kulit, anyhow.

Self Spoken Pictures

Kumpulan foto-foto unpublished selama setahun belakangan ini…

image
image image
image image image image image image image

image

Conservatory of flowers

Conservatory of flowers

20140331-101555.jpg 20140331-102240.jpg 20140331-102254.jpg 20140331-102310.jpg Semoga bisa menghibur keluarga besar di Indonesia. Kami semua sehat, happy dan kangen sama eyang, mbah, pakde, bude, om, tante, bulik dan kakak-adik sepupu semua. Bunbun juga kangen sama geng dentist apa adanya, teman pengajian liqo ka Ifad Duri, teman-teman GBUS insider, dan semua sahabat yang selalu setia berkorespondensi via chat. Semoga bisa selalu saling mendoakan dari jauh. San Ramon, Spring 2014.

Relocation 1st Anniversary

Dua belas Februari yang lalu adalah peringatan setahun kami menginjakkan kaki untuk tinggal di Negeri Paman Sam. Lengkap sudah empat musim kami rasakan, semuanya begitu berwarna. Banyak tempat-tempat indah yang sudah sempat kami sambangi, juga banyak pengalaman baru yang sangat seru. Meski sudah setahun berlalu, sampai kinipun saya tetap merasa seperti newbie yang terus belajar.

Kemampuan bahasa Inggris saya sudah lumayan banyak berkembang, meski tetap ketar-ketir kalau menghadapi sales person di telpon. Tapi yang pasti saya jadi berani untuk keluar rumah dan bertemu orang banyak. Kalau ngajak main anak-anak di taman, sudah lancar dan berani untuk ngobrol basa-basi sama para ortu lainnya. Tiap ada event Young Living essential oil, saya selalu maju paling pertama buat ngasih testimonial, udah paling pede banget tuh karena komunitasnya nyambung. Kalau untuk ngajar kelas hypno atau kelas prenatal dalam bahasa Inggris, ini yang saya belom berani hehe; mending siapin mental dulu. Tapi awal tahun ini nggak tahu kenapa saya semacam punya kaul untuk nyoba semua tempat yoga di San Ramon, dan sudah nyobain satu tempat bernama Dahn Yoga. Seruuu deh kelas Dahn Yoga ini, kalau dibahas lengkap kayanya bisa jadi satu posting tersendiri. Saya dapat banyak teman ngobrol dan berbagi lewat kelas yoga ini.

Soal keluarga dan anak-anak; kayanya semua baik. Palingan sekarang lagi stres daftarin TK Baim aja ya. Berhubung TK publik di sini gratis, jumlah pendaftarnya rada-rada massive, dan proses penerimaan muridnya sampe harus pake undian. Hadeeh, demi gratisan. Doakan semoga semua prosesnya lancar ya. Ayah juga baik-baik aja, segala percekcokan sehari-hari kami adalah upaya sinkronisasi alami demi keseimbangan perjalanan hidup kami berdua. Baru aja kemarin liat di Super Soul Sunday OWN channel, ada liputan tentang spiritual partner. Si narsum bilang bahwa pasangan hidup itu kebanyakan sih bukan pasangan spiritual yah…i couldn’t help burst out laughing puas banget sambil membenarkan pernyataan itu. Gimanapun jauhnya dan begitu berbedanya kami secara spiritual, pasanganku adalah sudah paling tepat dan sempurna untuk perjalananku di hidupku saat ini. Kami sekeluarga ini sebenernya ngarep banget supaya assignment di US ini diperpanjang, maruk bener gak tuh ahahaha. Tapi di waktu lain kita juga sering daydreaming membayangkan saat kepulangan kita nanti ke Indonesia, udah ribut mau bawa apa, mau transit mana, sampe rumah makanan pertama apa yang mau kita santap, dsb. Hihi silly yah padahal masih jauh perjalanan ke sana.

Bunbun gak pernah bisa berhenti belanja buku, benar-benar kecanduan belajar sampe kadang rumah dan cucian gak keurus hehe jangan dicontoh ya. Suami sering marah akhirnya pas kondisi rumah udah parah banget, menu masakan gak berkembang, tapi istrinya tetep aja kutu buku. Hihi abis sumpah beneran lebih suka baca buku ketimbang beres-beres rumah sih. Selain topik essential oils, deretan buku yang lagi saya gandrungi adalah tentang medical intuitives, energy healing, buku-buku Louise Hay, tarot reading, dan regression. Nggak ngertilah kapan itu bisa tamat, yang penting beli dulu buat diboyong pulang nanti. Kayanya ampe anak-anakku SMP juga bakalan masih ada nih stok reading list. This is a compulsive issue i really enjoy and my husband never complains about.

Healing journeyku masih terus bergulir tanpa bisa kukontrol… Tahun ini ada satu event penting mengenai childbirth yang sudah aku book, semoga dilancarkan di hari H. Banyak banget training dan workshop wishlistnya, gak cuma di dunia doula ya, tapi ya dengan kondisi punya anak masih piyik-piyik gini nggak tega juga mau ninggalinnya. Sempet kepingiiin banget ikut training 5 harinya Brian L Weiss, tapi Omega institute itu jauh banget di New York. Wis ya lebih baik kusertakan dalam doa saja dulu, biar Gusti Allah yang mengatur jadwalku. Kalau mau diikuti, ambisi dan ego kemaruk ini nggak akan ada habisnya. Lalu aku inget lagi…Bun, umurmu masih panjang, selow dikit daripada nanti sakit karena memendam begitu banyak keinginan. Alhamdulillah banyak dikasih pesan juga dari ‘atas’ supaya sering bersyukur, rendah hati, tawakal, jangan lihat ke atas terus. Pembersihan dan penyembuhan diri adalah proses yang nggak akan ada habisnya. Hari ini TAT, besok bisa langsung penuh lagi kantong trauma kita. Hari ini sudah EFT sambil semua jari direndem Frankincense (hiperbol ini mah), besok bisa tetep pingin ngamuk lagi lihat anak berantem. Hari ini merasa damai berkecukupan, besok mungkin timbul penyakit hati lagi liat si anu begini dan si ani begitu. Gimana caranya agar saya bisa eling, eling, dan terus eling.

Semoga tahun kedua di Amerika lebih indah dan bermakna buat kami. Hidup di sini sesungguhnya sederhana. Sesederhana bangun di pagi hari, masakin pancake oles mentega buat suami dan anak-anak, nganter sekolah, pulang buat nyetrika sambil nonton dr.Oz show, makan siang sama suami sambil streaming SUCI 4 dan Indonesian Idol, sore jemput anak-anak dan bikinin fish sticks, malem bacain mereka buku cerita dan kasih jatah main iPad 1 jam. Di penghujung hari, saya terus mengevaluasi diri. Siapa yang sudah berhasil saya buat bahagia hari ini? Kalau baim checked, yusuf checked, dan ayah checked, berarti hidupku hari ini nggak sia-sia. Dan Allah pasti seneng udah menambah umurku satu hari.