Self Spoken Pictures

Kumpulan foto-foto unpublished selama setahun belakangan ini…

image
image image
image image image image image image image

image

Conservatory of flowers

Conservatory of flowers

20140331-101555.jpg 20140331-102240.jpg 20140331-102254.jpg 20140331-102310.jpg Semoga bisa menghibur keluarga besar di Indonesia. Kami semua sehat, happy dan kangen sama eyang, mbah, pakde, bude, om, tante, bulik dan kakak-adik sepupu semua. Bunbun juga kangen sama geng dentist apa adanya, teman pengajian liqo ka Ifad Duri, teman-teman GBUS insider, dan semua sahabat yang selalu setia berkorespondensi via chat. Semoga bisa selalu saling mendoakan dari jauh. San Ramon, Spring 2014.

Relocation 1st Anniversary

Dua belas Februari yang lalu adalah peringatan setahun kami menginjakkan kaki untuk tinggal di Negeri Paman Sam. Lengkap sudah empat musim kami rasakan, semuanya begitu berwarna. Banyak tempat-tempat indah yang sudah sempat kami sambangi, juga banyak pengalaman baru yang sangat seru. Meski sudah setahun berlalu, sampai kinipun saya tetap merasa seperti newbie yang terus belajar.

Kemampuan bahasa Inggris saya sudah lumayan banyak berkembang, meski tetap ketar-ketir kalau menghadapi sales person di telpon. Tapi yang pasti saya jadi berani untuk keluar rumah dan bertemu orang banyak. Kalau ngajak main anak-anak di taman, sudah lancar dan berani untuk ngobrol basa-basi sama para ortu lainnya. Tiap ada event Young Living essential oil, saya selalu maju paling pertama buat ngasih testimonial, udah paling pede banget tuh karena komunitasnya nyambung. Kalau untuk ngajar kelas hypno atau kelas prenatal dalam bahasa Inggris, ini yang saya belom berani hehe; mending siapin mental dulu. Tapi awal tahun ini nggak tahu kenapa saya semacam punya kaul untuk nyoba semua tempat yoga di San Ramon, dan sudah nyobain satu tempat bernama Dahn Yoga. Seruuu deh kelas Dahn Yoga ini, kalau dibahas lengkap kayanya bisa jadi satu posting tersendiri. Saya dapat banyak teman ngobrol dan berbagi lewat kelas yoga ini.

Soal keluarga dan anak-anak; kayanya semua baik. Palingan sekarang lagi stres daftarin TK Baim aja ya. Berhubung TK publik di sini gratis, jumlah pendaftarnya rada-rada massive, dan proses penerimaan muridnya sampe harus pake undian. Hadeeh, demi gratisan. Doakan semoga semua prosesnya lancar ya. Ayah juga baik-baik aja, segala percekcokan sehari-hari kami adalah upaya sinkronisasi alami demi keseimbangan perjalanan hidup kami berdua. Baru aja kemarin liat di Super Soul Sunday OWN channel, ada liputan tentang spiritual partner. Si narsum bilang bahwa pasangan hidup itu kebanyakan sih bukan pasangan spiritual yah…i couldn’t help burst out laughing puas banget sambil membenarkan pernyataan itu. Gimanapun jauhnya dan begitu berbedanya kami secara spiritual, pasanganku adalah sudah paling tepat dan sempurna untuk perjalananku di hidupku saat ini. Kami sekeluarga ini sebenernya ngarep banget supaya assignment di US ini diperpanjang, maruk bener gak tuh ahahaha. Tapi di waktu lain kita juga sering daydreaming membayangkan saat kepulangan kita nanti ke Indonesia, udah ribut mau bawa apa, mau transit mana, sampe rumah makanan pertama apa yang mau kita santap, dsb. Hihi silly yah padahal masih jauh perjalanan ke sana.

Bunbun gak pernah bisa berhenti belanja buku, benar-benar kecanduan belajar sampe kadang rumah dan cucian gak keurus hehe jangan dicontoh ya. Suami sering marah akhirnya pas kondisi rumah udah parah banget, menu masakan gak berkembang, tapi istrinya tetep aja kutu buku. Hihi abis sumpah beneran lebih suka baca buku ketimbang beres-beres rumah sih. Selain topik essential oils, deretan buku yang lagi saya gandrungi adalah tentang medical intuitives, energy healing, buku-buku Louise Hay, tarot reading, dan regression. Nggak ngertilah kapan itu bisa tamat, yang penting beli dulu buat diboyong pulang nanti. Kayanya ampe anak-anakku SMP juga bakalan masih ada nih stok reading list. This is a compulsive issue i really enjoy and my husband never complains about.

Healing journeyku masih terus bergulir tanpa bisa kukontrol… Tahun ini ada satu event penting mengenai childbirth yang sudah aku book, semoga dilancarkan di hari H. Banyak banget training dan workshop wishlistnya, gak cuma di dunia doula ya, tapi ya dengan kondisi punya anak masih piyik-piyik gini nggak tega juga mau ninggalinnya. Sempet kepingiiin banget ikut training 5 harinya Brian L Weiss, tapi Omega institute itu jauh banget di New York. Wis ya lebih baik kusertakan dalam doa saja dulu, biar Gusti Allah yang mengatur jadwalku. Kalau mau diikuti, ambisi dan ego kemaruk ini nggak akan ada habisnya. Lalu aku inget lagi…Bun, umurmu masih panjang, selow dikit daripada nanti sakit karena memendam begitu banyak keinginan. Alhamdulillah banyak dikasih pesan juga dari ‘atas’ supaya sering bersyukur, rendah hati, tawakal, jangan lihat ke atas terus. Pembersihan dan penyembuhan diri adalah proses yang nggak akan ada habisnya. Hari ini TAT, besok bisa langsung penuh lagi kantong trauma kita. Hari ini sudah EFT sambil semua jari direndem Frankincense (hiperbol ini mah), besok bisa tetep pingin ngamuk lagi lihat anak berantem. Hari ini merasa damai berkecukupan, besok mungkin timbul penyakit hati lagi liat si anu begini dan si ani begitu. Gimana caranya agar saya bisa eling, eling, dan terus eling.

Semoga tahun kedua di Amerika lebih indah dan bermakna buat kami. Hidup di sini sesungguhnya sederhana. Sesederhana bangun di pagi hari, masakin pancake oles mentega buat suami dan anak-anak, nganter sekolah, pulang buat nyetrika sambil nonton dr.Oz show, makan siang sama suami sambil streaming SUCI 4 dan Indonesian Idol, sore jemput anak-anak dan bikinin fish sticks, malem bacain mereka buku cerita dan kasih jatah main iPad 1 jam. Di penghujung hari, saya terus mengevaluasi diri. Siapa yang sudah berhasil saya buat bahagia hari ini? Kalau baim checked, yusuf checked, dan ayah checked, berarti hidupku hari ini nggak sia-sia. Dan Allah pasti seneng udah menambah umurku satu hari.

Pelajaran dari Oil Class

Alhamdulillah dengan ijin Allah saya sudah mengadakan pertemuan edukasi tentang essential oils di rumah saya. Sekarang saja masih berasa capeknya, tapi sudah gak sabar untuk berbagi. Posting ini mungkin lebih bercerita tentang proses menuju hari H ya, sedangkan seluruh ilmu di kelas tidak semua saya bagi. Anda bisa ikut pelatihan di Indonesia yang keterangannya ada di sini. Jadi anggap saja posting saya ini sebagai teaser ya. Semua foto event kemarin juga tidak saya sertakan di sini, silahkan lihat di album HEALING WORKS di FB saya, Hanita Fatmawati.

Awalnya, setelah kami pulang dari liburan September kemarin; saya mendapat telpon dari Tawney, salah satu anggota dari The Company of Angels, nama grup Young Living di area California utara di mana saya juga tergabung di dalamnya. Kami ngobrol banyak dan saya bilang saya ingin mengundang beberapa teman dan tetangga untuk berbagi ilmu. Gak tahu darimana juntrungannya, tercetus saja ide itu dari kepala saya. Tawney langsung semangat tahu saya ngomong begitu, dia langsung bilang ‘Oke! November ya!’. Setelah menutup telpon, saya jadi kaget sendiri: ini kok gue nekat amat ya? Emang siapa kenalan lo di sini? Kaya banyak aja temennya hihi. Dan lalu tiba-tiba mules. Proses 1,5 bulan itu saya isi dengan khawatir, khawatir, dan khawatir. Laura, silver upline yang akan mengajar kelas tersebut memberi saya sebuah tanggal, yang hanya pada hari itulah dia bisa datang. Rencana pertemuan ini saya obrolin juga dengan Judy guru Bahasa Inggris saya, dia banyak menasehati saya tentang tata krama menyambut tamu dan bagaimana berbicara di depan mereka. Kami membuat list berisi siapa saja yang akan diundang, teman-teman Asal Indonesia, tetangga sekitar komplek, dan para orangtua murid di sekolahnya anak-anak. Berjalanlah persiapan itu, beli printer untuk mencetak selebaran undangan, dan banyak TAT untuk mengobati keresahan.

Di tengah perjalanan menuju pertemuan ini, saya kembali diterpa kabar nggak enak yang bikin saya sedih sekaligus bikin saya termotivasi juga. Di Indonesia, petugas Bea Impor lagi sangat nggak kooperatif sama teman-teman sejawat yang mau masukin produk ini dari Singapur. Teman sejawat saya selalu kepentok di masalah ini. Saat saya konfirmasikan masalah ini ke ibu Frances Fuller (Diamond, pendiri Young Living Singapura dan Hong Kong), dia juga jawab jujur bahwa kantor Bea Indonesia sangat malesin, kasih tax sesuka hati, antara 20-100%! Ibu Frances bilang, karena masalah inilah, kontrak kantor YL Singapura hanya melayani pengiriman area Singapura saja. Sementara ini untuk Negara-negara lain seperti Malaysia, Indonesia, semua pengiriman dilakukan langsung dari US pakai FedEx. Alamak ga kebayang mahalnya. Atau bisa juga orang-orang Indonesia yang harus bolak-balik ke Sing untuk beli oils dan bawa sendiri ke Indonesia. Cuma dua itu pilihannya kalau nggak mau ribet sama urusan Bea masuk. Hiks, untuk itulah saya harap kalian jangan mengeluh bahwa essential oils ini mahal ya teman-teman, apalagi ngeluh di depan penjualnya langsung huhu, karena masukinnya saja sudah penuh perjuangan dan resiko. Tahu nggak sih, gara-gara ini saya sampe sempet browsing cara mengurus ijin BPOM loh, siapa tahu di masa depan kita benar-benar buka cabang warehouse Young Living Indonesia. Penasaran aja gimana sih gambarannya.

Setelah reda mikirin nasib teman-teman di Indo yang kepingin banget mengakses oil ini tapi sarana kurang mendukung; saya berganti mikirin nasib saya sendiri: mau nyuguhin apa, mau beres-beres rumah kapan, harus beli apa aja, dsb. Kebetulan di perayaan Halloween, banyak sekali anak-anak kecil yang datang ke rumah kami di malam trick or treat, di situ saya gunakan juga momennya untuk sebarin flyer.

Hari berganti hari, rsvp cuma ada 2, dari kalangan teman Indonesia sendiri. Hati mulai bertanya, ini nyebar jala segini banyak, masa sih gak ada sedikitpun yang kepancing…. Sampai di H-1, telponku tetap bergeming, dan banyak email-email minta maaf ga bisa dateng hihi. Hwaduh, udah mulai panik dan mulai ngadu ke suami, which is tandanya gw udah bener-bener panik dan ga bisa mendem sendiri. Gemes, boooo nyadar dong ini kalo di Indonesia udah dikejar-kejar sama semua orang yang pingin ikut. Tapi ya memang skala proritas dan kecintaan orang beda-beda juga sih. Akhirnya di Jumat sore itu ayah maksa aku untuk kembali nyebar undangan ke area komplek yang lebih luas. Aku setir mobil, ayah yang nyelipin undangan di mailbox flag (tidak di dalam mailbox nya). Kata ayah “ini namanya napak tilas ke jaman aku masih jadi sales door to door dulu di Tangerang, cari duit emang susah bun. Masa-masa susah ini harus ada, ini yang bikin kamu gak sombong dan tampil jor-joran kalau nanti sudah jadi orang, biar jadi penginget aja”. Makasih banget punya suami yang mendukung. You know what, upaya kami sore itu membuahkan hasil, ada satu telpon yang nanyain tentang event besok. Ternyata dari tetanggaku sendiri, dan dia langsung cerita banyak tentang masalah kesehatan yang dia punya, tentang masalah dia sama ibunya, nanya sebenarnya essential oil ini apa, dsb. Aku jawab sebisanya dan memastikan bahwa dia bisa datang besok jam 1 siang. Duh, semoga besok semua lancar, batinku berdoa.

Besoknya, Laura dan Alice datang lebih awal untuk set up tempat dan slide presentasi. Subhanalloh ternyata mereka nggak main-main. Satu mobil penuh diisi dengan semua display produk, katalog, dan buku-buku tentang essential oils. Terharu banget lihatnya. Semua ditata rapi dan baguuus sekali. Ruang tengahku tiba-tiba disulap menjadi studio essential oils yang cantik. Jam 1 siang satu orang teman saya datang, mbak Fiona. Lima menit kemudian, nggak ada lagi yang datang. Hadeh ini payah amat ya kejadiannya, masa cuma sebiji doang pesertanya. Saya putuskan untuk menelpon tetangga yang saya sebut tadi untuk nanya apakah dia jadi datang. Di situlah mulai terlihat keanehan, dia menerima telpon dan berbicara seperti terkena panick attack dan tergagap. Dia bilang dia tidak bisa menemukan sepatunya, dia bilang ibunya tidak mau datang, tapi dia sangat butuh bicara ke seseorang dan sambil terus meracau seperti orang kebingungan. Nah lho, saya coba tenangkan dia pelan-pelan, nggak apa-apa kamu tidak perlu buru-buru, kami juga belum mulai, santai saja dan kami tunggu ya. Langsung abis nutup telpon saya langsung bilang ke semuanya ‘teman-teman, kayanya tamu yang bakalan dateng ini agak serius nih masalahnya, Laura kamu siap-siap ya’. Laura bilang santai saja, suruh di duduk di Lazyboy dan pakai oil, nanti juga tenang sendiri.

Saat Laura sedang mempresentasikan slide ketiga, ada suara ‘gedebuk!’ dari arah pintu masuk dan seorang gadis tampak tergopoh-gopoh masuk dengan napas terengah-engah. Gadis cantik namun tampak berpenampilan tidak lumrah sebagai mana rata-rata perempuan Amerika. Dia pakai bindi di third eye-nya, baju dan rok gypsi, rambut panjang dikuncir ekor kuda, anting-anting unik, dan berkacamata seperti saya. Cantik banget, dan ngomong gak berenti-berenti. Penalaranku kalau lihat sekilas, aku akan menyangka dia autistik, atau setres. Tapi kita semua lagi berusaha menyimak nih. Dia bilang mau nelpon ibunya dulu suruh dateng karena tanpa ibunya dia nggak bisa beli apa-apa di sini. Aku sempet bilang, kita sebenernya gak jualin apa-apa hari ini, edukasi doang kok. Sempet ada sedikit ketakutan dia akan mengalami tantrum dan semacam ‘episod’. Tapi akhirnya dia mau duduk dan melihat presentasi, sambil bilang ‘saya butuh oil sekarang, saya butuh oil sekarang’. Tak berapa lama, ibunya datang juga. Saya melihat mereka ini mirip saya dan mama saya, cek cok terus. Dan si gadis 26 tahun ini tidak pernah berhenti memotong Laura bicara, dan si Ibu terlihat malu bukan main dengan kondisi anaknya. Ya Allah, rupanya ini yang telah Kau persiapkan buatku selama ini. Saya sudah gatel pengen ngasih kode ke ibunya ‘it’s okay….’ tapi si ibu terus menunduk malu dan melihat ke arah folder berisi katalog yang kami bagikan.

Gadis itu, sebut saja Mary, terus mengunyah keripik dengan kencang sambil menyimak semuanya. Ibunya mengingatkan ‘apa kamu harus makan sekarang?’ dan Mary menjawab ‘Aku sudah tanya ke Kesadaran Tertinggi-ku dan dia bilang aku boleh makan ini, di sini dan sekarang’. Aku motong ‘iya gapapa kok, ini aku juga makan’. Setelah itu dia terus menanyai Laura dan mengulang-ngulang apa yang pernah dia baca di sumber lain dengan detil dan akurat. Laura tetap tangguh menjawab dengan sesekali menyeruput air putih dari botol minumnya. Alice terduduk dan ternganga sambil sesekali mencuri pandang ke arah saya. Mbak Fiona cuma bisa melihat lurus ke depan, atau ke folder. Di momen itu aku tahu, Gadis ini bukan autistik, gadis ini bukan sakit jiwa, dia star child. Dan ibunya sungguh sedang diterpa kebingungan akan nasib anaknya. Ya Allah, ternyata ini yang sudah Kau siapkan buatku. Mary bercerita bahwa sejak usia 16 tahun, dia mendadak sakit gak jelas, infeksi, inflamasi, peumonia. Dan setiap kali sakit, dia selalu disembuhkan oleh Kesadaran Tertingginya sendiri, dengan cara dihisap dari tubuhnya lalu dikembalikan lagi setelah sembuh. Bunbun bengong, ternyata ada yang lebih ajaib dari saya. Laura bilang baguslah kalau begitu, kamu punya level kesadaran yang lebih tinggi dibanding kami semua. Dan yang menjadi keluhan Mary saat ini adalah dia mengidap Lyme disease. Dia selalu merasa tersengat di seluruh area tubuhnya terutama kulit, dan selalu rutin minum pain medication, juga menemui seorang psikolog. Jujur saat itu kami sama sekali gak prepared dengan informasi tentang lyme disease, dan kita jujur bilang ke Mary bahwa kita akan cari referensi tentang itu. Hiks kasihan sekali dia ternyata, ada banyak sensasi terjadi di tubuhnya, itu menjawab semua tingkahnya yang seperti kurang fokus dan kebingungan.

Dan begitulah kelas pertama di rumahku berjalan. Kami mengedarkan 10 Everyday Oils ke para peserta, mengajarkan cara melakukan neuroauricular technique, dan membagikan sampel jus Ning Xia Red. Namun selalu dan selalu, presentasi diinterupsi oleh Mary. Mary yang meracau tentang dirinya sendiri, Mary yang minta dipakaikan oil saat ini juga padahal topik slide belum sampai ke situ. Tapi Laura, Alice, dan saya bisa bekerja sebagai tim yang baik. Laura banyak mengalah dan akhirnya kata-kata itu keluar dari mulutnya ‘Mary, aku ngerti banget kondisi kamu, karena aku ADHD’ hiyaaaa silver uplineku ternyata ADHD, pantes dia juga kalo ngomong kok cepet banget. Setelah diberi oil peace & calming, lavender, dan NAT di area brain stemnya, Mary bisa lebih tenang dan kooperatif. Pas sudah hampir jam 5 buru-buru aku tutup kelasnya biar mbak Fiona bisa pulang dan kabur dari situasi sulit ini hehe karena kalo diladenin ini anak gak akan stop sampai malam meracaunya. Aku bilang makasih banget sudah mau jadi satu-satunya audienceku dari kalangan temen Indonesia, semoga Allah yang membalas kebaikannya.

Ibu dan anak ini akhirnya memutuskan untuk membeli premium kit dan mulai belajar pakai oil, alhamdulillah semoga ini menjadi rejeki kesembuhan dan kedamaian buat mereka. Di sore itu Laura udah kelihatan capek banget ladenin Mary, aku dan Alice akhirnya yang lebih sering menjawab. Dan akhirnya Mary pulang juga, kami bertiga langsung terkapar.

Malam itu, ternyata kembali Mary masih saja ‘mengganggu’ Alice dan Laura via telpon untuk menanyai berbagai hal. Alice akhirnya yang mendengarkan dengan sabar hingga 1 jam. Saya sangat beruntung karena dianggap kurang cakap berbahasa Inggris oleh Mary hehe jadi malah selamet deh. Intinya, banyak pelajaran bisa dipetik dari kelas ini. Tidak ada sesuatu yang kebetulan, ada kinerja cosmic consciousness terlibat di sini. Dari Mary dan ibunya saya berkaca tentang hubungan saya dan mama saya sendiri. Mereka ribut dan berdebat terus tapi saya tahu mereka nggak bisa lepas satu sama lain. Saya seperti diingatkan oleh Allah bahwa kamu akan dipertemukan dengan orang-orang yang memang membutuhkan kamu di saat yang tepat. We always exist in the right place, at the right time, with the right people.

Meski Mary nanti kedepannya akan banyak merepotkan saya, insya Allah saya siap dan ikhlas membantu dia seperti adik saya. Ini bener-bener rasanya energi saya masih habis lho sejak ketemu dia. Mirip kaya kalau habis ketemu klien yang jejas traumanya masih besar dan masalah hidupnya banyak. Doa saya semoga Mary dan ibunya bisa menyembuh dan saling bisa menunjukkan cintanya dengan wajar, bukan lewat pertengkaran dan perdebatan.

Saya nggak tahu kapan saya siap bikin event lagi. Saya hanya tahu bahwa saat ini saya makin jatuh cinta sama oil-oil saya, dan akan pesan terus yang banyak selagi bisa. Semuanya berujung pada satu hasil akhir: practice of gratitude.

Well Visit yang Menyenangkan

Akhirnya di bulan kedelapan tinggal di Amerika kami punya family physician dan pediatrician juga. Meski anak-anak penanganan kesehatannya sudah dipegang sama homeopatis, tetap kami berdua pingin sekali punya DSA yang bisa diajak berdiskusi dan terus memantau dan memastikan perkembangannya anak-anak apakah selalu di ranah normal. Bunbun deg-degan sekali nih karena sudah keburu skeptis duluan, yakin kalau semua dokter itu pasti sangat textbook dan science driven. Tapi sisi hati kecilku yang lain bilang, cobalah Nut ga ada salahnya, ini kan California, hukum dan Undang-undang sudah mendukung para orangtua yang merawat kesehatan anaknya secara natural. Akhirnya kami coba bikin janji dengan Dokter Umum dan Dokter Anak di klinik Blackhawk Medical Center. Dapat rekomendasi tempat ini dari Dokter yang bekerja di kantor ayah. Ayah punya feeling oke sama tempat ini. Kalau Bunbun masih fifty-fifty belum kebayang. Enaknya mengunjungi dokter konvensional adalah semua biaya dicover oleh asuransi. Sementara kalau kami pergi ke naturopath dan homeopath, ya harus bayar sendiri hiks hiks. Intinya, seminggu lebih saya kurang tenang jadinya memikirkan tentang akan seperti apa DSA saya nanti. Hih lumayan bikin susah tidur. Sempet curhat sama temen-temen di grup Young Living northern Caliornia, mereka pada bilang santai aja, kalau memang ga sepaham kamu bisa pergi kapanpun kamu mau. Oke, kita siapkan semua berkas medical clearance dari Cvx yang direlease dulu itu sebelum kita berangkat, plus immunization recordnya anak-anak (yang super bolong-bolong pastinya). Sampai di Blackhawk Plaza Danville, kita isi data pasien dulu, di sini saya baca dengan sangat cermat tuh semua lembar right & policy sebelum berani tanda tangan. Setelah selesai mengurus berkas, anak-anak ditimbang dan diukur tinggi badannya. Lalu di ruangan yang berbeda mereka diukur suhu tubuh dan Baim diukur juga tekanan darahnya. Dan step terakhir tinggal nunggu DSA nya masuk. Nama Dokternya Denise, perempuan, Alhamdulillah baik sekali, dia gak pakai snelli. Dia masuk ke ruangan dengan membawa laptop, mirip dengan Natalya si Homeopatis kami kerjanya. Dia menanya-nanyai kami sembari mengetikkan jari jemarinya di laptop yang terletak di pangkuannya. Dia sangat komunikatif, sangat pintar berkomunikasi dengan anak, dan cerita sedikit kehidupan pribadinya. Hatiku mulai jatuh cinta juga sama ini orang. Statement-statement yang membuat saya luluh oleh dia adalah:
• saat konsultasi soal menyapih, dia sama sekali tidak merekomendasikan susu sebagai replacement di malam hari, dia suruhnya air putih
• dia bilang menyusui di atas 2 tahun itu oke-oke saja apalagi dalam transisi kami yang baru pindahan begini
• pas anak-anak ngerubungin dia sambil main-mainin Rubber ducky yang nempel di stetoskopnya, dia ga marah, dia bilang dia juga punya anak 3 laki-laki semua hihi anak-anak gak ngerasa sama sekali kalau dia itu dokter, beda yah hawanya kalo dibandingin sama medical D*ri nyahahahahahaha (glek)

Lalu setelah berbasa-basi dan ngobrol asik kesana kemari, perbincangan pun sampai ke topik riwayat imunisasi. Dia membacakan list imunisasi apa saja sudah diterima Baim dan Yusuf (dengan liat contekan di laptopnya). Aku dari rumah sudah siap nyusun kalimat yang apik dan sopan untuk ngasih tahu anak-anakku sengaja partially vaccinated. Dia sebutin tuh kurangnya apa aja, trus dia nanya, apakah kamu mau catch up ketertinggalan itu atau stay di sini aja? Langsung saya jawab yang kedua lah hehe. Ayah sempet nimbrung nanti bakal masalah nggak ya pas mau masuk sekolah, dan langsung kusamber dengan ‘not in California’. Dan itu dibenarkan oleh dr. Denise. Siapa saja boleh menentukan anaknya mau divaksin apa saja, nanti pas Baim mau daftar TK tahun depan dia akan senang hati memvalidasi daftar imunisasinya Baim. Weh, gini doang nih yang udah gue khawatirin berhari-hari?? Ya ampun gampang banget nyambungnya ga usah pake berantem (padahal udah nyiapin skenario berantem kekeke). Jadi triknya begini, saya tidak 100% menunjukkan penolakan terhadap vaksin, saya bilangnya saya mau pilih-pilih dulu vaksin yang kira-kira benar-benar mereka butuhkan, kalau sudah yakin, baru saya akan kabari dokter. Dia senang banget saya ngomong begitu, dia bilang kalau ada yang mau ditanyakan lebih lanjut tentang vaksin apa saja yang tersedia, silahkan tanya kapan saja, kami siap bantu. Kaya skill komunikasi sama seller aja, jangan dimentahin, kasih penghargaan, pastikan anggap dia sebagai orang yang lebih tahu. Jadi kebanyakan kami malah bahas masalah parenting tadi, ara mendisiplinkan anak, cara menyapih Yusuf, dokter ini seneng sekali saat saya mintai saran. Selesai diskusi, Baim dan Yusuf diperiksa mata, telinga, dan nafasnya. Mereka enjoy banget dan ketawa-ketawa karena dokternya lucu.. Haduh demen sangat bunbun sama dr. Denise. Yang paling bikin Bunbun sumringah adalah saat dr. Denise bilang Baim dan Yusuf sehat banget! Semua ada di kurva pertumbuhan normal, badannya tergolong tinggi-tinggi, dan BB Baim adalah sempurna untuk anak seusianya (saya sempet curhat suka ada yang nyablak komen baim kurus, you know lah), dia menenangkan saya ‘udah deh, Amerika udah sibuk campaign anti obesitas, lah kok kalian masih sibuk gemukin anak’. Heu heu bener juga ya…

Pokoknya well visit hari ini bener-bener bikin saya lega. Saya merasa aman mengetahui bahwa anak saya dirawat lengkap sama ibunya, homeopatis, dan dokter anak yang luar biasa supportive. Finally i really found someone who can walk together with me, support whatever i’m doing, and work as a team in my children healthcare. Pas udah ngerasa nyaman banget, aku ngaku kalo aku ini bawa anak-anakku ke homeopatis juga, dia nanya homeopatisnya di mana, aku jawab di Walnut Creek. Kayanya dia welcome, karena sempat aku puji-puji juga kalau yang bikin aku datang ke dia adalah karena banyak orang yang rekomendasikan dia dan tempat ini (padahal mah cuma satu orang aja yang rekomendasiin hehe).

Sekali lagi, i feel blessed, di usia anak-anak yang rentan dibombardir puluhan vaksin, kami malah bisa tinggal di California yang sangat-sangat melindungi kami. Di saat teman-teman naturalis di Indonesia menemui banyak sandungan dalam menemukan DSA yang mau berbesar hati merawat unvaccinated/partially vaccinated children tanpa merendahkan mereka, di sini semua DSA malah harus menghargai setiap anak tanpa memandang riwayat imunisasinya, dan dilarang keras untuk mengintimidasi mereka. Hmm…susah ya untuk nggak ngejudge Indonesia, tapi ya gimana lagi, mungkin memang kejadian outbreak (KLB) di Indonesia masih banyak, malah kata dokter Joserizal juga outbreak suatu penyakit di daerah tertentu tuh terkadang memang ‘kiriman kado’ dari pihak-pihak tertentu sih :( gimana gak mau parno dokter-dokter Indonesah… Jadi menurutku sih emang yang bisa unvaccinate dan partially vaccinate di Indonesia hanya highly educated & well living parents aja sih menurutku, karena sistem masih usang, faktor resiko gedha, orang-orangnya ignorant, teror senjata biologis juga masih banyak. Yah, intinya i’m so blessed lah…tanpa bermaksud menyombongkan diri.

Pesanku buat ortu di Indonesia yang tidak memvaksin anaknya atau hanya partially memvaksin anaknya cuma satu, tetaplah ikhtiar cari DSA yang mendukung anda, karena Indonesia ga punya Homeopatis, dan jangan juga terlalu ngandelin herbalis heheh… Saya udah dikasih pelajaran untuk jangan menggeneralisasikan orang, saya sudah ketemu DSA yang pas dihati. Anda juga pasti bisa kook, kalau udah jodoh pasti ketemu. Kalau dibully, jangan sakit hati, cari yang lain. DSA yang baik tidak akan mencaci maki. Dan andapun gak boleh radikalis buta, yang belum apa-apa udah ngajak berantem duluan. Kuasai seni berkomunikasi yang baik. Saya juga punya teman-teman sejawat yang tidak sepaham dengan saya, kalau saya share link yang nyerempet-nyerempet vaksin mereka juga sering ngajak debat dengan ngasih opponent link yang lain. Tapi jangan kemudian perang sampai berhari-hari sampe urusan anak-suami dilupain yaa hehheheh. Segala sesuatu yang baik selalu dimulai dari kerendahan hati. Saya bukan salah satu dari Grup ASI for Thinker maupun Grup Stop Antivaks, buat saya dua-duanya sama aja psycho-nya, marah-marah mulu, trauma healing mana trauma healing. Serius, sedih saya lihat kalian. Dan saya ga akan pernah mau menjadi salah satu bagian dari keduanya (semisal ada yang ngajak). Wallahu Alam.
PS: komen saya tutup

20131101-221004.jpg

Sudah Siapkah Anak Anda Masuk TK?

20131025-005613.jpg

20131025-005716.jpg

20131025-005836.jpg

20131025-005907.jpg

Posting ini sengaja saya awali dengan keempat gambar di atas. Baru semalam kemarin saya menghadiri kelas persiapan memasuki TK yang diadakan oleh Donna, guru preschoolnya anak-anak. Daaan, presentasinya baguuus luar biasa sampai saya gak sabar lagi untuk jadi spoiler ke semua pembaca blog saya. Sudah lama banget ya aku nggak ikut seminar pendidikan, terakhir kali jaman Yusuf bayi ikut event Kak Seto. Nah kemarin itu keingintahuan parenting dan pendidikan ku yang ibaratnya udah lama nggak dikasih minum, menjadi terpuaskan lagi. Donna ngebocorin semua rahasia ilmunya ke kami, para orangtua yang anaknya berusia 4 tahun. Donna juga ngasih bocoran-bocoran lembar penilaian standar tes masuk TK di sekitar area kami, biar kami jadi siap dan nggak kaget lagi nanti saat waktunya mendaftar. Be ready ya…ini banyak foto contekannya hihi berguna buat anda para Orangtua, homeschooler, guru TK, maupun para pemerhati pendidikan.

Kok masuk TK ada tesnya sih? Tes di sini bukan tes calistung yang ekstrim kaya di Indonesia kok. Tapi memang tes untuk mengukur di manakah posisi si anak dalam lini tumbuh kembangnya. Lihat keempat gambar pertama tadi, kurang lebih itu patokannya. Bukan harus bisa baca tulis dalam konotasi yang kejam, tapi at least sudah mengenal sedikit huruf dan angka karena itu memang sudah praktik sehari-hari banget.

Donna kemudian menceritakan perkembangan tiap anak kami. Lucu-lucu deh ceritanya. Baim dibilang sudah detail sekali gambar keretanya sampai ke bagian-bagian terkecil, dan itu keren. Dia masih bingung berbahasa Inggris dalam format kalimat lengkap dan panjang, tapi dia tanggap memahami arahan/instruksi gurunya, dan sangat responsif. Kalau bisa, Baim harus sering-sering dipancing dengan teknik crossing line. Caranya, pancing anak untuk melakukan gerakan menyilang sehingga otak bekerja menyilang juga dari satu sisi ke sisi yang lain. Itu berhubungan erat dengan pematangan fungsi bahasa. Jadi kalau anak kita right handed, kasih sesuatu dari arah kiri depannya dia, supaya tangannya menjulur menyilang. Atau taruh gelas minumnya di arah pukul 11-nya dia. Hal-hal sesimpel itu bisa melatih area speech di otaknya untuk lebih meletup berkembang (wiring).

20131025-083159.jpg

Jangan dikira anak yang perkembangan bahasanya luar biasa berarti nggak ngalamin masalah sama sekali ya hihi. Donna cerita ada satu mantan muridnya, perempuan, ngomongnya pinter dan detail sekali di usia 4 tahun. Setiap ceritanya lengkap dan akurat seperti layaknya orang dewasa berbicara. Sampai suatu ketika, si anak ini pagi-pagi bercerita bahwa tadi malam rumahnya kebakaran dan semua polisi dan kru pemadam kebakaran datang, dia menelpon 911. Semua barang di rumahnya hancur dan mereka cuma sempat menyelamatkan diri. Donna panik bukan kepalang mendengarnya karena cerita anak ini selalu akurat, dia langsung menghubungi ponsel si ibu. Si ibu kaget luar biasa saat Donna mengkroscek informasi tersebut. Dia bilang kok bisa anak saya ngomong gitu? Tadi malam masakan saya cuma gosong di oven dan gak sampai kebakaran. Pas Donna balik ke kelas dengan hati lega, dia mendapati si gadis kecil ini sedang terkikik-kikik puas karena sudah ngerjain gurunya. Jadi anak ini menyadari bahwa banyak orang yang terpukau dengan kemampuan berbahasanya, orang selalu percaya padanya, dan terkagum-kagum saat mendengarkan ia bercerita. So she used that to make up stories and see what happens. Gilaaaak manipulatifnyahh. Di sini menunjukkan bahwa level imajinasi anak sangatlah luar biasa, seringkali kita terpedaya, harus jeli melihat apakah ini faktual atau rekaan.

Beda lagi dengan Alex, anaknya Arlin temenku yang orang Indonesia juga (salah satu alasan saya memilih preschool ini adalah karena ada murid Indonesia yang lain). Arlin bilang sekarang Alex lagi tahap acuh tak acuh (indifferent). Tiap ditanya kamu tadi makan siang apa jawabnya selalu ‘you know….’ Akhirnya Arlin balik jawab ‘No, i don’t, that’s why i asked you’. Cape deeeh dimentahin ama anak hihihihi.

So parenting is a tricky skill. Kita nggak pernah tahu kejutan-kejutan apa yang bakal dikasih anak kita. Donna sendiri mengalami, kedua anaknya tumbuh dengan sangat berbeda, padahal perlakuan sama persis. Anak pertamanya tumbuh dengan sangat tertata secara akademis, sedangkan anak keduanya tipe pemberontak, selalu membelot di sekolahnya dan akhirnya menolak kuliah, sekarang menjadi fotografer freelance. Donna merekomendasikan 2 buku bagus untuk dibaca, yakni Mind in the Making dan The Price of Previlage. Sedangkan film yang layak untuk ditonton adalah Race to Nowhere. Beberapa poin dari Mind in the Making ada di foto berikut.

20131025-083423.jpg

20131025-083440.jpg

Selama meeting kemarin, salah satu Orangtua yang bekerja sebagai terapis wicara juga banyak sharing panjang mengenai pengalamannya. Dia telah banyak bekerja di berbagai instansi pendidikan di area San Ramon dan sekitarnya. Dia miris sekali sama anak-anak sekarang yang terlalu terbebani di kemampuan akademik, mereka lumpuh di kehidupan sosial. Sama seperti di Indonesia, pulang sekolah mereka harus Kumon, les musik, les matematika, mengerjakan PR, bahkan mereka lupa kapan terakhir mereka bermain di halaman belakangnya sendiri. Di sisi lain, anak yang secara akademik biasa-biasa saja bahkan mungkin sedikit tertinggal, tapi secara sosial dia cakap; saat dewasanya justru lebih banyak menghasilkan uang. The academic kids going nowhere, the social kids will own their private jet; ujarnya. Dia memohon banget supaya kami lebih banyak kasih porsi di kecakapan sosial, karena potensi perkembangan sosial itu akan shut down di usia 6-7 tahun sebelum akhirnya diikuti letupan kemampuan akademik. Serius aku baru tau! Dia juga punya beberapa review tentang semua TK di sekitar kami. Wow, we should talk later, ujarku.

Donna selalu nggak suka sama teknologi layar sentuh, inilah yang membuat anak-anak jaman sekarang tidak mampu memegang pensil dengan benar. Karena itu 8 jam di sekolah adalah masa bebas layar sentuh dan kesempatan Donna untuk mengajak anak-anak berlatih memegang, meraba, merasa, dan melatih otot-otot tangan. Donna juga melibatkan anak-anak dalam membuat makanan, entah itu muffin, pizza, cookies, sehingga mereka bisa tahu rangkaian proses dari bahan mentah menuju barang jadi. Donna juga mengadopsi prinsip montessori dalam metode mengajarnya, pada dasarnya montessori diciptakan oleh Maria Montessori untuk diaplikasikan kepada anak-anak handicapped supaya mereka bisa mandiri dan tidak diolok-olok sepanjang hidupnya. Jadi, kunci praktik yang diulang-ulang adalah: ambil, kembalikan dan rapikan kembali/ cleaning up. Sebenernya konsep montessori bisa dipelajari dan dilakukan sendiri (saya sudah download workbooknya free di iBook alhamdulillah), namun sayang banyak sekolah TK yang memakai nama Montessori sebagai branding untuk ngasih harga gila-gilaan, mahal banget, ih ngapain, kata Donna. Banyak kok Public Kindergarten yang bagus dan ramah anak.

Untuk kemampuan membaca, kami disarankan untuk punya mainan huruf alfabet, sehingga anak-anak bisa merasakan tekstur setiap huruf, dipegang, dilihat, diraba, dan diingat bentuknya. Selain itu ya udah pasti banyak-banyaklah bacakan buku bergambar untuk mereka.

Semakin tinggi tingkat pendidikan, tantangan dan cobaannya akan semakin besar. Banyak sekali kasus bunuh diri yang terjadi pada murid sekolah, jadi Donna berpesan supaya kita selalu ada buat mereka untuk berbagi rasa. Saya beruntung sekali bisa dapat banyak ilmu dari dia. Di sini saya menyadari pentingnya menjaga komunikasi dengan guru, menjalin kerjasama yang baik sebagai tim yang solid. Saya jadi makin bangga sama Baim, makin mengagumi setiap lukisan dan gambarnya, makin menyadari ada ribuan kinerja saraf yang terlibat di dalamnya. Meskipun sebagai ibu muda saya juga tak pernah luput dari kritikan maupun keragu-raguan pihak lain akan kapasitas saya ya. Disenyumin aja deh kalo ada yang suka komen ‘Baim sudah bisa ngitung sampai berapa? Baca buku apa saja? Nulis apa saja? Hafal lagu apa saja? Hafal surat juz Amma apa saja? Hafal doa apa saja?’ Biarlah orang lain asyik mengaudit kehidupan saya dan anak-anak saya. Tapi yang penting setelah pertemuan pre-K ini saya tahu, bahkan semakin yakin, bahwa i’m doing JUST fine :)

20131025-094907.jpg

20131025-094934.jpg

20131025-095009.jpg

20131025-095048.jpg

20131025-095120.jpg

20131025-095150.jpg

20131025-095604.jpg

Dan Terakhir, ini primbon saktinya nih, lembar penilaian tes standar masuk public Kindergarten di Amerika.

20131025-095504.jpg

20131025-095533.jpg

20131025-100018.jpg

Semoga spoiler ini berguna ya buat anda yang juga mau masukin anaknya ke TK. Mau itu persalinan maupun pendidikan (begini ya kalo doula, apa-apa pasti nyerempetnya ke persalinan), intinya sama, kunci sukses ada di pembedayaan diri, bukan faktor luar. Milih TK sama kaya milih dokter kandungan dan Rumah Sakit, semua hanya pelengkap, namun bukan segalanya. Doakan semoga saya bisa ketemu TK dekat rumah yang cocok dengan anak saya (syarat pertama) dan lalu cocok dengan prinsip saya (syarat kedua). Amin.

Kontrakan Idaman

Mau cerita tentang bagaimana kami menemukan rumah kontrakan di San Ramon. Sejak masih di Indonesia aku dan ayah Zun udah mengontak teman kantor yang sudah duluan tinggal di sini. Mereka pada variatif dalam memilih kontrakannya, dengan berbagai alasan ada yang tinggal di Dublin, Danville, San Ramon, Walnut Creek, dll. Tipe rumahnya juga berbeda-beda tergantung selera dan kebutuhan masing-masing, ada yang single family home, townhouse, dan apartemen. Hmm, sedari awal kita berdua ngincernya yang di San Ramon aja, kalau bisa dekat dengan kantor, biar tak perlu membeli 2 mobil. Ada satu teman senior yang dapet rumah kontrakan yang deket banget sama kantor, cuma 15 menit jalan kaki dari rumah, sewa bulanannya pun nggak mahal-mahal amat. Wow enaknyaa, patut dicontoh ini, batinku. Mulai deh sejak di Duri browsingan-nya udah trulia.com. Badan masih di Sumatera tapi pikiran udah mumet ke US. Dan ternyata susah ih cari kontrakan di area sekitar kantor. Belom nemu juga. Ya udah akhirnya kita berangkat tanpa tahu mau dapat rumah di mana. Jalani hidup here and now.

Sampai di San Ramon, ayah kerjaannya pulang kantor selalu buka ipad nyari iklan rumah disewakan, sementara aku berkutat sama hebohnya anak-anak. Ceritanya kita masih tinggal sementara di Bridges Apartment. Eh di suatu Sabtu pagi di hari kelima, dia nemu satu iklan rumah disewakan yang fresh baru dipasang pagi itu! Dan letaknya di Jalan Winterside Circle. Kita masih belum tahu tepatnya di manakah Winterside Circle itu. Tapi cobalah yuk dilihat saja dulu. Sore-sore janjian sama pemilik rumahnya dan sampai di sana kita pun melongo. Hayah….ini mah cuma ngesot dari kantor! Dari pintu depan kita udah bisa lihat gedung kantornya ayah berdiri tegak, dipisahkan oleh jalur khusus jogging dan biking yang namanya Iron Horse Trail yang membentang panjang menghubungkan kawasan Tri Valley area (Danville, Dublin, San Ramon). Ini bahkan lebih dekat lagi dari jarak rumah teman kami tadi. Haduh ayah langsung mupeng, wis gak peduli sama yang lain-lain langsung dipepet terus ini sang land lord. Wis jatuh cintrong (bahasa Petruk). Rumah ini available karena penyewa yang lama akan pindah dalam 2 minggu. Hwaduh…pas banget, nggak sempet suwung dong rumah ini. Pihak penyewa lama sengaja diminta pergi keluar rumah sebelum kami datang, biar kami bisa bebas lihat-lihatnya tanpa merasa saling sungkan. Sayangnya kita bukan satu-satunya kandidat. Sudah ada 2 peminat lain yang lihat rumah ini. Dan mereka menentukan pilihan lewat sistem scoring. Yah, Bismillah aja deh. Kalau aku pribadi pas masuk ngerasain hawa rumah dan kondisi bangunannya, hmm…suka juga sih, gak ada yang aneh, gak ada yang butek, semua fine. Bangunan ini sebetulnya sudah cukup tua, dibangun tahun 1992. Sudah beberapa kali berganti penyewa. Rumah dengan 4 kamar, dua kamar mandi, satu toilet tamu, dan garasi 2 mobil. Aji gile, banyak ya kamarnya… Rumah ini juga sudah dilengkapi dengan perkakas seperti kompor listrik, microwave, dishwasher, washer dan dryer. Sisanya kita isi sendiri. Harga sewanya juga paling kecil diantara harga-harga yang sudah teman kami sebutkan. Masih kepala 2 gede. Sementara yang lain rata-rata kepala 3 bahkan 4.

Rumah ini dua lantai (two stories), itu yang bikin aku rada males, aku ngeri Yusuf jatoh. Tapi ya susah juga kalau mau cari yang ideal banget, toh bisa pasang pagar pengaman juga kan..
‘gimana bun?’ tanya Ayah
‘oke aja deh’ jawabku.

Di hari kedua kita dapet telpon dari pemilik rumah (Wendy dan Jim) kalau mereka milih kita untuk jadi new tenant nya. Entah apa yang bikin mereka suka sama kita, solidaritas sesama orang Asia mungkin? Kebetulan mereka beretnis Cina. Alhamdulillah… Sujud syukur banget nih, dapat semua yang diimpikan.

Udah, sekarang ngomongin yang gak enak-gak enaknya ya. Kita dikejar tugas segambreng. Beberapa diantaranya daftar PG&E (PLN), daftar jasa truk sampah (Waste Management), sama mengurus jasa instalasi tv kabel dan internet. Yah kalo disebutin semuanya mah jadi ngajak-ngajak stres yang baca hehehe. Intinya kita resmi serah terima kunci rumah mulai tanggal 15 Maret kemarin. Ada rasa-rasa heboh dan cape. Pinggangku menerima cobaan luar biasa. Ini Yusuf tiap masuk ke kontrakannya selalu naik turun tangga nggak selesai-selesai.
Ada rasa terbebani juga takut aku gak bisa merawat rumah ini seperti seharusnya. Ini rumah gede dan cakep, aku takut mengacaukan segalanya. Tapi buru-buru aku sadar, aku cuma akan menyiksa diri sendiri kalo matokin tolak ukur setinggi langit. Gue gak perlu sok-sokan kepingin jadi kaya Martha Stewart. Jadi sejak saat itu saya total berfungsi sebagai Housewife, istrinya rumah, sehari-hari di rumah dan mengurusi rumah. Frekuensi kultwit merosot tajam, posting blog juga. Pokoknya, tiada hari tanpa membatur.

Tidak terasa, sekarang sudah Oktober 2013. Sudah 7 bulan kami menempati rumah ini. Di rumah ini kami beristirahat, beribadah, berkumpul, bersenda gurau, bertengkar, marah-marah, merawat anak sakit, menerima tamu, dll. Yusufpun sudah piawai naik turun tangga dengan aman. Suka dan duka terjadi di rumah ini. Setelah 7 bulan, kami baru menemukan kekurangan rumah ini yakni terlalu dempet dengan tetangga kiri/kanan/belakang. Jadi kalau kita buka pintu voyer menuju halaman belakang, kedengeranlah segala suara kiri-kanan kalau mereka ada di halaman belakang juga. But that’s okay, masih jauh lebih nyaman dibanding apartemen. Kalau Baim dan Yusuf lagi drama nangis-nangis berantem, tidak sampai mengganggu tetangga.

Untuk kondisi rumah, Bunbun berayukur sekali karena di rumah ini sama sekali tidak ada semutnya seperti di Duri dulu. Jadi semisal ada remah roti atau bahkan meises yang berserakan di lantai tidak perlu buru-buru disapu. Dan di San Ramon juga tidak pernah ada nyamuk. Berbulan-bulan kulit kami mulus tanpa gigitan nyamuk. Kalau Bunbun sudah capek dan pusing sekali sama urusan rumah, kami memakai jasa housekeeper dengan tarif per kedatangan. So, intinya dijalani dengan santai apa adanya.

Sekarang belum apa-apa sudah sedih kalau mikir waktu kita di Negeri ini tinggal 2 tahun 5 bulan lagi, ihihihi kemaruk tenan tho? Ada rasa di mana pasti akan berat nanti saat kita harus pisah sama rumah ini, jualan garage sale lagi, ngepak-ngepak lagi, dan berputar mengikuti gerak siklus alam semesta lagi… Apapun yang terjadi nanti, saya cuma pingin makasiih banget sama Allah yang sudah memberikan apa-apa yang persis kita sebutkan kan minta di dalam hati. Betapa nyatanya kinerja afirmasi dan doa serta prasangka baik pada Sang Pencipta. Kepingin rumah kontrakan dekat kantor, dikasihnya plek sama seperti itu. Hal ini tambah membuat saya yakin, Allah selalu menolong dan membantu kita. He’s not just our Lord, He’s our best buddy.

My First Young Living Meeting

20130908-151257.jpg

Kemarin saya ikut event Young Living di Sacramento bersama Marcella Vonn Harting. Marcella adalah orang no. 3 di kerajaan bisnis ini setelah pasutri Gary dan Mary Young. Saya dari awal baca undangannya di Meetup.com udah yakin pasti harus datang. Tapi gak tau gimana caranya karena Sacramento itu jauh 89,6 miles di utara. Ditambah lagi ada godaan distraksi berupa event bazaar Pasarsenggol di San Francisco yang khusus menjual beragam makanan dan jajanan Indonesia; di hari yang sama. Tapi entah bagaimana, demi karir dan masa depan yang lebih baik, saya pilih YL event. Bersama pasukan lengkap suami dan anak-anak, dan bekal makanan lumayan banyak; kami start dari rumah jam 8 pagi. Nekat bener ini Bunbun karena gak kenal siapa-siapa selain Laura, sponsorku, dan kitapun belum pernah ketemu langsung!

Sampai di Hotel Hilton Arden West Sacramento jam 10, kami mencari restroom dulu buat nganter Baim pipis. Terus saya masuk ke ruangan meeting, anak-anak dan ayah main di luar. Pas saya masuk, acara sudah berlangsung dan kursi sudah lumayan penuh! Wow…padahal perasaan di MeetUp yang rsvp cuma 36 orang deh… Tapi ternyata 36 orang itu ngajak temen-temennya lagi! Satu orang berdiri nyamperin saya, minta saya mengisi daftar peserta dan ngasih name tag. Dia tanya ‘kamu dibayarin Laura kan?’, saya jawab iya. Kemudian saya menuju ke tempat duduk yang masih kosong di baris keempat dari belakang. Dan pencerahan bertubi-tubi pun dimulai. Btw, slide presentasi Marcella kali ini akan diupliad ke websitenya, http://www.marcellavonnharting.com untuk kemudian bisa di download oleh siapa saja, how cool is that???

Marcella mengajarkan bagaimana cara mengganti seluruh isi lemari obat-obatan kita dengan 9 everyday oils, baik buat sakit flu, pusing, demam, diare, migrain, bahkan P3K (luka bakar/luka gores). Sembilan varian yang ada di paket 9 every day oils ini dibahas satu per satu dan dicompare dengan obat-obat kimiawi merk pasaran yang bisa digantikan olehnya. 9 every day oils adalah paket essential oils keluaran Young Living, baik single oil maupun blends, yang paling bestseller dan most used oils. Ini bakal seru banget…

Biar bacanya asik dan gak overwhelmed, saya tulis pakai poin-poin saja ya. Sayapun kurang suka kalau baca kalimat ilmiah panjang, so i know what readers like…

Fakta pendahuluan:
- sebelum memakai oil, selalu lakukan skin test dulu di sepanjang bagian tangan yang paralel dengan jari kelingking
- oil yang biasanya alergic buat sebagian orang: clove, thyme, oregano
- 3 cara terbaik untuk aplikasi 100% pure therapeutic grade essential oil: oles di telapak kaki, dihirup, diminum dalam kapsul
- 3 tempat big no no untuk aplikasi oil: mata, lubang telinga, alat genital
- oil-oil yang sifatnya kuat dan iritatif harus selalu dicampur dulu dengan minyak sayur/olive oil/non scented coconut oil
- semua produk YLEO bersertifikasi I.S.O 9000 (google sendiri ya lebih jelasnya)
- cara oil testing yang benar: pegang botol EO di depan perut sejajar pusar, angkat botol perlahan ke atas sambil diputar-putar sejajar horizontal plane sampai mendekati satu lubang hidung. Tangan kita yang lain menutup lubang hidung lainnya, terserah mau yang mana. Hirup dalam, rasakan. Lalu lakukan hal yang sama untuk lubang hidung yang lain. Setelah itu, gerakkan botol EO ke samping kiri dan kanan melewati hidung sebagai midline-nya, 4 repetisi, perlahan, sambil hirup dalam. Selesai. Waaaw, berasa kaya wine testing ya??? Dengan cara ini konon kita bisa melatih hidung kita untuk mengenali dan menilai kualitas EO, membedakan mana yang bagus dan mana yang palsu. Luar biasa, dari cara menghirup saja ternyata ada seninya.

LAVENDER OIL

- This is the MOTHER of all oils
- spesies: Lavandula angustifolia
- frekuensi: 118 MHz
- penggunaan: insomnia, stress, alergi, tensi tinggi, luka gores, luka bakar, luka memar
- bila di oles di titik meridien di telinga untuk tekanan darah, bisa menurunkan tensi dengan cepat (wah bagus untuk ibu hamil yang panik dan menuju preeklamsi nih)
- true lavender is not cheap, between $25-$45
- kalau ada lavender oil yang harganya di bawah range di atas, berarti biasanya isinya hanya lavendant (biang parfum), alkohol dan kamfer, dan kalau sampai oil abal-abal ini dipakai buat treatment luka bakar, yang ada malah lukanya bisa naik derajat hiks….
- lavender YL yang ditanam di St. Maries farm adalah jenis yang paling poten di seluruh dunia. Frekuensinya lebih tinggi dan harganya lebih mahal, hampir 2 kalinya Lavender oil biasa. Botol sampelnya diedarkan ke seluruh peserta, dan pas saya terima sayapun coba hirup dengan teknik di atas. Baunya Subhanalloh…..bikin langsung pingin order bulan depan. Beneran beda sama YL Lavender biasa yang harga membernya $23 itu. Sayangnya St. Maries farm ini kecil sehingga produksinya juga terbatas, that’s why St. Maries Lavender tidak dimasukkan ke paket 9 everyday oils, ga akan cukup buat seisi dunia.

PEACE & CALMING (oil blends)
- shrink in a bottle
- frekuensi: 105 MHz
- penggunaan: hiperaktifitas anak, insomnia, susah tidur pada anak, stress, serangan panik, ketegangan
- mengandung ylang-ylang yang menyeimbangkan energi feminin dan maskulin, dan untuk mengatasi tachikardia
- has been scientifically tested in Weber State University, Ogden, Utah

THIEVES (oil blends)
- antibacterial, antiviral, antifungal
- frekuensi: 150 MHz
- penggunaan: segala infeksi, sakit tenggorokan, sakit gigi, flu
- sebegitu favoritnya hingga dikembangkan lagi menjadi satu serial thieves personal care & household products
- penggunaan kapsul sangat meningkatkan khasiatnya dan mengurangi jumlah tetesan yang diperlukan

PEPPERMINT
- kebalikannya lavender
- frekuensi: 78 MHz
- penggunaan: penurun demam, konstipasi, kurang energi, lemas dan mengantuk, sumbatan saluran nafas, keracunan poison Ivy (di Indonesia jarang tapi)

FRANKINCENSE
- spesies: Boswellia carteri
- frekuensi: 147 MHz
- penggunaan: extreme coughing, scars, ashtma, bronchitis, anxiety, skincare (sunburn & wrinkles)
- meskipun harus hati-hati ngomongnya, tapi kenyataannya ini oil untuk mengatasi tumor dan kanker, meskipun saya juga nggak mau asal sesumbar yang terkesan men’dewa’kan
- khasiatnya luar biasa, tapi baunya kaya dukun santet belum mandi 5 hari
- butuh 40 tahun untuk menumbuhkan satu pohon frankincense agar bisa siap panen, jadi Marcella cuma bisa ketawa kalau lihat di health food store ada yang jual Frankincense seharga $9

LEMON
- oil yang meski terkesan inferior dan kurang sakti dibanding teman-temannya, tapi dia ga pernah minder, humble banget serta banyak manfaatnya
- cuma dia yang bisa ngilangin smudge permen karet menahun dari kaca mobil anda
- penggunaan: creates more energy, cleaning, cooking, purifies lymphatic nodes of your body
- bisa juga untuk menghilangkan mabok perjalanan atau mualnya ibu hamil trimester pertama
- baunya nggak bikin pusing kaya pewangi ruangan aroma lemon

PANAWAY (oil blends)
- pain killer
- frekuensi: 112 MHz
- penggunaan: sore muscles, bruising, inflammation, Sciatic pain, headache, arthritis, massage oil
- mengandung Hylacrisum yang bisa meregenerasi sel saraf

VALOR (oil blends)
- chiropractor in a bottle
- frekuensi 47MHz, meski rendah tapi ini identik dengan frekuensinya susunan tulang belakang manusia
- YLEO yang baunya paling favorit buat saya, ringan dan manis
- penggunaan: untuk massage, sore muscles, pain reliever, bruising, depression, lack of confidence and self esteem, aligns the whole bones in the body, seizures
- cocok buat anak-anak indigo yang sering stres dan kaget lihat vision-vision yang datangnya tiba-tiba

Last but not least PURIFICATION (oil blends)
- diformulasikan oleh Gary Young awalnya hanya untuk penghilang bau tidak sedap, eh belakangan khasiatnya malah jauh lebih banyak dari itu
- frekuensi: 46 MHz
- penggunaan: odors, acne, bug bites, laundry freshener, pet odors
- mengandung Melaluca (tea tree oil) yang kabarnya adalah best invested oil untuk saat ini
- baunya segar banget kalau saya diffuse di rumah, energi (chi) rumah saya juga langsung kerasa bersih

Nah itu materi tentang 9 Everyday oilsnya. Mantep banget ya… Dan ternyata essential oil itu ada juga mafianya, mereka jualin bahan-bahan jelek tapi dilabelin natural dan pure sama FDA, lolos sampai ke store. Hiks, jadi FDA itu kata Marcella gak lepas dari khilaf…pasti ada aja kongkalingkongnya sama produsen-produsen tidak bertanggung jawab. Makanya dia semangat edukasi, bukannya untuk menjelek-jelekkan produk tertentu, tapi untuk mencegah orang-orang kena harmful effectnya EO berkualitas jelek. Makanya YLEO konsisten dengan cara pemasaran lewat jalur distribusi yang sekarang, lebih gampang kontrolnya, lebih aman dari mafia-mafia. Sebenernya banyak banget testimoni yang diceritakan Marcella, semua dahsyat. Tapi saya agak malas untuk membahasnya karena sekali lagi saya gak mau menyuguhkan YLEO sebagai obat dewa. Menurut saya YLEO adalah lifestyle yang fun dan asik banget!! Saya ibu rumah tangga setres tanpa pembantu dan beranak 2 super heboh. Kalau nggak pakai YLEO saya udah ketemu therapist beneran kali ya, meski saya sendiri healer.

Ketemu Marcella kemarin bener-bener bikin saya semangat untuk terus pakai oil. Sehabis sesi pertama, saya nekat antri nyamperin Marcella untuk memperkenalkan diri bilang saya adalah representasi dari Indonesia yang berpenduduk 600 juta jiwa. Saya jelaskan bahwa kami sangat mengharapkan warehouse Young Living segera buka di Indonesia agar lebih gampang buat kami mengakses oil-oil ini, selama ini kami hanya bisa mengakses dari Singapur yang memakan ongkos kirim lumayan mahal. Jawaban Marcella adalah….ada protokol-protokol tertentu untuk bisa buka cabang di negara baru, tapi sepertinya dia optimis Indonesia sangat potensial. Sebentar lagi warehouse KL dibuka kok, katanya. Moga-moga itu artinya Jakarta bakal menyusul ya. Aamiiiin.

Keluar dari ruangan saya langsung cari ayah dan anak-anak. Wah ayah oke banget momongnya, anak-anak udah makan semua. Sebenarnya jam 2 siang mulai lagi materi yang lain, tapi saya sudah ijin sama Laura nggak bisa ikut, anak-anak mau lihat old town dan museum Railroad. Sempet cipika cipiki sama dia, bilang makasih udah dibayarin untuk ikutan ini ($30 value). Dia juga bilang makasih akhirnya saya beneran jauh-jauh ke sini. Saya janji akan datang di event selanjutnya di Santa Cruz. Moga-moga semakin anak-anak besar semakin bisa ditinggal ibunya belajar ya…

20130908-151203.jpg

Mulai Go Green Pakai Diva Cup

20130903-131745.jpg

Caution: Women over 17 only.

Nggak tau gimana ceritanya kok saya bisa tertarik mulai pakai menstrual cup. Awalnya lagi nggak bisa tidur malam-malam, bengong aja lihat anak-anak sudah pules. Lalu otak entah gimana otomatis aktif mikirin soal kalkulasi sampah popoknya Yusuf. Berapa ratus ya pospak yang sudah gue buang ke alam untuk satu bayi gue. Apalagi kan sudah gede begini adalah masa paling dilematis, mau pakein celana males, mau pakein clodi udah gak mempan… Jadi ini masa-masa paling penuh dosa karena saya cenderung sering pakaikan pospak ke Yusuf. Kebetulan juga pospak sini kualitasnya lebih bagus, ke kulit oke banget. Duh maaf ya alam…. Dalam hati berniat supaya sebentar lagi Yusuf lepas popok.

Terus pikiran loncat lagi: apa kabar elo Nut, yang ngabisin pembalut bertumpuk-tumpuk sampai nanti menopause? Ih tambah nyesek ngitunginnya. Bener juga ya. Perempuan itu lebih banyak nyampah ke alam dibandingkan laki-laki. Laki-laki cuman pakai popok selama kurang lebih 2 tahun masa hidupnya. Perempuan? Setelah akil balik dia harus buang sampah terus tiap bulan selama seminggu… Kalau dihitung sampai seumur hidup, ada berapa ribu lembar pembalut coba??? Huhuhu… Sempat niat mau beli reusable mens pad pagi, tapi males nyucinya… Terus browsing-browsing soal tampon di youtube, sama aja, nyampah juga. Dan lalu akhirnya pencarian saya menclok ke menstrual cup. Wow, dulu pernah dengar soal cup ini tapi belum yakin barang ini beneran ada yang pakai. Serem gila bayanginnya, masa cup mau dimasukin ke organ itu? Pakai tampon saja saya belum pernah…apa ga sakit itu?Akhirnya saya ikutiiin aja tuh channel-channel nya, dan ter-wow sama sisi ramah lingkungannya si menstrual cup ini. Dia terbuat dari material silicon yang terlisensi dan aman secara medis. Pakainya ya cuma dimasukkan dengan angle yang tepat ke dalam organ kewanitaan kita, lalu dia akan tampung sendiri semua darah haid hingga 12 jam tergantung flownya. Hmm….menarik. Keuntungan lainnya, dia bisa dicuci ulang dengan air sabun dengan pH alami, dikeringkan, lalu siap dipakai kembali. Dari semua merk yang saya riset, merk Diva Cup kayanya paling tenar di sini. Dia hadir dalam 2 pilihan ukuran, no. 1 dan no. 2. Ukuran no. 1 untuk wanita di bawah umur 30 tahun dan/atau belum pernah melahirkan baik secara normal maupun SC. Ukuran no. 2 untuk mereka di atas 30 tahun dan/atau sudah pernah melahirkan secara normal maupun SC. Pas lihat instruksi pemasangannya kayanya gak sesulit yang saya bayangkan. Hey, udah ngelahirin normal dua kali gitu lho, pasti udah lebar banget ini di bawah ahahaha…

Terus masalah harga, Diva Cup dibanrol dengan harga $30 an dolar. Cara beli Diva Cup bisa di webnya langsung http://www.divacup.com , di online-online store independen, ataupun di health food stores seperti Sprout, Wholefood, dan Trader Joe’s. Wah mumpung softex di rumah sudah hampir habis, sayapun hunting harga di amazon.com, dapet harga $28 bebas ongkir dengan asumsi delivery memakan 7-9 hari (kaya JNE oke kali ya ). Malam itu masih mikir-mikir mau beli apa nggak. Mau ramah lingkungan kok ya mahal banget sih ya, maju mundur banyak godaannya. Mending nyoba tampax pearl dulu aja deh pikirku, itu tampon sekali pakai yang daya tampungnya jauh melebihi pembalut biasa. Saya kan kalo haid flownya ampun-ampunan heuheu.

Nah besoknya pas mau jemput Baim, saya sama Yusuf iseng-iseng ke Wholefood dulu cuci mata. Eh nggak tahunya Diva Cup nya lagi sale!!! Harga sama kaya di amazon dan gak perlu nunggu shipping bisa langsung bawa pulang. Gak perlu mikir dua kali aku ambil aja satu yang no. 2. Duh moga mahalnya sepadan yaa sama niat baikku yang nggak mau nyampah ngotorin alam. Kalau Yusuf masih harus pakai pospak, masa emaknya juga pakai pembalut disposable…hiks dobel dong merasa berdosanya. Kubawa pulang Diva Cup bersamaku, kusimpan rapi bersama struknya untuk jaga-jaga kalau perlu direturn. Sapa tahu nggak akan pernah dipakai aka hamil maning bunbunnya ahahahahaha. Tapi kehendak Allah berkata lain, saya masih diijinkan untuk mens mulai kemarin. Dan ini barusan saya buka dan coba pakai Diva Cupnya. Ihiiy, gak berasa apa-apa tuh pas udah terpasang dengan baik, udah jebol kayanya miss V sayah kikikik. Bisa buat sepanjang malam, berenang, lari, sepedaan, guling-guling, tanpa takut tembus karena darah akan langsung ditampung begitu nongol dari mulut rahim. Ini juga kalo gerak nggak berasa greasy ada yang ngalir-ngalir seperti kalau kita pakai softex ataupun pembalut cuci ulang. Asli enak. Coba nanti saya update ya di twitter pas sudah ngelepas, mencuci, dan memakai ulang. Saran dari perusahaan sih produk ini sebaiknya diganti setelah satu tahun pemakaian. Tapi kalaupun masih bersih dan belum ada diskolorasi, lanjut juga boleh katanya. Silikon ini juga recycleable, jadi nggak merusak ekosistem insya Allah. Beneran deh kayanya semua baby/female online store di Indo harus mulai mempertimbangkan buat jualin ini instead of washable menspad. Karena washable menspad tuh ribet banget gantinya kalau buat wanita kantoran. Satu cup untuk 12 bulan masa haid? Super eco friendly….pasti laku keras.

Umur Bukan Soal

Di manapun saya berada selalu saja ketemu sama orang-orang yang menginspirasi. Dulu sewaktu masih di Duri, saya ingat pernah bikin posting khusus tentang Bucek dan Mak Uwo ya, representasi pejuang hidup yang istiqomah dalam hidup sederhana. Nah di sini saya kembali bertemu dengan lebih banyak orang yang membuat saya kagum, terheran-heran, bahkan sampai geleng-geleng kepala.

Di Amerika, yang paling menyorot perhatian saya dari orang-orang sini adalah kebebasan mereka untuk bekerja di usia tua. Sebelumnya maaf nih kalau kesannya seperti selalu berkeluh kesah membanding-bandingkan dengan negara sendiri. Jadi di sini, kami mengabaikan faktor umur dalam mengukur kapasitas seseorang. Kami bahkan memakai kata ‘senior’ instead of ‘old‘ untuk orang di atas 55 tahun. Semua orang-orang yang berkompeten di bidangnya masing-masing yang saya temui semenjak pertama kali menginjakkan kaki di sini pasti semuanya sudah beruban. Dimulai dengan Linda guru menyetir, Anita konsultan sesi Intercultural Introduction, bapak carpenter, tukang angkut furniture, guru Bahasa Inggris, kasir supermarket, teman-teman di jaringan MLM Young Living, tetangga sebelah rumah yang masih seksi, semuanya senior resident! Gak ada istilah telat kawin ataupun telat punya anak. Mereka percaya fisik mereka luar biasa, that’s why banyak wanita usia 40an yang kehamilan dan persalinannya lancar-lancar saja meski dengan bantuan teknologi screening test ya pastinya. Belum lagi kalau lihat jogging track Iron Horse Trail di depan rumah, warga usia senior pada lari dengan kencangnya! Dengan body yang masih aduhai, toning, firm, bikin saya tertohok hingga ke tulang. Di jalan pas kami menyetir melewati seorang biker laki-laki, pasti selalu ‘kecele’; karena dari belakang badannya sangat lean dan atletis, saya sudah ngarep dari depan akan lumayan mirip Lance Armstrong ya, tapi setelah kita salip, tampak depannya yang ada mirip pak Tile alm! (yang ini metafornya kebangetan yah, nggak Pak Tile juga sih). Eh siyal…ternyata dia kakek-kakek.

Contoh paling dekat buat saya adalah kisah Judy, guru Bahasa Inggris saya yang rutin mengajar ke rumah 2x seminggu. Dia ini baik banget orangnya dan suka cerita panjang OOT tentang dirinya sendiri dan pekerjaannya. Baguslah, kan jadi berkurang jatah saya untuk mikir ngerjain soal xixixi… Judy ini seringkali harus absen mengajar karena harus terbang ke berbagai Negara Bagian untuk ikut kongres, ngasih training, bikin revisi kurikulum. Dan kalau di rumah, dia selalu punya deadline menulis bahan ajar buat mahasiswa Sastra Inggris di Universitas, dan selain itu masih ada jadwal ngasih webinar. Weladhalah! Aktif bener dia! Yeah kadang dia juga cerita gitu sambil ngedumel sih ‘Doh belom kelar-kelar nih pusiiing’ sort of like that… Sampai akhirnya satu waktu saya bilang ‘Judy, ngeliat kamu yang masih dipakai terus skillnya kaya gini; aku jadi ngerasa jalan dan proses hidupku masih panjang banget’
‘Loh iya, kamu itu masih sangat muda!’

Jadi mereka semua masih merasa on the top of the world! Sehat, kondisi tubuh terjaga, berpenghasilan, dan bisa melakukan apa saja. Karena terkondisikan oleh rekan-rekan senior yang inspiratif tersebut, maka secara umum terangkatlah usia harapan hidup warga Amerika. Masing-masing merasa termotivasi bahwa umur bukan faktor penghalang untuk terus berkarya. Maklum usia pensiun rata-rata di Amerika adalah 67 tahun. Namun tetap setelah itu, mereka masih bisa lanjut berkarya di bidang usaha informal. Seapes-apesnya kalau udah nggak ada yang mau bayar ya mereka kerja sosial. Contoh benerapa tokoh yang sudah tua banget tapi masih lincah adalah Louise L Hay (penulis, hipnoterapis) yang masih produktif di usia 86. Ada juga Jacques Pepin (celebrity chef) yang juga kepala 8 dan masih terus punya show sendiri di stasiun TV lokal. Dan masih banyak lagi. Bahkan produk kecantikan saja sudah tidak pakai istilah ‘anti-aging’ lagi, tapi jadi ‘Pro-aging!’ positif sekali ya brandingnya. Aku jadi nggak heran lagi kenapa Debra Pascali Bonaro dan Tapas Fleming tampilannya masih bisa cantik gitu di usia nenek-nenek. Karena di sini semua begitu. Selebriti atau bukan, semua cakep!

Sementara yang di Indonesia masih tercengang sama Jennifer Aniston dan Sandra Bullock yang masih tampil fenomenal di usia segera menyentuh kepala 5. Mereka berdua masih kategori anak kemarin sore di sini, yang kaya mereka banyak.

Yuk sekarang saya ajak anda mengunjungi tanah air Indonesia yang terkenal dengan gelar gemah ripah loh jinawi. Betapa gejala aging phobia sungguh banyak terjadi di tempat ini. Usia pensiun di sini adalah 55-56 tahun. Umur di negara ini menjadi sesuatu yang dinilai subjektif, dengan motto: bibit muda akan selalu mengalahkan yang tua. Berbagai kultur di Indonesia banyak menuntut seseorang untuk menyegerakan proses siklus kehidupan: cepat menamatkan pendidikan, kerja, menikah, punya anak, dan buru-buru menamatkan anak kuliah. Kenapa? Karena sehabis itu yang terjadi adalah datangnya masa pensiun, penyakit, dan menua! Poor people…

Yang terjadi kemudian adalah:
- orang-orang merasa bagai diteror memasuki usia kepala 3, which is super very silly
- menyebut ungkapan ‘gue tua banget’ menjadi hobi yang dipakai dalam skala besar, gak peduli bahwa dia sebenarnya masih 25th
- secara bawah sadar menseleksi teman pergaulan hanya dari kisaran umur yang rerata
- suka melempar joke2 tentang umur dan angkatan, yang lebih tua biasanya nggak mau ngaku angkatan berapa
- suka mengkait-kaitkan kesalahan diri sendiri dengan faktor ‘U’. Lupa sesuatu, wah faktor U nih, ngos-ngosan habis olahraga, wah faktor U gak bisa boong nih, dsb
- pria/wanita yang masih single maupun pasangan suami isteri yang program momongannya belum berhasil selalu merasa sebagai warga kelas 2
- kerutan pertama di wajah maupun uban pertama terasa bagai petir di siang bolong, tak sedikit yang kemudian mempostingnya di media sambil mengulangi pernyataan di list nomor dua *kalem
- menopause menjadi momok nomor satu bagi kaum wanita
- percaya bahwa awet muda adalah sesuatu yang nyaris mustahil diperoleh bila tanpa bantuan operasi plastik dan perawatan-perawatan anti penuaan mahal
- sakit dan menua adalah afirmasi bawah sadar yang dianut para pensiunan padahal sebenarnya mereka hanya kurang aktivitas baik fisik maupun otak
- lansia dieman-eman dan cenderung dilarang untuk banyak beraktifitas, padahal itu malah saat tepat buat mereka achieving mimpi-mimpi masa mudanya
- lansia yang masih bekerja kebanyakan dari golongan ekonomi menengah ke bawah
- warga senior golongan ekonomi menengah ke atas kalau masih bekerja justru akan beresiko dijudge kurang tabungan pensiun
- secara fisik, tampilan warga senior di Indonesia kurang appealing, yang masih cantik/ganteng dan in shape adalah kaum minoritas atau selebriti. Ya karena kembali lagi, mereka merasa kurang perlu dilihat sama dunia
- warga Indonesia anomali yang bisa mencapai umur sangat panjang, kalau bukan oma-opa Chinese yang menerapkan Taichi (ciye yang lagi belajar QiGong), pasti dia tinggal di dusun banget jauh dari pengaruh kebisingan dan makanan a la kota.

Terus tulisan ini arahnya kemana? Hmm saya cuma penasaran aja sih, sebenarnya bisa nggak ya pola pikir kita ini dirubah? Contoh nih sekarang saya 30 tahun, dan saya nggak pernah merasa sebahagia dan sepuas saat ini loh dengan diri saya sendiri. Dan saya belum pakai produk anti aging. Well, ini bisa jadi pertanda saya sudah menerima dampak positif dari pergaulan sama orang-orang senior di sini. Saya yakin saya yang 50 tahun di masa depan juga sama sehatnya dan sama berenerginya dengan saya yang sekarang. Saya ini masih muda dan jalan masih terbentang panjang di hadapan saya. Segala kemungkinan manis menunggu untuk saya raih. Umur kronologis seseorang bukan gambaran dari potensi jiwa yang ada di dalamnya. Lalu coba bayangkan apabila pola pikir saya ini terduplikasi ribuan kali oleh teman-teman yang lain yang membaca, seru kali yah… Tatanan kehidupan di mana tidak ada kata terlambat untuk segala hal, pasti enak. Bisa pede belajar hal-hal baru tanpa halangan faktor ‘U’, kursus bahasa Asing, menari, olahraga, usaha punya anak lagi atau sekedar makan permen lollipop dan naik kuda-kudaan (tapi kayanya bagian kuda-kudaannya diskip aja deh yaa haha i’m going too far).
Tidak ada ungkapan ‘saya/kamu/kita terlalu tua untuk itu‘ atau sebaliknya ‘saya/kamu/kita terlalu muda untuk itu‘. Tidak ada seseorang yang terlalu tua, terlalu muda, ataupun kurang kompeten untuk sesuatu. Setiap umur adalah sempurna untuk pemiliknya.

Ada satu pernyataan Louise L Hay yang saya suka: ‘Kalau seseorang melewati ulang tahun ke-50 nya dalam kondisi sehat dan cancer free, berarti dia sedang dalam proses merayakan ulang tahunnya yang ke-90‘. Mungkin kita harus lebih banyak belajar dari mereka-mereka ini ya…Louise L Hay atau Christiane Northrup yang sudah menjadi bukti hidup memasuki usia menopause yang tetap cantik dan mengagumkan. Kecantikan wanita tak pernah padam, pun energi seksualitasnya. Psst, saya juga diam-diam mengagumi Joan Rivers (Host Fashion Police) dan Wendy Williams lho (Aktris mantan penyiar radio dengan implan payudara super gedha), meskipun saya nggak pro sama serial plastic surgery yang mereka lakukan. Orang-orang senior di sini memang membawa energi positif banget, lucu, enerjik, bersemangat. Semoga bisa menerapkan pola hidup mereka untuk ditularkan ke teman-teman semua.

Overall. Sudah pasti selalu ada dua sisi mata uang. Yang jelek-jelek dari orang sini juga sudah barang tentu banyak. Tapi untuk apa diceritakan dan dijadikan contoh tho? Yang bagus-bagus aja yang sebaiknya diadopsi.

So, masih suka ngomong I’m too old for something?

On My Way Planning…

I’m at the deepest, lowest point in my housewife life. I failed these 6 months as a good housekeeper. Aku payah. Suami kecewa banget sama kinerjaku di rumah. Berkali-kali ketidakbecusanku mengurus rumah tangga telah mengundang amarahnya. Kalau setrikaan kelar, dapur berantakan. Kalau dapur sudah bersih, gantian kamar amburadul. Giliran semua bersih, saya bingung makan apa karena baru nyadar ternyata belum masak! We are in the darkest era of our marriage. Dan suami saya perfeksionis, tidak (belum) bisa melihat cacat dari sebuah rumah maupun seseorang. Kasihan, pasti kaget sekali dia menyadari bahwa saya sungguh istri yang payah. Realita berupa foto-foto betapa berantakannya rumahku selalu rutin kuunggah khusus buat komunitas pribadiku di path, yang isinya hanya orang-orang yang beneran saya kenal dekat dan saya merasa nyaman dengannya, yakni beberapa teman SMA dan kuliah yang sudah tahu saya sampai ke borok-boroknya. Path itu therapeutic banget, karena itu satu-satunya socmed dimana aku sudah gak minat lagi untuk pamer ini-itu, ga harus rutin kultwit tentang normal labor, dan sudah ga ragu untuk all out bikin status nyablak dan no filter, about my pain, and about people i hate who aren’t in my path absolutely LOL.

Back to the topic, jadi if you are on my path, you must know my suffering. Foto setrikaan, foto kamar, foto dapur dan masakannya, it’s all there. Sampai akhirnya saya berpikir, sebegitu malasnya kah saya sampai rumah ini tidak pernah bisa berada dalam kondisi 100% rapi? Sementara suami saya yang cenderung OCD selalu ingin pulang kerja dalam kondisi rumah yang rapi, organized, dan kinclong. Gosh saya paling tidak tahan mendengar omelan khas Tegal Laka Laka nya yang sungguh mengiris hati kalau komen tentang kondisi rumah dan kinerja saya dalam mengurus anak-anak. I just can’t handle that Tegal rooted rudeness, pardon my racism.

Mungkin saya yang salah. Mungkin saya yang belum menggeber kemampuan saya sampai di titik tertinggi. Saya ini memang anak mami yang pemalas sejak kecil. Terkondisi untuk selalu punya pembantu dan tidak pernah inisiatif belajar jadi istri. Lalu tiba-tiba harus jadi istri dan dikasih anak dua berentetan, jegher, beginilah jadinya.

Mungkin juga karena saya bukan planner yang baik. Saya nyaris tidak pernah merencanakan atau menjadwalkan apapun di kehidupan sehari-hari saya. Menu masak hari inipun mikirnya baru pagi harinya. Pribadi yang spontan dan penuh kejutan, tapi jadinya payah kalau ketemu tugas daily basis ibu rumah tangga, dan jadinya disaster kalau ketemu suami yang super terencana.

Well, saya bisa saja terus mengeluhkan segala seauatu di kehidupan ini seperti nenek-nenek bawel. Atau, saya bisa bangkit dan membereskan puing-puing berserakan ini (literally, it IS a bundle of puing-puing berserakan in my house). Saya pilih yang kedua. Saya ingin mencoba untuk berserah menjadi budak dari jadwal yang saya buat sendiri. Nitnut yang spontan kini ingin menjadi Nitnut yang terencana. Bisa nggak ya….bakal dijalanin nggak ya komitmen ini….

Please…please…please…. Aku ingin berhasil at least dalam satu hal saja, mengurus rumah dengan baik.

Kebetulan tadi bertemu dengen sebuah planner/organizer yang cantik sekali, dan hadir dalam warna baby blue kesukaanku. Mungkin ini sentilan dari Allah, sepertinya kok planner ini memang khusus dibuat untukku. Namanya Mom’s Weekly Planner, di dalamnya banyak quote tentang kehidupan sehari-hari menjadi ibu, dan time table selama 18 bulan dari Juli 2013 hingga akhir Desember 2014 nanti. Deg, dalam hati langsung komen ‘mungkin ini yang kubutuhkan’. Godaan-godaan dan bisikan-bisikan skeptis sempat timbul ‘Ah, kaya bakalan dipake aja’ ‘ah, paling juga lo langgar sendiri nanti tuh jadwal’ ’20 dolar, mahal-mahal ntar ujungnya pasti cuman buat menuh-menuhin meja’ and many stuffs like that. Gila yah betapa kejemnya my disempowering mind ini. Tanpa sadar ternyata isi kepala gue juga udah punya komentator yang lebih Tegal dari laki gue rupanya! Ish udah default nih… Tapi konon musuh terbesar adalah isi kepala sendiri, si iblis pembisik yang hobinya ngenyek dan menghancurkan mimpi. Satu-satunya cara untuk membuktikan bisa atau tidaknya saya adalah dengan membeli planner ini. Semoga ini awal yang baik…. Semoga dengan planner ini saya bisa istiqomah mengerjakan semua tugas ibu rumah tangga, karena ini jihad saya.

Bismillah….

20130811-231739.jpg

20130811-231822.jpg

20130811-231936.jpg

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,026 other followers